Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 48 : Tata yang Tidak Mau Memakai Kalungnya


__ADS_3

“Kata Wira, kita disuruh ke rumahnya,” ujar Nara.


“Sekarang?” tanya Ari.


“Iya sekarang,” jawab Nara,”Ntar pakai mobil gue aja ke


rumah Wira, pulangnya kalian gue anterin deh.”


Bukannya Ari tidak mau diantar pulang. Barusan dia mengalami


momen spesial bersama Lisa. Ari seperti tak ingin berpisah secepat ini dengan


Lisa. Tapi ternyata di ekstrakurikuler band masih ada kegiatan latihan regular.


Dan keputusan siapa yang akan jadi vokalis utama baru diumumkan setelah


kegiatan ekstrakurikuler selesai. Ari pun harus berpamitan dengan Lisa.


Sebelumnya Ari sempat bertukar nomor ponsel dengan Lisa. Dan Lisa tak


henti-hentinya mengucapkan rasa terimakasihnya ke Ari. Lisa masih memandangi


Ari berjalan bersama Toha dan Nara sampai turun dari lantai 2.


Sesampai di rumah Wira, mobil Nara langsung parkir di


garasi. Wira yang menyambut mereka, langsung mengajak ke kamarnya. Kamar Wira


berantakan. Sebuah laptop menyala di meja kecil dekat tempat tidur. Wira pun


menunjukkan apa yang ada di layar laptopnya. Beberapa file video ada di folder


komputernya.


“Kakak gue tadinya nggak sengaja lihat di rekaman CCTV,”


kata Wira menjelaskan,”Nah, pas dia cerita ke gue, langsung gue minta semua


rekaman yang dia punya. Tahu nggak? Tadinya gue cuman iseng! Eh, nggak tahunya,


nggak cuma sekali! Beberapa kali tuh hantu keliatan di CCTV, siang-siang lagi!”


Lalu Wira memperlihatkan satu persatu rekaman yang


sepertinya sudah dia siapkan untuk diperlihatkan ke teman-temannya. Semuanya


bergambar hitam putih dan agak buram. Ada rekaman di sebuah lorong sekolah


terlihat dari atas. Kalau diputar normal memang tidak begitu terlihat sesuatu


yang aneh. Lalu Wira memperbesar view videonya dan memutarnya dengan mode


lambat. Setelah ada gambar beberapa murid yang berjalan di lorong, tampak


lorong itu lengang sejenak, tapi setelah itu tertangkap gambar perempuan


memakai baju serba hitam, bergerak seperti tanpa melangkah melintasi lorong.


Rambut perempuan itu panjang, tapi tergerai ke atas. Lalu ada rekaman dengan posisi


yang hampir sama tapi ada di lokasi lorong yang lain. Sekelebat terlihat


perempuan bule memakai baju Belanda jaman dulu. Perempuan itu melintas di


lorong dengan berjalan mundur. Ada beberapa rekaman lain lagi yang menangkap


sosok perempuan berbaju serba hitam dengan rambut ke atas, juga sosok Noni


Belanda yang berjalan mundur. Ari, Toha dan Nara begitu tertegun sembari


mengulangi rekaman-rekaman CCTV itu.


“Semua rekamannya di lorong,” kata Ari.


“Siang-siang lagi!” tambah Nara,” Emang yang malem ada juga?”


“Yang ada di kakak gue itu rekaman dari tiga hari lalu,”


kata Wira,”Dua hari ini gue cek, yang malem malah nggak ada apa-apa.”


“Tuh bener kan,” ujar Toha,”Ada anak lain lagi yang bawa


hantu itu.”


“Trus gimana sama tembok yang item di ruang komputer?”


sanggah Nara ke Toha.


Sementara Toha dan Wira sedang mempertahankan pendapatnya


masing-masing, Ari begitu serius membolak-balik rekaman-rekaman CCTV di laptop.


“Lisa!” tiba-tiba Ari tersentak,”Hantu-hantu itu sedang


mengincar Lisa.”


“Maksud lo,” tanya Wira yang langsung ikut mengamati rekaman


yang dilihat Ari.


“Lihat deh!” kata Ari dengan suara gugup,” sebelum hantu itu


muncul, anak yang terakhir, lo lihat deh!”


Wira pun mulai memutar-mutar balik salah satu rekaman. Nara


dan Toha yang penasaran, jadi menghentikan perdebatan mereka. Berdua mereka ikut


memelototi apa yang dilihat Wira.


“Tuh lihat!” kata Ari menunjuk murid-murid yang terekam


lewat di lorong,”Lihat yang terakhir! Itu Lisa! Aku yakin itu Lisa!”


