
“Kata Wira, kita disuruh ke rumahnya,” ujar Nara.
“Sekarang?” tanya Ari.
“Iya sekarang,” jawab Nara,”Ntar pakai mobil gue aja ke
rumah Wira, pulangnya kalian gue anterin deh.”
Bukannya Ari tidak mau diantar pulang. Barusan dia mengalami
momen spesial bersama Lisa. Ari seperti tak ingin berpisah secepat ini dengan
Lisa. Tapi ternyata di ekstrakurikuler band masih ada kegiatan latihan regular.
Dan keputusan siapa yang akan jadi vokalis utama baru diumumkan setelah
kegiatan ekstrakurikuler selesai. Ari pun harus berpamitan dengan Lisa.
Sebelumnya Ari sempat bertukar nomor ponsel dengan Lisa. Dan Lisa tak
henti-hentinya mengucapkan rasa terimakasihnya ke Ari. Lisa masih memandangi
Ari berjalan bersama Toha dan Nara sampai turun dari lantai 2.
Sesampai di rumah Wira, mobil Nara langsung parkir di
garasi. Wira yang menyambut mereka, langsung mengajak ke kamarnya. Kamar Wira
berantakan. Sebuah laptop menyala di meja kecil dekat tempat tidur. Wira pun
menunjukkan apa yang ada di layar laptopnya. Beberapa file video ada di folder
komputernya.
“Kakak gue tadinya nggak sengaja lihat di rekaman CCTV,”
kata Wira menjelaskan,”Nah, pas dia cerita ke gue, langsung gue minta semua
rekaman yang dia punya. Tahu nggak? Tadinya gue cuman iseng! Eh, nggak tahunya,
nggak cuma sekali! Beberapa kali tuh hantu keliatan di CCTV, siang-siang lagi!”
Lalu Wira memperlihatkan satu persatu rekaman yang
sepertinya sudah dia siapkan untuk diperlihatkan ke teman-temannya. Semuanya
bergambar hitam putih dan agak buram. Ada rekaman di sebuah lorong sekolah
terlihat dari atas. Kalau diputar normal memang tidak begitu terlihat sesuatu
yang aneh. Lalu Wira memperbesar view videonya dan memutarnya dengan mode
lambat. Setelah ada gambar beberapa murid yang berjalan di lorong, tampak
lorong itu lengang sejenak, tapi setelah itu tertangkap gambar perempuan
memakai baju serba hitam, bergerak seperti tanpa melangkah melintasi lorong.
Rambut perempuan itu panjang, tapi tergerai ke atas. Lalu ada rekaman dengan posisi
yang hampir sama tapi ada di lokasi lorong yang lain. Sekelebat terlihat
perempuan bule memakai baju Belanda jaman dulu. Perempuan itu melintas di
lorong dengan berjalan mundur. Ada beberapa rekaman lain lagi yang menangkap
sosok perempuan berbaju serba hitam dengan rambut ke atas, juga sosok Noni
Belanda yang berjalan mundur. Ari, Toha dan Nara begitu tertegun sembari
mengulangi rekaman-rekaman CCTV itu.
“Semua rekamannya di lorong,” kata Ari.
“Siang-siang lagi!” tambah Nara,” Emang yang malem ada juga?”
“Yang ada di kakak gue itu rekaman dari tiga hari lalu,”
kata Wira,”Dua hari ini gue cek, yang malem malah nggak ada apa-apa.”
“Tuh bener kan,” ujar Toha,”Ada anak lain lagi yang bawa
hantu itu.”
“Trus gimana sama tembok yang item di ruang komputer?”
sanggah Nara ke Toha.
Sementara Toha dan Wira sedang mempertahankan pendapatnya
masing-masing, Ari begitu serius membolak-balik rekaman-rekaman CCTV di laptop.
“Lisa!” tiba-tiba Ari tersentak,”Hantu-hantu itu sedang
mengincar Lisa.”
“Maksud lo,” tanya Wira yang langsung ikut mengamati rekaman
yang dilihat Ari.
“Lihat deh!” kata Ari dengan suara gugup,” sebelum hantu itu
muncul, anak yang terakhir, lo lihat deh!”
Wira pun mulai memutar-mutar balik salah satu rekaman. Nara
dan Toha yang penasaran, jadi menghentikan perdebatan mereka. Berdua mereka ikut
memelototi apa yang dilihat Wira.
“Tuh lihat!” kata Ari menunjuk murid-murid yang terekam
lewat di lorong,”Lihat yang terakhir! Itu Lisa! Aku yakin itu Lisa!”
