
Bus mulai melaju kencang saat meninggalkan kota. Suasana di dalam bus tetap saja riuh. Beberapa anak tak berhenti bernyanyi. Beberapa lagi selalu bercanda. Kadang Pak Riza kewalahan memberi peringatan saat mereka sudah kelewatan. Ari dan Wira hanya memandangi kelakuan teman-teman sekelasnya. Sesekali Ari memandangi tas kecil yang dibawa Wira.
“Lo bawa cincin ya Wir?” tanya Ari setengah berbisik.
“Iya… Lo bisa lihat?” Wira balik tanya.
Ari mengangguk. Beberapa kali tadi dia melihat bayangan putih keluar masuk tas Wira.
“Lo nggak kasih ke Nara kan?” tanya Ari.
“Nggak lah,” Jawab Wira.
“Kenapa lo nggak jadian lagi sama Nara?” tanya Ari sok ingin tahu.
“Musti gue jelasin?” kata Wira kesal.
“Jadi perasaan lo sama Nara gimana?”
“Tahu deh Ri.”
“Kasihan Nara Wir… Gue pengennya lo jadian sama Nara lagi.”
Ari tidak bisa membayangkan kalau Nara jadian sama Bang Yudha. Bang Yudha kan umurnya jauh di atas Nara.
“Lo mah enak ngomong… Gue yang ngejalanin puyeng,” Kata Wira setengah curhat.
Lalu Nara muncul dari balik bangku di depan.
“Ri, lo gantian sama Toha deh ke sini,” kata Nara dengan nada kesal.
“Kenapa emang?” tanya Ari.
“Si Toha nih, nggak asik orangnya,” jawab Nara,” Nggak bisa diajak ngobrol. Kerjaannya chatting mulu sama Astri.”
“Mmm… Gitu. Mending Wira aja yang ke situ, gimana?” tanya Ari.
Nara langsung melotot galak ke Ari.
“Ok… Ok… Gue ke situ,” kata Ari mengalah.
Lalu Nara menyuruh Toha pindah ke belakang. Toha cuek saja sembari tak berhenti chatting dengan Astri. Ari sempat melirik Wira. Wira diam tapi wajahnya terlihat sewot.
“Lo ok kan Ri?” tanya Nara begitu Ari duduk di sebelahnya.
“Gue ok Ra,” jawab Ari polos.
“Eh Ri, gue mau cerita ke lo soal yang gue tanya masalah bola api ke Bang Yudha…” kata Nara yang sengaja memelankan suaranya.
“Kenapa kita nggak bahas aja berempat?” tanya Ari.
“Males ah gue. Kalau gue cerita soal Bang Yudha, Wira suka sewot,” jawab Nara,” Si Wira mah baperan orangnya, Nggak kayak lo Ri.”
“Jadi gimana ceritanya Ra?”
“Kata Bang Yudha, kalau dia sampai bisa terbang berarti dia itu udah masuk ke sekokah kita Ri…”
“Nah kan Ra, apa gue bilang.”
“Terus katanya lagi, kalau yang kayak ginian dia musti tanya dulu ke gurunya…”
Benar apa yang Ari kira. Hantu bola api ini akan lebih menyeramkan dari yang lain-lain yang pernah masuk ke sekolah. Bang Yudha saja sampai harus tanya ke gurunya. Hantu lidah menjulur ada di kepalanya lagi. Ari berusaha ingat kata-kata Tata. Sesekali dia ambil nafas dalam-dalam.
“Ri, lo yakin, bola api itu hantu yang bikin papa lo meninggal?” tanya Nara datar.
Lama Ari diam. Ari baru sadar, dia tidak punya jawaban atas pertanyaan Nara.
“Mmm… Nggak tahu juga deh Ra…” jawab Ari sambil memegangi kepalanya, berusaha menenangkan dirinya,”Mendingan kita tunggu aja sampai kita ketemu lagi sama Pak Riza dan Kak Karin.”
“iya sih… Tapi lo ok kan?” tanya Nara sekali lagi, karena baru tadi Nara lihat Ari seperti orang gila saat melihat bola api.
Ari mengangguk pelan, tapi pikirannya sedang kemana-mana. Nara sepertinya harus membiarkan Ari dengan kegalauannya.
“Eh Ra… Tahu nggak lo?” Ari bersuara setelah tadi lama diam.
“Kenapa Ri?” tanya Nara berusaha menanggapi.
“Ra Lo perhatiin nggak? Bola api itu berputar-putar dimana?”
“Di atas atap maksud lo?”
“Iya di atas atap… Tapi di bawahnya ruang apa?”
__ADS_1
“Ruang kepala sekolah,” Jawab Nara spontan.