Walau terlihat dari atas dan gambar sedikit buram, tapi Ari


sangat mengenal sosok Lisa. Dan setelah Lisa lewat, tak berapa lama, tertangkap


sosok perempuan berbaju serba hitam dengan rambut ke atas yang sekilas tampak


melintasi lorong. Lalu Ari mulai membuka rekaman yang lain, ada rekaman yang


menangkap sosok Noni Belanda. Dan sebelumnya terlihat murid-murid berjalan


melewati lorong itu. Dan murid yang terakhir lewat adalah Lisa.


“Iya, itu kan lorong-lorong yang ada di kelas 10,” kata


Nara.


Lalu Ari cepat-cepat mengambil ponselnya. Dia mencoba


menghubungi Lisa. Wajah Ari terlihat begitu cemas, karena tampaknya Lisa tidak


juga menjawab panggilannya.


“Kok nggak diangkat-angkat sih!” kata Ari sedikit gusar.


Lalu dia mencoba menulis pesan untuk Lisa.


“Mungkin dia lagi latihan Ri,” kata Nara menenangkan.


Wira pun sedikit heran dengan sikap Ari terhadap murid kelas


10 bernama Lisa yang baru didengarnya. Lalu Nara menunjukkan rekaman yang ada


di kameranya ke Wira. Wira pun mulai mengerti begitu melihat rekaman Lisa


sedang memeluk Ari di kamera Nara.


“Kenapa lo nggak jadian aja sama Lisa, Ri?” tanya Nara


spontan.


Ari tidak menjawab. Dia sedang begitu cemas menuliskan pesan


buat Lisa.


“Lisa itu nganggep Ari kakaknya,” sanggah Toha,”Lagian Ari


kan udah ada Tata.”


“Ari sama Tata itu nggak kayak jadian,” Wira ikut


nyimbrung,”Mereka berdua itu kayak anak kembar aja.”


Ari seperti tidak menggubris pembicaraan ketiga temannya,

__ADS_1


karena kini dia begitu cemas dengan keselamatan Lisa. Jam 4 sore, Ari, Toha dan


Nara meninggalkan rumah Wira. Nara akan mengantar Ari dulu, baru Toha.


Sementara Nara dan Toha masih meneruskan perdebatan mereka tentang asal hantu


yang mereka lihat di rekaman CCTV, ponsel Ari bunyi. Ternyata ada panggilan


dari Lisa.


“Halo, Lisa,”Ari langsung bicara di ponselnya,”Kamu dimana?”


“Halo Kak Ari,”Jawab Lisa di ponsel Ari,”Aku masih di


sekolah, barusan selesai ekskul.”


“Kamu terima pesanku kan?” tanya Ari.


“Iya aku terima,” jawab Lisa,”Tahu nggak Kak? aku terpilih


jadi vokalis utama!” Suara Lisa terdengar setengah berteriak di ponsel Ari.


“O ya, selamat ya,”kata Ari,”Tapi kamu nggak apa-apa kan?”


“Aku nggak apa-apa,”jawab Lisa,” Kak Ari, kalau boleh besok


aku mau traktir Kak Ari di kantin.”


“Boleh… Boleh…” suara Ari pelan. Dia masih mencemaskan Lisa.


Tapi sepertinya Lisa terlalu bahagia hari ini.


“Kalau gitu sampai besok ya,” kata Lisa.


“Ok, sampai besok,” jawab Ari.


Lalu Ari menutup ponselnya. Sejenak dia masih heran. Lisa


masih baik-baik saja di sekolah. Atau mungkin dia saja yang terlalu berlebihan


mencemaskan Lisa.


“Lisa kenapa Ri?” tanya Toha begitu tahu tadi Lisa yang


telpon Ari.


“Dia nggak apa-apa kan? Tanya Nara penasaran.


“Dia baik-baik aja…” jawab Ari pelan. Ari masih menyimpan


keheranannya. Tapi setidaknya dia merasa lega karena Lisa baik-baik saja.


Lalu ada bunyi notifikasi di ponsel Ari. Ada pesan baru


masuk. Ari kira dari Lisa. Ternyata dari Tata. Pesannya : Ari besok aku pengen bicara di kantin. Berdua aja. Bisa kan?


***


Besoknya di sekolah, Ari janji bertemu dengan Lisa di kantin


saat jam istirahat pertama. Sebelumnya, tadi malam, Ari memang meminta Lisa


untuk ketemu di jam istirahat pertama. Karena saat jam pulang sekolah nanti,


Ari ada janji ketemu dengan Tata, juga di kantin. Saat ketemu Lisa, Ari mewanti-wanti


Lisa untuk berhati-hati. Ari memang sengaja tidak menceritakan tentang rekaman


CCTV sekolah. Dia tidak mau membuat Lisa takut. Apalagi sekarang Lisa sedang


bahagia-bahagianya karena terpilih menjadi vokalis utama band sekolah.