Walau terlihat dari atas dan gambar sedikit buram, tapi Ari
sangat mengenal sosok Lisa. Dan setelah Lisa lewat, tak berapa lama, tertangkap
sosok perempuan berbaju serba hitam dengan rambut ke atas yang sekilas tampak
melintasi lorong. Lalu Ari mulai membuka rekaman yang lain, ada rekaman yang
menangkap sosok Noni Belanda. Dan sebelumnya terlihat murid-murid berjalan
melewati lorong itu. Dan murid yang terakhir lewat adalah Lisa.
“Iya, itu kan lorong-lorong yang ada di kelas 10,” kata
Nara.
Lalu Ari cepat-cepat mengambil ponselnya. Dia mencoba
menghubungi Lisa. Wajah Ari terlihat begitu cemas, karena tampaknya Lisa tidak
juga menjawab panggilannya.
“Kok nggak diangkat-angkat sih!” kata Ari sedikit gusar.
Lalu dia mencoba menulis pesan untuk Lisa.
“Mungkin dia lagi latihan Ri,” kata Nara menenangkan.
Wira pun sedikit heran dengan sikap Ari terhadap murid kelas
10 bernama Lisa yang baru didengarnya. Lalu Nara menunjukkan rekaman yang ada
di kameranya ke Wira. Wira pun mulai mengerti begitu melihat rekaman Lisa
sedang memeluk Ari di kamera Nara.
“Kenapa lo nggak jadian aja sama Lisa, Ri?” tanya Nara
spontan.
Ari tidak menjawab. Dia sedang begitu cemas menuliskan pesan
buat Lisa.
“Lisa itu nganggep Ari kakaknya,” sanggah Toha,”Lagian Ari
kan udah ada Tata.”
“Ari sama Tata itu nggak kayak jadian,” Wira ikut
nyimbrung,”Mereka berdua itu kayak anak kembar aja.”
Ari seperti tidak menggubris pembicaraan ketiga temannya,
__ADS_1
karena kini dia begitu cemas dengan keselamatan Lisa. Jam 4 sore, Ari, Toha dan
Nara meninggalkan rumah Wira. Nara akan mengantar Ari dulu, baru Toha.
Sementara Nara dan Toha masih meneruskan perdebatan mereka tentang asal hantu
yang mereka lihat di rekaman CCTV, ponsel Ari bunyi. Ternyata ada panggilan
dari Lisa.
“Halo, Lisa,”Ari langsung bicara di ponselnya,”Kamu dimana?”
“Halo Kak Ari,”Jawab Lisa di ponsel Ari,”Aku masih di
sekolah, barusan selesai ekskul.”
“Kamu terima pesanku kan?” tanya Ari.
“Iya aku terima,” jawab Lisa,”Tahu nggak Kak? aku terpilih
jadi vokalis utama!” Suara Lisa terdengar setengah berteriak di ponsel Ari.
“O ya, selamat ya,”kata Ari,”Tapi kamu nggak apa-apa kan?”
“Aku nggak apa-apa,”jawab Lisa,” Kak Ari, kalau boleh besok
aku mau traktir Kak Ari di kantin.”
“Boleh… Boleh…” suara Ari pelan. Dia masih mencemaskan Lisa.
Tapi sepertinya Lisa terlalu bahagia hari ini.
“Kalau gitu sampai besok ya,” kata Lisa.
“Ok, sampai besok,” jawab Ari.
Lalu Ari menutup ponselnya. Sejenak dia masih heran. Lisa
masih baik-baik saja di sekolah. Atau mungkin dia saja yang terlalu berlebihan
mencemaskan Lisa.
“Lisa kenapa Ri?” tanya Toha begitu tahu tadi Lisa yang
telpon Ari.
“Dia nggak apa-apa kan? Tanya Nara penasaran.
“Dia baik-baik aja…” jawab Ari pelan. Ari masih menyimpan
keheranannya. Tapi setidaknya dia merasa lega karena Lisa baik-baik saja.
Lalu ada bunyi notifikasi di ponsel Ari. Ada pesan baru
masuk. Ari kira dari Lisa. Ternyata dari Tata. Pesannya : Ari besok aku pengen bicara di kantin. Berdua aja. Bisa kan?
***
Besoknya di sekolah, Ari janji bertemu dengan Lisa di kantin
saat jam istirahat pertama. Sebelumnya, tadi malam, Ari memang meminta Lisa
untuk ketemu di jam istirahat pertama. Karena saat jam pulang sekolah nanti,
Ari ada janji ketemu dengan Tata, juga di kantin. Saat ketemu Lisa, Ari mewanti-wanti
Lisa untuk berhati-hati. Ari memang sengaja tidak menceritakan tentang rekaman
CCTV sekolah. Dia tidak mau membuat Lisa takut. Apalagi sekarang Lisa sedang
bahagia-bahagianya karena terpilih menjadi vokalis utama band sekolah.
