Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 85 : Kehebohan di Aula Hotel


__ADS_3

Ari, Tata, Nara, Wira, Toha, Astri dan Pak Riza menggunakan mobil carteran balik ke hotel tempat mereka menginap. Mereka tidak bisa mengikuti jadwal study tour hari ini. Di dalam mobil tidak ada yang bicara. Terutama


karena ada Pak Riza. Sesampai di hotel, sudah jam makan siang dan pihak hotel tidak menyediakan fasilitas makan siang. Tata menawarkan mentraktir yang lain untuk menebus rasa bersalahnya. Dia merasa, karena dia, yang lain jadi tidak bisa mengikuti jadwal study tour hari ini. Dan mereka harus mengeluarkan uang


sendiri untuk makan siang. Nara usul untuk mencarter mobil dari hotel. Lalu berenam mereka naik mobil keluar hotel. Wira yang pegang setir. Ari ada di sebelahnya. Tata dan Nara ada di bangku tengah. Toha dan Astri di bangku belakang. Tak tanggung-tanggung, Tata memilih restoran yang mahal buat mereka hingga Ari dan yang lain jadi canggung masuk restoran. Tapi begitu semua makanan sudah tersedia, mereka makan begitu lahap sampai dilihatin pengunjung restoran yang lain. Tapi Tata justru senang karena merasa telah menebus kesalahannya. Ari pun mengucapkan terimakasih pada yang lain karena telah menunggu mereka saat dia dan Tata hilang di objek wisata tadi.


“Santai Bro, kita ini kan masih satu komplotan,” kata Wira sembari mengambil lauk lagi.


“Emang disana tadi hantunya kayak gimana Ri,” tanya Toha dengan mulut penuh makanan,” Gambar dong Ri, biar kita semua tahu.”


Yang lain pun jadi melotot ke Toha. Karena di sana ada Astri yang memang sebelumnya tidak tahu apa-apa.


“Tenang Gaes, gue udah cerita semua ke Astri,” kata Toha,”Dan Astri udah menerima gue apa adanya,” kata Toha sok bangga.


Dan Ari baru sadar. Akhir-akhir ini Ari hanya menggambar buat Tata. Sepertinya kali ini dia tidak perlu menggambar buat Tata.


“Ta, tadi kamu lihat mereka?” tanya Ari.


“Iya Ri,” jawab Tata.


Ari jadi khawatir, di alam lain tetap saja Tata bisa melihat mereka walau masih memakai kalungnya. Beruntung mereka tidak bisa melihat Tata.


“Ri, yang lain pada nunggu tuh,” kata Tata menegur Ari yang dari tadi masih bengong.


Ari menatap Tata sebentar. Tata seperti biasa saja. Ari tidak melihat wajah takut Tata seperti saat mereka hilang tadi. Ari pikir, lama-lama Tata terbiasa dengan apa yang dialaminya.


“Udah, tuan putrinya nggak usah dipikirin mulu,” kata Toha bercanda,”Dia udah selamat, tanpa kurang satu apapun, sekarang waktunya gambar.”


Nara sempat melirik ke Ari. Dia sadar, sampai kapan pun Ari akan selalu memikirkan Tata. Lalu Ari mengambil buku dan pensil yang selalu ada di tas kecilnya. Dia gambar sekumpulan sosok seperti kera yang sedang membaui sesuatu. Di belakangnya ada satu sosok besar berbulu, bertaring panjang dengan mata melotot. Di belakangnya lagi ada bangunan candi yang besar.



Satu persatu mereka melihat gambar Ari. Astri yang paling lama mengamati gambar itu.


“Nggak nyangka aku punya temen-temen indigo kayak kalian,” kata Astri,” Gara-gara Toha cerita-cerita tentang kalian, aku jadi banyak baca-baca artikel tentang anak indigo. Katanya anak-anak seperti kalian punya kemampuan memposisikan gelombang otak kalian di gelombang Teta, makanya kalian bisa melihat hantu.”


Ari, Toha, Wira dan Nara jadi bengong mendengar kata-kata Astri yang terdengar rumit. Kecuali Tata.


“Iya, aku juga baca di bukunya Kak Karin,” kata Tata,” Dia juga banyak membahas tentang gelombang otak.”


“Wah gini nih kalau anak-anak pinter ngobrol,” Toha menyela,” Kata-katanya susah-susah…”


“Ih, kamu gimana sih Ha,” kata Astri,”Kamu musti tahu kondisi kalian kayak gimana…”


“Gue tahunya bisa lihat hantu sama lihat kamu…” kata Toha bercanda.


Astri jadi kesal dan mulai mengacak-acak rambut Toha yang keriting. Tata tertawa lepas melihat kekonyolan Toha dan Astri.


