
Hari berlalu. Masa liburan sekolah sudah usai. Hari ini murid-murid
masuk kembali di awal semester baru. Seperti biasa, Ari dan Nara sampai duluan
di sekolah. Berdua mereka sudah bertemu di taman. Lalu mereka melihat Toha
datang dengan sepedanya. Tapi kali ini Toha tidak sendiri. Ada murid perempuan
yang membawa sepeda juga. Toha dan anak perempuan yang rambutnya dikucir kuda
itu terlihat sedang bicara sambil menuntun sepedanya ke parkir sepeda.
“Cie… dapet gebetan nih ye,” goda Nara saat Toha sampai di
taman.
“Itu namanya Astri,” kata Toha cengar-cengir tanpa
malu-malu. “Sering ketemu di parkiran tapi baru sempet ngobrol sekarang. Dia
anak kelas 10.1. Temen sekelas Tata.”
“Anak pinter dong dia,” sahut Ari.
Tak berapa lama terlihat Wira sedang menuju taman dari
parkiran motor. Tapi Wira terlihat tergesa setengan berlari.
“Gaes, udah denger belom?” kata Wira sembari mengatur
nafasnya. “Di kelas ada langit-langit yang keluar belatungnya!”
“Kelas kita?” tanya Ari.
“Katanya kelas kita nggak ada, Tapi banyak di kelas lain.”
Mereka berempat pun berlari masuk ke halaman sekolah. Dan
benar juga, banyak murid berkerumun di depan kelas mereka sambil menutup
hidung. Di salah satu kelas terlihat Pak Min sedang mengeluarkan potongat
langit-langit yang menghitam dan membusuk. Di atas potongan itu belatung
berkelugetan saling tumpang tindih. Pak Min langsung membakarnya di luar kelas.
Ada empat kelas yang langit-langitnya berbelatung. Dan Ari sempat menengarai,
kelas-kelas yang langitnya berbelatung itu dekat dengan pohon besar. Sebelum
pelajaran pun guru-guru memerintahkan untuk menyemprotkan pengharum ruangan
karena sisa bau bangkai masih tercium.
“Semua kelas itu ada pohon besar di depannya,” kata Ari pada
Toha, Wira dan Nara di kantin saat jam istirahat, “Kelas kita kan nggak ada.”
“Tapi kita nggak ngelihat apa-apa, nggak denger apa-apa,”
kata Nara.
“Ya itu yang aneh,” sahut Wira.
“Ha, bisa tanyain nggak ke bokap?” tanya Ari ke Toha.
“Iya ntar kutanyain,” jawab Toha sambil malas-malasan.
Keesokan harinya Ari, Toha, Wira dan Nara sudah berkumpul di
taman. Toha yang paling ditunggu yang lain.
“Gimana Ha? Udah nanya bokap?” tanya Ari tidak sabar.
“Iya, emang bener, kata bokap ada hantu yang keluar dari
lorong yang di aula.” Jawab Toha. “Bokap kan bilangnya itu jin. Nah jinnya itu
ada dua.”
“Ada dua?” tanya Wira.
“Iya, kata bokap mereka itu dari kerajaan jin,” Toha
menjelaskan. “Nah yang masuk ke sekolah kita itu sepertinya masih bagian
kerajaan itu. Seperti si kaki kuda waktu itu. Biasanya jin yang kaya gitu susah
dilihat dan bisa berubah wujud.”
“Terus?” tanya Nara.
“Ya pokoknya yang kayak gitu nggak sembarangan orang bisa
lihat,” jawab Toha.
__ADS_1
“Terus? Gitu doang?” tanya Nara lagi.
“Iya begitu kata bokap,” jawab Toha.
“Lo niat nggak sih nanya sama bokap lo?” Nara agak kesal.
“Ya, emang begitu kata bokap,” jawab Toha. Kali ini dia
pasrah.
“Kalau nggak, kapan-kapan kita nanya aja langsung ke
bokapnya Toha,” Wira mengusulkan.
“Ya silahkan kalau mau nanya ke bokap langsung,” kata Toha
dengan wajah bersungut.
Dan bel masuk pun berbunyi. Mereka berempat bergegas menuju
ke kelas. Saat istirahat, mereka mendengar kabar, hari ini banyak murid yang tidak
masuk. Dan kebetulan murid-murid yang tidak masuk itu adalah murid-murid yang
di kelas, duduknya tepat di bawah langit-langit yang berbelatung kemarin. Kebanyakan
dari mereka ijin karena sakit. Dan itu sudah menjadi pembicaraan murid satu
sekolah saat ini. Saat Ari, Toha, Wira dan Nara menuju kantin, tiba-tiba ada
kerumunan murid lewat. Ada satu murid pingsan dibawa ramai-ramai teman-temannya
ke UKS. Beberapa murid lain mengikuti ingin tahu apa yang terjadi. Ari sempat
bertanya pada kerumunan murid di situ, anak yang pingsan tadi ternyata dari
kelas 10.6. Ari juga bertanya posisi duduk anak itu. Katanya dia duduk paling
belakang sebelah kanan. Ari, Toha, Wira dan Nara langsung berlari menuju kelas
10.6. Ari sempat memperhatikan, pohon di depan kelas 10.6 memang pohon yang
paling besar yang ada di dalam sekolah. Di depan kelas itu masih banyak
kerumunan murid yang masih membicarakan kejadian barusan di situ. Ari, Toha,
Wira dan Nara meringsek berusaha masuk ke kelas. Tapi Ari lihat Nara sudah
memakai tudung jaketnya. Sepertinya Nara mulai kedinginan. Saat di dalam kelas,
pandangannya ke sudut-sudut kelas. Dia tidak menemukan sesuatu. Tapi saat Ari
memandang ke atas, dia melihat sesuatu di langit-langit di pojok kanan ruangan.