Lama Nara serius menatap Ari. Dia ingat cerita, sesuatu telah ditanam di bawah lantai ruang kepala sekolah. Paman ipar Nara yang memerintahkannya saat jadi kepala sekolah, tidak lama setelah meninggalnya bapak Ari. Lalu Paman Nara meninggal. Dukun yang menanam benda itu pun ikut meninggal. Dan mereka semua dikabarkan bunuh diri.
Nara dan Ari masih saling pandang.
“Jadi bener dia itu hantu yang ada di gambar lo Ri?”
Ari hanya menatap Nara. Tetap saja dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Gue tahu perasaan lo Ri,” pelan Nara bersuara,”Gue aja merasa nggak terima, walau itu cuma om ipar gue, yang notabene gue juga jarang ketemu. Tapi ini papa lo Ri…”
Ari mengangguk pelan. Bukan saja karena kematian bapaknya. Tapi juga penderitaan ibunya setelah ditinggal suaminya. Kalau sudah begitu Ari ingat kata-kata Tata tadi. Juga nasehat kakeknya. Ada sesuatu yang mustinya
lebih dia pikirkan. Ari jadi sedikit menyesal ikut study tour ini. Dia harus meninggalkan ibunya selama empat hari. Untuk beaya study tour ini pun dia harus memakai tabungan ibunya.
“Ri, kalau butuh bantuan gue, lo tinggal bilang,” kata Nara sembari menyandarkan duduknya.
“Iya Ra… Makasih udah dukung gue…” kata Ari.
Pandangan Ari masih menerawang. Sepertinya saat ini dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara keriuhan di dalam bus mulai hilang. Setelah tadi kotak makan siang dibagikan, susasana makin lama makin
hening. Kantuk pun mulai menggelayuti Ari, walau sosok hantu lidah menjulur sesekali melintas di pikirannya. Saat merasa tertidur, Ari pun berusaha bangun. Tapi kali ini, saat dia terjaga, Ari lihat kepala Nara tersandar di bahunya.
Sepertinya Nara pulas tertidur. Ari tidak berani membangunkan Nara. Dia biarkan kepala Nara tersandar disana. Wajah Nara yang pulas begitu dekat. Hembusan nafasnya terasa di dada Ari dan Ari bisa mencium wangi rambut Nara. Tanpa sadar Ari menggeser kepalanya, membiarkan rambut Nara tergerai di hidungnya. Karena wangi
yang dirasakannya saat ini menyingkirkan hantu itu dari ingatannya. Dan Ari merasa tenang memejamkan matanya. Sesekali Ari lihat ke jendela. Samar dia masih lihat pemandangan garis laut dan biru langit di luar sana. Tapi Ari merasa, langit begitu cepat berubah. Warna merah mulai muncul di ujung sana. Lama-lama warna merah itu jadi pekat seperti darah. Ari lihat sekitar. Suasana gelap seperti malam yang telah larut. Lalu Ari lihat di luar. Setitik cahaya berputar-putar di sana. Lama-lama cahaya itu membesar menjadi bola api. Darah Ari terasa berdesir. Bola api itu bergemuruh melayang cepat mengikuti kencangnya laju bus. Ari ingin berteriak. Tapi untuk menggerakkan badannya, dia tidak bisa. Ari terkesiap saat bola api itu menembus jendela. Cepat dia rentangkan tangannya karena lidah yang begitu panjang sudah ada di depannya. Dia lihat cakar yang panjang dan isi perut yang keluar.
“Ari! Ari! Bangun Ri!” teriakan Nara terdengar di samping Ari.
Ari menggerak-gerakkan tangannya, berusaha menghalau hantu yang mendekatinya.
“Ari sadar!” teriakan Nara kini lebih keras.
Ari pun diam. Nafasnya masih memburu. Peluh membasahi wajahnya. Ari baru sadar, dia tadi bermimpi. Ari melihat Nara di sampingnya dengan wajah khawatir. Lalu Ari melihat bus yang kosong dan gelap.
“Lo mimpi ya Ri?” tanya Nara.
“Iya Ra… Gue mimpi hantu itu…” suara Ari parau.
“Lo harus tenang Ri…” kata Nara merasa kasihan.
“Kita dimana Ra? Yang lain pada kemana?”
Lalu Nara mengambil tissue dari tas kecilnya. Dia lap peluh yang masih bercucuran di wajah Ari. Dengan posisi duduk mereka sekarang, wajah Ari dan Nara begitu berdekatan. Tanpa sengaja mereka saling tatap. Ari belum pernah sedekat ini dengan Nara. Merasakan hembusan nafas Nara di wajahnya. Begitu sadar, mereka berdua pun menggeser duduk di sandaran bangku masing-masing. Beberapa saat situasi jadi canggung.
