
Kamis pagi, Ari, Wira dan Nara sudah ada di taman. Ari
berharap hari ini Lisa menuruti kata-katanya untuk tidak masuk sekolah. Toha
baru datang kemudian. Dia menaruh sepedanya dulu di parkir sepeda. Saat Toha
baru bergabung dengan yang lain, datang juga Pak Min dengan langkah terburu.
“Ari! Tadi malem saya lihat setan…” Kata Pak Min tiba-tiba begitu
ketemu Ari dan teman-temannya.
Ari dan yang lain jadi kaget dan heran memandangi Pak Min.
“Maksud Pak Min?” tanya Nara.
“Iya, tadi malam sekitar jam 11 saya denger suara orang
bersiul-siul,”kata Pak Amin,”waktu saya cari-cari, saya lihat ada orang lagi
jongkok di depan lab komputer…”
“Orangnya kayak gimana Pak Min?”tanya Ari.
“Saya nggak jelas, soalnya gelap,”jawab Pak Min,”Terus saya
deketin… Waktu saya tegur… Eh dia berdiri… Eh dia jadi tinggi banget… sampai
seatap… Badannya item… Tangannya panjang… Jarinya panjang…”
“Terus Pak Min gimana?” tanya Toha.
“Ya saya lari aja…”jawab Pak Min.
Ari, Toha, Wira dan Nara saling berpandangan. Mereka jadi
ingat bercak hitam yang ada di dinding laboratorium komputer.
“Pak Min, waktu habis beresin lab komputer kemarin, Pak Min
kemana?” tanya Nara.
“Ya balik lah ke rumah,” jawab Pak Min,”Saya kan beresin lab
sampai sore… sampai jam tigaan…”
“Jadi sampai jam tigaan Pak Min masih ada di lab komputer?”
tanya Nara lagi.
“Lha iya lah,” jawab Pak Min,”Itu kan temboknya musti
dibongkar, terus dibikin baru lagi, dicat baru lagi…”
Lalu Ari jadi ingat, pagi ini dia harus ketemu Pak Riza. Dia
harus memberitahu semua kejadian yang telah terjadi ke Pak Riza. Ari pun
meninggalkan teman-temannya menuju ke ruang guru. Tapi saat sampai di ruang
guru, Ari melihat sedang terjadi kehebohan di sana. Dari pembicaraan guru-guru,
Ari tahu ada guru pria yang sedang memakai toilet guru wanita. Tapi belum
sempat Ari mendengar lagi beberapa pembicaraan di sana, Pak Riza sudah
mendatanginya.
“Ada apa Ri?” kata Pak Riza. Sepertinya dia sedang
mengharapkan kedatangan Ari.
“Ada sesuatu yang harus saya laporkan Pak,” kata Ari.
Perhatiannya belum beralih dari kehebohan yang ada di ruang guru.
Pak Riza memperhatikan sebentar situasi di ruangan itu. Lalu
dia mengajak Ari mencari tempat sepi. Mereka pun menuju ke parkir sepeda motor.
Sampai di tempat parkir, Ari menceritakan apa yang terjadi akhir-akhir ini.
Sebetulnya tadi Ari ingin menanyakan apa yang terjadi di ruang guru. Tapi
buru-buru Pak Riza menyuruh Ari bercerita dulu. Ari memberi tahu Pak Riza
tentang Lisa, lalu bercak yang ada di dinding laboratorium komputer sampai apa
yang dialami Pak Min hingga pagi ini. Pak Riza terlihat berpikir sebentar
setelah mendengar kata-kata Ari.
“Tadi ada guru yang bilang, kalau mereka memergoki Pak Anjar
sedang pakai toilet guru perempuan,” kata Pak Riza menerangkan kejadian di
ruang guru tadi.
“Pak Anjar guru komputer?” tanya Ari memastikan.
“Iya… Saya kenal baik
sama Pak Anjar,” jawab Pak Riza.
Ari tahu, Pak Anjar termasuk guru baru yang seangkatan Pak
Riza.