“Ngomong-ngomong, Ari bukan cuma lihat hantu,”cetus Wira yang justru sebel dengan kekonyolan Toha,” Ari juga bisa masuk ke alam lain. Kapan-kapan boleh dong kita-kita diajak…”


Yang lain pun jadi tertawa. Tapi Ari malah terlihat tambah serius.


“Itu bukan tempat untuk main-main…” kata Ari datar,” Kadang kita nggak tahu kita ada dimana… Beruntung kalau kita masih bisa keluar. Dan banyak orang bisa berbuat jahat di sana,” suara Ari terdengar parau. Matanya mulai berkaca-kaca.


Yang lain pun jadi berhenti bercanda. Mereka sedikit heran dengan perubahan sikap Ari. Dan Ari baru sadar, dia bicara terlalu melibatkan emosi. Barusan tadi dia teringat bapaknya. Ari jadi malu terlihat seperti itu di depan teman-temannya. Ari pun beranjak pergi dari tempat duduknya. Nara benar-benar memahami perasaan Ari. Dia tahu, paman iparnya yang jahat tehadap bapak Ari. Nara ingin mengejar Ari, tapi Tata lebih dulu berlari menuju pintu samping restoran dimana Ari tadi keluar. Di samping restoran ada taman. Ari terihat berdiri di sudut taman.


“Ari!” Tata berjalan mendekati Ari yang berdiri membelakanginya.


“Ari!” desis Tata lagi, karena Ari yang sudah di hadapannya masih membelakanginya.


“Ari!” Tata harus menarik lengan Ari, memaksa Ari untuk membalik badannya.

__ADS_1


Walau mereka sudah berhadap-hadapan tapi kepala Ari masih tertunduk.


“Sori Ta, aku tadi merusak acara kalian disana…” kata Ari lirih, kepalanya masih tertunduk.


”Nggak apa-apa Ri, mereka paham kok…” Tata melihat tangan Ari gemetar.


“Sebenarnya aku nggak pengen nangis…” suara Ari masih parau.


“It’s ok Ri… kamu kalau pengen nangis, nangis aja…”


Ari masih tertunduk. Tangannya mulai terkepal. Tata pun maju selangkah. Dia dekap badan Ari yang masih kaku, membenamkan mukanya di pundak Ari. Kepalan tangan Ari mulai terbuka. Pelan Ari pegang punggung Tata. Ari mulai melingkarkan tangannya ke badan Tata, membenamkan mukanya di rambut Tata. Di dekapan Tata, emosinya luntur. Dekapan Ari semakin erat, karena emosinya kini sedang tumpah. Ari tidak bisa menahan bulir-bulir air dari matanya yang kini membasahi rambut Tata.


***


Jam tujuh malam, rombongan study tour sudah kembali ke hotel. Jam delapan, makam malam disediakan oleh pihak hotel di aula. Malam ini sebagian dinding aula dibuka karena akan ada pertunjukan sendratari. Ari, Toha,


Wira dan Nara ada di satu meja bersama-sama teman sekelas lainnya. Kali ini Nara membuat kesepakatan untuk tidak membicarakan masalah hantu dulu di depan Ari. Kebetulan Ari melihat ibu petugas hotel yang tadi pagi memperingatkannya mengenai pembalut. Ari pun memberi tahu ke yang lain. Saat ibu itu lewat di depan mereka, Nara memanggilnya. Nara mengucapkan terimakasih atas informasi yang telah diberikan ibu itu. Lalu Nara hendak memberikan sejumlah uang tapi ibu itu menolaknya. Kebetulan sendratari sudah dimulai. Bunyi-bunyi tabuhan alat musik tradisional mulai riuh terdengar.


“Nanti nonton pertunjukannya biasa saja ya,” kata ibu petugas hotel, setelah tadi sempat melihat Ari, Toha, Wira dan Nara satu persatu,” Lihatnya nggak usah terlalu serius,” Lalu ibu itu melihat cincin yang ada di jari Wira,” Dik, kalau bisa cincinnya jangan dipakai dulu. Simpan saja dulu di dalam tas,” katanya pada Wira.


Wira pun langsung menuruti kata-kata ibu itu. Dan benar juga, saat mereka makan, sesekali mereka melihat ke arah pertunjukan. Kadang mereka melihat panggung pertunjukan penuh sesak. Semakin lama penari di panggung semakin banyak. Beberapa penari terlihat tidak punya wajah. Dan Nara pun mulai memasang tudung jaketnya.


“Ayamnya enak banget nih Gaes…” Wira mengambil lauk lagi untuk mengalihkan perhatian teman-temannya.


