Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 49 : Kalung Baru Buat Tata


__ADS_3

Ari berjalan menuju halte. Di antara lalu-lalang orang di


trotoar, Ari seperti orang linglung. Dia berjalan di trotoar, tapi pikirannya


selalu ke Tata. Lalu, di kerumunan orang di halte, Ari melihat Lisa. Dan Lisa


pun melihat Ari.


“Kak Ari!” teriak Lisa begitu melihat Ari.


Ari masih terpaku saat Lisa menghampirinya.


“Kak Ari pulang naik bus kan?”tanya Lisa.


“Iya…”Jawab Ari gagap.


“Tadi itu pacar Kak Ari ya?” Lisa menanyakan Tata yang dia


lihat bersama Ari di kantin tadi.


“E… Bukan. E… Iya sih. Maksud aku…” Ari tidak tahu bagaimana


harus menjelaskannya ke Lisa.


Lalu Lisa melihat tangan Ari. Lisa tidak melihat cincin yang


diberikannya di jari Ari.


“Kak Ari nggak suka cincinnya ya?” tanya Lisa pelan.


Ari baru sadar kalau cincin pemberian Lisa sudah tidak ada


di jarinya lagi.


“E… Cincin kamu… E… Maksud aku…” Ari tidak bisa menjawab


pertanyaan Lisa. Bagaimana mungkin dia bilang ke Lisa kalau cincinnya dia buang


supaya Tata mau memakai kalungnya lagi.


“Nggak apa-apa kok Kak Ari,” kata Lisa datar,”Kalau Kak Ari


nggak mau jadi kakak aku, aku juga nggak apa-apa kok.”


“Bukan begitu maksud aku…” Ari mencoba menjelaskan tapi tidak


ada kata-kata keluar dari mulutnya.


“Kalau gitu aku pulang naik taxi aja,” kata Lisa dengan


suara pilu,”Sampai jumpa Kak Ari.”


Lalu Lisa begitu saja meninggalkan Ari.


“Lisa tunggu!” Ari setengah berteriak.


Tapi Lisa sudah berjalan cepat ke pinggir jalan dan


memberhentikan taxi yang kebetulan lewat. Dan Ari pun menghentikan langkahnya.


Sepertinya dia sudah pasrah dengan apa yang telah terjadi. Ari merasa tidak ada


yang bisa dia perbuat. Dia hanya bisa melihat taxi yang ditumpangi Lisa menjauh


dan berbaur dengan sibuknya jalanan. Lalu Ari ingat cincin pemberian Lisa.


Setidaknya sekarang dia harus menemukan cincin itu. Ari pun balik ke tempat


dimana tadi dia membuang cincin pemberian Lisa. Bolak-balik Ari menyusuri tempat-tempat


sekitar kantin. Barangkali di sana tergeletak cincin yang tadi dia buang. Tapi


sudah hampir satu jam, Ari tidak menemukannya. Hingga Ari melihat Pak Min


berjalan di depannya. Ari pun menceritakan tentang cincinnya yang hilang ke Pak


Min. Dia minta tolong Pak Min apabila nanti menemukan cincin itu. Dan Pak Min cuma


mengiyakan sambil lalu. Hingga Ari pun sepertinya sudah pasrah apabila cincin


itu tak pernah ditemukan. Dia juga harus pasrah jika tidak akan bertemu Lisa


lagi.


***


Malam ini hujan gerimis. Ari sudah terbaring di ranjangnya.


Sudah jam 1 lewat tapi Ari tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih


mengkhawatirkan Tata. Dia berharap Tata mau memakai kalungnya lagi. Dari tadi


dia masih menggenggam ponselnya. Di ingin mengirim pesan ke Tata. Memastikan


Tata baik-baik saja. Tapi dia pikir, Tata pasti masih membencinya saat ini.


Lalu kadang terlintas Lisa di benaknya. Sebelum dia menemukan cincin Lisa, dia


tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah pasrah dengan Lisa. Lalu ponselnya bunyi.


Ternyata panggilan dari Tata. Ari sempat heran karena sudah larut begini Tata  menghubunginya.


“Halo Ta…” kata Ari. Dia tak tahu musti berkata apa.


“Ari…” Suara Tata terdengar bergetar di ponsel Ari.


“Ta… Kamu baik-baik saja?”Tanya Ari


“Ari… Maafin aku ya…”kini suara Tata diselingi isak tangis.


“Iya Ta…”


“Kamu nggak benci aku kan?”


“Enggak Ta… Kamu nggak kenapa-kenapa kan?”


“Ari… Kalungku disita sama mama aku… Dan aku nggak boleh


ketemu kamu lagi di sekolah… Sopir aku cerita semuanya ke mama… Maafin aku ya


Ri,” Isak Tata terdengar makin keras di ponsel Ari.


“Iya, iya… Kamu di mana Ta?”


