
Hari ini, untuk yang kedua kali, Ari hampir terlambat datang ke sekolah. Tadi malam Ari benar-benar tidak bisa tidur. Hampir semalaman Belinda terbujur di langit-langit tepat di atas Ari rebah di kasur. Baru setelah hujan reda di luar, hantu remaja bermuka pucat itu pergi dari kamar Ari. Kantuk pun masih menggelayuti mata Ari. Beberapa kali Ari musti mengusap matanya saat berjalan di halaman sekolah. Tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
“Ari! Sini!” ternyata Pak Min yang memanggil Ari. Pak Min
ada di parkir sepeda, melambaikan tangannya ke Ari.
Ari pun melangkahkan kakinya ke sana. Dari jauh, Ari bisa
melihat wajah Pak Min seperti bingung, seperti takut. Beberapa kali Pak Min
menengok kanan kiri.
“Ada apa Pak Min?” kata Ari sesampai di parkir sepeda.
Pak Min menengok kakan kiri lagi.
“Ri, tadi malam saya lihat setan… Serem banget…!” kata Pak Min patah-patah.
“Kayak gimana setannya Pak Min,” Ari jadi ingat cerita Belinda tentang hantu mata satu dan bergigi panjang yang katanya mencari Tata.
“Badannya bongkok… Wajahnya kayak jerangkong… Ih, serem banget!” kata Pak Min,” Tadi saya tanya sama Toha, tapi katanya dia nggak tahu apa-apa.”
“Setannya ada di samping rumah Pak Min yang sebelah kiri?” tanya Ari.
“Iya, bener Ri,” kata Pak Min, “Kok kamu tahu? Apa gara-gara kemari Neng Nara sama Wira masuk ke lorong ya?”
“Nggak tahu juga ya Pak Min,”jawab Ari,” Coba, kalau bisa, Pak Min jangan lewat samping rumah yang sebelah kiri.”
Lalu Ari minta diri ke Pak Min, karena bel masuk sudah berbunyi. Ari berharap, hantu bongkok berwajah tengkorak itu hanya nongkrong di tempatnya, di samping kiri rumah Pak Min. Sesampai di lorong kelas, Ari heran, di lorong kelas 11, banyak murid-murid yang belum masuk ke kelas. Dan di salah satu kelas, hampir semua muridnya ada di luar kelas. Mereka berkerumun dengan wajah bingung dan cemas. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di kelas itu. Ari pun menyeruak ke kerumunan. Dia sempat bertanya pada salah satu murid yang ada di situ. Katanya saat bel masuk bunyi tadi, kursi guru bergerak sendiri, terseret sampai depan pintu. Ari pun melihat, kursi guru masih ada tepat di muka pintu. Lalu Ari merasakan sesuatu di kerumunan murid. Dan di sana Ari melihat perempuan memakai baju suster yang matanya mengeluarkan darah. Lalu ada pak guru datang. Pak guru pun berusaha menenangkan murid-murid, dan menyuruh mereka masuk ke kelas. Murid dari kelas lain pun disuruh kembali ke kelas masing-masing. Dan Ari baru sadar, di sana tadi ada Toha, Nara dan Wira. Tapi mereka berdiri saling berjauhan. Mereka pun balik ke kelas sendiri-sendiri. Tadi Ari sempat bertatapan dengan Toha, Nara dan Wira. Tapi seperti ada sesuatu yang tertahan di antara mereka. Hanya tatapan mata, selebihnya mereka akan menyimpan peristiwa pagi ini di benak masing-masing. Ari yakin, Toha, Nara dan Wira juga melihat perempuan berbaju suster di sana. Tapi sebenarnya, yang ingin Ari lakukan hari ini adalah mencari hantu yang diceritakan Belinda. Hantu yang katanya mancari Tata. Hantu bermata satu dan bergigi panjang. Dan tadi pagi, begitu Ari bangun, dia langsung mengirim pesan ke Tata untuk tidak bertemu dulu di tempat rahasia mereka dan menyuruh Tata tetap ada di kelasnya.
