Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 53 : Murid-murid yang Pingsan di Lorong Bawah Tanah


__ADS_3

Kamis pagi, Ari, Wira dan Nara sudah ada di taman. Ari


berharap hari ini Lisa menuruti kata-katanya untuk tidak masuk sekolah. Toha


baru datang kemudian. Dia menaruh sepedanya dulu di parkir sepeda. Saat Toha


baru bergabung dengan yang lain, datang juga Pak Min dengan langkah terburu.


“Ari! Tadi malem saya lihat setan…” Kata Pak Min tiba-tiba begitu


ketemu Ari dan teman-temannya.


Ari dan yang lain jadi kaget dan heran memandangi Pak Min.


“Maksud Pak Min?” tanya Nara.


“Iya, tadi malam sekitar jam 11 saya denger suara orang


bersiul-siul,”kata Pak Amin,”waktu saya cari-cari, saya lihat ada orang lagi


jongkok di depan lab komputer…”


“Orangnya kayak gimana Pak Min?”tanya Ari.


“Saya nggak jelas, soalnya gelap,”jawab Pak Min,”Terus saya


deketin… Waktu saya tegur… Eh dia berdiri… Eh dia jadi tinggi banget… sampai


seatap… Badannya item… Tangannya panjang… Jarinya panjang…”


“Terus Pak Min gimana?” tanya Toha.


“Ya saya lari aja…”jawab Pak Min.


Ari, Toha, Wira dan Nara saling berpandangan. Mereka jadi


ingat bercak hitam yang ada di dinding laboratorium komputer.


“Pak Min, waktu habis beresin lab komputer kemarin, Pak Min


kemana?” tanya Nara.


“Ya balik lah ke rumah,” jawab Pak Min,”Saya kan beresin lab


sampai sore… sampai jam tigaan…”


“Jadi sampai jam tigaan Pak Min masih ada di lab komputer?”


tanya Nara lagi.


“Lha iya lah,” jawab Pak Min,”Itu kan temboknya musti


dibongkar, terus dibikin baru lagi, dicat baru lagi…”


Lalu Ari jadi ingat, pagi ini dia harus ketemu Pak Riza. Dia


harus memberitahu semua kejadian yang telah terjadi ke Pak Riza. Ari pun


meninggalkan teman-temannya menuju ke ruang guru. Tapi saat sampai di ruang


guru, Ari melihat sedang terjadi kehebohan di sana. Dari pembicaraan guru-guru,


Ari tahu ada guru pria yang sedang memakai toilet guru wanita. Tapi belum


sempat Ari mendengar lagi beberapa pembicaraan di sana, Pak Riza sudah


mendatanginya.


“Ada apa Ri?” kata Pak Riza. Sepertinya dia sedang


mengharapkan kedatangan Ari.


“Ada sesuatu yang harus saya laporkan Pak,” kata Ari.


Perhatiannya belum beralih dari kehebohan yang ada di ruang guru.


Pak Riza memperhatikan sebentar situasi di ruangan itu. Lalu


dia mengajak Ari mencari tempat sepi. Mereka pun menuju ke parkir sepeda motor.


Sampai di tempat parkir, Ari menceritakan apa yang terjadi akhir-akhir ini.


Sebetulnya tadi Ari ingin menanyakan apa yang terjadi di ruang guru. Tapi


buru-buru Pak Riza menyuruh Ari bercerita dulu. Ari memberi tahu Pak Riza


tentang Lisa, lalu bercak yang ada di dinding laboratorium komputer sampai apa


yang dialami Pak Min hingga pagi ini. Pak Riza terlihat berpikir sebentar


setelah mendengar kata-kata Ari.


“Tadi ada guru yang bilang, kalau mereka memergoki Pak Anjar


sedang pakai toilet guru perempuan,” kata Pak Riza menerangkan kejadian di


ruang guru tadi.


“Pak Anjar guru komputer?” tanya Ari memastikan.


“Iya…  Saya kenal baik


sama Pak Anjar,” jawab Pak Riza.


Ari tahu, Pak Anjar termasuk guru baru yang seangkatan Pak


Riza.


