Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 9 : Hantu Bungkusan Putih di Toilet


__ADS_3

Ini kedua kalinya Ari ada di belakang papan mading parkir


mobil sekolah. Pagi-pagi dia sudah ada di sana. Semalaman dia kumpulkan


keberaniannya untuk bertemu Tata. Kali ini dia ingin bicara padanya. Dari tadi


dia pikirkan kata-kata apa yang harus dia ucapkan. Tata, ini aku, Ari? Emang


kamu udah nggak lihat hantu lagi? Eh, tanggal lahir kita sama lho. Pikiran Ari


awut-awutan. Sampai tanpa sadar, Tata sudah terlihat turun dari mobilnya. Ari


setengah berlari ke arah Tata, sebelum teman-temannya datang.


“Tata, ini aku Ari,” Ari setengah berteriak setelah jaraknya


dekat dengan Tata.


Tata pun melihat Ari datang dengan tatapan heran. Cepat dia


melihat sekeliling, memastikan teman-temannya belum datang. Lalu dia


menghampiri Ari yang datang ke arahnya.


“Ari, please. Tolong jangan ganggu aku lagi,” Tata buka


suara sebelum Ari sempat berbicara. “Kamu nggak tahu gimana susahnya aku jadi


orang normal. Aku sekarang punya kehidupan yang aku inginkan, so please jangan


ganggu aku lagi ya.” Lalu Tata berbalik meninggalkan Ari. Kebetulan dua teman


Tata sudah terlihat dari jauh. Tata setengah berlari ke arah teman-temannya. Tinggal


Ari yang berdiri termangu. Bahkan kata-kata yang dia susun di kepalanya tidak


sempat terucap. Lalu Ari berjalan keluar area parkir. Dia masih merenungkan


kata-kata Tata. Berarti menurut Tata, dia orang tidak normal. Hingga ada suara


memanggil Ari.


“Ari!” Rida ada di belakang Ari. “Hai, gimana Ri? kamu udah


bawa naskah buat mading?”


“Udah nih,” kata Ari terbata. Buru-buru Ari merogoh tasnya.


Dia keluarkan gambar yang kemarin dia buat.


“Ih, serem banget!” ujar Rida saat melihat gambar Ari yang


di pohon beringin. “Eh Ri, kata Haki kamu punya gambar yang namanya Awuk?"


Ari memincingkan matanya, mengingat-ingat nama Awuk. “Oh,


itu cuma gambar coret-coretan aja sih.” Ari ingat itu gambar anak perempuan

__ADS_1


berkaki hancur, tapi dia menggambarnya tidak terlalu prefect.


“Nggak apa-apa Ri. Kita lagi butuh banyak naskah untuk kejar


target nih. Boleh kan aku menerbitkannya di mading?” pinta Rida.


“Boleh kok,” Ari menyobek gambar itu dari buku kecilnya dan


memberikannya ke Rida.


“Ok, makasih banyak ya Ri, ini aku mau kasih ke anak lay


out. Hari ini musti tayang.” Rida pun meminta diri.


Ari masih memandangi Rida yang berjalan lincah


meninggalkannya. Ia berjanji akan buat gambar yang banyak buat Rida.


Jam kedua di kelas ada pelajaran Pak Riza. Ari sudah


menunggu-nunggu pelajarin ini. Siang ini Pak Riza menerangkan 4 alam yang


dialami manusia, yaitu alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat.


Lalu seperti biasa, ada professor yang sudah menunjuk tangan untuk bertanya.


Beberapa anak mulai tertawa, bersiap untuk pertunjukan lucu.


“Pak kalau ada orang mati terus arwahnya gentayangan itu


bagaimana?” tanya professor lantang tanpa mempedulikan sekitarnya. Tawa murid


“Kalau ada manusia meninggal… Masuknya ke alam kubur!” jawab


Pak Riza sambil senyum-senyum. “Jadi arwah gentayangan itu adanya hanya di


film-film saja ya.”


Lebih lanjut Pak Riza menjelaskan, ibarat perjalanan waktu,


manusia yang sudah pindah ke alam lain itu tidak akan kembali ke alam semula.


Ruh manusia yang sudah pindah ke alam kubur juga tidak akan kembali ke alam


dunia. Ari menyimak seksama penjelasan Pak Riza dan menuliskan di catatannya.


Jam terakhir ada pelajaran olah raga. Ari sudah memakai baju


olah raganya. Tapi mendadak perutnya mules. Dengan langkah cepat dia menuju ke


toilet sementara murid-murid cowok sudah berlarian ke lapangan. Ari hampir sampai


di toilet. Di seberang dia lihat murid-murid cewek sudah ganti baju olah raga


berkerumun di depan toilet cewek. Saat masuk toilet cowok, perasaan Ari mulai


tidak enak. Toilet itu kosong. Ari sempat menghentikan langkahnya. Dia

__ADS_1


benar-benar ingin memeriksa bahwa tidak ada siapa-siapa di situ. Dari cermin di


tembok memang terlihat 4 toilet pintunya terbuka dan kosong. Ari melangkah


pelan, melewati toilet satu per satu. Ari sempat melirik satu persatu toilet-toilet


itu, memastikan tidak ada apa-apa di sana. Lalu Ari masuk ke toilet paling


pojok. Ari cepat-cepat menyelesaikan hajatnya karena perasaannya makin tidak


enak. Saat selesai cebok, Ari lihat ada yang aneh di lantai toilet. Tadinya


lantai itu bersih. Sekarang ada taburan tanah coklat di sana-sini. Lalu ada


tetesan warna merah jatuh ke lantai. Warna merah seperti darah. Lalu ada suatu


tetes lagi. Lalu satu tetes lagi. Cepat-cepat Ari membereskan celananya. Dia


sudah berdiri untuk cepat-cepat keluar dari situ. Tapi tetesan di lantai itu


semakin banyak. Arahnya dari atas. Ari pun mendongak ke atas. Ternyata ada yang


menempel di langit-langit di atas Ari. Seonggok bungkusan kain putih. Seperti


orang mati yang dibungkus kain kafan, membujur lengket di langit-langit. Dia


menghadap tepat ke arah Ari di bawahnya. Ada darah yang merembes di sela-sela


tali pengikat tubuhnya. Darah itu menetes ke lantai toilet. Yang paling banyak


di bagian mukanya yang tertutup kain. Merembes dari bagian mulut sampai ke


seluruh muka dan menetes deras ke bawah. Ari pun berlari sekuat tenaga keluar


toilet. Di luar toilet Ari masih mengencangkan larinya. Di seberang, kerumunan


anak cewek sudah tidak ada. Tapi ada satu anak perempuan di sana. Nara ada di


seberang memperhatikan Ari yang tergopoh keluar toilet. Tapi Ari tidak


mempedulikannya. Karena dia tidak akan menghentikan larinya untuk menjauh dari


toilet. Tapi belum sampai lapangan Ari melambatkan larinya. Rasa takutnya


semakin menghilang. Karena yang ada di kepalanya kini sebuah ide. Dia jadi


dapat bahan untuk menggambar. Karena dia sudah janji pada dirinya untuk


menggambar buat Rida. Dia akan gambar apa yang dilihatnya di toilet.


Setelah pulang sekolah, sesampai di rumah, Ari sudah tidak


sabar menuju mejanya. Dia hanya mencopot sepatunya dan langsung sibuk dengan


pensil dan kertasnya. Dia tumpahkan apa yang ada di kepalanya di kertas. Dia


gambar bungkusan putih berdarah-darah yang menempel di langit-langit toilet.

__ADS_1



__ADS_2