“Kalau ada apa-apa, atau kamu lihat sesuatu, langsung kasih
tahu aku,” kata Ari.
“Iya pasti Kak,” kata Lisa,”Kak Ari aku boleh request
sesuatu nggak?”
“Apaan?” tanya Ari.
Lisa melepaskan cincin bermotif bintang yang ada di jarinya
lalu dia berikan ke Ari.
Ari sudah kuanggap kakak aku sendiri.”
“Lisa, aku nggak bisa…” kata Ari,”Itu kan cincin peninggalan
kakak kamu…”
“Justru itu Kak, karena Kak Ari, aku sudah lupain kakak
aku,” kali ini suara Lisa serius,”Jadi aku nggak mau pakai lagi… Aku mau Kak
Ari yang pakai.”
“Iya, tapi…”Ari masih ragu.
“Please Kak Ari…” kata Lisa memohon, “Kak Ari nggak mau jadi
kakak aku?”
“Ok… Ok… Aku pakai ya,”kata Ari.
Ari pun memakai cincin yang diberikan Lisa. Setidaknya dia
bisa menyenangkan Lisa. Lalu pesanan mereka pun datang. Ari dan Lisa masih di
kantin sampai bel masuk berbunyi. Sebelum berpisah, Lisa bertanya ke Ari,
apakah Ari pulang naik bus. Ari bilang ke Lisa, supaya Lisa duluan saja ke
halte. Nanti dia menyusul. Ari sempat memandang Lisa sampai dia masuk ke lorong
kelas 10. Dia memastikan tidak ada sesuatu yang mengikuti Lisa.
Saat kembali ke kelas, Toha dan Nara sempat bertanya ke Ari
tentang Lisa.
“Gimana Ri? Lisa nggak apa-apa kan?” tanya Nara.
“Dia baik-baik saja kok,” jawab Ari.
“Tapi cepat atau lambat, sesuatu bisa saja terjadi…” kata
Toha berteori.
“Kenapa lo nggak nanya ke bokap Ha,” kata Ari ke Toha.
“Iya Ha, lo tanyain deh ke bokap lo,” desak Nara.
“Iye, iye… Ntar kalau sempet gue tanyain ke bokap,”kata Toha
ogah-ogahan.
Walau mereka pernah lihat hantu anak kecil, juga penampakan
di kamera Nara dan rekaman CCTV, sepertinya tidak terjadi sesuatu hal yang
berarti di sekolah mereka. Ari pun tidak bisa melapor ke Pak Riza, apalagi
berkaitan rekaman-rekaman CCTV yang ada di komputer Wira.
Saat jam pulang sekolah, Ari langsung menuju ke kantin.
Ternyata Tata sudah menunggu di bangku paling pojok. Dia sendirian di sana. Ari
menyapa duluan. Tata hanya tersenyum kecil. Ari melihat Tata masih memakai
kalungnya.
“Lagi ada sesuatu di sekolah ya Ri?” Tata bertanya ke Ari.
Tapi pandangannya tidak mengarah ke Ari.
“Iya Ta, masih ada sesuatu di sekolah kita,” kata Ari,”Kamu
jangan lepas kalung kamu ya.”
“Hantunya lagi ngikutin anak kelas 10 ya?”Tanya Tata lagi.
Pandangannya tetap tidak mengarah ke Ari.
“Iya, kayaknya begitu…” kata Ari. Dia masih tidak bisa
__ADS_1
bicara banyak.
“Kamu lagi ngelindungin dia?” Kali ini Tata sedikit melirik
ke Ari.
“Iya, dia pernah pingsan dua kali di sekolah,” Ari mencoba
menjelaskan.
“Jadi kamu sekarang lagi jadi superhero ya…” guman Tata
seperti tak butuh jawaban.
“Iya dia memang perlu diselamatin Ta…” kata Ari.
“Cantik lagi ya yang diselamatin…” kata Tata sambil
memandang ke tempat lain.
“Ta, dia itu nganggep aku kayak kakak sendiri!” suara Ari
agak keras.
“Iya sih…” kata Tata pelan,”Kakak beradik kan boleh
peluk-pelukan.”
“Ta…” sampai sini Ari tidak tahu harus berkata apa. Karena
dia masih belum memahami perasaan Tata.
Lalu Tata memandangi cincin di tangan Ari. Tata tahu, Ari
tidak pernah memakai apa-apa kecuali jam tangan mahal pemberiannya.
“Cincin kamu bagus tuh…” Tata menyindir.
“Ta, ini cincinnya kakaknya yang sudah meninggal…”kata Ari
terbata. Walau bagaimana, dia tidak bisa bohong di depan Tata.
“Nggak apa-apa kok…” kata Tata,”Ntar makin banyak yang kamu
selametin, makin banyak kan cincinnya.”
