Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 91 : Sosok Berjubah Hitam


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi. Toha, Wira dan Nara jadi yang pertama keluar pintu kelas. Ari buru-buru mengemasi tasnya dan mengejar ketiga temannya. Ari mencoba mempercepat langkahnya, karena dia sudah tidak melihat ketiga temannya di depan. Ari hanya tahu, dia harus menuju ke kelas 10. Di salah satu kelas yang berdekatan dengan parkir sepeda, Ari melihat Nara sedang berdiri di tengah lorong yang sudah kosong. Di depan Nara, seorang murid perempuan sedang berdiri ketakutan. Ari tahu, murid perempuan itu anak kelas 10.


“Kita tahu lo yang bawa hantu yang kulitnya item!” Nara berbicara keras di depak anak kelas 10 itu,” Kita juga tahu, dia yang bikin onar di sekolah, yang bikin anak pingsan.”


Ari melihat anak perempuan itu menunduk takut di depan Nara. Tapi lama Ari perhatikan, wajah dan postur tubuh anak itu mirip dengan hantu berkulit hitam yang digambar Toha. Sementara Nara masih sibuk memberi ceramah, Ari menyusur ke dekat parkir sepeda. Disana ada Toha dan Wira. Ari melihat Wira sudah memakai cincinnya. Dan Toha berdiri agak jauh di tengah parkir sepeda. Dia terlihat sedang menggerak-gerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Dan di sudut parkir, Ari melihat hantu anak perempuan berseragam sekolah yang wajah dan kulitnya hitam legam. Wajah dan postur tubuhnya mirip anak yang sekarang diceramahi Nara. Beberapa kali Ari melihat binatang berkaki empat seperti macan berbulu hitam mondar-mandir di depan hantu anak berkulit hitam itu. Hantu itu sepertinya tidak bisa bergerak kemana-mana dan dia terlihat takut pada sosok binatang berkaki empat yang mondar-mandir di depannya. Lalu Ari melihat lagi anak kelas sepuluh yang masih berdiri menunduk di depan Nara. Ari jadi merasa iba


pada anak itu.


“Kalau lo nggak bisa kontrol sama apa yang ngikutin lo, lo tahu sendiri akibatnya!” Nara semakin kasar bicara pada anak kelas 10 itu


“Sori gue selak Ra,” Ari menyela pembicaraan Nara,”Boleh tahu nama kamu siapa?” Ari bertanya pada anak kelas 10 itu dengan nada pelan.


Sebentar anak kelas 10 itu memandangi Ari. Takut di wajah nya mulai berkurang.


“Susan Kak…” jawab anak itu masih takut-takut.


“Kelas berapa?” tanya Ari lagi.


“Kelas 10-6 Kak…” jawab anak itu.


“Ok Susan, bisa nggak kamu ke sekolah, nggak usah bawa-bawa yang suka ngikut kamu?” tanya Ari pelan.


“Bisa… Bisa Kak,” jawab anak itu cepat, seperti berterimakasih Ari sudah menyelamatkannya dari cercaan Nara.


“Yakin kamu bisa?” tanya Nara kasar masih belum terima.


“Yakin kak,” anak itu mulai berani menjawab Nara.


“Ya udah, sekarang kamu pulang,” kata Ari,”Besok jangan bawa-bawa yang ikut kamu lagi.”


“Terimakasih kak,” kata anak itu. Tapi pandangannya hanya ke Ari.


Lalu anak itu mulai meninggalkan Ari dan Nara.


“Gaes lepasin dia!” Ari setengah teriak ke Toha dan Wira untuk membiarkan pergi hantu anak perempuan berkulit hitam.


Toha dan Wira yang berdiri agak berjauhan hanya saling pandang.


“Gaes?” Ari meminta lagi pada Toha dan Wira.


Toha dan Wira pun beranjak dari tempat parkir sembari sesekali melihat ke belakang. Hantu anak perempuan berkulit hitam itu mulai menghilang. Dari jauh, anak kelas 10 masih terlihat berjalan cepat-cepat menuju parkir mobil.