Saat bel istirahat pertama berbunyi, Ari langsung keluar kelas. Rencananya, saat jam istirahat pertama dan kedua, Ari akan berkeliling di sekitar sekolahnya, untuk membuktikan kata-kata Belinda benar adanya. Dia akan mencari hantu bermata satu dan bergigi panjang. Karena sekarang ini, dia benar-benar khawatir dengan keselamatan Tata.
Ari pun mulai pencariannya dari rumah Pak Min. Di sana dia masih melihat hantu bongkok bermuka tengkorak. Hantu itu hanya duduk diam di sana. Tapi selain hantu bongkok itu, dia tidak melihat yang lain di sekitar
situ. Lalu Ari lewat lahan kosong di belakang kantin. Di sana Ari melihat sosok besar dan berbulu, yang sepertinya dari tadi dia hanya mondar-mandir di lahankosong itu. Sambil berjalan cepat, Ari berusaha memperhatikan wajah sosok itu.Ari hanya melihat dua matanya yang merah dan mukanya yang penuh bulu. Sosok itu tidak bermata satu dan tidak bergigi panjang. Lalu Ari ke halaman depan sekolah, taman, tempat parkir, juga lapangan basket. Tapi Ari tidak melihat apa-apa di sana. Justru di dekat lapangan basket, Ari berpapasan dengan gerombolan anak basket yang sepertinya dari tadi memperhatikan tingkah Ari.
“Freak!” kata salah satu di antara mereka.
Ari segera pergi dari situ, berusaha tidak memperhatikan mereka. Gerombolan anak basket itu masih mentertawakan Ari. Dan Ari tahu, Jodi juga ada di sana. Ari tidak peduli dengan mereka. Yang ada di kepala Ari cuma keselamatan Tata. Saat melewati toilet, Ari melihat ada kehebohan di sana. Beberapa murid perempuan berhamburan keluar. Di antara mereka ada yang berteriak-teriak histeris. Ari pun bertanya pada salah satu murid perempuan yang ada di sana. Katanya di salah satu kamar mandi, kran airnya nyala mati
sendiri. Ari pun masuk ke toilet. Dan di salah satu kamar mandi, Ari melihat hantu yang berjalan kayang ada di dekat kran. Ari cepat-cepat beranjak dan mencoba menyusur sudut lain di sekitar situ. Tapi Ari tidak melihat selain hantu yang berjalan kayang tadi. Ari masih berusaha mencari. Berharap dia melihat hantu bermata satu dan bergigi panjang. Lalu ada ibu guru datang menenangkan murid-murid. Ari melihat hantu yang berjalan kayang sudah keluar
toilet.
“Hei, ngapain kamu anak laki ada di toilet cewek!” kata bu guru galak. Matanya melotot, melihat Ari yang masih berdiri di depan toilet.
Ari pun langsung berlari melewati bu guru itu menuju kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi.
Setelah istirahat ada pelajaran Pak Riza. Di akhir pelajaran, Pak Riza sempat berpesan ke Ari untuk menemuinya di parkir motor nanti jam istirahat kedua. Ari belum pernah melihat wajah Pak Riza setegang saat ini. Biasanya Pak Riza memanggilnya setelah bel pulang sekolah dan bertemu dia ruang guru dulu. Ari sempat melihat Toha, Nara dan Wira memandang ke arahnya saat tadi Pak Riza berbicara padanya. Ari tahu, Toha, Nara dan Wira juga merasakan sesuatu ada di sekolah mereka. Tapi sepertinya meraka hanya akan saling diam.
Begitu bel istirahat berbunyi, Ari langsung menuju ke parkir motor. Di sana Pak Riza sudah menunggunya. Pak Riza tengok kanan kiri sebentar dan menunggu sekitar parkir sepi.
“Ri, saya ingin bicara tentang Pak Suman…” kata Pak Riza pelan, setelah tidak ada orang di sekitar parkir.
“Ada apa dengan Pak Suman, Pak?” Tanya Ari. Ari penasaran, karena dia tahu ada sesuatu terjadi dengan Pak Suman.
__ADS_1
“Gini Ri,” Pak Riza memelankan suaranya,” Saya pikir, akhir-akhir ini Pak Suman tingkahnya aneh. Semakin hari semakin aneh…”
“Maksudnya…?”Ari makin penasaran.
