KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Semangat Yang Membara


__ADS_3

"Maaafkan hamba, Jendral. Tetapi hamba melihat pasukan iblis yang kita hadapi masih terlalu sedikit," jawab salat salah seorang tentara naga itu


"Ya, memang mungkin di wilayah ini pasukan iblis masih sedikit, tapi seperti yang kau ketahui kita pernah menghadapi pasukan iblis yang begitu banyak. Bahkan ribuan pasukan iblis ribuan tahun dahulu, sebelum panglima kita meninggalkan kita di Kerajaan Kayangan," kata jenderal kuning lagi.


"Apa kita harus menyusul prajurit yang lain, Jendral?" tanya prajurit itu.


"Ya, tentu saja kita harus menyusul panglima ke barisan depan. Tugas kita di sini sudah tidak ada lagi," jawab Jendral Kuning.


"Baik, Jendral!" jawab prajurit naga itu.


.


*********


Sementara Manggala beserta teman-temannya telah berada di hutan antara gerbang pertama dan gerbang kedua divisi luar pedang roh, hutan antara kedua gerbang itu ternyata dijadikan tempat beristirahat bagi para prajurit-prajurit iblis dari Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu.


Salah satu prajurit iblis yang sedang meronda mendengar dan melihat pasukan Manggala sedang bergerak, para prajurit yang bertugas meronda di ujung hutan itu langsung meniup terompet tanda bahaya.


Ribuan prajurit iblis yang berada di dalam hutan langsung bersiap-siap mengadakan perlawanan.


"asukan manusia.... Pasukan manusia datang.... Habisi mereka....Jangan ada manusia yang dibiarkan hidup.... Bunuh mereka... Bantai mereka... perintah salah seorang pimpinan prajurit yang bertubuh besar dengan wajah yang seram dan dengan kepala bertanduk mirip kerbau.


Prajurit-prajurit iblis yang terkadang jauh berbeda dengan manusia-manusia yang ada di bumi, kekuatan mereka pun jauh di atas kekuatan manusia biasa. Wajar jika sebuah kerajaan besar mampu di hancurkan dalam semalam oleh pasukan Iblis Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu.


"Tampaknya masih ada pasukan penghadang di dalam hutan ini, Pangeran," ucap Laras melihat ke depan tanpa menghentikan lari kudanya.


"Seperti yang Kak Laras katakan, tampaknya hutan antara kedua gerbang ini menjadi tempat mereka berpesta. Seperti yang kita ketahui hutan ini cukup banyak menyimpan binatang seperti rusa, kijang dan binatang lainnya," jawab Manggala.


"Biarkan saja, Pangeran. Semakin banyak mereka yang berada di sini, semakin banyak kita akan mengalahkan dan membunuh mereka. Kita tidak bisa membiarkan prajurit-prajurit iblis yang menghadang kita hidup. Kita harus memusnahkan mereka dari bumi ini!" ucap Panglima Draka.

__ADS_1


"Draka benar, kita tidak bisa membiarkan para iblis itu terus bercokol di bumi ini. Kita harus memusnahkan mereka!" tambah Mentari tampak bersemangat.


"Ayo! Kita habisi mereka!" kata Pandan Ayu tanpa menunggu lama lagi, Dewi Phoenix Putih itu melesat cepat ke arah pasukan iblis yang sedang berlarian menghadang mereka dari arah depan.


Tanpa menunggu lama lagi pedang di tangan Dewi Phoenix Putih yang dari tadi sudah terhunus berkelebat cepat membantai setiap prajurit iblis yang berada di hadapannya.


Laras dan mentari beserta Draka juga tidak mau ketinggalan, ketiga petinggi kerajaan Galuh kencana itu melesat melompat dari kuda mereka langsung melepaskan beberapa pukulan ke arah pasukan iblis.


Dalam beberapa gerakan saja prajurit iblis yang berlarian menghadang dan berhadapan dengan petinggi-petinggi kerajaan Galuh kencana itu berjatuhan dan tewas seketika terkena pukulan dan sambaran pedang.


Manggala juga tidak mau ketinggalan sekali lompat saja, Manggala sudah berada di tengah puluhan prajurit iblis yang sedang berlarian ke arah pasukannya.