“Lo nggak makan Ri?” tanya Nara pelan memecah kebisuan.
“Nggak… Gue nggak laper…” jawab Ari.
Lama mereka diam lagi.
“Lo nggak makan Ra?” tanya Ari.
“Nggak… Gue juga nggak laper,” jawab Nara.
Akhirnya mereka cuma duduk diam. Hanya mereka berdua di bus yang sunyi, memandangi gelap lautan dan langit bertabur bintang.
***
Sekitar jam enam pagi, rombongan study tour sampai di hotel. Ari, Toha, Wira dan Nara turun dari bus bersama teman sekelas lainnya. Mereka mendapatkan kamar hotel di area paling belakang. Saat berjalan bersama rombongannya, Ari merasa ada sesuatu yang aneh. Ada beberapa petugas hotel yang lalu lalang. Tapi ada satu petugas hotel perempuan yang berulang kali Ari lihat. Dan dia selalu muncul di suatu tempat. Petugas hotel perempuan yang sama. Ari melirik Toha dan Wira. Sepertinya mereka melihat hal yang sama. Nara mulai memakai memakai tudung jaketnya dan berjalan merapat ke Ari. Ari mengisaratkan agar mereka bersikap biasa saja supaya yang lain tidak merasa takut. Sampai di kamar hotel, Ari langsung mandi. Toha dan Wira masih malas-malasan di kasur masing-masing.
“Buruan mandi Gaes, ntar kita berangkat jam sembilan,” selesai mandi Ari mengingatkan kedua temannya.
“Tenang Bro, Belanda masih jauh…” kata Wira sembari meluruskan kakinya di kasur.
“Gimana kalau kita langsung sarapan aja,” cerus Toha.
“Setuju Bro…” balas Wira tertawa ngakak.
Tapi seketika tawa Wira terhenti. Seorang petugas perempuan masuk kamar mereka. Tanpa permisi, tanpa menyapa, dia langsung menuju kamar mandi dan memeriksa tempat sampah yang ada di sana. Lalu petugas hotel itu berjalan keluar kamar. Ari, Toha dan Wira masih tegang di tempatnya masing-masing. Mereka tahu, itu petugas hotel yang tadi mereka lihat berkali-kali. Setelah itu Wira dan Toha pun berebut untuk mandi duluan. Dan ponsel Ari berdering, ada panggilan dari Nara.
“Halo Ra…”
“Halo Ri… Ri gue mau minta tolong dong…”
“Kenapa Ra?”
“Lo ke kamar gue dong Ri, penting nih…”
“Ok… Ok… Gue ke situ ya.”
__ADS_1
Ari bergegas menuju kamar Nara meninggalkan Toha dan Wira yang masih berebut kamar mandi. Sampai di sana, Nara sudah menunggu di pintu.
“Ri sori banget nih… Abis gue nggak tahu minta tolong sama siapa…”
“Kenapa Ra?”
“Gue ternyata mens… Dan gue lupa bawa pembalut… Bisa tolong cariin di minimarket nggak Ri?”
Ari mikir-mikir. Malu juga dia beli pembalut di minimarket.
“Please Ri…”
“Ok ntar gua cari minimarket di depan.”
“Tapi lo jangan bilang-bilang Tata ya… Ntar dia marah lagi.”
“Nggak lah…”
Tapi sebelum berangkat, Ari sempat terperanjat. Barusan dia lihat petugas hotel perempuan yang sama, keluar dari kamar Nara. Lalu terdengar dari dalam, dua teman sekamar Nara mempermasalahkan tempat sampah yang dipindah.
“Yang tadi ya Ri?” bisik Nara sambil memasang tudung jaketnya.
Ari mengangguk. Sepertinya dia sudah tidak melihat petugas hotel itu. Ari pun bergegas keluar hotel untuk mencari minimarket. Tak jauh dari hotel, Ari menemukan satu minimarket. Agak canggung juga Ari membayar di kasir membeli pembalut. Saat kembali ke hotel, Ari sengaja menutupi bawaannya dengan tangannya. Dari jauh Ari melihat ibu-ibu berseragam hotel sedang memperhatikannya. Saat berpapasan, ibu itu mendekat ke Ari.
“Dik, rombongan study tour ya?” tanya ibu itu pelan.
“Iya..” Jawab Ari. Ibu itu setengah tua. Pandangan matanya teduh.
“Ibu cuman mau pesen… Nanti bilang sama temen kamu, kalau mau buang pembalut, pembalutnya dicuci dulu sampai bersih. Terus nyucinya di kloset ya, jangan di wastafel atau di kamar mandi.”
Ari mengangguk walau belum tahu maksud ibu itu. Ibu itu pun meminta diri sembari membawa perkakas untuk sarapan. Saat bertemu Nara, Ari menceritakan pertemuannya dengan ibu tadi.
