
Ari dan Tata buru-buru keluar dari kamar. Beberapa saat tadi mereka sadar sudah terlalu lama berada di alam sana. Disana jarum jam tangan mereka tidak bergerak. Dan benar saja, mereka seperti cuma beberapa menit disana. Ari dan Tata sempat melihat jam dinding di kamar. Lebih dari tiga jam mereka berdua disana. Lalu ada tiga notifikasi miscall di ponsel Tata dari ibunya.
“Kamu nggak telpon balik mama kamu Ta?” tanya Ari.
“Ntar aja Ri, kalau udah di taxi,” kata Tata yang buru-buru memakai sepatunya.
Tata tidak berpamitan dengan ibu Ari karena sedang tidur. Dan di luar hujan mulai turun. Ari pun mengambil payung untuk mengantar Tata mencari taxi. Di pinggir jalan, Ari dan Tata bediri di bawah satu payung. Kali ini, berdua mereka memegang payung sembari saling pegang tangan. Taxi yang mereka tunggu tak kunjung datang sementara hujan semakin deras.
“Ri, ingat nggak dulu pertama kali aku main ke rumah kamu?” tanya Tata di sela hujan.
“Iya Ta, dulu hujan juga ya waktu aku antar kamu cari taxi,” jawab Ari.
Di bawah payung, Ari dan Tata bertatapan lama mengenang masa itu. Waktu itu, walau ada Tata, Ari masih memikirkan hantu yang dia anggap jadi biang kematian bapaknya. Sekarang Ari sudah tidak peduli lagi dengan hantu itu, karena Tata sepenuhnya sudah mengisi hidupnya. Lalu ponsel Tata bergetar di dalam tasnya. Ternyata ada panggilan dari ibunya. Tata jadi kelabakan karena dia belum berada di dalam taxi.
“Halo Ma…” jawab Tata dengan suara terbata.
“Kamu dimana Ta… Berkali-kali mama telpon nggak diangkat…” suara ibu Tata keras di ponsel Tata.
“Mmm… ini sedang nunggu taxi Ma… Di pinggir jalan… Tadi HP Tata lowbat… HP Tata dicharge di dalam rumah Astri… Tata ngerjainnya kan di kebon…”
“O gitu… Mama mau bicara sama Astri dong Ta.”
“Mmm… Astrinya…. Astrinya nggak bisa nganter Tata Ma… Ini kan lagi hujan… Astri agak nggak enak badan… Jadi Tata cuman pinjem payung aja sama Astri…”
“Tata… Tata… Lagian kenapa sih kamu nggak mau dianterin sama Pak Rado aja…”
“Kan Tata udah bilang… Gangnya rumah Astri itu sempit… Nggak bisa masuk mobil Ma…”
“Kan Pak Rado bisa cari parkir di tempat lain… Nanti tinggal jemput kamu aja… Pokoknya besok-besok kamu harus dianterin Pak Rado…”
Ari yang diam di sebelah Tata jadi tegang mendengar Tata bicara dengan ibunya. Beberapa saat Tata masih berargumen dengan ibunya. Tapi pada akhirnya Tata berusaha untuk mengalah.
“Iya… Iya Ma… Kapan-kapan Tata dianter sama Pak Rado aja…” Lalu Tata menutup telponnya.
Saat itu juga ada taxi lewat di depan mereka. Ari dan Tata cepat-cepat menghentikannya.
“Ri… Kayanya aku harus bawa payungnya deh,” kata Tata buru-buru,”Soalnya tadi aku cerita ke mama pinjam payung dari Astri… Gimana Ri?”
“Iya bawa aja Ta,” Ari tahu, Tata harus bermasalah dengan ibunya gara-gara datang ke rumahnya.
Tata cepat-cepat masuk taxi. Cuma beberapa detik saja Ari dan Tata sempat saling melambaikan tangan. Selebihnya, dengan badan basah kuyup diterpa derasnya hujan, Ari hanya bisa memandangi taxi Tata yang menjauh. Lama-lama Ari berpikir semua ini jadi tidak adil buat Tata. Untuk datang ke rumah Ari, Tata harus bohong pada ibunya. Ada rasa bersalah muncul pada Ari, bagaimana Tata harus menanggung hubungan yang tidak baik dengan ibunya. Tapi di bawah guyuran deras hujan, Ari merasa hari hari ini adalah hari yang terbaik di sepanjang hidupnya. Dan Tata adalah hal terbaik yang pernah dia miliki.