“Ri kenapa kita lepas hantu itu,” protes Toha ke Ari.


“Anak itu kan sudah berjanji tidak akan membawanya lagi,” sergah Ari.


“Tapi kita kan harus kasih pelajaran supaya dia tidak bikin onar lagi,” cetus Wira membela Toha.


“Lihat dong anak itu. Dia sudah ketakutan diceramahin Nara,” Ari menjelaskan.


“Iye, tapi kalau besok tetep ada anak yang pingsan gimana?” tanya Nara.


“Ya semoga besok akan aman-aman aja,” jawab Ari. Tapi suaranya tidak yakin.


Melihat wajah Ari yang ragu, teman-teman Ari jadi kesal.

__ADS_1


“Ya udah kita lihat besok,” kata Toha sambil lalu sembari menuju ke sepedanya.


“Seharusnya sih besok akan aman-aman aja,” Wira berguman meyakinkan teman-temannya.


“Ya kalau kejadian lagi, tinggal kita satronin lagi anak itu,” kata Nara cuek.


Wira dan Nara pun meninggalkan Ari tanpa ekspresi. Ari pun maklum. Bukannya dia ragu anak kelas 10 itu tidak akan membawa apa yang mengikutinya. Ari merasa ada sesuatu yang lebih menakutkan dari apa yang mereka kira. Tapi Ari tidak bisa menjelaskannya.


Malamnya Ari berusaha fokus belajar dan melupakan kejadian tadi siang. Tapi sempat beberapa kali dia melirik jendela kamar. Sebenarnya banyak pertanyaan yang dia ingin ajukan ke Belinda. Tapi ternyata hujan tidak turun malam ini dan Ari tidak ingin memaksakan diri. Dia mencoba untuk fokus ke bukunya lagi. Tapi ponsel Ari bunyi. Ternyata dari Tata.


“Halo Ta,” Ari cepat-cepat menjawabnya.


“Halo Ri, lagi belajar ya,” suara Tata lembut di ponsel Ari,”Ngganggu ya?”


“Nggak kok,” jawab Ari,”Cuman baca-baca aja.”


“Ri, tadi Nara telpon, katanya kalian udah tangkep hantunya ya?”


“Mmmm iya sih Ta,” Sebenarnya Ari tidak ingin membicarakan hal-hal seperti ini dengan Tata. Tapi sepertinya Nara sudah memberitahu Tata.


“Jadi kata Nara sekolah kita udah aman ya Ri?” tanya Tata.


“Mmm mudah-mudahan sih Ta,” jawab Ari.


“Kamu ragu ya Ri?”


“Nggak sih… Kamu tenang aja Ta,” Ari menutupi keraguannya.


“Aku sih ragu Ri…”


“Yang penting kamu tetap pakai kalungmu ya Ta.”


“Mmm…. Bisa gawat dong Ta kalau begitu…”


“Nggak tahu ya Ri…. Mungkin ada yang sengaja mencari sesuatu dari kelas ke kelas…”


Ari tertegun sejenak. Dia tak menyangka Tata akan berpikir sejauh itu. Tapi kalau memang seperti itu, bisa jadi, justru merekalah yang sedang dicari.


“Semoga besok aman-aman aja sih Ta,” Ari berusaha sok tenang supaya Tata tidak khawatir,” Besok kan kita akan ketemu kak Karin di sekolah, nanti kita bisa konsultasi sama dia.”


“Salam ya Ri buat Kak Karin.”


“Iya pasti, besok aku salamin Ta.”


“Tahu nggak Ri… Kata Kak Karin, suatu saat nanti aku harus jagain kamu.”


Ari pun tertawa,” Bukannya kebalik Ta, aku yang harus jagain kamu.”


“Enak aja! Aku juga bisa jagain kamu Ri…”


“Iya-iya, ntar jagain aku ya Ta.”