“Nah, Pak Anjar ini kemarin sempat cerita ke saya,” kata Pak
Riza meneruskan,”Sebelum pulang dia bilang, waktu lagi ngunci lab komputer, dia
denger orang lagi bersiul, terus dia lihat ada sosok hitam tinggi di sebelah
dia…”
“Terus Pak Anjar gimana?” Tanya Ari penasaran.
“Ya dia lari… Terus cerita ke saya,”kata Pak Riza.
Ari mulai menghubung-hubungkan kejadian Pak Anjar dengan Pak
Min. Lalu dia mengajak Pak Riza untuk melihat bercak yang ada di dinding
laboratorium komputer. Tapi bel masuk keburu berdering. Pak Riza pun bilang ke
Ari akan secepatnya mengecek ke laboratorium komputer. Dia menyuruh Ari menemuinya
lagi saat jam istirahat.
Di kelas Ari ceritakan kejadian di ruang guru ke Toha, Wira
dan Nara. Jam istirahat pertama, Ari buru-buru menuju ruang guru untuk menemui
__ADS_1
Pak Riza. Tapi saat Ari masih berjalan di lorong kelas, Pak Riza terlihat sedang
berjalan mendatanginya.
“Ri, barusan saya dari lab komputer,” kata Pak Riza dengan
suara tertahan begitu bertemu Ari,”Saya nggak lihat bercak yang kamu ceritakan,
soalnya temboknya sudah dibongkar…”
“Hah,temboknya dibongkar Pak?”tanpa sadar Ari setengah
teriak. Matanya terbelalak.
“Iya, pagi ini tukangnya sudah pada datang,”kata Pak
Riza,”Kamu tenang Ri. Mudah-mudahan pembongkaran tembok ini nggak berpengaruh
sama pagar yang dibikin orang padepokan. Saya akan coba telpon orang
padepokan.”
Ari masih ingat kejadian setahun yang lalu waktu ruang bawah
tanah sekolahnya dibongkar untuk dibuat laboratorium komputer. Dia berharap,
yang selalu dibangga-banggakan Toha tentang orang padepokan memang begitu
adanya. Sementara Pak Riza sedang sibuk dengan ponselnya, Ari mendengar ada
perempuan berteriak agak jauh dari arah ujung lorong. Setelah Ari lihat ke arah
sana, ada kerumunan murid di depan salah satu kelas. Ari tahu itu kelas 11-12,
sebelah kelas Ari. Ari pun berlari ke sana. Toha dan Wira juga sudah ada di
sana. Di antara kerumunan murid kelas itu, ada satu murid perempuan yang
terduduk di lantai sedang ditenangkan teman-temannya yang lain. Murid perempuan
itu tampak histeris. Dia bilang baru balik dari toilet bersama teman
sebangkunya, tapi waktu dia lihat kaki temannya itu, katanya kakinya tidak ada.
Lalu temannya itu pergi begitu saja. Belum selesai Ari mendengar cerita lengkapnya,
terdengar lagi suara perempuan berteriak. Kali ini dari kelas Ari. Ari, Toha
dan Wira pun berlari ke sana. Di dalam kelas terlihat Boncel, sang wakil ketua
kelas perempuan, sedang duduk dikerumuni teman-temannya. Nara sudah ada di
sebelah Boncel sedang menenangkan. Dan Nara sedang memakai tudung jaket di
kepalanya. Boncel terlihat histeris. Suaranya gemetar bercerita kepada
teman-temannya.
“Beneran… Gue kira itu bener-bener Vira…”Kata Boncel dengan
suara gemetar sambil menangis,”Nggak tahunya waktu aku lihat ke bawah meja,
kakinya nggak ada…”Boncel terus-menerus mengulang ceritanya sambil menangis.
“Terus dia pergi kemana?” tanya Ari ke Boncel.
Boncel hanya menunjuk dengan jarinya ke satu arah.
Tangisannya makin keras. Nara berusaha keras menenangkannya.
Boncel mengangguk-angguk di tengah keras tangisannya.
“Terus sekarang Vira dimana?”tanya Wira, seakan bertanya
pada semua teman-temannya di situ.