***
Sebulan sudah berlalu. Libur panjang telah selesai. Sinar pagi mulai menerangi bangunan tua sekolah favorit. Ini hari pertama masuk sekolah. Ari ada di antara anak-anak yang datang pagi ke sekolah. Langkah Ari penuh semangat. Bukan karena ini hari pertama dia ada di kelas 12, tapi karena hari ini dia akan bisa melihat Tata lagi.
Sesaat Ari perhatikan salah satu bagian atap gedung sekolah. Sebulan lalu Ari lihat bola Api terbang di atasnya. Tapi sepertinya Ari merasa pagi ini tidak ada sesuatu di sana. Ari pun berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Saat lewat parkir sepeda, Ari melihat Toha baru memarkir sepedanya. Ada yang beda dari Toha. Sepertinya sebulan ini Toha tidak memotong rambut. Rambutnya yang keriting tampak tebal di kepalanya. Bagian belakangnya sudah melebihi krah baju.
“Ri… Akhirnya gue bisa datang sepagi lo…” Toha menghampiri Ari sembari memasang topi di kepalanya.
“Iye bagus lah Ha,” Ari masih memperhatikan Toha yang bicara sambil mengunyah permen karet. Tidak biasanya Toha memakai baju dengan lengan ditekuk dan kancing bagian atas dibuka. Lalu topi di kepalanya dipakai terbalik.
“Hai Gaes,” suara Nara terdengar di belakang Ari dan Toha.
Ari menoleh ke belakang. Nara disana sedang berjalan santai ke arah Ari dan Toha. Mata Ari setengah terbelalak. Ari melihat penampilan Nara benar-benar berbeda. Rambut Nara dipotong pendek hingga sebatas leher. Dan Nara tidak memakai jaket merah yang biasa dia pakai. Nara memakai jaket jeans yang tidak ada tudung kepalanya.
“Kenapa, nggak suka ya sama penampilan gue?” kata Nara dengan muka cuek.
“Mmm enggak… Mmm bagus kok,” Ari berusaha basa-basi. Tapi sepertinya Toha tidak terlalu terkejut dengan penampilan baru Nara.
“Ntar jadi kan kita ketemu Kak Karin?” tanya Toha ke Ari.
“Iya Ha… Harusnya sih jadwalnya setelah pulang sekolah,” jawab Ari.
Lalu dari gerbang sekolah kencang terdengar suara kendaraan yang meraung. Hampir semua murid yang masih di halaman menoleh ke sana.
“Lho itu kan Wira?” kata Toha menunjuk seorang murid mengendarai motor yang baru masuk gerbang.
“Ganti motor dia?” guman Ari. Biasanya Wira pakai vespa butut. Kini dia melaju kencang dengan motor laki layaknya geng motor.
__ADS_1
Saat menuju ke kelas 12, Ari, Toha dan Nara berpapasan dengan Wira.
“Motor baru Wir?” tanya Toha.
“Iye,”jawab Toha dengan muka bangga,” Merdu kan suaranya?”
“Nggak salah tuh?” kata Nara protes suara berisik motor Wira yang dibilang merdu.
Wira menoleh ke Nara. Sesaat Wira terpana dengan penampilan baru Nara. Nara tahu Wira sedang mengagumi penampilannya.
“Eh tumben lo nguyah permen karet?” tanya Wira ke Toha mengalihkan perhatian.
Toha cuma nyengir sembari menawarkan sisa permen karetnya Wira. Tapi Wira menolaknya. Wira cuma risih melihat Toha sok cool mengunyah permen karet.
“Gue mau dong Ha,” pinta Nara ke Toha.
Nara pun jadi mengunyah permen karet selama mereka jalan menuju ke kelas. Dan tak jauh dari mereka, seperti biasa kelompok Drako mulai mengolok-olok. Freak! Freak! Freak! Ari sudah was-was dengan reaksi Wira. Tapi ternyata Wira terlihat santai saja.
“Gue tahu kenapa mereka begitu…” guman Wira pelan.
“Kenapa?” tanya Ari spontan.
“Mereka sebenarnya takut sama kita,”jawab Wira,”Karena kita tidak takut hantu… Mereka yang takut hantu.”
“Kita kan Komplotan Tidak Taku Hantu,” sahut Toha sembari meludah, membuang permen karet dari mulutnya.
