Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 39 : Hantu Anak Kecil Bertangan Hitam


__ADS_3

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Hari ini adalah hari


pertama masuk sekolah, setelah siswa libur hampir sebulan. Ari, Toha, Wira dan


Nara ada di taman. Taman itu memang menghubungkan jalan masuk ke gedung sekolah


dengan parkir mobil, parkir motor dan parkir sepeda. Mereka layaknya senior


yang menguasai taman. Karena banyak murid-murid baru lewat di depan mereka. Wajah-wajah


baru itu masih terlihat lugu dan polos sebagai siswa SMU. Mereka baru menginjakkan


kaki mereka di SMU itu. Mereka benar-benar tidak tahu mengenai sekolah itu.


Apalagi misteri yang pernah terjadi di sana. Misteri yang Ari, Toha, Wira dan


Nara tahu.


Pagi ini, yang menjadikan Ari dan Toha heran, Wira dan Nara


kini terlihat lebih akrab dari biasanya. Dari tadi mereka berdiri berdekatan. Beberapa


kali saling pandang sambil senyum-senyum. Hingga bel masuk pun berdering. Saat


menuju ke kelas, Toha bicara di dekat Ari. Toha bilang, waktu berangkat ke


sekolah tadi sepedanya rusak. Sepedanya dia tinggal di bengkel. Dia minta


tolong Ari untuk pinjam uang buat naik bus nanti pulang sekolah. Ari pun


mengiyakan. Beberapa menit kemudian, murid-murid sudah berhamburan keluar kelas


menuju halaman untuk mengikuti upacara.


Upacara berlangsung khidmat. Setelah pengibaran bendera, kepala


sekolah memimpin peserta upacara untuk mengheningkan cipta. Regu paduan suara


sudah melantunkan lagu mengheningkan cipta. Kebetulan barisan paduan suara


berdekatan dengan barisan kelas Ari. Saat lagu tengah mengalun, perasaan Ari


mulai tidak enak. Saat murid yang lain menunduk, Ari sempat mengangkat


kepalanya. Sekilas dia lihat Nara yang berada tiga baris di depannya terlihat


gelisah. Nara tidak memakai jaketnya. Lalu Nara pelan berusaha menoleh ke


belakang. Dia mencoba melihat ke arah Ari. Dan Ari tahu apa yang dimaksud Nara.


Karena Ari sedang memandang ke arah barisan paduan suara. Disana anak-anak


paduan suara sedang khidmat menyanyikan lagu. Dan di antara barisan mereka, ada


satu yang bukan bagian dari regu paduan suara. Dia berdiri seperti layaknya


regu paduan suara dan ikut bernyanyi. Anak kecil. Perempuan. Rambutnya lurus


panjang sepunggung. Bajunya putih berenda. Sepertinya tidak ada dari regu


paduan suara yang menyadari kehadiran anak itu. Lama Ari perhatikan anak itu.


Mulutnya komat-kamit berusaha mengikuti lagu mengheningkan cipta. Wajah anak


itu pucat. Tapi yang menjadi perhatian Ari adalah tangannya. Kedua tangannya anak


itu hitam seperti bekas terbakar. Setelah mengheningkan cipta selesai, anak itu


berlari-larian menyelinap di antara regu paduan suara. Setelah itu dia tak


terlihat lagi.


Selesai upacara, anak-anak kelas 10 masih disuruh tetap


berbaris di lapangan. Hari ini mereka akan mendapatkan pengarahan dari pengurus


OSIS. Selama 3 hari mereka akan menjalani masa orientasi sekolah. Mereka


menjadi tontonan beberapa anak kelas 11 dan 12. Karena hari ini memang belum ada


kegiatan belajar mengajar. Tak terkecuali Ari, Toha, Wira dan Nara. Mereka


masih ada di salah satu sudut halaman sekolah. Tapi mereka tidak menonton anak-anak


kelas 10 yang mulai disuruh latihan berbaris di bawah terik matahari. Mereka


sedang membicarakan anak kecil yang muncul di barisan paduan suara tadi.


“Lo juga lihat Wir?” tanya Nara.


“Iya, tadinya kukira anak guru, tapi kok tangannya item


gitu,” kata Wira.