“Ta, maksud kamu apaan sih,” kini Ari mulai tidak sabar.
“Kayaknya aku nggak perlu kalung ini lagi nih,” Tata
memegangi bandul kalung yang melingkar di lehernya,”mending aku balikin aja ke
superheronya. Soalnya aku nggak butuh superhero.”
Tata pun berusaha melepas kalungnya.
“Ta, jangan lepas kalung kamu!” pekik Ari tertahan.
Kecemasan memenuhi wajahnya. Karena dia tahu, masih ada sesuatu di sekolah
mereka.
Tapi Tata tetap melepas kalungnya.
“Aku bisa jaga diri kok,” kata Tata,”Beneran, aku nggak
butuh superhero.”
“Ta, beneran! Pakai kalung kamu!”Ari setengah berteriak. Dia
tidak ingin sesuatu terjadi pada Tata.
“Kamu nggak usah khawatirkan aku lagi” kata Tata sambil menyerahkan
kalungnya ke Ari.
“Ok… Ok… Kalau kamu nggak suka aku pakai cincin ini, cincin
ini akan aku buang,” kata Ari,”Tapi janji! Kamu harus pakai kalung itu lagi!”
Tata masih diam memandangi Ari. Kalungnya masih ada di
genggamannya. Lalu Ari melepas cincin bermotif bintang dari jarinya dan
melemparnya jauh-jauh. Ari pun memandangi Tata dalam-dalam. Dia menunggu Tata
untuk memakai kalungnya lagi. Tapi sebelum Tata memakai kalungnya, ada suara
memanggil Ari.
“Kak Ari!” suara Lisa keras memanggil Ari. Dia terlihat
sedikit berlari ke arah Ari,”Kak Ari jadi kan nanti pulang naik bus?”
Tata pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia
berjalan cepat meninggalkan Ari. Kalungnya dia tinggal di atas meja kantin.
“Ta, tunggu!” teriak Ari.
“Kak Ari, ada apa?” tanya Lisa polos begitu ada di depan Ari.
“E… Lisa sori, aku tinggal dulu ya,” kata Ari buru-buru.
Ari cepat-cepat mengambil kalung Tata dan mulai mengejar
Tata. Tahu Ari sedang mengejarnya, Tata pun mulai berlari menuju tempat parkir.
Ari pun mempercepat larinya. Sampai di tempat parkir, Ari berhasil mengejar
Tata. Dia raih tangan Tata untuk berhenti.
“Ta! Berhenti! Pakai kalung kamu!” Ari setengah berteriak.
“Apaan sih!” Tata mengibaskan tangannya, berusaha melepaskan
genggaman Ari.
“Ta! Kamu boleh benci sama aku! Tapi please, pakai kalung
kamu!” kata Ari.
Tapi Tata tidak menggubris Ari, dia tetap berjalan menuju
mobilnya. Ari pun berusaha menghentikan Tata lagi. Lalu terlihat sopir Tata
berlari ke arah Ari dan Tata.
“Hei Kamu! Ngapain kamu!” Sopir Tata mendatangi Ari.
Tapi Ari tidak peduli. Dia tetap memaksa Tata memakai
kalungnya. Sampai sopir Tata mendorong Ari, hingga Ari terjerembab jatuh ke
belakang.
“Kamu memang biang kerok dari dulu!” teriak sopir Tata
sambil menunjuk-nunjuk Ari yang sudah terkapar di tanah,”Dibilangin jangan
nemuin Neng Tata, masih aja nekat. Sekali lagi kamu gangguin Neng Tata, gua
bikin mampus lu!”
Ari melihat Tata sudah masuk ke mobil. Sopir Tata berjalan
meninggalkan Ari sambil memandangi Ari dengan muka bengis. Ari berusaha bangun
karena mobil Tata sudah mulai jalan. Dia melihat jendela belakang mobil Tata
masih sedikit terbuka. Sekuat tenaga Ari berlari kencang menyusul mobil Tata.
Sambil berlari, Ari berusaha memasukkan kalung Tata lewat jendela yang sedikit
terbuka. Tata sempat kaget melihat Ari berlari di samping mobilnya. Sementara
sopir Tata sengaja mempercepat laju mobilnya hingga Ari makin kewalahan
mengejar. Tapi Ari berhasil memasukkan kalung Tata lewat jendela. Kalung itu
jatuh di samping Tata duduk. Ari pun berhenti dengan nafas ngos-ngosan.
Pandangannya nanar memandangi mobil Tata yang menjauh sampai keluar gerbang.
Peluh memenuhi wajah dan badan Ari. Baju seragamnya belepotan tanah. Tetapi apapun
yang terjadi sebelumnya, kini Ari cuma memikirkan Tata.
__ADS_1