“Nah, Pak Anjar ini kemarin sempat cerita ke saya,” kata Pak


Riza meneruskan,”Sebelum pulang dia bilang, waktu lagi ngunci lab komputer, dia


denger orang lagi bersiul, terus dia lihat ada sosok hitam tinggi di sebelah


dia…”


“Terus Pak Anjar gimana?” Tanya Ari penasaran.


“Ya dia lari… Terus cerita ke saya,”kata Pak Riza.


Ari mulai menghubung-hubungkan kejadian Pak Anjar dengan Pak


Min. Lalu dia mengajak Pak Riza untuk melihat bercak yang ada di dinding


laboratorium komputer. Tapi bel masuk keburu berdering. Pak Riza pun bilang ke


Ari akan secepatnya mengecek ke laboratorium komputer. Dia menyuruh Ari menemuinya


lagi saat jam istirahat.


Di kelas Ari ceritakan kejadian di ruang guru ke Toha, Wira


dan Nara. Jam istirahat pertama, Ari buru-buru menuju ruang guru untuk menemui

__ADS_1


Pak Riza. Tapi saat Ari masih berjalan di lorong kelas, Pak Riza terlihat sedang


berjalan mendatanginya.


“Ri, barusan saya dari lab komputer,” kata Pak Riza dengan


suara tertahan begitu bertemu Ari,”Saya nggak lihat bercak yang kamu ceritakan,


soalnya temboknya sudah dibongkar…”


“Hah,temboknya dibongkar Pak?”tanpa sadar Ari setengah


teriak. Matanya terbelalak.


“Iya, pagi ini tukangnya sudah pada datang,”kata Pak


Riza,”Kamu tenang Ri. Mudah-mudahan pembongkaran tembok ini nggak berpengaruh


sama pagar yang dibikin orang padepokan. Saya akan coba telpon orang


padepokan.”


Ari masih ingat kejadian setahun yang lalu waktu ruang bawah


tanah sekolahnya dibongkar untuk dibuat laboratorium komputer. Dia berharap,


yang selalu dibangga-banggakan Toha tentang orang padepokan memang begitu


adanya. Sementara Pak Riza sedang sibuk dengan ponselnya, Ari mendengar ada


perempuan berteriak agak jauh dari arah ujung lorong. Setelah Ari lihat ke arah


sana, ada kerumunan murid di depan salah satu kelas. Ari tahu itu kelas 11-12,


sebelah kelas Ari. Ari pun berlari ke sana. Toha dan Wira juga sudah ada di


sana. Di antara kerumunan murid kelas itu, ada satu murid perempuan yang


terduduk di lantai sedang ditenangkan teman-temannya yang lain. Murid perempuan


itu tampak histeris. Dia bilang baru balik dari toilet bersama teman


sebangkunya, tapi waktu dia lihat kaki temannya itu, katanya kakinya tidak ada.


Lalu temannya itu pergi begitu saja. Belum selesai Ari mendengar cerita lengkapnya,


terdengar lagi suara perempuan berteriak. Kali ini dari kelas Ari. Ari, Toha


dan Wira pun berlari ke sana. Di dalam kelas terlihat Boncel, sang wakil ketua


kelas perempuan, sedang duduk dikerumuni teman-temannya. Nara sudah ada di


sebelah Boncel sedang menenangkan. Dan Nara sedang memakai tudung jaket di


kepalanya. Boncel terlihat histeris. Suaranya gemetar bercerita kepada


teman-temannya.


“Beneran… Gue kira itu bener-bener Vira…”Kata Boncel dengan


suara gemetar sambil menangis,”Nggak tahunya waktu aku lihat ke bawah meja,


kakinya nggak ada…”Boncel terus-menerus mengulang ceritanya sambil menangis.


“Terus dia pergi kemana?” tanya Ari ke Boncel.


Boncel hanya menunjuk dengan jarinya ke satu arah.


Tangisannya makin keras. Nara berusaha keras menenangkannya.


Boncel mengangguk-angguk di tengah keras tangisannya.


