Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 19 : Ari dan Kelas Buangan


__ADS_3

Wira membantu Ari berbaring di UKS. Wira sempat perhatikan


ada goresan-goresan merah di leher Ari.


“Ri, leher lo ada bekas merah-merah,” kata Wira.


“Iya agak sakit. Dia tadi nyekik gue” kata Ari sembari


meraba lehernya yang agak bengkak.


“Si kaki kuda?”


“Iye.”


Ari dan Wira menghentikan pembicaraan, karena sorang petugas


PMR yang piket masuk ruang UKS. Ari pun mengencangkan kerah bajunya agar tak


terlihat gorena-goresan di lehernya. Lalu si petugas PMR ingin memeriksa Ari.


“E… Dia nggak apa-apa,” kata Wira,”Cuma kecapekan, butuh


baring doang.”


“O… Tapi itu kerahnya jangan kekencengan,” kata si petugas.


“E… Itu karena tadi dia kedinginan,” kata Wira ngasal.


Si petugas PMR keluar ruangan agak sewot. Wira pun


menyarankan Ari segera minta ijin pulang untuk istirahat di rumah. Lalu Ari


diantar Wira ke depan sekolah. Ari pun pulang naik taxi.


Sore hari, Ibu Ari pulang. Dia langsung menuju kamar


anaknya, karena di sekolah tadi ada yang menyampaikan Ari ijin pulang karena


sakit. Ibu Ari menemukan Ari terbaring di balik selimut. Dia memeriksa anaknya.


Badannya agak panas. Lalu dia perhatikan leher Ari yang dibelit kain.


“Itu kenapa lehernya?”tanya ibu Ari.


“Nggak kenapa-kenapa Ma. Cuman dingin,” kata Ari menutupi.


“Dingin bagaimana! Orang badan kamu panas begini!”


“Nggak kenapa-kenapa kok Ma.”


“Jangan bohong sama mama. Ayo buka.”


Pelan Ari membuka kain yang membalut lehernya. Dia tidak


bisa bohong di depan ibunya.


“Ya ampun Ari! Ini kenapa leher kamu!” Ibu Ari terkejut


melihat goresan-goresan merah di leher anaknya.


“Nggak usah khawatir Ma. Bentar lagi juga sembuh,” jawab


Ari. Dia tidak bisa menjelaskan karena nanti ada hubungannya dengan Tata.


“Nggak khawatir gimana! Ini kenapa leher kamu? Udah bengkak


begini! Ayo jujur sama Mama.”


Ari diam sebentar. Di depan ibunya dia harus jujur.


“Mmm… Ari tadi nyelamatin temen Ma…” Ari berusaha jujur.


“Kayak yang kemarin waktu ada kesurupan?”


“Iya Ma…”


“Ya ampun Ari! Mama ini khawatir. Mama itu percaya sama


kamu. Sama yang kamu lihat. Tapi jangan keterlaluan kayak gini. Mulai sekarang


kamu janji sama mama. Kamu nggak akan bertindak yang aneh-aneh lagi”


“Iya, Ari janji Ma,”Ari lega karena cuma disuruh berjanji.


Tidak disuruh cerita, siapa yang dia selamatkan.


Ibu Ari pun mengompres kepala Ari. Lalu dia keluar kamar,


membiarkan Ari istirahat.


Ari terbangun dari tidurnya. Suara ponsel di samping


membangunkannya. Ternyata dari Tata. Ari cepat-cepat duduk dan mengangkat


ponselnya. Sempat dia lihat jam di dinding pukul 11.


“Halo, Ari,” Suara Tata lirih terdengar di ponsel Ari.


“Halo, Tata,”Ari berusaha menata suaranya.

__ADS_1


“Belum tidur?”


“Belum.”


“Masih sakit.”


“Nggak. Udah sembuh kok.”


“Besok masuk?”


“Masuk.”


“Sori, aku nggak bisa kenceng-kenceng.”


“Takut kedengeran mama kamu?”


“Iya.”


“Kamu nggak kenapa-napa kan?”


“Aku nggak bisa tidur.”


“Masih takut?”


“Masih.”


“Mahluk itu udah ngga ada Ta. Sekolah kita udah bersih.”


“Iya aku tahu.”


“Mau janji nggak sama aku?”


“Janji apaan?”


“Janji nggak takut sama mereka.”


“Iya aku janji.”


“Beneran?”


“Ih, iya beneraaan.”


“Awas ya kalau melanggar janji.”


“Apaan sih.”


“Jadi sekarang bisa tidur?”


“Nggak tahu.”


“Nah, berarti melanggar janji.”


“Iyaaa… aku janji kok.”


“Iya, aku mau tidur ya.”


“Iya, tidur gih.”


“Kamu juga tidur ya.”