Nara tetap cuek tanpa berhenti mengunyah permen karetnya. Sekilas Ari memperhatikan ketiga temannya. Setelah satu bulan tidak bertemu, Ari melihat mereka banyak berubah. Ketiga temannya terlihat lebih tenang dan cool. Lalu Ari jadi teringat Tata. Tata juga sudah banyak berubah. Tata kini terlihat lebih dewasa. Ari jadi ingin cepat-cepat bertemu Tata. Jam istirahat nanti, mereka berjanji bertemu di tempat rahasia mereka di belakang rumah Pak Min.
***
Hari pertama sekolah belum ada pelajaran. Pemilihan ketua kelas dan wakilnya di kelas Ari kembali dimenangkan oleh Kocik dan Boncel. Lalu tersebar berita dari kelas 12-1, bahwa Tata terpilih jadi ketua kelas. Berita ini jadi heboh karena selama sejarah sekolah ini berdiri, baru pertama kali murid perempuan jadi ketua kelas. Perasaan Ari campur aduk mendengar berita ini. Ada rasa bangga dan takjub pada gadis pujaannya itu. Tapi Ari juga merasa was-was, karena Tata akan menanggung beban yang tidak ringan. Ari yakin, setelah kejadian bus rombongan kelas Tata yang hilang waktu study tour, teman sekelas Tata jadi segan dan menghormati Tata.
Jam istirahat pertama adalah jam yang ditunggu-tunggu Ari. Ari sudah menyusur belakang sekolah menuju rumah Pak Min. Dan di belakang rumah Pak Min, sudah ada Tata duduk di sebuah bangku. Senyum Tata rekah begitu melihat Ari.
“Hai Ri,” Tata menyapa duluan.
“Hai Ta,” lama Ari berdiri di depan Tata. Tata memakai kacamata. Rambutnya yang biasanya tergerai panjang kini sebagian diikat ke belakang.
“Mmm nggak kenapa-kenapa kok,” Ari pun duduk di sebelah Tata,”Selamat ya Ta, kamu jadi ketua kelas.”
Tata hanya tersenyum. Ari tahu, Tata begitu bahagia jadi ketua kelas, karena pasti banyak teman sekelasnya yang kini mendukung dia.
“Aku terpaksa pakai kacamata nih Ri… Bagus nggak?”
“Mmm bagus kok Ta…”
“Abis mata aku udah minus.”
“Kamu sih Ta kebanyakan baca.”
Tata pun tertawa lepas.
“Tahu nggak Ri, waktu liburan kemarin yang mama aku nginep lama di rumah bude?”
“Emang kenapa Ta?”
“Lagi ada masalah di keluarga besar aku Ri… Katanya ada yang ngaku-ngaku saudara mama yang katanya masih keturunan raja Mataram…”
“Terus?”
“Yah, kata mama sih dia ngaku-ngaku hanya buat warisan.”
“O gitu ya…” Ari jadi ingat kata-kata Belinda kalau Tata seperti putri raja.
“Tapi kalau aku pernah denger pembicaraan bude sama tante aku, memang dulu ada saudara mereka yang dikucilkan karena dianggap gila.”
“Jadi bener dia saudara mama kamu dong Ta?”
“Tahu deh Ri…”
__ADS_1
Ari diam sejenak. Bisa jadi ada sejarah di keluarga Tata yang sengaja ditutup-tutupi.
“Eh Ri, kamu nggak lihat bola api lagi kan?” tanya Tata mengalihkan pembicaraan.
“Nggak sih Ta…”
“Syukurlah… Mudah-mudahan dia sudah pergi ya Ri.”
“Iya Ta…” Tapi mengingat kejadian-kejadian sebelumnya, Ari tidak yakin. Apalagi masih ada yang tertanam di ruang kepala sekolah. Dan Ari tahu, Tata berkata begitu hanya untuk menenangkannya saja.
Tak lama kemudian bel berbunyi. Ari dan Tata saling pandang. Mereka akan berpisah lagi.
“Ri, bisa nggak sih kita ketemunya nggak sembunyi-sembunyi.”
“Yah, abis kamunya nanti gimana Ta?”
“Besok kita ketemu di kantin yuk Ri.”
“Beneran Ta.”
“Iya beneran.”
Lalu Tata melambaikan tangan sebelum keluar lewat pintu yang terhubung dengan toilet perempuan. Saat pintu tertutup Ari masih berdiri disana. Mungkin sudah saatnya semua orang tahu bahwa Tata jadian dengan Ari, bukan hanya teman-teman Ari, Ibunya Ari dan Belinda tentunya.