“Ya udah, itu mama aku udah pulang, udahan dulu ya Ri,”


“Ok Ta bye.”

__ADS_1


“Bye Ri.”


Setelah menutup ponselnya, Ari terdiam sejenak. Ari berharap besok tidak terjadi apa-apa di sekolah dan dia berusaha balik ke buku-bukunya lagi.


Keesokannya harinya di sekolah, Ari dan Toha dihebohkan dengan cerita Pak Min lagi. Kali ini Wira dan Nara ikut bergabung. Semalam Pak Min melihat lagi bangku yang berjalan sendiri di lorong yang sama. Toha, Wira dan Nara pun buru-buru menuju tempat penyimpanan bangku rusak. Ari mengikuti mereka dari belakang. Tapi disana mereka tidak menemukan apa-apa. Hanya tumpukan bangku rusak ada di sana. Lalu saat balik ke kelas, seperti kemarin, perasaan Ari mulai tidak enak dan perutnya mulai mual. Ari sempat menoleh ke kelas 10, di pintu tertera kelas 10-3. Ari jadi ingat perkataan Tata tadi malam. Tapi Ari tidak bisa melihat ke dalam jendela karena sudah banyak kerumunan murid di lorong kelas dan bel masuk sudah berbunyi.


Saat istirahat jam pertama, tersebar berita ada anak pingsan di kelas 10. Toha, Wira dan Nara sudah menuju ke sana. Ari mengikuti dari belakang. Dan benar saja dugaan Ari. Seperti kata Tata tadi malam, kali ini anak yang pingsan ada di kelas 10-3. Beberapa murid membopong seorang anak perempuan yang pingsan ke UKS. Kali ini Toha, Wira dan Nara tidak mengikuti rombongan yang ke UKS. Mereka langsung menuju ke kelas 10-6, kelas anak bernama Susan yang mereka cegat saat pulang sekolah kemarin. Tapi saat Ari mengikuti mereka, perasaannya jadi tidak enak dan perutnya mulai terasa mual. Lalu dari jauh Ari bisa melihat lorong yang menuju ke gudang bawah tanah. Hanya ada beberapa murid lewat di situ. Tapi di antara mereka, sekelebat Ari bisa melihat satu sosok melintas di sana. Sosok itu memakai jubah hitam dan bergerak dengan satu tangan telentang ke depan. Walau perutnya semakin mual, Ari sempat berusaha melihat lebih lama lagi ke sana. Hingga sosok itu berhenti. Satu tangannya yang telentang  ke depan kini mengarah ke Ari. Ari bisa melihat ada mata di telapak tangannya. Dan Ari tidak bisa menahan mualnya. Buru-buru dia berlari ke toilet. Di toilet terdekat Ari tumpahkan muntahnya. Ari berjalan gontai saat keluar toilet. Lalu Toha dan Wira terlihat berjalan menghampirinya.


“Ri, ternyata anak yang bernama Susan itu hari ini tidak masuk,” kata Toha ke Ari.


Ini sebenarnya yang Ari khawatirkan. Ada sosok yang lebih mengerikan lagi yang menghantui sekolahnya. Sosok dengan mata di telapak tangannya. Tata pernah melihat tangan itu hingga hidungnya berdarah. Dan Ari masih merasa lemas.


“Ri, kamu nggak apa-apa?” Wira melihat wajah Ari yang pucat.


Lalu Ari menceritakan apa yang tadi dia lihat di lorong menuju gudang bawah tanah. Kali ini kekhawatiran mulai muncul di wajah Toha dan Wira. Bel masuk pun berbunyi. Di kelas Ari juga menceritakannya pada Nara. Selama pelajaran, Ari benar-benar tidak bisa konsentrasi. Demikan juga ketiga temannya. Pada jam istirahat kedua, Ari menggambar apa yang dilihatnya tadi. Sosok berjubah hitam dengan mata di telapak tangannya. Toha, Wira dan Nara bergantian melihat gambar Ari. Tidak seperti kemarin, nyali mereka bertiga kali ini jadi menciut.


