Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 11 : Ari Si Penggambar Hantu


__ADS_3

Hari ini Senin. Upacara diadakan di lapangan. Ari ada di


tengah-tengah barisan kelasnya. Sejak datang pagi tadi, Ari merasa banyak murid


yang sedang memperhatikannya dengan tatapan aneh. Ada yang berbisik-bisik, ada


yang terang-terangan nyeletuk, hoi si penggambar hantu! Dan yang aneh, gambar


Ari di majalah dinding sudah tidak ada, diganti dengan naskah lain.


Pak Suman, kepala sekolah, mulai naik podium saat pidato


inspektur upacara. Dia mulai berbicara tentang kehebohan yang terjadi pagi ini.


Tentang murid yang membuat keresahan di sekolah.


“Saya menyesalkan adanya tindakan murid yang membuat


keresahan di sekolah kita,” kata kepala sekolah di pidatonya. “Sekolah kita ini


sudah damai, tenang dan kondusif untuk belajar, jangan sampai ada hal-hal


semacam ini yang mengganggu proses belajar. Mengganggu murid-murid yang lain


untuk berprestasi. Dan saya minta kepada murid-murid untuk tidak percaya pada


hal-hal seperti ini dan tetap fokus belajar, mendulang prestasi untuk


mengharumkan nama sekolah.”


Ari tahu banyak murid yang berdiri di barisan-barisan itu


melirik ke arahnya. Suara pak kepala sekolah pun seolah menjadi gema yang tak


jelas di telinganya. Ari hanya bisa menunduk memandangi tanah di depannya. Saat


upacara selesai, Ari ingin cepat-cepat kembali ke kelasnya. Dari kerumunan


murid-murid yang kembali ke kelas, beberapa masih saja curi-curi pandang ke


Ari. Dan di antara mereka, di kejauhan, Ari melihat seorang murid berdiri


terpaku memandanginya. Itu Tata. Tatapan itu penuh tanya. Tapi Ari justru seperti


melihat kembali tatapan Tata saat dulu mereka pernah bertemu. Tapi hanya


sebentar. Tata sudah beranjak pergi, berbaur dengan murid-murid yang lain.


Hingga Pak Riza datang menghampirinya. Katanya dia dan Haki dipanggil ke kantor


kepala sekolah.


Ari dan Haki berdiri tertunduk di depan meja kepala sekolah.


Dari tadi mereka harus menerima teguran dan peringatan dari Pak Suman.


“Kalau kalian bukan anak guru di sini, saya sudah keluarkan


kalian!” Pak Suman berbicara tegas dari tempat duduknya. “Saya masih memandang orang


tua kalian sebagai pengajar di sini. Apa lagi kamu Ari. Bapak kamu dulu guru


senior di sini. Bapak kamu itu sangat dihormati di sini. Jangan kamu bikin malu


almarhum bapak kamu.”


Lalu Pak Suman bilang, Ari dan Haki masih dimaafkan. Tapi


sekali lagi kalau tindakan seperti ini terulang, dia akan mengambil tindakan


tegas. Ari dan Haki pun keluar dari kantor kepala sekolah. Saat melewati ruang


guru, Pak Solidin, guru agama senior, memanggil Ari.


“Kamu Ari ya?” tanya Pak Solidin saat Ari sudah menghadap di


depannya.


“Iya Pak,” jawab Ari setengah tertunduk.


“Kamu muridnya Pak Riza?”


“Iya Pak.”


Lalu Pak Solidin memanggil Pak Riza yang mejanya tak jauh


dari situ.


“Pak Riza, tolong Ari ini diberikan pengertian yang bener. Kalau


perlu anak ini musti dirukiyah,” kata Pak Solidin saat Pak Riza menghadap.


“Kamu nanti sehabis sekolah menghadap ke Pak Riza!”Pak solidin memerintahkan


Ari. “Pak Riza ini masih muda, tapi pengalamannya banyak, dia lama di pondok. Kamu


camkan nanti wejangan yang diberikan ke kamu dan kamu laksanakan.”