***
Setelah bel pulang sekolah, sebagian besar murid bergegas pulang. Tidak dengan Ari, Toha, Wira dan Nara. Mereka sedang menuju gudang bawah tanah untuk terapi. Saat menuju kesana, seperti biasa kelompok Drako
mengolok-olok mereka dengan sebutan ‘Freak’. Sepertinya Ari dan komplotannya sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Mereka sudah tidak menghiraukannya lagi. Sampai di gudang bawah tanah Pak Riza dan Bu Karin sudah menunggu disana. Pak Riza mempersilahkan mereka duduk dan memulai dengan materi pelajarannya tentang mahluk-mahluk yang biasa disebut hantu. Bahwa mereka itu disebut jin. Jin terbuat dari api dan manusia terbuat dari tanah.
“Api disini bisa diartikan sebagai energi, dan tanah itu bisa diartikan sebagai materi, jadi kita dengan mereka punya zat yang berbeda,” lanjut Pak Riza.
Wira dan Nara terlihat bengong mendengar ceramah Pak Riza. Toha sudah mulai mengusap matanya karena mengantuk. Sedang Ari antusias menulis apa yang dikatakan Pak Riza di buku kecilnya. Pak Riza memang guru favoritnya sejak awal Ari sekolah disini.
“Tuhan tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaNya,” Pak Riza melanjutkan,” Dan diantara bangsa jin itu ada yang disebut iblis. Mereka ini yang merasa derajatnya lebih tinggi dari manusia.”
Ari jadi ingat kata-kata kakeknya tentang jin yang bersekutu dengan iblis. Seperti hantu yang dia yakini sebagai biang kematian bapaknya.
“Mereka ini bisa melihat kita dari suatu tempat yang tidak bisa kita lihat. Mereka mempunyai alam dan dimensi sendiri,” tambah Pak Riza.
Lalu Pak Riza mempesilahkan Kak Karin untuk berbicara dengan Ari dan teman-temannya. Sebelumnya Pak Riza menyuruh Toha cuci muka karena tadi sempat kedapatan ngorok di bangkunya. Kak Karin pun menanyakan kegiatan liburan mereka masing-masing. Lalu Kak Karin menanyakan bola api yang mereka lihat sebulan yang lalu.
“Jadikan saja apa yang kalian lihat sebagai pengalaman yang berharga,” kata Kak Karin.
Ari tahu itu kata-kata Kak Karin yang diberikan ke Tata. Lalu Ari menceritakan sesuatu yang ditanam di ruang kepala sekolah. Bukan tidak ada hubungannya kalau bola api yang dilihatnya sebulan lalu melayang-layang tepat di atas ruang kepala sekolah.
“Nanti akan saya sampaikan ke Bu Mulyani dulu,” kata Pak Riza,”Sementara kalau tidak ada masalah apa-apa kita tidak usah terlalu heboh dulu…”
Belum selesai Pak Riza bicara. Tiba-tiba serempak Ari, Toha, Wira dan Nara menoleh ke arah dinding yang ada di sebelah kiri. Lalu mereka berempat saling pandang. Pak Riza yang melihat gelagat itu melirik Kak Karin. Kak Karin menangguk pelan, tanda ada sesuatu disana.
“Ada apa?” tanya Pak Riza tegang.
“Ada suara teriak-teriak Pak,” kata Ari.
“Dimana?” tanya Pak Riza.
Ari menunjuk dinding di sebelah kirinya. Mereka tahu, dinding itu terhubung dengan lorong bawah tanah yang sudah ditutup. Dan Belinda pernah bilang tentang suara-suara berisik.
“Mereka banyak sekali…” Guman Nara.
Ari menoleh ke Nara. Nara bisa melihat mereka. Sepertinya Nara tidak kedinginan. Dan Nara sudah tidak memakai jaket merah yang ada tudung kepala seperti biasanya.
“Mereka nggak bisa masuk ke sini kok.” Sahut Toha. Ternyata Toha juga bisa melihat mereka.
“Berapa banyak?” tanya Pak Riza yang terlihat cemas.
Ari, Toha, Wira dan Nara tidak bisa menjawab. Mereka seperti tercekat dengan apa yang mereka lihat disana.
“Ratusan…” kata Kak Karin yang berusaha terlihat tenang.
__ADS_1
Dan Pak Riza pun semakin tegang.