“Sori Ri, karena saya nggak tahu harus bicara sama siapa. Semua guru juga sedang membicarakannya. Pak suman itu sering mengunci diri di ruangannya. Bahkan katanya sampai maghrib dia baru pulang. Banyak yang bilang… Dan saya pernah denger sendiri, dia itu di ruangannya sering bicara sendiri.”
Pak Riza berhenti bicara sebentar karena ada beberapa murid lewat dekat situ.
“Sekarang, dia seperti nggak keurus,”kata Pak Riza lagi setelah sepi, ”Datang ke sekolah rambutnya awut-awutan. Badannya bau… Kemarin istrinya datang ke selolah. Dan mereka lama bertengkar di dalam ruangan…”
Ari menatap wajah Pak Riza yang tegang. Karena Ari pun merasa demikian. Ari pernah melihat sosok Pak Suman yang tidak terlihat kakinya. Lalu dia pernah melihat rekaman CCTV di laptop Wira yang menangkap sosok Pak Suman.
“Guru-guru bilang, seharusnya Pak Suman periksa ke psikiater,”Pak Riza melanjutkan ceritanya,“Tapi saya pikir, ini semua sudah di luar nalar. Pak Suman tidak mungkin jadi seperti itu kalau tidak ada sesuatu. Pak Suman itu orangnya tegas, disiplin dan berpendirian keras… Makanya saya mau tanya sama kamu, Ri. Apa kamu pernah lihat sesuatu… Atau tahu sesuatu?”
Ditanya seperti itu, Ari terpaku. Selama ini, dia tidak pernah cerita pada siapa-siapa kecuali ke Tata.
“Saya pernah lihat sosok Pak Suman yang tidak terlihat kakinya di ruang guru,”kata Ari datar,”Waktu itu, Bapak lagi panggil saya…”
“Kenapa waktu itu kamu tidak bilang ke saya?” Tanya Pak Riza.
“Mmm… Maaf Pak… Saya nggak mau berhubungan dengan hal seperti itu lagi,” jawab Ari patah-patah,”Saya nggak mau membahayakan teman-teman saya…”
Sebenarnya Ari tidak mau cerita apapun. Tapi dia tidak bisa berbohong pada Pak Riza. Ari hanya akan cerita yang berhubungan dengan Pak Suman. Apalagi dengan rekaman CCTV di laptop Wira. Sungguh-sungguh dia tidak akan menceritakannya. Sejenak, Pak Riza menatap Ari.
“Kamu sudah punya pacar ya Ri,” tanya Pak Riza.
Ari mengangguk pelan.
“Bagus kalau begitu Ri,”kata Pak Riza,” Lebih baik kamu fokus belajar. Terimakasih atas info yang kamu berikan. Saya cuma khawatir dengan situasi sekolah kita akhir-akhir ini”
“Pak Riza, boleh saya minta tolong?”
“Kenapa, Ri.”
“Kalau boleh nih Pak. Kalau Bapak punya waktu, bisa tolong dicek dinding di basement yang berhubungan sama lorong bawah tanah?”
“Bukannya dinding itu udah ditutup, Ri. Dan sekarang, ruangannya sudah jadi gudang.”
“Nggak tahu ya Pak. Selama ini kan masalahnya selalu dari sana. Tapi ini kalau Bapak ada waktu aja.”
“Ok Ri. Coba lihat nanti. Saya usahakan hari ini saya cek… Kamu punya nomor telepon?”
Lalu Ari dan Pak Riza saling bertukar nomor telepon. Dan bel masuk pun berbunyi.
Setelah pulang sekolah, sesampai di rumah, Ari langsung menuju ke kamar ibunya. Karena hari ini, ibunya ijin tidak masuk kerja karena sakit. Tapi saat melongok ke kamar, ibunya sedang pulas berselimut di tempat
tidurnya. Senenak Ari merasa iba melihat kondisi ibunya. Kalau sudah begitu, dia jadi ingat kematian bapaknya. Ari menutup pelan pintu kamar ibunya. Setelah membersihkan diri, Ari makan seadanya yang tersedia di meja makan. Saat hendak mencuci piring, terdengar ibunya memanggil minta tolong dibuatkan teh hangat.Ari pun mengantarkannya ke kamar. Ibu Ari minum teh buatan Ari sekalian minum obat-obat yang sudah diberikan dokter.