“Terus sekarang Vira dimana?”tanya Wira, seakan bertanya


pada semua teman-temannya di situ.


Akhirnya semua orang mencari Vira. Toha dan Wira bergegas ke


toilet. Tapi Ari tidak ke toilet. Dia kembali ke kelas sebelah. Pak Riza ada di


sana sedang menenangkan murid perempuan yang histeris tadi. Dan barusan Ari


melihat di ujung lorong yang lain sedang terjadi kehebohan yang sama.


“Kamu tadi lihat dia perginya ke arah mana?”Ari langsung


bertanya pada perempuan di kelas sebelah.


Spontan beberapa teman sekelas anak itu melihat Ari dengan


muka tidak suka.


“Bro, yang sopan dong, dia kan lagi shock” salah satu teman


sekelas perempuan itu protes ke Ari.


Lalu ada yang berguman Ari hobi tahayul. Ada yang berbisik Ari


si penggambar setan. Tapi Pak Riza berusaha menenangkan suasana. Dan dia


meminta pada murid perempuan itu untuk menjawab saja pertanyaan Ari. Dan murid


itu hanya menunjuk dengan jarinya ke satu arah. Lalu Ari berlari ke ujung


lorong yang lain yang barusan tadi dia lihat ada kehebohan di sana. Dan benar


dugaan Ari. Seorang murid perempuan sedang histeris dan ditenangkan beberapa


teman sekelasnya. Dia bercerita hal yang sama seperti Boncel dan murid perempuan


kelas sebelah Ari. Lalu Ari tanpa basi-basi bertanya, ke arah mana perginya


temannya yang tak terlihat kakinya itu. Walau banyak yang tidak suka dengan


gelagat Ari, tapi murid perempuan itu tetap menunjuk ke satu arah. Pak Riza pun


sudah datang ke situ dan memeriksa murid perempuan yang histeris tadi. Sementara


Ari mulai menyimpulkan dari semua jawaban murid-murid perempuan itu. Dari


posisi kelas mereka masing-masing, Ari tahu mereka sedang menunjuk ke arah


laboratorium komputer. Ari ingin memberi tahu Pak Riza, tapi suara Tata


terdengar memanggil Ari.


“Ari, sini!” suara Tata tertahan memanggil Ari. Dia ada di


balik papan majalah dinding.


Ari pun bergegas ke sana.


“Ada apa Ta?”tanya Ari.

__ADS_1


“Ri, aku pikir sesuatu terjadi sama Astri…” jawab Tata


dengan muka tegang.


“Kenapa Astri Ta?”tanya Ari lagi.


“Tadi aku ke toilet sama Astri, tapi waktu mau balik ke


kelas, aku nggak lihat Astri lagi,”jawab Tata,” Aku takut kayak kejadian di


kelas lain…”


“Tapi kamu nggak lihat apa-apa kan?”tanya Ari serius. Dia


justru lebih mengkhawatirkan Tata. Ari masih melihat kalung perak berbandul


kapsul melingkar di leher Tata.


“Nggak… Aku nggak lihat apa-apa,”jawab Tata.


Ari pun lega. Dia menyuruh Tata kembali ke kelas dan mewanti-wanti


agar Tata tidak keluar-keluar kelas dulu. Lalu Ari buru-buru mendatangi Pak


Riza.


“Pak Riza, kita harus segera ke lab komputer,”seru Ari.


Mukanya begitu serius. Karena masalah ini sudah berhubungan dengan Astri.


Berati berhubungan juga dengan Tata. Dan dia harus segera memberi tahu masalah


ini ke Toha.


Pak Riza menatap Ari sebentar. Tapi dia sepertinya percaya


pada Ari. Berdua mereka bergegas ke laboratorium komputer. Pak Riza melarang


Ari berlari, agar tidak menambah kehebohan yang telah terjadi. Dia menyuruh Ari


berjalan biasa saja. Pak Riza juga bilang ke Ari, tadi kata orang padepokan di


telepon, lorong bawah tanah itu masih dilindungi pagar yang dipasang mereka


tahun lalu. Sampai di laboratorium komputer, Pak Riza heran, tukang-tukang yang


tadi pagi membongkar dinding laboratorium komputer tidak terlihat seorangpun.