Ari mengiyakan sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dia tidak


punya pilihan lain selain menerima konsekuensi apa saja yang akan dia terima.


Lalu Ari keluar ruang guru menuju kelasnya. Tapi sebelum sampai di kelas, Rida


dengan jalan tergesa, menghampirinya.


 “Ari ini aku


kembalikan gambarmu. Redaksi tidak mau gambarmu ada di mading. Salah aku sih, aku


tidak ijin mereka waktu tayangin,” Rida menyerahkan gambar Ari yang anak


perempuan kaki hancur dan perempuan di pohon beringin. Ari menerimanya dengan


perasaan ikut menyesal. Lebih-lebih mata Rida mulai berlinang.


“Kamu nggak apa-apa kan Rida?” tanya Ari dengan perasaan


khawatir.


“Nggak sih. Cuman sedih. Gara-gara gambar itu, aku


dikeluarin dari kepengurusan mading,”suara Rida sedikit bergetar. Dan


sepertinya dia tidak bisa menahan lagi perasaan sedihnya. Sambil menutup


mulutnya, dia pergi begitu saja dari hadapan Ari. Tinggal Ari bengong

__ADS_1


sendirian, melihat Rida menghilang di tikungan kelas.


Beberapa saat Ari masih berdiri termangu. Dan dia merasa


begitu bodoh. Harusnya tadi dia bisa menenangkan Rida. Atau minimal minta maaf.


Ari pun berlari untuk menyusul Rida. Tapi di salah satu teras kelas Ari


berpapasan dengan  gerombolan anak


basket. Salah satu dari mereka yang berbadan paling besar melihat Ari.


“Hoi itu si penggambar hantu!” kata anak yang berbadan besar.


Anak basket yang lain pun melihat ke Ari. Lalu mereka beramai-ramai mendatangi


Ari. “Hoi penggambar hantu, mau kemana lo. Jangan bikin cerita aneh-aneh di


sini lo,” Anak yang berbadan besar sudah di hadapan Ari. Yang lain pun menyusul


mengerumuni Ari.


“Hei penggambar hantu, denger ya, gara-gara lo, kita semua


jadi nggak nyaman kalau latihan,” Jodi sang bintang basket ikut menambahkan. “Kalau


lo bikin gambar aneh-aneh lagi, lo tahu sendiri akibatnya.”


“Temen-temen, aku bener-bener minta maaf,” kata Ari terbata.


“Aku nggak akan bikin gambar lagi,” lalu Ari berusaha menerobos kerumunan anak


basket. Bukannya Ari tidak takut sama mereka tapi yang ada di pikirannya


sekarang hanya Rida.


“Hoi, jangan macem-macem lo di sini!” kata anak yang


berbadan besar seperti tidak terima melihat Ari setengah berlari meninggalkan


mereka.


Ari pun sampai di dekat kantin. Dia berusaha memikirkan


jalur Rida berjalan menuju kelasnya. Tapi sekilas dia melihat Haki berjalan


menuju belakang kantin. Kalau tidak salah, di belakang sana ada lahan kosong. Ari


penasaran. Dia menuju ke sana. Belum masuk ke lahan kosong, Ari berhenti.


Ternyata di sana ada Rida. Dan di depannya Haki. Hanya mereka berdua di sana.


Rida seperti sedang bercerita ke Haki. Dia seperti sedang mengungkapkan perasaannya


ke Haki karena wajahnya terlihat sedih dan pipinya basah karena air mata. Haki


pun terlihat menenangkan Rida. Awalnya Haki memegang tangan Rida. Rida pun


menyambutnya. Lalu mereka berpelukan. Dan Rida seperti menumpahkan semua kesedihannya


di pundak Haki. Ari pun berniat pergi dari situ, sebelum mereka tahu dia ada di


situ.


Ari berjalan lesu menuju kelasnya. Perasaannya tidak


ingin menyobeknya. Dia pun mencari tempat sampah dan menyobek-nyobek gambarnya.