“Gue juga lihat,” kata Toha menyela,” Nggak mungkin anak


guru, wajahnya pucet gitu.”


“Jangan-jangan lorongnya kebuka lagi,” guman Nara.


“Nggak mungkin,”sergah Toha,” Orang-orang padepokan itu


hebat-hebat. Hantu yang pakai jas di depan aja sampai sekarang nggak bisa masuk


ke dalem.”


“Atau mungkin ada lorong lain lagi yang kita nggak tahu,”


Ari bersuara.


“Dari mana lo tahu?” tanya Wira ke Ari.


“Nebak aja,” kata Ari dengan wajah tetap serius.


“Bisa jadi sih,” Nara menimpali.


“Ra, foto mama lo yang gambar-gambar denah sekolah ada


berapa?” tanya Ari ke Nara.


“Banyak, dua puluhan ada kali,” jawab Nara.


“Besok bisa lo bawain semua?” pinta Ari.


“Boleh, besok gue bawain,”jawab Nara antusias.


“Lo nggak lapor ke Pak Riza Ri?” tanya Wira ke Ari.


“Iya, nanti kalau memang dia ngeganggu sekolah kita,” jawab


Ari.


Sementara di lapangan terlihat satu anak laki-laki kelas10


yang sedang dihukum karena memakai sepatu warna merah. Dia disuruh lari


keliling lapangan 5 kali dan push-up 20 kali. Sebelumnya anak itu sempat melawan


waktu ditegur seniornya. Beberapa anak senior lain berdatangan mengerubutin


anak itu. Suasana pun jadi heboh karena anak itu bertubi-tubi dihujani bentakan


dan hujatan dari seniornya. Dan tak berapa lama selesai push-up, anak itu jatuh


pingsan. Beramai-ramai dia digotong ke UKS. Sementara murid-murid kelas-10


lainnya meneruskan kegiatannya sampai siang.


Jam pulang sekolah berbunyi lebih awal. Wira mengantar Nara


dulu ke parkir mobil. Ari dan Toha sempat bertanya-tanya, bisa jadi Wira dan

__ADS_1


Nara sudah jadian. Dan Toha yang sudah jadian dengan Astri, mendatangi Astri di


parkir sepeda. Hari ini mereka tidak bisa pulang bersepeda barengan. Sepeda


Toha sedang di bengkel. Sebenarnya kejadian ini sudah sering terjadi. Karena


sepeda Toha memang sudah butut. Dan sore ini Tata ada jadwal terapi di klinik


psikiatri. Ari akan datang di sana seperti biasa.


Toha pun pulang naik bus bersama Ari. Di bus yang penuh


sesak, Ari dan Toha berdiri di bagian belakang. Toha berdiri sambil menahan


kantuk. Tapi Ari dari tadi was-was memandangi sekeliling. Karena perasaan itu


muncul lagi. Seperti tadi pagi saat upacara. Dan Ari lihat anak kecil itu lagi.


Anak perempuan berambut sepunggung. Bajunya putih berenda. Kedua tangannya


hitam. Dia menyelinap di antara penumpang yang berdiri berjubel. Ari sempat


mencolek Toha. Toha pun juga melihatnya. Tapi cuma sebentar. Karena anak itu sudah


menghilang di antara jubelan orang yang berdiri di depan.


“Itu anak yang ikut upacara tadi,” bisik Toha ke Ari.


“Iya…” Jawab Ari. Dia masih heran bisa melihat lagi anak


kecil bertangan hitam itu di bus.


Ari masih berusaha mencari keberadaan anak itu di bus. Tapi


sampai Ari turun dari bus meninggalkan Toha, dia tidak melihatnya lagi.


***


Ini adalah hari terakhir Tata terapi di klinik psikiatri.


Selama hampir sebulan liburan kemarin, Tata masih mengikuti sesi terapinya. Dan


Ari selalu menemani Tata. Selesai terapi, mereka selalu ada di warung bakso


belakang klinik psikiatri. Seperti sore ini. Pengunjung di warung cuma satu


dua. Ari dan Tata ada di pojok. Mangkok mereka sudah kosong. Agak lama Tata


terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.


“Kenapa?” tanya Ari di samping Tata.