Melihat Manggala sudah berada di tengah-tengah mereka tanpa dibminta dan di perintah lagi para prajurit iblis itu langsung merangsek menyerang ke arah Manggala.


Namun dengan begitu mudah murid dari lima Pendekar Dewa itu melompat ke udara menghindari serangan para prajurit iblis itu.


Begitu sampai di udara Manggala begitu cepat menarik tongkat dewa yang berada di balik bajunya dengan sekejap mata tongkat itu sudah menjadi sebuah tongkat yang panjangnya hampir tiga meteran.


Prajurit iblis yang berhadapan dengan Manggala dalam waktu singkat berterbangan bagai dedaunan yang tertiup angin.


Manggala bergerak bagai kilat sambil mengayunkan tongkatnya dengan begitu cepat jurus "Tongkat Dewa'. yang di kuasainya dimainkan dengan begitu sempurna, para prajurit-prajurit iblis itu menjerit kesakitan.


Dalam waktu yang sangat singkat sekitar seribu pasukan iblis telah dibantai oleh Manggala bersama dengan para petinggi-petinggi kerajaannya.


Prajurit naga dari Kerajaan Kayangan bersama keenam jenderal tampak terdiam melihat Manggala dan Draka mengamuk bagai singa yang terluka di depan mereka.


Sejauh ini tidak ada prajurit iblis yang lolos sampai ke hadapan pasukan naga sehingga para prajurit naga harus menjadi penonton. Mereka juga tidak enak hati untuk merangsek maju mengganggu para pimpinan mereka.


"Jenderal Jingga, kenapa kau tidak membantu?" tanya Jendral Biru.

__ADS_1


Jendral Biru, seperti yang kita lihat tampaknya prajurit-prajurit iblis dan siluman dari kerajaan Awan Hitam itu, tidak berkutik menghadapi kemarahan panglima kita bersama dengan pangeran Manggala. Apalagi kepandaian ketiga petinggi kerajaan Galuh kencana itu sangat di luar nalar manusia biasa, kekuatan mereka mungkin melebihi kekuatan kita sebagai prajurit naga.


"Biarkan saja mereka bertarung, sejauh ini seperti yang kau lihat tidak ada prajurit iblis yang sampai ke hadapan kita," jawab Jingga sambil tersenyum.


"au benar, Jingga. Sejauh ini tidak ada prajurit iblis yang sampai ke hadapan kita. Prajurit-prajurit iblis itu habis di bantai oleh kesaktian para pendekar sakti di depan kita itu," tambah Jendral Hijau sambil tersenyum.


"Jenderal, apa kita akan selalu menjadi penonton pertarungan para pendekar dan pembesar kita itu?" tanya salah seorang prajurit naga dari pasukan Jendral Biru.


"Seperti yang kau lihat prajurit, jika mereka turun tangan tidak butuh lama lebih kurang seribu pasukan prajurit iblis habis dibantai oleh mereka berlima.


Sejauh ini kita masih berada di atas angin dari pasukan iblis itu," jawab "Jenderal Biru.


"Sudahlah, lihat mereka sudah cukup jauh. Ayo kita susul mereka!" kata Jenderal Jingga sambil tertawa melihat ke arah teman-temannya.


"Aku lihat jenderal jingga semenjak tinggal di bumi dan selalu bersama dengan Panglima Draka, tampaknya begitu bersemangat!" kata Jendral Biru sambil tertawa.


"Heh! Biru, kau selalu saja meledekku dari dulu!" jawab Jendral Jingga sambil tertawa tanpa menghentikan kuda yang ia tunggangi.


Para jenderal pelangi Kerajaan Kayangan itu tertawa sambil terus memacu kuda mereka menyusuri jalan yang terbuat dari bebatuan, di tengah hutan antara gerbang pertama dan gerbang kedua divisi pedang roh itu.


Manggala bersama Draka setelah membuat pasukan prajurit iblis yang menghadang mereka bergelimpangan di tanah, dalam sekali lompat saja mereka sudah berada di atas kuda dan melanjutkan perjalanan menuju gerbang kedua divisi pedang roh.


.


Bersambung.....



Dukung chat story ini teman-tema.

__ADS_1


Chat Story ini sedang ikutan kontes.


Terima kasih banyak.


__ADS_2