“Tenang Gaes, pulang sekolah nanti kan kita ketemu sama Kak Karin,” kata Ari.


“Iya Ri, nanti kamu tunjukin gambarmu ke Kak Karin,” kata Toha.


Ari mengangguk. Dia sedikit lega, hari ini mereka ada jadwal bertemu dengan Kak Karin dan Pak Riza. Setelah bel pulang sekolah, seperti biasa mereka menunggu sekolah sepi. Lalu mereka memilih jalan memutar untuk menuju gudang bawah tanah, tidak lewat lorong dimana Ari lihat sosok berjubah hitam. Tapi belum sampai sana, terlihat Pak Riza tergopoh mendatangi mereka.


“Ari, Toha, Wira, Nara! Kalian harus keluar dari sini!” Pak Riza berteriak dengan wajah begitu tegang.


“Ada apa Pak?” tanya Ari was-was.


“Kata Kak Karin kalian harus cepat keluar pagar sekolah,” suara Pak Riza patah-patah dengan nafas memburu.


Ari dan ketiga temannya pun mengikuti apa kata Pak Riza. Sampai di luar pagar mereka berhenti dan berusaha mengatus nafas. Ari dan ketiga temannya memandangi pak Riza dengan wajah ikut tegang.


“Kata Kak Karin, sesuatu sedang mencari kalian…”kata Pak Riza sambil mengatur nafasnya.


“Kak Karin masih di sana Pak?” tanya Ari.


“Iya, dia masih di sana,” jawab Pak Riza sembari memandang ke gedung sekolah.


Di trotoar beberapa murid sedang berjalan pulang. Ari, Toha, Wira, Nara dan Pak Riza menunggu di sana penuh ketegangan. Hingga setelah lima menit, pak Riza mengeluarkan ponselnya menghubungi Kak Karin. Tapi panggilannya tidak diangkat. Dua menit kemudian Pak Riza mencoba lagi, tapi Kak Karin tetap saja tidak mengangkat. Mereka berlima jadi tambah tegang.


“Kita harus masuk ke sana mencari Kak Karin Pak,” cetus Ari.


Pak Riza memandangi Ari. Dia masih ragu.


“Ya, kita harus masuk ke sana Pak,” kini Wira yang bicara.


Toha dan Nara pun mengangguk.


“Tapi ini demi keselamatan kalian,” kata pak Riza bingung.


“Tapi kita harus pikirkan keselamatan kak Karin juga Pak,” timpal Ari.


“Kalian tidak takut?” tanya Pak Riza.


Ari, Toha, Wira dan Nara menggeleng hampir bersamaan.


Pak Riza berpikir sebentar. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain. Mereka berlima pun masuk ke sekolah lagi. Mendekati ruang bawah tanah, langkah mereka mulai pelan. Hati-hati Pak Riza membuka pintu gudang bawah tanah. Di dalam gelap, tapi saat Pak Riza memencet saklar, lampu tetap tidak menyala. Ternyata semua lampu di sana dalam keadaan pecah. Pak Riza pun membuka semua daun jendela dibantu yang lain. Kini cahaya matahari mulai masuk ke ruangan. Di ruang bagian dalam, semua perkakas terlihat berantakan.

__ADS_1


“Karin!” suara Pak Riza cemas memanggil kakaknya.


Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam. Mereka berlima mulai masuk ke ruang dalam. Di sana meja dan kursi sudah dalam keadaan terbalik. Tapi tidak ada kak Karin. Lalu ada bunyi ketukan dari dalam lemari yang ada di pojok. Mereka berlima sempat terkesiap. Pak Riza memberanikan diri maju ke depan dan membuka lemari. Di dalamnya ada kak Karin duduk tersimpuh tak sadarkan diri. Darah mengalir dari kedua lubang hidungnya.


__ADS_2