“Habis ini kita nggak akan ke sini lagi,” jawab Tata pelan.


“Lha iya lah. Emang kamu mau terapi terus?” kata Ari


bercanda.


“Iya juga sih,” kata Tata dengan senyum tersungging,”Aku


cuma… takut…”


“Takut kenapa?”


“Takut… Suatu saat kita nggak bisa ketemu lagi.”


Lalu Ari mengambil buku kecilnya. Buku itu sudah kumal dan


tampaknya selalu ada di tas Ari. Dia buka satu halaman lalu dia tunjukkan ke


Tata. Di sana ada tulisan Ari : HARINDRA dan tulisan Tata : PERMATA. Di


bawahnya lagi ada tulisan Tata : MATAHARI. Gabungan dari nama Tata dan Ari.


Tulisan itu dibuat Ari dan Tata 3 tahun yang lalu di tempat yang sama. Saat awal-awal


mereka bertemu di klinik psikiatri.


Geli mengingat kelakuan mereka 3 tahun yang lalu.


Lalu Ari mengambil bolpen. Dia tarik tangan kiri Tata ke


atas meja. Di telapak tangan Tata, Ari menuliskan : MATA. Lalu Ari menulis di


telapak tangan kanannya : HARI. Ari pun dengan tangan kanannya, menggenggam


tangan kiri Tata.


“Kita tidak akan terpisahkan,” kata Ari.


“Beneran?” Tata menatap Ari.


“Beneran… Karena kita matahari yang selalu menyinari bumi,”


kata Ari dengan wajah serius.


“Janji?” Tanya Tata. Senyumnya tersungging.


“Janji,” jawab Ari spontan.


“Kalau aku menghilang, kamu akan cari aku?” Tanya Tata


bercanda.


“Iya. Aku akan cari kamu sampai ketemu,” jawab Ari dengan


wajah makin serius.


Lalu pemilik warung bakso datang ke meja Ari dan Tata untuk


mengambil mangkok kosong. Ari dan Tata pun cepat-cepat melepaskan genggaman


mereka. Mereka malu dilihat orang lain. Pemilik warung itu bapak-bapak yang


masih berjiwa muda. Rambutnya panjang diikat. Dia memakai t-shirt bergambar grup


band rock. Sepertinya dia memaklumi kelakuan Ari dan Tata.


“Santai aja,” kata bapak pemilik warung sambil membereskan


meja Ari dan Tata,” Ini biar kelihatan bersih aja. Santai aja dulu disini.”


Ari dan Tata hanya diam. Tapi mereka lega, bapak pemilik


warung itu ternyata ramah dengan mereka.


“Dulu anak saya waktu SMA sering bawa pacarnya ke sini,


makan bakso,” kata bapak pemilik warung. Dia sudah mengangkat tumpukan mangkok


kosong,” Duduknya seringnya juga di sini. Kadang saya masih ngerasa mereka


siang-siang masih makan bakso di sini.”


“Anak Bapak meninggalnya kenapa?” Tata memberanikan diri


bertanya.


“Kecelakaan, pakai motor. Waktu itu dia boncengan sama


pacarnya,”jawab bapak pemilik warung. Wajahnya berubah serius. Lalu bapak itu


meninggalkan Ari dan Tata menuju ke tempat cuci piring. Ari sempat melirik ke


bangku seberang.


“Mereka masih di situ?” tanya Tata.


Iya, masih,” jawab Ari. Ari bisa melihat sepasang remaja


bermuka rata dengan baju seragam compang-camping penuh darah.

__ADS_1


“Mungkin itu yang dimaksud bapak tadi,” kata Tata.


“Iya, mungkin. Tapi sekarang aku bisa lihat wujud


aslinya,”kata Ari dengan suara berbisik.


“Emang kayak gimana wujud aslinya?”tanya Tata ikut berbisik.


“Dua-duanya badannya item, matanya merah,”jawab Ari.


Tata sedikit berkidik. Dia bersyukur masih memakai


kalungnya. Tata tidak perlu lagi melihat hal-hal seperti itu. Dan Ari merasa


bersalah bercerita semacam itu ke Tata.


“Eh, tahu nggak? Toha kan udah jadian sama Astri,” kata Ari


mengalihkan pembicaraan.