Ari dan Toha jadi ikut mengambil ayam. Lalu mereka melihat ada rombongan masuk ke aula. Yang aneh, rombongan itu semua ibu-ibu berambut panjang dan semuanya berbaju orange. Tadinya, Ari dan teman-temannya mengira mereka tamu hotel yang mau makan malam. Tapi dari tadi mereka hanya berputar-putar, seperti sedang mencari meja yang kosong. Lama-lama Ari dan teman-temannya sadar, rombongan itu memang sengaja berjalan mengitari bangku-bangku yang telah penuh diduduki oleh teman-teman mereka. Lalu ada satu murid perempuan yang tiba-tiba berteriak-teriak histeris di bangku yang paling ujung. Murid-murid yang duduknya tak jauh dari murid yang histeris itu jadi panik. Beberapa ada yang mencoba membantu, beberapa kabur ketakutan. Ari dan teman-temannya bisa melihat, rombongan ibu-ibu berbaju orange memang sedang berputar-putar di area sana. Lalu Ari ingat Tata. Dia mulai berdiri dan mencari-cari ke arah area kelas Tata. Tapi Ari tidak menemukan Tata, karena di sana juga  sedang terjadi kehebohan. Ada satu murid yang histeris lagi. Ari jadi tambah cemas. Saat menoleh ke samping, Ari kaget. Dia melihat Tata tak jauh dari tempat dia berdiri. Tata sedang bersama ibu petugas hotel tadi. Wajah Tata terlihat cemas dan tangannya sedang dipegang ibu petugas hotel itu. Ari segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat Tata. Saat sedang berjalan ke arah sana, Ari merasa suasana sekitar bertambah redup. Banyak tanaman bersulur di kanan kirinya.


“Ari…” Tata kaget begitu melihat Ari. Begitu juga ibu petugas hotel itu.


Ibu petugas hotel memandangi Ari sebentar. Lalu dia mencoba untuk bersikap tenang.


“Kamu bisa masuk ke sini?” ibu itu bertanya pada Ari.


Ari yang ditanya begitu malah bingung.


“Tata…” jawab Tata singkat.


“Sedang ada tamu tak diundang. Tata bisa jadi bulan-bulanan mereka,” ibu itu menjelaskan ke Ari.


“Tapi Tata sudah memakai kalung…” Cetus Ari polos.


“Aura Tata tajam sekali buat mereka,” jawab ibu itu.


Lalu tiba-tiba langit jadi terang. Ari terperanjat saat mendongak ke atas. Ada bola api melayang kencang disana. Dan tidak hanya satu. Ada dua bola api yang seperinya sedang kejar mengejar.


“Sedang ada perang di dunia halus…” desis ibu itu.


“Apa itu Bu?” tanya Ari. Dia jadi ingat bola api yang melayang di atas gedung sekolah.


“Itu raja-raja mereka sedang bertempur…” kata ibu itu yang wajahnya kini terlihat tegang.


Lalu ibu itu melihat sekitar. Kehebohan di tempat makan malam semakin bertambah. Beberapa orang berbaju adat terlihat kewalahan membantu mereka.


“Dik tolong jaga Tata… Saya harus membantu mereka,” kata ibu itu ke Ari,”Pegang tangan Tata… Jangan jauh-jauh dari pohon kamboja ini dulu.”


Ari menoleh ke belakang. Di belakangnya ada pohon kamboja. Tapi bunganya tidak berwarna putih. Bunga-bunga yang rekah di pohon itu semuanya berwarna hitam.


“Kamu bisa keluar kan?” Ibu itu bertanya ke Ari.


Ari mengangguk.


“Kalau Tata mau keluar, kalungnya harus dilepas dulu,” Kata ibu itu.

__ADS_1


Ari dan Tata saling berpandangan. Mungkin karena itu di objek wisata tadi Tata tidak bisa keluar. Lalu ibu itu beranjak meninggalkan Ari dan Tata. Beberapa murid mulai meninggalkan aula karena takut. Sementara sesekali bola api melintas di atas. Tata merapatkan berdirinya ke Ari.


“Ternyata disini ada yang seperti itu Ri…”


“Iya Ta…”


Ari dan Tata mendongak ke atas. Bola api itu masih berputar-putar. Ari dan Tata pun mulai saling mendekap.


“Kamu nggak apa-apa kan Ri?” tanya Tata karena dari tadi Ari terlihat tegang.


“Nggak apa-apa Ta…” Wajah Ari masih tegang.


“Ri, apapun yang terjadi… Aku akan selalu dukung kamu…” Bisik Tata di telinga Ari.