Ari sempat mundur satu langkah.
“Ada apa Ri?” tanya Toha. Sepertinya dia tidak melihat apa
yang Ari lihat. Demikian juga dengan Wira dan Nara.
“Ayo kita keluar dari sini,” Ari mengajak yang lain keluar
dari kelas itu.
“Ada apa Ri?” Toha makin penasaran sembari berjalan cepat di
belakang Ari. Wira dan Nara mengikuti di belakang.
“Aku tadi takut dia tahu kalau aku bisa lihat dia,” ungkap
Ari,”Aku akan gambar di kelas.”
Sampai di kelas, mereka berempat duduk di bangku Wira di
bagian paling belakang. Sementara kebanyakan murid masih di luar membicarakan
kejadian anak pingsan. Dan Ari mulai menggambar di buku kecilnya. Tangannya
mulai sibuk mencorat-coret di atas kertas. Ari menggambar sosok yang
menggantung di atas langit-langit. Sosok itu menggantung terbalik. Kakinya
menempel di langit-langit. Badannya berbulu. Mukanya seperti tengkorak tapi
masih ada kulitnya. Rambutnya panjang menjulur ke bawah. Dia tidak punya
tangan. Tapi ada sepasang sayap yang membentang seperti sayap kelelawar.
Toha, Wira dan Nara bergantian memandangi gambar Ari.
“Ih serem banget sih,” desis Nara,”Pantesan tadi dingin
banget di sana.”
__ADS_1
Lalu Ari mengambil gambar itu dan melipatnya ke dalam saku
karena ada beberapa murid masuk ke kelas.
“Nanti akan aku tunjukin ke Pak Riza,” kata Ari lirih.
Lalu datang Kocik sang ketua kelas.
“Ari, ada apa ini sebenarnya,” katanya mendatangi Ari.
“Jangan sampai kejadian ini terjadi di kelas kita.”
“Iya, kita harus antisipasi sebelumnya,” kata Boncel sang
wakil nyimbrung di belakang Kocik sambil menyruput minuman jusnya. “Lo kalau
ada info share ke kita.”
“Iya, kayak waktu itu kejadian di lapangan,” Kocik
menambahkan. “Kalau ada apa-apa segera kasih tahu kita, supaya kita cepat
mengambil tindakan,” kata Kocik layaknya superhero.
“Iya, aku pasti kasih tahu,”jawab Ari. Sebenarnya dia hanya
berusaha menenangkan suasana kelasnya. Ari tidak akan kasih tahu apa yang ada
di gambarnya tadi pada siapapun kecuali Toha, Wira, Nara dan Pak Riza.
Setelah bel pulang sekolah, Ari segera menemui Pak Riza.
Seperti biasa, Ari harus duduk di depan meja Pak Riza menunggu guru-guru yang
lain pulang. Setelah ruang guru kosong, Ari langsung menyodorkan gambarnya ke
Pak Riza.
“Itu yang di kelas 10.6 tadi Pak,” Ari menjelaskan.
Pak Riza memandangi lama gambar Ari. Lalu dia memandang Ari
lekat-lekat.
“Ini yang kamu lihat?” tanya Pak Riza.
“Iya Pak,” jawab Ari
“Saya sempat denger, waktu anak yang pingsan itu siuman, dia
bilang dia lihat bayangan hitam kayak asap.”
“Ya mungkin yang dia lihat hanya sebatas itu Pak.”
“Siapa saja yang bisa melihat ini?”
“Hanya saya Pak. Toha, Wira sama Nara tidak bisa lihat.”
“Ok, kamu jangan bilang ke siapa-siapa,” kata Pak Riza
serius. “Bilang sama teman-teman kamu jangan bilang ke siapa-siapa juga.”
“Ok Pak,” jawab Ari,”Bapak mau panggil orang-orang baju
putih lagi?”
“Orang Padepokan maksud kamu?”
“Iya Pak.”
“Belum tahu Ri. Saya harus konsultasi dulu ke Pak Solidin.
Gambar ini boleh saya ambil?”
“Boleh Pak.”
“Ok Ri, kalau ada apa-apa lagi segera kasih tahu saya.”
“Ok Pak.”
Ari berjalan menuju gerbang sekolah. Selintas
dia melihat ke arah parkir mobil. Dari jauh dia bisa melihat Tata di depan
mobilnya. Dia sedang bercakap dengan Jodi. Sebersit Ari memikirkan untuk
memberitahu Tata tentang kejadian di sekolah tadi. Tentang sosok yang dia
gambar. Dia bersyukur kelas Tata langit-langitnya tidak berbelatung. Tidak ada
pohon besar di depan kelas Tata. Tapi entah kenapa saat ini dia merasa sangat
jauh dengan Tata. Sejenak Ari pandangi jam tangannya. Jam tangan pemberian
Tata. Mungkin sudah saatnya dia harus melupakan Tata.
__ADS_1