
Hari ini, Ari, Toha, Wira dan Nara tidak berkumpul di taman
seperti biasanya. Tapi pagi ini berita tentang tragedi di kolam renang kemarin sudah
menjadi pembicaraan di antara murid-murid. Murid dari kelas Tata banyak ditanyain
murid kelas lain tentang kejadian kemarin. Tetapi hanya Ari yang tahu kejadian
sebenarnya, karena Ari tahu dari Tata. Klara masih di rumah sakit. Kebetulan
Klara anak pejabat. Beredar berita, Klara akan pindah sekolah karena masih
trauma. Dan orang tua Klara menuntut pihak sekolah karena tidak bisa menjaga
keselamatan siswanya, terutama pada guru olah raga yang bersangkutan. Kegiatan
berenang pun dihentikan sementara.
Di kelas, Ari, Toha dan Wira sudah saling pandang. Toha dan
Wira sebenarnya ingin mendengar cerita dari Ari. Tapi mereka berdua sepertinya
masih menjaga perasaan Nara yang sampai pagi ini masih kesal sama Ari. Jam
pertama, ada pelajaran Pak Riza. Sebelum pelajaran, Pak Riza berpesan pada
murid-murid tetap tenang atas kejadian di kolam renang kemarin.
“Kejadian seperti itu seperti kecelakaan yang kadang tidak
bisa dihindari,” kata Pak Riza pada murid-muridnya,” Dari pada kalian
mendengarkan berita dari luar yang belum jelas, lebih baik kalian tetap fokus
untuk belajar.”
Setelah pelajaran, Pak Riza mendatangi Ari dan menyuruh Ari
untuk menghadap ke ruang guru setelah pulang sekolah. Setelah bel pulang
berbunyi, Ari pun bergegas menuju ruang guru. Di sana masih ada Pak Riza,
sebagian besar guru sudah pulang. Hanya beberapa yang terlihat masih
bersiap-siap.
“Duduk Ri,” kata Pak Riza.
Pak Riza masih sibuk membereskan mejanya. Ari tahu, Pak Riza
sedang mengulur waktu, menunggu guru-guru lain pulang semua.
“Gimana kabarmu Ri,” tanya Pak Riza sambil tengak-tengok
memastikan ruang guru sudah kosong.
“Baik Pak,” jawab Ari.
“Kamu tahu kan kejadian di kolam renang kemarin?” Suara Pak
Riza pelan, walau ruang guru sudah kosong.
“Tahu Pak.”
“Ada yang bilang kamu ada di sana waktu kejadian,”
“Iya Pak. Tapi pas kejadian, saya sudah mau pulang. Saya
sudah di luar,” Ari tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kenapa dia ada di
kolam renang. Dia harus tetap menjaga rahasia Tata.
“Gini Ri,” nada Pak Riza serius,” Pak Soni, guru olah raga
kamu itu, teman baik saya. Gara-gara kejadian kemarin, ada rencana dia akan
dipindah tugaskan. Kejadian kemarin dianggap kecelakaan. Si anak ini kakinya
kram, jadi dia nggak bisa berenang, lalu tenggelam. Saya yakin
seyakin-yakinnya, kalau kejadiannya cuma kayak gitu, Pak Soni bisa
mengatasinya. Pak Soni bilang sendiri ke saya, anak ini berat sekali untuk
diangkat. Butuh tiga orang untuk mengangkatnya. Lalu saya juga denger, setelah
sadar anak ini bilang dia lihat sesuatu di kolam dan menarik kakinya. Tapi
cerita anak ini sengaja tidak disebarluaskan. Ingat Ri, dari awal saya selalu
percaya sama kamu. Saya cuma pengen tahu. Apa kamu lihat sesuatu di sana?”
__ADS_1
“Iya Pak. Saya lihat di dalam kolam itu. Ada sosok wanita
yang nungguin di bawah. Saya pikir, dia yang menarik kaki si Klara ini.” Ari
sengaja tidak bilang, kalau Tata lah yang melihat kejadiannya.
“Ok, jadi memang benar ada sesuatu di sana,” guman Pak Riza.
“Gini Ri, mulai sekarang kalau kamu lihat sesuatu yang masih di lingkungan
sekolah kita, tolong kasih tahu saya. Kejadian kemarin itu jadi pelajaran buat
kita. Dan ingat Ri! Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu! Dan pembicaraan
kita ini, anggap aja nggak ada.”
“Kenapa Pak?”
“Ya, kan kamu tahu sendiri. Hal-hal kayak gini bukan buat
kalangan umum. Akan jadi heboh nantinya. Ngerti ya Ri?”
“Ngerti Pak.”
“Ada nggak, anak-anak seperti kamu di sekolah kita?”
“E… Ada Pak.”
“Kamu tahu siapa?”
“E… Toha… Wira… Sama Nara.” Ari sengaja tidak menyebut Tata.
“Itu yang di kelas kita ya. Kalau di kelas lain?”
“Di kelas lain saya nggak tahu Pak.”
“Ok. Kamu bilang ke mereka juga ya tentang apa yang kita
bicaran. Dan jaga mereka. Kalau ada apa-apa bilang ke saya dulu. Jangan
bertindak di luar pengetahuan saya. Kalian akrab kan?”