“Aneh juga ya Ri…” guman Nara.
“Iya sih Ra… Tapi mending lo turutin aja sih apa yang dia bilang. Kayaknya dia orang lama di hotel.”
“Ok, ok,” Kata Nara,” Tapi beneran ya Ri, jangan bilang ke Tata… Nggak enak gue…” Nara mengingatkan.
“Iya tenang aja…”
Sekitar jam delapan, murid-murid dipersilahkan sarapan di aula hotel. Tapi saat mereka berduyun menuju aula, ada kehebohan di salah satu kamar hotel. Seorang murid perempuan dari kelas lain terlihat menjerit-jerit histeris di depan kamar hotelnya. Dua orang teman sekamarnya tampak panik berusaha minta tolong. Murid-murid lain pun jadi berkerumun disana. Pak Risa dan satu orang guru datang ke sana memeriksa. Ari, Toha dan Wira berusaha meringsek masuk ke kerumunan untuk melihat apa yang terjadi. Murid perempuan tadi sudah dipegang Pak Riza dan satu guru lagi. Walau sudah tak sehisteris tadi tapi mulutnya masih tergagap-gagap. Ari, Toha dan Wira bisa melihat petugas hotel perempuan yang tadi. Tidak hanya satu, mereka ada tiga, dan mereka sedang bergantian keluar masuk badan murid yang sedang dipegang Pak Riza. Pak Riza melirik ke Ari. Ari mengangguk pelan tanda dia sedang melihat sesuatu. Lalu Ari diam-diam mengajak Toha dan Wira masuk ke kamar murid yang histeris itu. Kebetulan Nara juga sudah menyusul di belakang. Pelan mereka berempat berjalan menuju kamar mandi. Dan di dekat pintu kamar mandi mereka berempat melihat petugas hotel perempuan yang sama. Di sana, mereka ada lima. Mereka sedang mengerumuni tempat sampah. Lidah mereka panjang menjulur-julur menjilati sesuatu yang ada di tempat sampah. Ari mengajak yang lain segera pergi dari situ sebelum mereka sadar sedang dilihati.
Murid yang histeris tadi sudah dipindah ke kamar lain. Yang lain pun disuruh bubar dan melanjutkan sarapan, Nara
sempat bertanya pada dua teman sekamar murid yang histeris itu, katanya dia sedang menstruasi. Ari jadi ingat Tata. Cepat-cepat dia langkahkan kakinya melewati rombongan murid yang sedang menuju aula. Ari melihat Tata di kerumunan kelasnya. Begitu melihat Ari, senyum Tata melebar. Tapi Ari masih serius dan mengisaratkan Tata untuk bertemu di tempat sepi. Akhirnya diam-diam mereka bertemu di belakang dapur.
“Ri ada yang kesurupan ya?” tanya Tata. Dia tidak terlihat takut. Wajahnya justru ceria melihat Ari pagi ini.
“Iya Ta…” Ari melihat Tata masih memakai kalungnya,” Mmm Ta…”
“Ada apa sih Ri?” Tata selalu geli melihat Ari yang sedang canggung.
“Kamu nggak sedang mens kan?” tanya Ari.
“Kenapa sih nanya-nanya?” Tata bertambah geli.
“Ta, ini serius…”
Lalu Ari menceritakan kejadian di kamar murid yang kesurupan tadi. Juga nasehat ibu-ibu petugas hotel yang Ari temui pagi ini.
“Kok ibu itu kasih infonya ke kamu? Kamu nggak sedang menstruasi kan?” tanya Tata setengah bercanda.
“Iya soalnya…” Ari tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Soalnya kenapa Ri…”
“Mmm Ta… Kalau aku bilang… Kamu nggak marah kan…” kata Ari. Soalnya dia sudah terlanjur keceplosan.
“Emang kenapa sih Ri?”
“Tadi pagi tuh aku sedang beliin Nara pembalut…”
“O, gitu…”
“Kamu nggak marah kan Ta?”
“Iya nggak lah Ri,” jawab Tata,” Kok kamu kayak merasa bersalah gitu sih Ri? Nara nggak kenapa-kenapa kan Ri?”
“Mmm Nara… Nara nggak kenapa-kenapa kok Ta.”
“Ya udah kalau gitu… Ntar di objek wisata kita bareng-bareng ya Ri. Sama Nara, sama Toha, Wira, sama Astri juga.”
__ADS_1
“Iya… Iya Ta.”
Lalu Tata meninggalkan Ari menuju aula. Ari masih berdiri di tempatnya. Entah kenapa dia begitu merasa bersalah pada Tata. Dan dia tidak bisa untuk tidak dekat dengan Nara.