
Puluhan mata pedang tanpa gagang berwarna hitam itu beterbangan ke arah Manggala, Soka meluncur cepat ke arah anggota tubuh bagian depan Manggala.
"Jurus Tameng Dewa'. Hiyaaa.....!"
Manggala merentangkan tangan di depan dada, semua pedang tanpa bentuk yang mengarah padanya terhenti, bagai menabrak tameng besi yang begitu besar, semua mata pedang dari jurus Soka itu lansung jatuh ke tanah.
Click...!
"Hah....!"
Soka tersentak melihat apa yang terjadi di luar dugaan nya, belum sempat ia menghilangkan keterkejutan nya, telapak tangan Manggala telah meluncur ke depan dadanya, ia tidak sempat menghindari, sehingga telapak tangan Manggala menghantam tepat di dadanya.
Buk....!
"Aaakh....!"
Lenguhan kesakitan terdengar dari mulut Soka, ia pun langsung terpental ke belakang, beberapa tombak, ia masih sempat menjejak tanah, sambil memegangi dadanya, yang terhantam pukulan Manggala itu.
Mentari dan Laras yang melihat ke arah Manggala, tertegun, namun mereka senang karena Manggala berhasil menghadapi serangan Soka itu.
Soka berusaha menekan rasa sakit di dadanya, dengan mengalirkan tenaga dalamnya ke dadanya,
"Bangsat! Siapa sebenarnya, anak ini, ia berhasil menahan 'Jurus Pedang Tanpa Bentuk Penghancur Jiwa'. ku..!" guman Soka, dalam hati.
"Bagaimana? Kisanak...! Mau lanjutkan," tantang Manggala, dengan nada dingin yang menusuk tulang, ia memandang Soka dengan tatapan yang begitu tajam, setajam pedang yang siap membantai siapa pun yang menghadangnya.
"Hup....!"
Soka mengalirkan tenaga dalamnya ke kedua tangannya, cahaya merah menyala menyelubungi kedua tangannya, dan ia mengosongkan tangannya ke depan.
"Pukulan Api Pemusnah Raga'. Hiaaa....!"
Dua bola api melesat ke depan meluncur ke arah Manggala, Manggala merapatkan kedua tangannya, di depan dada, dan menghempaskan cahaya putih terang, menghadang pukulan Soka itu.
__ADS_1
Wusss.....!
Bleb....! Bleb.....!
Swosss.......!
Blaaarr.......!
"Aaaaaa.......!"
Pukulan Api Pemusnah Raga'. Soka di telan cahaya putih dari pukulan Manggala, cahaya putih itu terus meluncur cepat dua kali lipat, sehingga Soka tidak sempat menghindarinya, ledakan pukulan itu tepat di dadanya, ia terlempar ke belakang beberapa tombak.
"Uhuk, uhuk...! Huaks....!
Darah segar mengucur dari bibirnya Soka, ia muntah darah, bagian dada bajunya hangus kehitaman, tampak tangan kirinya hancur sampai ke siku.
"Hari ini ku ampuni nyawa mu Kisanak, namun bila kita bertemu lagi, aku tidak akan memberi kesempatan lagi..!" ucap Manggala, dengan nada peringatan, yang penuh dengan ancaman.
"Manggala...!"
Jerit, Mentari berlari ke arah Pendekar tampan itu,ia seakan jadi gadis biasa yang tidak punya kemampuan kanuragan yang cukup tinggi, begitu sampai di dekat Manggala, ia lansung memeluk erat tubuh Manggala.
"Kak, Mentari..!"
Manggala tampak gelagapan di peluk gadis cantik berbaju merah itu, apalagi di depan orang lain, tentu saja ia menahan malu, Laras tampak tertegun melihat Mentari yang tanpa malu malu lansung menubruk Manggala dan memeluknya.
"Maaf, Saya kesenangan...!" jawab Mentari, wajah cantik nya memerah menahan malu, ia baru sadar di sana ada Laras bersama mereka.
Laras berjalan pelan ke arah mereka, di pungut nya pedang yang ada di tanah, pedang Mentari dan pedangnya, ia lansung menyarungkan pedangnya ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
Mentari terdiam, wajahnya menunduk, setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Manggala, Sedangkan Manggala hanya tersenyum ke arah Laras yang mendekati mereka.
"Nisanak, tidak apa apa?"
__ADS_1
"Nama nya Laras, Manggala, dia adik seperguruan Saya, dia di tingkat dua puluh enam," Mentari yang menjawab pertanyaan Manggala itu, sambil menerima pedang yang di berikan Laras padanya.
"Tidak, Saya sudah tidak apa apa, obat yang Manggala berikan tadi sangat mujarab..!" tambah Laras, sambil tersenyum malu, memandang wajah tampan murid Lima Dewa itu.
"Kau hebat sekali Manggala, Kau bisa mengalahkan
Soka, yang jauh tingkatannya di atas kami," kata Mentari sambil berjalan di samping Manggala, mereka meninggalkan tempat itu, yang tampak porak poranda bekas pertarungan tadi.
"Kak Mentari kok bisa bertarung dengan mereka? tanya Manggala, tanpa menghentikan langkahnya.
"Kak Mentari, menolong Saya Manggala.!" Ujar Laras, menyela dan menjawab pertanyaan Manggala itu.
"Kak Laras, kenapa bisa berurusan dengan Mereka?"
"Mereka mengikuti saya dari Perguruan, saat Saya berencana menyusul Kak Mentari ke tempat seleksi murid baru di Desa di ujung kota Raja Galuh Kencana tadi..!"
Laras menjawab pertanyaan Manggala, sambil menatap wajah tampan itu dari samping, Mentari melihatnya, dan mencubit kecil lengan Laras dari samping.
"Aduh..!" Laras terkejut, karna cubitan Mentari itu.
"Kenapa Kak Laras.?" tanya Manggala, menoleh ke arah Laras dan Mentari, yang tampak saling menatap, menahan malu.
"Tidak! Tidak apa apa..!" jawab Laras, sambil tersenyum manis, Sedangkan Mentari tampak senyum senyum, menatap Laras dari samping.
"Sebaiknya kita cepat ke mencapai gerbang bawah,
karna hari telah mulai sore, sebentar lagi gelap..!" Ujar Mentari, sambil melihat ke arah matahari, yang hampir terbenam di ufuk barat.
"Baik lah Kak, ayo Kakak duluan..!" Jawab Manggala, Mentari mengangguk, ia pun melesat dengan cepat menuju arah perguruan Pedang kembar, dan di susul Manggala, dan Laras dari belakang.
bersambung...
__ADS_1