“Iya, tahu. Astri udah cerita ke aku,”kata Tata,”Mereka


sering sepedaan bareng kalau pulang sekolah.”


“Iya. Tapi hari ini sepeda Toha rusak,” kata Ari,”Dia jadi


nggak bisa nganterin Astri.”


Lalu Ari bercerita tentang sepeda Toha yang sudah butut. Juga


Toha yang meminjam uangnya untuk ongkos pulang naik bus. Ari cerita tentang


adik Toha yang masih kecil-kecil dan keluarga Toha yang hidup pas-pasan. Meski


bapak Toha paranormal terkenal, tapi bapak Toha tidak pernah memikirkan uang.


Dia hanya mau menolong orang.


“Eh, Ri. Boleh minta tolong nggak?” tanya Tata tiba-tiba.


“Kenapa?”tanya Ari.


“Aku mau transfer uang. Nanti kamu kasih ke Toha ya.”


“Buat benerin sepeda?”


“Enggak. Buat beli sepeda.”


“Kamu yakin?”


“Iya. Aku ada tabungan… Aku cuma pengen Astri bisa sepedaan


terus sama Toha.”


“Ok… Tapi aku nggak punya rekening,”


“Mama kamu ada?”


“Ada.”


“Ya udah. Ntar kirimin aku nomor rekeningnya ya.”


“Ok…”


Ingat Toha, Ari jadi ingat tadi siang naik bus bareng Toha.


Di bus mereka lihat anak kecil bertangan hitam. Anak kecil yang ikut upacara di


barisan paduan suara tadi pagi.


“Kenapa?” tanya Tata. Dia lihat Ari tiba-tiba terdiam


seperti sedang berpikir keras.


“Enggak… Enggak kenapa-kenapa,” jawab Ari terbata.


“Idih… Kenapa sih,” Tata jadi penasaran.


“Enggak… Aku cuma nggak mau cerita yang serem-serem ke kamu,”


kata Ari.


“Ya udah, kamu nggak usah cerita… Tapi kamu musti gambar,”


pinta Tata.


“Kamu yakin?”tanya Ari.


“Iya… Please…”Tata memasang muka memelas ke Ari.


Ari pun mengambil buku dan pensil dari tasnya. Dia mulai


menggambar anak perempuan berwajah pucat. Rambutnya sepunggung. Memakai baju


putih berenda. Tangannya hitam seperti bekas terbakar. Anak itu sedang


menyelinap di antara orang-orang yang berdiri berjubel di dalam bus. Tata pun


merapatkan duduknya ke Ari. Dia begitu antusias melihat jari Ari yang begitu


lincah mencorat-coret kertas gambarnya. Sebenarnya Tata tidak begitu tertarik


dengan apa yang digambar Ari. Dia cuma ingin lebih lama lagi bersama Ari di


tempat itu. Setelah selesai, Ari menyerahkan gambar itu ke Tata.



“Sebelumnya aku lihat dia waktu upacara,”kata Ari,”Kayaknya


dia mau ikut nyanyi di barisan paduan suara.”


“Kok dia dari sekolah bisa keluar naik bus,” tanya Tata


datar.


“Ya itu yang dari tadi aku pikirin,” jawab Ari.


Lalu Ari memandang lekat-lekat Tata. Ada sesuatu yang


melintas di pikirannya. Tata jadi khawatir melihat wajah Ari yang jadi begitu


serius.


“Ta, inget nggak waktu kamu diikuti sama perempuan yang


memakai bunga,” tanya Ari tiba-tiba.


“Iya… Kenapa?” Tata jadi semakin khawatir.


“Waktu kamu keluar gerbang, kamu seperti ngantuk, seperti


nggak ingat gitu kan?”


“Iya…”


“Kayak kata Pak Hudi, perempuan yang pakai bunga itu masuk


ke badan kamu waktu itu. Juga masuk ke badan Nara waktu dia balik lagi ke


sekolahan.”


“Maksud kamu?”


“Iya, dia bisa keluar masuk sekolahan kalau masuk ke badan


orang.”


“Jadi…”


“Iya, anak kecil itu bisa keluar masuk sekolah kita

__ADS_1


karena ada yang bawa.”


__ADS_2