Serpihan kertas itu bertebaran di dalam tong sampah. Ari sempat melihat satu


sobekan yang ada gambar muka Awuk. Ya Awuk. Anak perempuan berkaki hancur yang


dia kasih nama Awuk. Lalu perhatian Ari teralihkan dengan serombongan orang


yang berjalan bergegas di dekatnya. Mereka seperti orang-orang konstruksi yang


membawa berbagai peralatan. Mereka berjalan menuju ke arah ruang bawah tanah di


sekolah ini. Sepertinya rencana renovasi ruang bawah tanah itu memang


benar-benar dilaksanakan. Ari sempat beberapa langkah mengikuti mereka. Dan


memang mereka sedang menuju ke area basement yang belakangan ini ditutup untuk


umum. Lalu sekilas ada murid yang mendekat ke tong sampah. Selintas Ari


berpikir ada anak yang mau membuang sampah. Tapi anak itu hanya diam berdiri di


depan tong sampah. Perasaan Ari pun mulai tidak enak. Ari baru sadar siapa dia setelah


dia benar-benar memperhatian ke arah tong sampah. Itu Awuk. Dia masih berdiri


mematung di depan tong sampah. Tepatnya melayang. Dari tadi muka pucatnya terus


menatap ke dalam tong sampah. Ari mulai berpikir tentang gambar Awuk yang dia


sobek-sobek. Beberapa murid memang mondar-mandir di depan Ari. Tapi tidak ada


yang tahu ada sosok melayang di depan tong sampah. Ari sempat bingung mau


ngapain. Sempat dia berpikir untuk beranjak dari tempat itu. Tapi akhirnya dia


putuskan untuk mendekat ke tong sampah. Karena dia merasa sangat bertanggung


jawab kepada siapapun atas gambar yang telah dia sobek-sobek, termasuk Awuk. Dengan


tegang, Ari berdiri di depan sosok Awuk yang dari tadi cuma diam memandang ke


dalam tong sampah.


“Ruang bawah tanah jangan diapa-apain,” Awuk tiba-tiba


bersuara walau mukanya masih menunduk. Suaranya pelan. Seperti suara anak


kecil.


“Kenapa?” sepatah kata keluar dari mulut Ari.


“Nanti banyak yang akan bikin onar,”


“Maksudnya?”


“Habis itu orang-orang baju putih akan datang ke sini. Aku


tidak mau orang-orang baju putih datang ke sini.”


“Maksudnya?”

__ADS_1


Tapi bel masuk sudah berbunyi. Murid-murid pun berlarian menuju


ke kelas masing-masing. Dan Ari baru sadar, Awuk sudah tidak ada di depannya.


Selama di kelas sampai bel pulang sekolah, Ari dan Haki


tidak saling bicara. Apalagi Ari, tidak sedikitpun dia memalingkan muka ke arah


Haki. Ari pun keluar kelas dengan langkah cepat. Dia sudah tidak pedulikan lagi


kerumunan murid di sekitarnya. Hari ini dia merasa semua orang sedang


memusuhinya. Ari langsung melangkahkan kakinya ke ruang guru. Saat sampai di


sana, ruangan itu sudah kosong. Tinggal Pak Riza saja menunggu di mejanya. Pak


Riza mempersilakan Ari duduk.


“Gimana kabarmu Ari?” Pak Risa menyapa duluan


“Baik Pak,” jawab Ari. Sejujurnya, seharian ini, baru kali


ini dia merasa nyaman, duduk di depan Pak Riza.


“Saya tahu banyak, anak seperti kamu,” Pak Riza memulai pembicaraan.


Beberapa saat dia seperti mengumpulkan ingatannya. “Saya punya kakak perempuan


seperti kamu. Dari kecil kami sekeluarga menganggapnya anak yang aneh. Dia


seperti aib buat keluarga. Sampai dia tidak tahan lagi dan pergi dari rumah


waktu seumuran kamu. Baru setelah saya dewasa, saya menyesal telah


memperlakukannya seperti itu. Pernah saya mencarinya. Sampai hampir setahun


yang lalu saya bertemu dengannya. Dia sudah punya suami dan dua anak.”