“Kalau ada apa-apa, atau kamu lihat sesuatu, langsung kasih


tahu aku,” kata Ari.


“Iya pasti Kak,” kata Lisa,”Kak Ari aku boleh request


sesuatu nggak?”


“Apaan?” tanya Ari.


Lisa melepaskan cincin bermotif bintang yang ada di jarinya


lalu dia berikan ke Ari.


Ari sudah kuanggap kakak aku sendiri.”


“Lisa, aku nggak bisa…” kata Ari,”Itu kan cincin peninggalan


kakak kamu…”


“Justru itu Kak, karena Kak Ari, aku sudah lupain kakak


aku,” kali ini suara Lisa serius,”Jadi aku nggak mau pakai lagi… Aku mau Kak


Ari yang pakai.”


“Iya, tapi…”Ari masih ragu.


“Please Kak Ari…” kata Lisa memohon, “Kak Ari nggak mau jadi


kakak aku?”


“Ok… Ok… Aku pakai ya,”kata Ari.


Ari pun memakai cincin yang diberikan Lisa. Setidaknya dia


bisa menyenangkan Lisa. Lalu pesanan mereka pun datang. Ari dan Lisa masih di


kantin sampai bel masuk berbunyi. Sebelum berpisah, Lisa bertanya ke Ari,


apakah Ari pulang naik bus. Ari bilang ke Lisa, supaya Lisa duluan saja ke


halte. Nanti dia menyusul. Ari sempat memandang Lisa sampai dia masuk ke lorong


kelas 10. Dia memastikan tidak ada sesuatu yang mengikuti Lisa.


Saat kembali ke kelas, Toha dan Nara sempat bertanya ke Ari


tentang Lisa.


“Gimana Ri? Lisa nggak apa-apa kan?” tanya Nara.


“Dia baik-baik saja kok,” jawab Ari.


“Tapi cepat atau lambat, sesuatu bisa saja terjadi…” kata


Toha berteori.


“Kenapa lo nggak nanya ke bokap Ha,” kata Ari ke Toha.


“Iya Ha, lo tanyain deh ke bokap lo,” desak Nara.


“Iye, iye… Ntar kalau sempet gue tanyain ke bokap,”kata Toha


ogah-ogahan.


Walau mereka pernah lihat hantu anak kecil, juga penampakan


di kamera Nara dan rekaman CCTV, sepertinya tidak terjadi sesuatu hal yang


berarti di sekolah mereka. Ari pun tidak bisa melapor ke Pak Riza, apalagi


berkaitan rekaman-rekaman CCTV yang ada di komputer Wira.


Saat jam pulang sekolah, Ari langsung menuju ke kantin.


Ternyata Tata sudah menunggu di bangku paling pojok. Dia sendirian di sana. Ari


menyapa duluan. Tata hanya tersenyum kecil. Ari melihat Tata masih memakai


kalungnya.


“Lagi ada sesuatu di sekolah ya Ri?” Tata bertanya ke Ari.


Tapi pandangannya tidak mengarah ke Ari.


“Iya Ta, masih ada sesuatu di sekolah kita,” kata Ari,”Kamu


jangan lepas kalung kamu ya.”


“Hantunya lagi ngikutin anak kelas 10 ya?”Tanya Tata lagi.


Pandangannya tetap tidak mengarah ke Ari.


“Iya, kayaknya begitu…” kata Ari. Dia masih tidak bisa

__ADS_1


bicara banyak.


“Kamu lagi ngelindungin dia?” Kali ini Tata sedikit melirik


ke Ari.


“Iya, dia pernah pingsan dua kali di sekolah,” Ari mencoba


menjelaskan.


“Jadi kamu sekarang lagi jadi superhero ya…” guman Tata


seperti tak butuh jawaban.


“Iya dia memang perlu diselamatin Ta…” kata Ari.


“Cantik lagi ya yang diselamatin…” kata Tata sambil


memandang ke tempat lain.


“Ta, dia itu nganggep aku kayak kakak sendiri!” suara Ari


agak keras.


“Iya sih…” kata Tata pelan,”Kakak beradik kan boleh


peluk-pelukan.”


“Ta…” sampai sini Ari tidak tahu harus berkata apa. Karena


dia masih belum memahami perasaan Tata.


Lalu Tata memandangi cincin di tangan Ari. Tata tahu, Ari


tidak pernah memakai apa-apa kecuali jam tangan mahal pemberiannya.


“Cincin kamu bagus tuh…” Tata menyindir.


“Ta, ini cincinnya kakaknya yang sudah meninggal…”kata Ari


terbata. Walau bagaimana, dia tidak bisa bohong di depan Tata.


“Nggak apa-apa kok…” kata Tata,”Ntar makin banyak yang kamu


selametin, makin banyak kan cincinnya.”