“Iya.”


“Sweet dream.”


“Sweet dream…”


Esok harinya Ari berangkat


sekolah membonceng ibunya naik motor. Ibunya heran, tumben-tumbenan dia mau


dibonceng ke sekolahan sampai masuk parkir motor. Saat sampai halaman sekolah,


Ari bertemu Toha. Tampaknya Toha sudah menunggu Ari di depan parkir sepeda.


Lalu ada Nara setengah berlari menyusul Ari dan Toha.


“Ari! Tunggu!” kata Nara setengah


teriak.


Tidak seperti biasanya, Ari dan


Toha melihat Nara tidak memakai tudung jaketnya.


“Ari, kamu gimana? Udah sembuh?” tanya


Nara sembari melihat leher Ari yang masih sedikit ada bekas kemerahan. Kemarin


Wira sudah cerita kejadian yang dialami Ari.


“Nggak apa-apa kok. Cuma memar,”


kata Ari polos.


Lalu ada Wira datang bergabung


dan langsung menyalami Ari, Toha dan Nara.


“Kenalan lagi nih?” tanya Nara.

__ADS_1


“Sori, udah kebiasaan,” jawab


Wira santai.


Lalu mereka berempat berjalan


menuju ke kelas. Saat melewati area kelas 10, tak jauh dari mereka berjalan,


beberapa anak basket sedang nongkrong di pinggir taman. Salah seorang dari


mereka melihat Ari. Lalu dia seperti memberi tahu Jodi yang juga ada di sana.


“Udah jangan digubris,”kata Wira


pada ketiga temannya. Meminta ketiga temannya untuk biasa saja berjalan menuju


kelas.


Saat mereka berempat sampai di


depan kelas, ternyata anak-anak basket yang tadi nongkrong menyusul dari


belakang. Ada 6 anak yang setengah berlari menuju kelas Ari, termasuk Jodi.


“Hoi, penggambar hantu, sini lo,”


kata Jodi kasar.


Ari pun berbalik, melihat Jodi


sudah di depannya bersama 5 temannya yang lain. Tapi Ari sepertinya sudah


pasrah menghadapi apapun yang akan terjadi.


“Ngapain kamu kemarin nguntit


Tata di parkiran?” Jodi bertanya sembari menudingkan telunjuknya ke muka Ari.


“Aku nggak menguntit, aku


kemarin…” Sampai sini Ari tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena dia tidak mungkin


mengatakan kejadian sesungguhnya. Dia harus merahasiakan kondisi Tata. Orang


tidak boleh tahu kalau Tata bisa melihat hantu seperti dirinya.


“Nah, mau ngomong apa lagi lo,”suara


Jodi penuh kemenangan. “Temen Tata sendiri yang lihat lo di parkiran, sampai


Nara ketakutan. Freak lo!”


“Hoi, kalau nggak tahu


kejadiannya jangan so tahu lo,” Wira maju di samping Ari.


“Jangan ikut campur lo! Jangan


sok jagoan di sini!” Jodi mengancam Wira. Sementara teman-teman Jodi seperti


sudah mempersiapkan badan mereka.


“Siapa yang sok jagoan!” Nara


maju sambil menyilangkan tangan. Toha pun mengikuti Nara.


“Ok! Jadi kalian mau masalahnya


mau diselesaikan kayak gimana!” kata Jodi lantang sembari mengepalkan


tangannya.” Ngaca dulu kalian kalau mau jadi jagoan! Dasar anak-anak kelas


buangan!”


“Hoi, kalau mau ribut jangan di


sini!” Kocik sang ketua kelas tiba-tiba maju ke depan dengan badan dempalnya.”Mending


kita selesaikan di pengadilan aja gimana!”


Jodi sedikit terperangah. Dia


tahu Kocik. Semua orang tahu Kocik anak pengacara terkenal.


“Hei! ada yang lagi nyepelein


kelas kite ya!” Boncel sang wakil ketua kelas cewek yang juga dempal badannya


maju di samping Kocik.” Sekali lagi kalau  ada yang mau ngajak ribut, gue minta bokap gue turunin satu kompi polisi


ke sini!” kata Boncel sambil menyruput sisa jusnya.


Jodi jadi ciut. Semua orang juga


tahu Boncel anak pejabat polisi. Kelima teman Jodi juga jadi ragu. Lalu ada


Haki maju ke depan. Lalu ada Profesor. Lama-lama teman sekelas Ari iku maju


semua. Jodi dan kelima temannya mulai melangkah mundur. Bel masuk berdering. Ke

__ADS_1


6 anak basket itu pun meninggalkan kelas Ari dengan bersungut. Dan mulai saat


itu, tidak ada yang berani mengganggu Ari lagi.


__ADS_2