“E… Akrab sih Pak. Kita ini satu komplotan. Tapi sekarang
masih pada diem-dieman,” jawab Ari polos.
Pak Riza pun tertawa dengan kepolosan Ari.
pernah muda kayak kalian,” kata Pak Riza. “Ok Ri, tetap jaga rahasia ya.”
“Ok Pak.”
Ari berjalan menuju gerbang. Sekolah sudah sepi. Sekilas dia
sempat melihat taman. Ada rasa ingin bertemu ketiga temannya. Andai besok dia
bisa bertemu Toha, Wira dan Nara di sana lagi seperti biasa. Tapi lama dia
perhatikan ke taman, seperti ada orang di sana. Ada orang sedang duduk di
pinggir kolam yang ada di tengah taman. Ari coba perhatikan lagi. Yang duduk di
kolam itu perempuan. Bajunya putih, rambutnya panjang. Tapi wajahnya cantik dan
ada sekuntum bunga di selipan telinganya. Ari lihat wajah perempuan itu
menunduk, seperti sedang sedih. Lalu Ari kaget. Perempuan itu melihatnya. Ari
mempercepat langkahnya sembari masih melihat ke arah taman. Berkali-kali Ari
mengerjapkan matanya. Berkali-kali Ari mengusap matanya. Karena dia tidak
melihat perempuan itu lagi. Ari hanya lihat kolam di tengah taman yang sepi.
Setiba di rumah, Ari cepat-cepat menggambar apa yang
dilihatnya sepulang sekolah tadi. Dia ingin memastikan bahwa dia tidak sedang
berhalusinasi. Dia gambar seorang perempuan cantik, berbaju putih dan berambut
panjang, ada sekuntum bunga di selipan telinganya. Wajahnya terlihat sedih
menunduk ke tanah.
Keesokan harinya, Ari sengaja membawa gambarnya di dalam
tas. Dia berandai-andai bisa bertemu Toha, Wira dan Nara lagi. Dia ingin
menunjukkan gambar itu ke mereka. Sampai di sekolah dia heran. Toha, Wira dan
__ADS_1
Nara sudah ada di taman. Ari langsung menuju ke arah mereka. Saat berjalan,
beberapa kali Ari sempat perhatikan kolam yang ada di tengah taman. Tapi dia
tidak melihat apa yang ada di gambarnya. Setelah sampai di taman, Ari langsung
mengulurkan tangannya ke Wira.
“Wir, maafin gue ya,” kata Ari.
“It’s ok Bro,” Wira menyambut tangan Ari.
“Ha, maafin gue ya,” Ari mengulurkan tangannya ke Toha.
Toha menyambut tangan Ari sambil meringis.
“Ra, maafin gue ya,” Ari mengulurkan tangannya ke Nara.
“Ngapain lo minta maaf? Orang lo nggak salah kok,” Nara
masih belum menyambut tangan Ari.
“Ayo lah Ra. Ari kan udah mau minta maaf,” kata Wira
memprotes sikap Nara.
“Iya. Aku yang minta maaf,” kata Nara. “Abisnya lo sih
begitu. Gue kan temen lo Ri. Gue tuh nggak terima kalau lo kayak dimanfaatin
gitu lho Ri. Tapi janji ya, nggak bikin rencana konyol lagi,” Nara pun
menyambut tangan Ari.
“Iya aku janji,” kata Ari. Tapi dalam lubuk hati Ari,
sekonyol apapun kalau buat Tata, Ari akan tetap lakukan. Tapi dia tidak akan
melibatkan teman-temannya.
“Eh Ri, jadi yang kejadian di kolam renang gimana?” tanya
Toha.
“Iya, Tata yang ngelihat,”jawab Ari. “Kakinya Klara memang
ditarik ke bawah sama tuh perempuan.”
“Kata bokap, itu hantu memang ada yang pelihara,” sahut
Toha. “Biar kolam renangnya laris. Mungkin si pemiliknya lupa ngasih syarat.
Jadi deh dia liar kayak gitu, narik-narik kaki orang.”
Suasana pun sempat tegang. Lalu Ari melihat ke arah kolam.
Perempuan yang kemarin siang tidak ada di sana. Lalu Ari memandangi Nara.
Sepertinya Nara baik-baik saja. Dia tidak kedinginan. Ketiga teman Ari jadi
merasa aneh.
“Kenapa Ri?” tanya Toha penasaran.
Ari mengambil gambarnya yang kemarin siang dari tas. Dia
tunjukkan ke tiga temannya.
“Waktu pulang sekolah kemarin aku lihat perempuan ini di
kolam situ,” kata Ari.
Toha, Wira dan Nara memperhatikan gambar Ari. Tapi Nara
terlihat yang paling tegang.
“Ri, beneran nih perempuan pakai bunga di telinganya?” tanya
Nara.
“Iya. Emang kenapa?” Ari balik tanya karena Nara terlihat
semakin tegang.
“Dia yang aku lihat di mobil Tata. Inget nggak
yang aku ceritain waktu itu. Yang aku kira saudaranya Tata. Tadi barusan di
parkiran aku lihat dia lagi di mobil Tata. Dia emang pakai bunga di telinganya.
Tadi dia lagi nyiumin parfum mobil di dashboard.”
__ADS_1