“Ta, maksud kamu apaan sih,” kini Ari mulai tidak sabar.


“Kayaknya aku nggak perlu kalung ini lagi nih,” Tata


memegangi bandul kalung yang melingkar di lehernya,”mending aku balikin aja ke


superheronya. Soalnya aku nggak butuh superhero.”


Tata pun berusaha melepas kalungnya.


“Ta, jangan lepas kalung kamu!” pekik Ari tertahan.


Kecemasan memenuhi wajahnya. Karena dia tahu, masih ada sesuatu di sekolah


mereka.


Tapi Tata tetap melepas kalungnya.


“Aku bisa jaga diri kok,” kata Tata,”Beneran, aku nggak


butuh superhero.”


“Ta, beneran! Pakai kalung kamu!”Ari setengah berteriak. Dia


tidak ingin sesuatu terjadi pada Tata.


“Kamu nggak usah khawatirkan aku lagi” kata Tata sambil menyerahkan


kalungnya ke Ari.


“Ok… Ok… Kalau kamu nggak suka aku pakai cincin ini, cincin


ini akan aku buang,” kata Ari,”Tapi janji! Kamu harus pakai kalung itu lagi!”


Tata masih diam memandangi Ari. Kalungnya masih ada di


genggamannya. Lalu Ari melepas cincin bermotif bintang dari jarinya dan


melemparnya jauh-jauh. Ari pun memandangi Tata dalam-dalam. Dia menunggu Tata


untuk memakai kalungnya lagi. Tapi sebelum Tata memakai kalungnya, ada suara


memanggil Ari.


“Kak Ari!” suara Lisa keras memanggil Ari. Dia terlihat


sedikit berlari ke arah Ari,”Kak Ari jadi kan nanti pulang naik bus?”


Tata pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia


berjalan cepat meninggalkan Ari. Kalungnya dia tinggal di atas meja kantin.


“Ta, tunggu!” teriak Ari.


“Kak Ari, ada apa?” tanya Lisa polos begitu ada di depan Ari.


“E… Lisa sori, aku tinggal dulu ya,” kata Ari buru-buru.


Ari cepat-cepat mengambil kalung Tata dan mulai mengejar


Tata. Tahu Ari sedang mengejarnya, Tata pun mulai berlari menuju tempat parkir.


Ari pun mempercepat larinya. Sampai di tempat parkir, Ari berhasil mengejar


Tata. Dia raih tangan Tata untuk berhenti.


“Ta! Berhenti! Pakai kalung kamu!” Ari setengah berteriak.


“Apaan sih!” Tata mengibaskan tangannya, berusaha melepaskan


genggaman Ari.


“Ta! Kamu boleh benci sama aku! Tapi please, pakai kalung


kamu!” kata Ari.


Tapi Tata tidak menggubris Ari, dia tetap berjalan menuju


mobilnya. Ari pun berusaha menghentikan Tata lagi. Lalu terlihat sopir Tata


berlari ke arah Ari dan Tata.


“Hei Kamu! Ngapain kamu!” Sopir Tata mendatangi Ari.


Tapi Ari tidak peduli. Dia tetap memaksa Tata memakai


kalungnya. Sampai sopir Tata mendorong Ari, hingga Ari terjerembab jatuh ke


belakang.


“Kamu memang biang kerok dari dulu!” teriak sopir Tata


sambil menunjuk-nunjuk Ari yang sudah terkapar di tanah,”Dibilangin jangan


nemuin Neng Tata, masih aja nekat. Sekali lagi kamu gangguin Neng Tata, gua


bikin mampus lu!”


Ari melihat Tata sudah masuk ke mobil. Sopir Tata berjalan


meninggalkan Ari sambil memandangi Ari dengan muka bengis. Ari berusaha bangun


karena mobil Tata sudah mulai jalan. Dia melihat jendela belakang mobil Tata


masih sedikit terbuka. Sekuat tenaga Ari berlari kencang menyusul mobil Tata.


Sambil berlari, Ari berusaha memasukkan kalung Tata lewat jendela yang sedikit


terbuka. Tata sempat kaget melihat Ari berlari di samping mobilnya. Sementara


sopir Tata sengaja mempercepat laju mobilnya hingga Ari makin kewalahan


mengejar. Tapi Ari berhasil memasukkan kalung Tata lewat jendela. Kalung itu


jatuh di samping Tata duduk. Ari pun berhenti dengan nafas ngos-ngosan.


Pandangannya nanar memandangi mobil Tata yang menjauh sampai keluar gerbang.


Peluh memenuhi wajah dan badan Ari. Baju seragamnya belepotan tanah. Tetapi apapun


yang terjadi sebelumnya, kini Ari cuma memikirkan Tata.

__ADS_1


__ADS_2