Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 33 : Tiga Murid Hilang di Toilet


__ADS_3

Esok hari, pagi-pagi, Ari, Toha, Wira dan Nara sudah


berkumpul di taman. Ari memperlihatkan gambar hantu bersayap di tempat parkir


ke Wira dan Nara. Ari juga memberitahu tentang dayang-dayang dan suruhan


kerajaan seperti yang dijelaskan Pak Hudi kemarin.


“Eh, kemarin kan mobil pada mogok,” kata Nara menyela. “Tahu


nggak, tadi banyak sopir yang cerita di parkiran, waktu dibawa ke bengkel, itu


tangki bensinnya pada bau pesing. Untung mobil gue nggak kenapa-kenapa.”


“Pasti gara-gara hantu bersayap itu,”Wira mencoba


menyimpulkan,”Dan dia itu suruhan kerajaan yang nyari dayang-dayang.


Dayang-dayang itu hantu cantik yang memakai bunga.”


“Iya. Kata Pak Hudi, hantu yang pakai bunga itu sekarang nggak


bisa masuk sekolah kita lagi,”kata Ari menambahkan. “Dia nggak bisa melewati


pagar bikinan orang-orang baju putih. Soalnya dia nggak bisa lihat Tata lagi.”


“Jadi hantu bersayap itu masih ada di sekolah kita dan masih


nyari si dayang-dayang,” desis Nara.


“Iya, mungkin kemarin dia nyari-nyari di tempat parkir tapi


nggak ketemu. Ntar aku akan kasih tahu Pak Riza,” kata Ari.


Saat ada pelajaran Pak Riza, Ari sempat bicara ke gurunya


itu kalau ada yang akan dibicarakannya nanti di ruang guru setelah jam pulang


sekolah. Jam istirahat kedua, Ari, Toha dan Wira pergi ke toilet. Tapi sebelum


masuk ke toilet mereka bertiga mendengar kepak burung itu lagi. Sepertinya


suara itu dari atap toilet. Ari berusaha menelusurkan pandangannya ke atas tapi


dia tidak melihat apa-apa. Mereka bertiga pun sempat memperingatkan Nara agar


tidak ke toilet dulu kali ini. Setelah bel pulang, Ari sudah berniat pergi ke


ruang guru untuk menemui Pak Riza. Tapi saat di luar kelas dia melihat di


beberapa kelas lain banyak murid berkerumun. Sepertinya sedang terjadi kehebohan


di sana. Toha dan Wira sudah berlari ke arah sana. Dari cerita murid-murid yang


ada di sana, katanya ada satu murid perempuan yang dari jam istirahat kedua


tidak balik-balik dari toilet. Beberapa murid sudah mencari ke toilet tapi


tidak ketemu. Dan ternyata tidak hanya di satu kelas saja. Ada dua kelas lagi


yang ada satu murid perempuannya tidak balik-balik lagi setelah jam istirahat kedua.


Mereka terlihat terakhir saat mau ke toilet. Toha, Wira dan Nara pun ikut


membantu mencari ketiga murid itu. Mereka mulai mencari di area dekat-dekat


toilet. Berkali-kali Toha, Wira dan Nara melihat ke atas dengan was-was. Tapi


mereka tidak melihat apa-apa. Dan suara kepak burung itu tidak terdengar lagi.


Sementara Ari dengan langkah cepat menuju ke ruang guru. Tapi ketika melewati


aula, langkah Ari tertahan. Ada perasaan aneh yang sangat kuat saat dia


memandang pintu aula yang terbuka. Di dalamnya, walau remang, Ari bisa melihat


pintu ruang penyimpanan matras yang masih terkunci. Tetapi cepat-cepat Ari


lanjutkan langkahnya menuju ruang guru sebelum nanti Pak Riza keburu pulang. Di


ruang guru Ari bertemu Pak Riza. Seperti biasa dia harus duduk menunggu


guru-guru yang lain pulang. Tapi sepertinya kali ini beberapa guru senior masih


berada di sana. Berita tentang tiga murid yang hilang dari toilet ternyata


sudah sampai ke ruang guru. Ari bisa mendengar ada pembicaraan bahwa kepala


sekolah memerintahkan mereka agar tidak memanggil polisi dulu. Akhirnya Pak


Riza mengajak Ari ke teras di depan ruang guru. Di sana tidak ada siapa-siapa.


Ari langsung menyerahkan gambar hantu bersayap di tempat parkir ke Pak Riza.


“Ini seperti yang digambarmu sebelumnya?” tanya Pak Riza.

__ADS_1


“Iya Pak. Kemarin dia di parkiran sedang mencari hantu yang


lain,” jawab Ari.


Lalu Ari menceritakan apa yang telah dijelaskan oleh Pak


Hudi kemarin.


“Pak Hudi? Paranormal terkenal itu bapaknya Toha?” tanya Pak


Riza.


“Iya Pak,” Ari sengaja tidak cerita yang ada kaitannya


dengan Tata.


Lama Pak Riza serius memandangi gambar Ari.


“Kamu juga lihat di toilet?” tanya Pak Riza.


“Tadi jam istirahat kedua, saya cuma denger suara sayap


Pak,” jawab Ari.


Kini Pak Riza memandangi Ari serius. Dia mulai menghubungkan


gambar Ari dengan peristiwa yang barusan terjadi. Tiga orang siswi dari kelas


berlainan tidak kembali setelah pergi ke toilet.


“Pak Riza mau panggil orang baju putih?” tanya Ari.