Akhirnya semua orang mencari Vira. Toha dan Wira bergegas ke
toilet. Tapi Ari tidak ke toilet. Dia kembali ke kelas sebelah. Pak Riza ada di
sana sedang menenangkan murid perempuan yang histeris tadi. Dan barusan Ari
melihat di ujung lorong yang lain sedang terjadi kehebohan yang sama.
“Kamu tadi lihat dia perginya ke arah mana?”Ari langsung
bertanya pada perempuan di kelas sebelah.
Spontan beberapa teman sekelas anak itu melihat Ari dengan
muka tidak suka.
“Bro, yang sopan dong, dia kan lagi shock” salah satu teman
sekelas perempuan itu protes ke Ari.
Lalu ada yang berguman Ari hobi tahayul. Ada yang berbisik Ari
si penggambar setan. Tapi Pak Riza berusaha menenangkan suasana. Dan dia
meminta pada murid perempuan itu untuk menjawab saja pertanyaan Ari. Dan murid
itu hanya menunjuk dengan jarinya ke satu arah. Lalu Ari berlari ke ujung
lorong yang lain yang barusan tadi dia lihat ada kehebohan di sana. Dan benar
dugaan Ari. Seorang murid perempuan sedang histeris dan ditenangkan beberapa
teman sekelasnya. Dia bercerita hal yang sama seperti Boncel dan murid perempuan
kelas sebelah Ari. Lalu Ari tanpa basi-basi bertanya, ke arah mana perginya
temannya yang tak terlihat kakinya itu. Walau banyak yang tidak suka dengan
gelagat Ari, tapi murid perempuan itu tetap menunjuk ke satu arah. Pak Riza pun
sudah datang ke situ dan memeriksa murid perempuan yang histeris tadi. Sementara
Ari mulai menyimpulkan dari semua jawaban murid-murid perempuan itu. Dari
posisi kelas mereka masing-masing, Ari tahu mereka sedang menunjuk ke arah
laboratorium komputer. Ari ingin memberi tahu Pak Riza, tapi suara Tata
terdengar memanggil Ari.
“Ari, sini!” suara Tata tertahan memanggil Ari. Dia ada di
balik papan majalah dinding.
Ari pun bergegas ke sana.
“Ada apa Ta?”tanya Ari.
__ADS_1
“Ri, aku pikir sesuatu terjadi sama Astri…” jawab Tata
dengan muka tegang.
“Kenapa Astri Ta?”tanya Ari lagi.
“Tadi aku ke toilet sama Astri, tapi waktu mau balik ke
kelas, aku nggak lihat Astri lagi,”jawab Tata,” Aku takut kayak kejadian di
kelas lain…”
“Tapi kamu nggak lihat apa-apa kan?”tanya Ari serius. Dia
justru lebih mengkhawatirkan Tata. Ari masih melihat kalung perak berbandul
kapsul melingkar di leher Tata.
“Nggak… Aku nggak lihat apa-apa,”jawab Tata.
Ari pun lega. Dia menyuruh Tata kembali ke kelas dan mewanti-wanti
agar Tata tidak keluar-keluar kelas dulu. Lalu Ari buru-buru mendatangi Pak
Riza.
“Pak Riza, kita harus segera ke lab komputer,”seru Ari.
Mukanya begitu serius. Karena masalah ini sudah berhubungan dengan Astri.
Berati berhubungan juga dengan Tata. Dan dia harus segera memberi tahu masalah
ini ke Toha.
Pak Riza menatap Ari sebentar. Tapi dia sepertinya percaya
pada Ari. Berdua mereka bergegas ke laboratorium komputer. Pak Riza melarang
Ari berlari, agar tidak menambah kehebohan yang telah terjadi. Dia menyuruh Ari
berjalan biasa saja. Pak Riza juga bilang ke Ari, tadi kata orang padepokan di
telepon, lorong bawah tanah itu masih dilindungi pagar yang dipasang mereka
tahun lalu. Sampai di laboratorium komputer, Pak Riza heran, tukang-tukang yang
tadi pagi membongkar dinding laboratorium komputer tidak terlihat seorangpun.