“Aku di kamar… Nggak bisa tidur…”


“Terus… Kamu nggak kenapa-kenapa kan?”


“Dari tadi di pojok ada yang berdiri…”

__ADS_1


“Dia ngapain?”


“Dia ibu-ibu bawa payung… Lambai-lambaiin tangannya ke aku…”


“Sekarang masih ada?”


“Sekarang… Sekarang udah nggak ada.”


“Ya udah… Kamu tidur gih,” kata Ari,” Kalau ada apa-apa


telpon aku.”


“Iya aku mau tidur… Tapi kamu jangan matiin HP kamu ya.”


“Iya Ta, nggak aku matiin.”


Lalu lima menit lebih Ari diam membiarkan ponselnya menempel


di telinganya. Sampai dia dengar nafas Tata mulai teratur. Ari mengira Tata


sudah tertidur sekarang. Hati-hati dia matikan sambungannya dengan Tata. Karena


dia sedang memikirkan untuk menghubungi Toha sekarang juga. Dia pikir Tata


harus secepatnya punya kalung seperti yang dulu diberikan Bapak Toha. Dia harus


berbuat sesuatu untuk Tata. Karena dulu pernah dia melupakan Tata saat kematian


bapaknya. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama terhadap Tata.


“Halo Ha, sori jam segini gue hubungin lo,” kata Ari setelah


ponselnya terhubung dengan Toha.


“Kenapa Ri? Nggak ada apa-apa kan?” suara Toha terdengar masih


menahan kantuk di ponsel Ari.


Lalu Ari menceritakan kejadian kemarin siang dan situasi


Tata yang sekarang sedang tidak memakai kalungnya.


“Sori banget deh Ha,” kata Ari,”Gue minta tolong banget,


bisa diomongin ke bokap lo.”


“Iya… Ntar aku omongin ke bokap ya,” kata Toha.


Setelah berbicara dengan Toha, setidaknya Ari merasa lega.


Sebelum Tata punya kalung lagi, dia tidak akan pernah merasa tenang.


***


Pagi di taman sekolah, Wira sudah bergabung dengan Ari, Toha


dan Nara. Masa hukuman skorsing Wira sudah selesai. Suasana pagi ini jadi lebih


ceria. Mereka jadi merasa utuh kembali. Lalu Toha menyerahkan satu amplop kecil


ke Ari.


“Itu dari bokap,” kata Toha ke Ari,” Tadi malem aku udah


bicarakan ke Bokap.”


Ari membuka amplop itu. Isinya seuntai kalung. Tapi tidak


seperti selongsong peluru. Kalung itu berantai perak. Bandulnya berbentuk


seperti kapsul juga terbuat dari perak.


“Ha, ini pasti mahal…” kata Ari memandangi kalung di tangannya.


“Udah nggak apa-apa,” sahut Toha.


“Terus si Tata nggak perlu ketemu bokap?” tanya Ari.


“Nggak apa-apa kata bokap. Soalnya Tata udah pernah ketemu


bokap,” jawab Toha,” O iya, kata bokap, kamu sendiri yang harus pakaiin kalungnya


ke Tata,”kata Toha sambil senyum-senyum.


Spontan Ari memeluk Toha sampai Toha sedikit mundur ke


belakang.


“Thank You Ha,” kata Ari,”Kayaknya gue nggak bisa bales


kebaikan lo,” kata Ari sungguh-sungguh. Ari tidak menyangka Toha akan secepat


ini memberikan kalung permintaannya, sementara dia tiap menit selalu khawatir


tentang Tata.


“Udah jangan dipikirin,” ujar Toha,” Gue lakuin ini buat


Tata juga. Gue tahu kok yang ngasih duwit buat beli sepeda waktu itu bukan lo.


Pasti dari Tata. Tata kan sahabatnya Astri. Lo mana punya duwit.”


Ari hanya nyengir ketahuan bohong.


“Kata Astri, Tata itu sebenarnya orangnya baik,” tambah


Toha,” Dia nggak pernah beda-bedain orang.”


“Eh, tapi lo juga udah cerita belum sama bokap lo masalah


hantu di sekolah?” tanya Nara menyela.


“Iya udah, kata Bokap masih ada empat hantunya, “jawab Toha,


“Tapi itu juga adanya kalau siang.”


“Nah bener kan,”sahut Wira,”Berarti yang satu memang dibawa


Fatar, yang empat lagi nggak tahu deh.”


“Yang dibawa Fatar pasti yang kepala kijang,” Ari mencoba


klarifikasi,” Yang masih ada, anak kecil yang tangannya hitam, satu lagi


perempuan yang rambutnya ke atas, satu lagi Noni Belanda yang jalannya mundur,


berarti kurang satu lagi yang kita nggak tahu.”


Mereka berempat pun terdiam sejenak.

__ADS_1


“Eh, lo kapan mau ketemu Tata,” tanya Toha,”Keburu dia


ketemu hantu-hantu itu ntar.”