Ari mengangguk. Dia sandarkan wajahnya ke rambut Tata. Selama ini, Ari selalu berusaha melindungi Tata. Kali ini, kata-kata Tata telah melindungi hatinya. Ari pun mendekap Tata lebih erat. Karena tidak akan ada


yang akan melihat mereka berdua disitu. Dua anak remaja yang saling berdekapan di bawah pohon kamboja. Barusan tadi Gaby dan kelompoknya tergopoh-gopoh lewat persis di depan mereka. Tetapi tetap saja mereka tidak bisa melihat Ari dan Tata. Walau disana masih tersisa kehebohan, Ari dan Tata merasa punya dunia mereka sendiri. Di tempat mereka berdiri. Di alam yang tidak semua orang bisa lihat. Lalu di antara kerumunan, Ari melihat Toha, Wira dan Nara. Wajah mereka terlihat bingung. Sepertinya mereka sedang mencari Ari.


“Ri, kita musti keluar. Mereka pasti nyariin kamu,” kata Tata.


Ari ragu. Bisa jadi keadaan belum aman buat Tata di sana. Lalu ada Astri terlihat menemui Toha. Astri pasti sedang mencari Tata.


“Ri, kita musti ke sana,” pinta Tata.


Ari menatap Tata sebentar. Untuk keluar, Tata harus melepas kalungnya. Ari jadi bertambah cemas. Tapi Tata sepertinya bersikeras. Dia sudah siap-siap melepas kalungnya. Begitu kalung Tata dilepas, Ari cepat-cepat menggandeng Tata untuk keluar dari situ. Ari sempat menoleh ke belakang. Dia masih melihat pohon kamboja. Tapi bunganya putih, bukan hitam. Suasana jadi lebih terang dan Ari sudah tidak melihat tanaman bersulur di sekitar. Tapi dari satu kerumunan, Ari dan Tata melihat satu orang menyeruak mendatangi mereka. Ari dan tata mengira dia salah satu penari yang ikut di pertunjukan tadi. Tapi setelah dekat, Ari dan Tata sempat tersentak, mata melotot dan taring panjang itu bukan topeng, tapi wajah asli dari sosok yang kini ada di hadapan mereka. Sosok itu berambut putih panjang dengan kuku panjang. Ari cepat-cepat berdiri di depan Tata.


“Tata pakai kalung kamu!” desis Ari.


Tata pun segera memakai kalungnya. Dada Ari berdegup makin kencang, karena sosok itu hanya beberapa senti berdiri di depannya. Tapi ini yang harus dia lakukan, melindungi Tata dari apapun. Dan tak dinyana, sosok itu tiba-tiba berlutut di depan Ari. Ari bisa melihat sebagian tubuhnya yang teluka. Ada darah keluar dari sana. Warnanya tidak merah tapi hitam. Sebagian berceceran di tanah. Tak berapa lama, sosok itu beringsut pergi, menghilang di tengah kerumunan.


“Ri, ada apa?” tanya Tata cemas. Dengan kalung melingkar di lehernya, dia tidak bisa melihat sosok itu lagi.


“Dia sudah pergi Ta,” jawab Ari.


Belum habis rasa heran Ari dan Tata, terdengar suara-suara memanggil mereka. Toha, Wira, Nara dan Astri berlari mendekati Ari dan Tata,


“Ri, dari mana lo?” tanya Toha.


“Nanti gue ceritain…”Jawab Ari,”Tapi kayaknya sementara kita musti keluar dari sini dulu deh.”


“Gimana kalau kita carter mobil lagi, terus keluar dari sini,” usul Nara.


Sepertinya semua setuju dengan usul Nara. Yang penting, untuk malam ini saja, mereka bisa keluar dari tempat itu. Setelah dapat mobil carteran, mereka berenam keluar dari hotel. Di dalam mobil tidak ada yang bicara. Bahkan Ari lupa untuk menceritakan kejadian yang dia alami dengan Tata.


“Ri, lo tadi sempet abisin makan malam lo?” tanya Toha malas-malasan di belakang.


“Iye, gue nggak sempet,” kata Ari di depan.


“Gue tadi ketinggalan ayam satu,” sahut Toha.


Astri pun menoyor kepala Toha karena malu-maluin.


“Emang masih pada laper lo?” tanya Wira di belakang setir.


“Gimana kalau kita makan di restoran lagi,” tanya Tata.


“Boleh Ta, biar ntar tidurnya bisa nyenyak,” jawab Toha. Dan Astri harus menoyor kepala Toha lagi.


“Gimana kalau habis makan kita jalan-jalan dulu?” tanya Nara.


“Asiiiik!” Teriak Toha.

__ADS_1


Mobil yang mereka kendarai melintas di suasana malam kota. Tampaknya mereka sudah penat dengan apapun yang berurusan dengan hantu. Malam ini tidak ada seorang pun yang bicara tentang hantu.


__ADS_2