Lubang di tembok yang dibongkar ditutup dengan terpal. Beberapa saat Ari dan
Pak Riza memandangi terpal tersebut. Mereka tahu di belakang sana ada lubang
yang akan menuju ke lorong bawah tanah. Pelan Pak Riza membuka terpal. Saat
terbuka setengah, terlihar dinding yang belubang. Di belakang sana terlihat
gelap. Agak ragu Pak Riza dan Ari untuk masuk ke sana karena bau busuk dan
pengap begitu menyengat. Tapi Ari menemukan senter di tempat perkakas yang ditinggal
salah satu tukang. Dia berikan senter itu ke Pak Riza. Pelan mereka berdua
masuk ke lubang di dinding sambil menutup hidung. Dengan penerangan senter
mereka hanya bisa melihat bagian-bagian yang terkena cahaya. Lorong bawah tanah
itu cukup besar untuk mereka berdua berjalan di dalamnya. Dan tak berapa lama
mereka melangkah, cahaya senter menangkap beberapa tubuh yang bergeletakan di
tanah. Setelah diamati lebih jelas, ternyata mereka murid-murid perempuan
sekolah sini. Pak Riza pun memeriksa salah satu dari mereka. Mereka sepertinya
sedang pingsan.
“Astri!”suara Ari tertahan. Dia mengenali murid yang
diperiksa Pak Riza.
“Kamu kenal dia?”tanya Pak Riza.
“Iya, dia murid kelas 11-1 Pak,”jawab Ari.
Ari dan Pak Riza pun buru-buru keluar untuk mencari bantuan.
Akhirnya enam murid perempuan yang pingsan di lorong bawah tanah berhasil
dikeluarkan. Toha yang langsung diberi tahu Ari, ikut menolong Astri keluar
dari sana. Mereka berenam langsung dibawa ke UKS. Beberapa dari mereka, termasuk
Astri, saat dikeluarkan dari lorong sudah dalam keadaan sadar. Saat ditanya,
mereka semua tidak ingat apa-apa waktu keluar dari toilet. Dan setelah
diperiksa, secara fisik mereka baik-baik saja dan diperbolehkan kembali ke
kelas masing-masing. Sementara Laboratorium Komputer ditutup sampai batas waktu
yang tidak ditentukan dengan alasan karena akan direnovasi.
Saat jam pelajaran berikutnya, Vira sudah duduk di sebelah
Boncel. Dia sudah bisa mengikuti pelajaran setelah tadi ikut diperiksa secara
medis di UKS dan dinyatakan baik-baik saja. Tapi Ari masih curiga. Dia merasa
permasalahannya belum selesai. Bolak-balik dia memandangi Vira yang duduk di
depan di deretan bangku ke dua. Dan sepertinya Vira terlihat baik-baik saja
mengikuti pelajaran. Lalu Nara mulai memakai tudung jaketnya. Hingga dia
ditegur guru untuk ke UKS bila sakit. Tapi Nara bilang dia cuma kedinginan. Perasaan
Ari pun mulai tidak enak. Dia merasa ada sesuatu muncul di belakang Vira. Dia
lihat seseorang sedang berdiri mematung di sana. Sosok perempuan berambut
panjang. Ari bisa melihat dari belakang, punggung perempuan itu berlubang. Ari
melirik ke arah Toha, Wira dan Nara. Ari tahu, dari gelagat mereka, mereka juga
melihat apa yang Ari lihat. Hanya mereka berempat. Ibu guru tetap memberikan
pelajaran. Dan murid-murid berusaha mengikuti pelajaran. Tidak ada yang tahu
kehadiran perempuan di belakang Vira. Ari mulai berpikir, bisa jadi murid-murid
yang pingsan di lorong bawah tanah tadi mulai diikuti oleh sesuatu yang mungkin
berasal dari sana. Astri tadi juga ditemukan pingsan di sana. Dan Astri duduk
__ADS_1
di sebelah Tata.