“Nggak tahu nih…” kata Ari dengan muka bingung.


Lalu dia menceritakan kejadian kemarin saat dia berurusan


dengan sopir Tata sampai Tata dilarang mamanya ketemu Ari di sekolah.


“Bisa diatur itu,” Ujar Nara,” Mau tahu caranya ketemu Tata


Ri?” Tanya Nara.


“Gimana?” tanya Ari polos.


“Tapi kamu harus berani ngempesin ban mobil Tata sebelum


pulang,”kata Nara,”Berani nggak?”


“Berani,” jawab Ari spontan. Dia akan lakukan apapun demi


Tata. Apalagi dia akan sangat senang jika bisa kerjain sopir Tata.


Lalu Nara menceritakan rencana yang ada di kepalanya ke Ari.


Dan bel masuk pun berdering.


Siang ini terik. Di parkiran, sopir Tata geleng-geleng


kepala menemukan satu ban mobilnya kempes. Apalagi bel pulang sekolah baru saja


berdering. Murid-murid yang naik mobil sudah berdatangan di tempat parkir. Lalu


Tata terlihat menghampiri sopirnya.


“Kenapa Pak bannya?” tanya Tata.


“Kempes Neng,” jawab sopir Tata sembari mendongkrak mobil


untuk mengganti ban,” Padahal kemarin baru diisi angin.”


Tata hanya menghela nafas. Alamat dia akan menunggu sebentar


di tengah terik. Lalu Tata melihat Nara menghampirinya.


“Kenapa mobil lo Ta?” tanya Nara ke Tata,”Bannya kempes?”


Tata sedikit heran, tiba-tiba seorang Nara bertanya begitu


padanya.


“Iya nih…” jawab Tata.


“Mending lo nunggu di mobil gue. Dari pada kepanasan di


sini,” kata Nara.


Lalu diam-diam Nara menyerahkan lipatan kertas ke tangan


Tata. Walau sedikit heran, Tata membuka secuil kertas itu. Di sana ada tulisan


: Ari ada di mobil gue.


Tata memandang sebentar ke Nara. Nara pun mengisyaratkan


Tata untuk mengikutinya. Tata memandang sopirnya sebentar. Dia sedang mengambil


ban serep. Tata bilang ke sopirnya dia mau ke mobil Nara dulu. Mobil Nara


parkir tak jauh dari mobil Tata. Tata pun masuk lewat pintu belakang. Dan di


dalam sudah ada Ari. Nara sengaja meninggalkan mereka berdua.


“Ari…?” Tata masih heran dengan cara mereka bertemu.


“Sori Ta, ini salah satu cara supaya aku bisa ketemu


kamu,”kata Ari.


Mata Tata berbinar. Senyumnya melebar. Sebetulnya dia tidak


peduli bagaimana dia harus bertemu Ari.


“Ini ada kalung baru buat kamu,” Ari memperlihatkan kalung


pemberian Toha ke Tata,”Kamu harus cepat-cepat pakai.”


“Tapi itu terlalu bagus Ri,” kata Tata melihat kalung di


tangan Ari.


“Iya, kata Toha aku harus pakaiin ke kamu,” kata Ari gugup.


Tata pun tersenyum melihat kegugupan Ari. Lalu dia


membalikkan badannya dan mengangkat rambut belakangnya yang panjang sehingga


leher belakangnya terbuka. Hati-hati Ari melingkarkan kalung itu ke leher Tata.


Walau sedikit gugup, Ari berhasil juga mengancingkan rantai kalungnya. Tata pun


membalikkan badannya lagi menghadap Ari sambil memegangi bandul kalung barunya.


Kalung perak itu serasa pas di leher Tata dan lebih indah dari yang lama.


“Makasih ya Ari,” kata Tata dengan senyum lebar.


“Iya…” jawab Ari polos,” kayaknya sopir kamu udah masukin


ban ke bagasi,” kata Ari. Dia bisa lihat sopir dan mobil Tata di luar sana.


“Iya… aku harus pergi sekarang,” kata Tata. Tapi tatapan


matanya tidak mau berhenti memandang Ari.


Lalu dalam beberapa saat Ari dan Tata saling pandang. Dan


spontan Tata pun memeluk Ari. Begitu erat dia peluk Ari. Ari pun membalasnya


dengan lebih erat. Seakan-akan esok mereka tidak pernah bertemu lagi. Karena


memang tidak banyak waktu buat mereka untuk bertemu.


“Ta, sopir kamu lagi cariin kamu,” kata Ari.


“Iya, aku pergi dulu ya Ri,” kata Tata.


Selanjutnya Ari hanya bisa memandang Tata dari jendela mobil

__ADS_1


sedang berjalan meninggalkannya menuju mobilnya. Sebersit terlintas pertanyaan


di benak Ari, suatu saat akankah dia masih bisa bertemu Tata.


__ADS_2