“Saya belum tahu Ri,” jawab Pak Riza. “Sebenarnya waktu itu


Pak Solidin sudah sampaikan ke Pak Suman. Tapi belum ada tanggapan dari Pak


Suman.”


“Waktu itu sekolah kita malah disemprot desinfektan,” kata


Ari.


“Iya…” Pak Riza terlihat berpikir keras.


Ari tahu, Pak Riza guru baru. Mungkin wali kelasnya ini


memang tidak bisa berbuat banyak.


“Andai saya punya kontak orang-orang di padepokan itu…”


guman Pak Riza.


Nara kan dulu kepala sekolah sini.”


“Ok Ri, secepatnya kirim ke saya, sebelum situasi bertambah


buruk.”


Ari pun kembali ke tempat Toha, Wira dan Nara. Sepertinya


mereka sudah mencari sampai ke halaman sekitar aula. Dan Nara sedang memakai


tudung jaketnya.


“Ra, lo nggak apa-apa?” tanya Ari.


“Nggak apa-apa,” kata Nara,” Agak kurang fit aja badan gue.”


Wira jadi khawatir dengan Nara. Dia pun menghampiri Nara.


“Ra, wajah lo pucat tuh!” kata Wira.


Lalu Wira memegang tangan Nara.


“Tangan lo dingin banget,” cetus Wira.


“Mending lo pulang aja deh Ra,” kata Ari.


“Iya kayaknya gue lagi flu,” kata Nara.


Wira menawarkan diri mengantar Nara sampai ke mobil. Tanpa


sepengetahuan ketiga temannya, Wira mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya dan


dia pakai ke jarinya. Ari sempat meminta Nara untuk memberikan info kontak


orang-orang di padepokan. Lalu Wira menemani Nara berjalan ke parkir mobil


sambil sesekali melihat ke atas. Ari pun harus segera pulang. Hari ini ada


jadwal pertama Tata terapi di klinik psikiatri. Ari sudah berjanji akan menemani


Tata di sana. Tapi sekarang Ari bisa merasa tenang walau ada peristiwa yang


menghebohkan siang ini karena Tata sudah memakai kalung pemberian Pak Hudi. Ari

__ADS_1


pun meninggalkan Toha yang mulai bergabung dengan murid-murid tersisa yang


masih melakukan pencarian.


Hari menjelang sore. Ari sudah ada di klinik psikiatri. Dia


duduk di lobby menunggu Tata. Kebetulan Ari kenal salah satu suster di sana.


Lalu terlihat Tata keluar dari salah satu lorong. Wajahnya berubah ceria begitu


melihat Ari ada di lobby. Tata tak menyangka Ari sampai menunggunya di lobby.


“Kok kamu ada di sini?” kata Tata dengan nada


ceria,”Bukannya nunggu di warung bakso?”


“Nggak apa-apa,” kata Ari,”Mau ke sana sekarang?”


“Ayuk,” kata Tata tak sabar.


“Kamu nggak lihat yang ada di kolam itu kan?” kata Ari


sebelum mereka beranjak dari lobby. Ari sempat melihat kalung yang dipakai


Tata.


“Enggak,” kata Tata sembari


menengok ke kolam kecil yang ada di bawah tangga. “Emang ular itu masih ada?”


tanya Tata.


“Masih satu, dia pakai mahkota,”


Ari tersenyum. Dia senang Tata sudah tidak lihat hal-hal seperti itu lagi.


Mereka pun berjalan ke belakang klinik. Kebetulan sekarang


di pagar belakang sengaja dibuatkan pintu oleh pihak rumah sakit.


“Eh Ri, tahu nggak, kemarin waktu mobil masuk bengkel,


tempat bensinnya musti dikuras. Kayak ada cairan lain yang masuk ke tempat


bensin,” kata Tata sembari jalan di samping Ari.


“Iya, kata sopir-sopir lain yang mobilnya mogok juga


begitu,” Ari menanggapi.


“Terus anak-anak yang nggak balik-balik dari toilet itu


gimana?” tanya Tata.


“Nggak tahu tuh. Tadi udah pada nyariin tapi nggak ketemu,”


kata Ari.


Mereka pun tidak membicarakan lagi karena warung bakso sudah


terlihat di depan. Tapi Ari sempat melihat ponselnya. Dia masih menunggu pesan


Nara tentang kontak orang-orang padepokan. Saat di warung bakso mereka langsung


memesan dan duduk di bangku paling pojok. Ari sempat melihat bangku yang ada di


seberang.


“Dua anak yang muka rata ada di situ?” tanya Tata pelan.


“Iya. Kamu nggak lihat kan?” tanya Ari.


“Enggak,” Tata tersenyum ceria. Dia pegangi kalung yang


melingkar di lehernya. Hari ini dia bahagia. Dia tidak melihat hal-hal seperti


itu lagi. Apalagi sebentar lagi bakso pesanannya datang dan Ari ada di


sebelahnya.


Tak berapa lama hujan pun turun. Ari dan Tata masih sibuk


dengan mangkok bakso mereka. Pengunjung warung tinggal mereka berdua. Lalu


ponsel Ari bunyi, Ternyata dari Toha.


“Halo Ha,” Ari menjawab panggilan Toha.


“Halo Ri, dimana lo?” Tanya Toha di ponsel Ari.


“Gue di klinik sama Tata, kenapa Ha?”


“Ri, anak yang hilang di toilet itu udah ketemu,”


“Ketemu? Dimana?”

__ADS_1


“Pak Min yang nemuin. Mereka ketemu di aula. Waktu ketemu,


ketiga-tiganya pingsan.”


__ADS_2