Lubang di tembok yang dibongkar ditutup dengan terpal. Beberapa saat Ari dan


Pak Riza memandangi terpal tersebut. Mereka tahu di belakang sana ada lubang


yang akan menuju ke lorong bawah tanah. Pelan Pak Riza membuka terpal. Saat


terbuka setengah, terlihar dinding yang belubang. Di belakang sana terlihat


gelap. Agak ragu Pak Riza dan Ari untuk masuk ke sana karena bau busuk dan


pengap begitu menyengat. Tapi Ari menemukan senter di tempat perkakas yang ditinggal


salah satu tukang. Dia berikan senter itu ke Pak Riza. Pelan mereka berdua


masuk ke lubang di dinding sambil menutup hidung. Dengan penerangan senter


mereka hanya bisa melihat bagian-bagian yang terkena cahaya. Lorong bawah tanah


itu cukup besar untuk mereka berdua berjalan di dalamnya. Dan tak berapa lama


mereka melangkah, cahaya senter menangkap beberapa tubuh yang bergeletakan di


tanah. Setelah diamati lebih jelas, ternyata mereka murid-murid perempuan


sekolah sini. Pak Riza pun memeriksa salah satu dari mereka. Mereka sepertinya


sedang pingsan.


“Astri!”suara Ari tertahan. Dia mengenali murid yang


diperiksa Pak Riza.


“Kamu kenal dia?”tanya Pak Riza.


“Iya, dia murid kelas 11-1 Pak,”jawab Ari.


Ari dan Pak Riza pun buru-buru keluar untuk mencari bantuan.


Akhirnya enam murid perempuan yang pingsan di lorong bawah tanah berhasil


dikeluarkan. Toha yang langsung diberi tahu Ari, ikut menolong Astri keluar


dari sana. Mereka berenam langsung dibawa ke UKS. Beberapa dari mereka, termasuk


Astri, saat dikeluarkan dari lorong sudah dalam keadaan sadar. Saat ditanya,


mereka semua tidak ingat apa-apa waktu keluar dari toilet. Dan setelah


diperiksa, secara fisik mereka baik-baik saja dan diperbolehkan kembali ke


kelas masing-masing. Sementara Laboratorium Komputer ditutup sampai batas waktu


yang tidak ditentukan dengan alasan karena akan direnovasi.


Saat jam pelajaran berikutnya, Vira sudah duduk di sebelah


Boncel. Dia sudah bisa mengikuti pelajaran setelah tadi ikut diperiksa secara


medis di UKS dan dinyatakan baik-baik saja. Tapi Ari masih curiga. Dia merasa


permasalahannya belum selesai. Bolak-balik dia memandangi Vira yang duduk di


depan di deretan bangku ke dua. Dan sepertinya Vira terlihat baik-baik saja


mengikuti pelajaran. Lalu Nara mulai memakai tudung jaketnya. Hingga dia


ditegur guru untuk ke UKS bila sakit. Tapi Nara bilang dia cuma kedinginan. Perasaan


Ari pun mulai tidak enak. Dia merasa ada sesuatu muncul di belakang Vira. Dia


lihat seseorang sedang berdiri mematung di sana. Sosok perempuan berambut


panjang. Ari bisa melihat dari belakang, punggung perempuan itu berlubang. Ari


melirik ke arah Toha, Wira dan Nara. Ari tahu, dari gelagat mereka, mereka juga


melihat apa yang Ari lihat. Hanya mereka berempat. Ibu guru tetap memberikan


pelajaran. Dan murid-murid berusaha mengikuti pelajaran. Tidak ada yang tahu


kehadiran perempuan di belakang Vira. Ari mulai berpikir, bisa jadi murid-murid


yang pingsan di lorong bawah tanah tadi mulai diikuti oleh sesuatu yang mungkin


berasal dari sana. Astri tadi juga ditemukan pingsan di sana. Dan Astri duduk

__ADS_1


di sebelah Tata.


__ADS_2