Ari mendengar dengan seksama. Sementara Pak Riza berhenti


bicara. Matanya seperti mengenang sesuatu.


“Jadi Pak Riza percaya sama saya,” hati-hati Ari bertanya ke


Pak Riza.


“Saya percaya kamu,” Pak Riza memandang Ari seksama. “Tapi


nasehat saya, bergaullah seperti biasa seperti anak-anak yang lain. Jika ada


sesuatu yang aneh yang kamu alami, anggap itu hal biasa. Nggak usah kamu


tanggapi. Kamu ke sini untuk belajar. Kamu fokus saja buat belajar. Ok Ari,


ngerti ya.”


“Ngerti Pak,” jawab Ari. Tapi entah kenapa dia merasa


nasehat Pak Riza tidak memuaskannya.


Lalu Pak Riza mempersilakan Ari pulang. Tapi ada yang masih


mengganjal di benak Ari.


“Pak tadi ada yang bilang ke saya, kalau basement jangan


direnovasi. Nanti bakal ada yang bikin onar,” Ari berusaha mengungkapkan apa


yang masih ada di pikirannya,” maksud saya, saya cuman kasih tahu, takutnya


nanti akan terjadi apa-apa.”


Pak Riza menghela nafas. Melihat reaksi Pak Riza, Ari pun


sedikit menyesal telah mengatakan hal itu.


“Ari, kan saya sudah bilang. Hal-hal seperti itu nggak usah


kamu tanggapi. Fokus saja kamu buat belajar,” kali ini suara Pak Riza agak


keras. “Camkan kata-kata saya ya Ari. Udah sana kamu pulang gih.”


Halaman sekolah sudah sepi saat Ari keluar. Dia berusaha


mencamkan kata-kata Pak Riza. Tapi sesuatu masih mengganjal di pikirannya. Sesampai


di rumah, Ibu Ari begitu marah kepada Ari. Kejadian tadi pagi juga menjadi


pembicaraan di kalangan staf pegawai sekolahan.


“Mama malu Ari! Pihak sekolahan itu udah baik, kasih mama


pekerjaan setelah papa kamu meninggal. Jadi mama nggak perlu njahit lagi. Mama


harus jaga nama baik papa kamu di sana. Tapi kalau kami bikin begini, mama jadi


malu sama semua orang!” Ibu Ari memarahi Ari di depan meja makan.


Ari hanya diam, karena dari tadi pagi dia sudah merasa


bersalah. Tapi dia jadi sedih, karena sampai di rumah pun masalah ini masih


menimpanya.


“Udah, mulai hari ini kamu nggak boleh gambar-gambar lagi!


Mama mau bakar semua gambar-gambar kamu itu!” lalu Ibu Ari mengambil tiga


kardus dari bawah tempat tidur Ari yang berisi gambar yang Ari kumpulkan dari


dia kecil. Di belakang rumah, gambar-gambar itu ibu Ari bakar semua.


Ari masih diam di meja makan. Mungkin ada benarnya dia tidak


menggambar lagi. Dia juga kasihan sama ibunya setelah ditinggal almarhum


bapaknya. Tapi ada sesuatu yang membuat dia bertambah sedih. Entah kenapa dia


jadi merasa sendiri. Dia seperti hidup sendiri di dunia ini. Malam hari, saat


Ari sudah di pembaringan dia masih memikirkan itu. Lalu ada Tata di benak Ari.


Tadi pagi Tata sempat melihat ke arahnya. Dia ingin berbagi lagi dengan Tata


seperti yang pernah dulu mereka lakukan. Besok dia ingin bertemu Tata. Ari


tidak peduli walau sekarang Tata sudah berubah. Besok pagi dia harus bicara

__ADS_1


dengan Tata.


__ADS_2