“Ma, sebaiknya Mama periksa ke dokter lain yang lebih bagus,”kata Ari,”Mungkin obatnya nggak manjur…”
“Nggak apa-apa Ri…” kata Ibu Ari,”Kita coba dulu aja obat yang ini. Lagian ini mungkin gara-gara Mama kecapekan banyak order jahitan kemarin.”
Ari menghela nafas. Dulu saat masih ada bapaknya, Ibunya tidak harus menderita seperti ini.
“Ma, Ari ingin bilang sesuatu.”
__ADS_1
“Kenapa, Ri?”
“Ari sama Tata udah jadian Ma.”
Ibu Ari menatap wajah anaknya. Senyum merekah dari bibirnya. Walau wajahnya pucat, tapi ada keceriaan terpancar di sana. Dan Ari ikut senang. Apapun cerita yang disampaikan, membuat ibunya jadi senang.
“Mama ikut senang Ri. Mama tahu, Tata itu anak yang baik… Hatinya sangat baik.”
Ibu Ari memegang tangan anaknya.
“Ri, ini nasehat Mama. Ingat kata-kata Mama. Mama ingin kalian bisa jadian lama. Sukur-sukur bisa ke jenjang selanjutnya. Tapi jika enggak, kalian harus tetap berteman…”
“Iya, Ma.”
Lalu ponsel Ari bunyi. Ternyata ada panggilan dari Pak Riza. Ari langsung mengangkatnya.
“Halo,” jawab Ari.
“Halo, Ri. Kamu dimana?” Tanya Pak Riza di ponsel Ari.
“Saya sudah di rumah Pak.”
“O, gitu… Gini Ri. Saya tadi cek gudang basah tanah. Di dinding yang terhubung lorong itu kan tertutup sama rak yang besar-besar. Saya tadi dibantu sama Pak Min. Setelah rak-rak itu disingkirin. Ternyata di dinding itu ada pintu lho Ri.
“Hah… Di dinding itu ada pintu Pak?”
“Iya, Ri. Dan kayaknya pintu itu sengaja dibikin.”
“Maksudnya, Pak?”
“Iya… Makanya tadi saya langsung cari mandornya, Ri. Kebetulan saya kenal orangnya. Tadi pas ke rumahnya, dia ada di rumah. Pas saya tanya, tadinya dia nggak mau bilang apa-apa. Katanya dia sama tukang-tukangnya nggak boleh bilang sama siapa-siapa. Tapi setelah saya bujuk dan saya kasih uang, dia mau terus terang. Katanya mereka bikin pintu itu karena disuruh.”
“Disuruh…? Disuruh sama siapa Pak?”
“Disuruh sama Pak Suman…”
Spontan Ari terbelalak. Dia benar-benar tidak menyangka atas info dari Pak Riza itu. Lalu Pak Riza minta diri karena dia masih ada di jalan. Kalau ada info dia akan menghubungi Ari lagi.
“Kenapa Ri?” Tanya ibu Ari yang dari tadi mendengar percakapan Ari,”Ada masalah di sekolah ya?”
“Iya, Ma,” jawab Ari. Sisa ketegangan masih ada di wajahnya.
Ibu Ari memandangi anaknya. Dia jadi teringat bapaknya, kakek Ari. Mungkin yang ada pada kakek Ari, menurun ke cucunya, Ari.
“Ri, mau janji sama Mama?” kata Ibu Ari lembut.
“Iya, Ma,” jawab Ari.
“Janji kamu akan melindungi Tata.”
“Iya, Ma. Pasti.”
“Apapun yang terjadi di antara kalian berdua, kamu akan selalu melindungi Tata.”
“Iya, Ma. Ari janji. Apapun yang terjadi, Ari akan selalu melindungi Tata.”
__ADS_1