
“Udah Ri! Kita cari itu si Fatar sekarang!” kata Wira.
“Yakin lo dia ada di sekolah?” tanya Ari,” Maksud gue, emang
dia ada ekskul hari ini?” Ari mencoba untuk bersikap realistis, mengingat apa
yang disampaikan Pak Riza padanya.
“Justru itu! Kalau dia ada ekskul hari ini, berarti emang
bener-bener dia biang keroknya!” kata Wira.
Lalu Ari dan Wira mulai menyusuri sekolah mereka. Mereka mendatangi
beberapa tempat ekstrakurikuler yang sedang berlangsung hari ini. Awalnya
mereka ke laboratorium tempat ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja. Ari dan Wira
sampai melongok-longok ke jendela laboratorium mencari keberadaan Fatar di
dalam. Tetapi mereka tidak menemukannya. Dari dalam, Tata yang memakai baju laborat
sempat melihat Ari sedang melongok dari luar jendela. Ari pun memberikan kode
dengan tangannya ke Tata kalau dia akan menjelaskannya nanti. Tata jadi sedikit
cemas. Tata tahu, Ari pasti sedang melihat sesuatu di sekolah. Lalu Ari dan
Wira ke tempat ekstrakurikuler Bulutangkis. Lalu ekstrakurikuler Tenis Meja,
Tari, Pramuka, Pecinta Alam, Marching Band. Tapi mereka tidak menemukan Fatar.
Baru setelah mereka ke aula, di sana ada ekstrakurikuler Pencak Silat. Dan ada
Fatar di sana. Fatar memakai baju pencak silat. Dia sedang berlatih
bersama-sama teman-temannya yang lain.
“Tuh Ri! Bener kan? Fatar ada di sekolah,” kata Wira pelan.
“Iya…” jawab Ari seadanya. Karena kini dia sedang berusaha
mengamati sekitar. Apalagi ini aula. Tempat yang sebelumnya pernah terjadi
sesuatu. Tapi Ari tidak melihat sesuatu. Tidak ada Noni Belanda, tidak ada anak
kecil bertangan hitam dan tidak ada yang lainnya.
“Kita tungguin aja pulangnya Ri,” kata Wira,” Bentar lagi
juga pulang.”
“Iya…” jawab Ari pelan. Ari masih ragu. Bukan karena Fatar
ikut pencak silat dan banyak teman-temannya juga di sana. Tapi Ari merasa,
mereka tidak punya sesuatu untuk dibuktikan.
“Lo yakin Wir?” tanya Ari ke Wira.
“Iya gue yakin,” jawab Wira.
Ari benar-benar melihat Wira begitu yakin dengan apa yang
akan dilakukannya.
Lalu Ari dan Wira menunggu di taman. Begitu Fatar terlihat
berjalan keluar dari lorong kelas, Ari dan Wira segera menghampirinya.
“Hei, nama lo Fatar ya?” tanya Wira tanpa basa-basi.
“Iya… Kenapa emang?” jawab Fatar.
“Kita tahu, lo ada yang ngikutin,”kata Wira,” Kita
sebenernya nggak masalah kalau lo ada yang ngikutin, tapi kalau sampai ada
kejadian onar di sekolah ini, asal tahu aja ya, lo lagi cari masalah.”
Awalnya Fatar agak kaget saat Wira mengatakan ada sesuatu
yang mengikutinya. Tapi cepat-cepat dia berusaha menguasai dirinya. Dan Ari
merasa kata-kata yang digunakan Wira agak berlebihan.
“Gue nggak ngerti apa yang lo omongin,” kata Fatar tanpa
rasa takut.
“Jangan berlagak bego lo, kita tahu ada sosok kepala kijang
yang ngikutin lo,” kata Wira.
Sekali lagi Fatar terlihat kaget. Kali ini dia agak susah
menutupinya.
“Juga ada anak kecil tangannya item, ada Noni Belanda…” kata
Wira.
“Jangan ngaco lo!” kata Fatar dengan nada tinggi.
“Lo nggak usah mangkir deh,” kata Wira,”Udah cukup kejadian
di sekolah kita,”
__ADS_1
“Denger ya! omongan lo semua ngaco!” suara fatar penuh
amarah sembari mendorong Wira dengan tangannya.
“Hei jangan macem-macem lo!” kini suara Wira sarat emosi,”
Jangan sok jago lo!”
Lalu Wira mulai membalas mendorong Fatar. Selanjutnya mereka
langsung terlibat baku hantam. Ari pun berusaha melerai. Lalu teman-teman
ekstrakurikuter Fatar berdatangan. Sebagian ada yang melerai. Tapi sebagian
lagi ada yang membela Fatar dengan ikut memukul Wira. Situasi makin tidak
terkendali. Dan Wira sudah mendapatkan banyak pukulan di kepala dan badannya.
Sampai akhirnya Wira tersungkur ke tanah. Untung pak guru pembina
ekstrakurikuler pencak silat datang dan segera mengendalikan situasi. Semua
murid yang ikut ekstrakuriluler pencak silat disuruh bubar dan pulang.
Sebelumnya dia memberikan peringatan, jika hal ini terjadi lagi, siapapun akan
dihukum berat. Lalu pak guru mulai merawat Wira. Ada beberapa lebam di muka dan
badan Wira. Ada darah keluar dari hidung Wira.
“Siapa nama kamu?” tanya pak guru, sambil mengelap darah di
hidung Wira.
“Wira Pak,” jawab Wira.
“Kelas berapa?”
“11-13 Pak.”
“Besok saya akan tetap melaporkan kejadian ini ke guru BP,”
kata pak guru.
“Iya Pak,” kata Wira pasrah.
Lalu Ari membantu Wira berjalan.
“Gue pulang naik bus aja Ri,” kata Wira sambil meringis
menahan sakit,” Vespa gue tinggal di parkiran,” tangan Wira masih memegangi
kepalanya.
“Iya naik bus aja Wir, dari pada lo kenapa-kenapa naik
“Lo lihat reaksi wajahnya kan…?” tanya Wira ke Ari.
“Iya, dia kayak kaget waktu dibilang ada yang ngikutin dia,”
jawab Ari.
“Dia itu berusaha nutup-nutupin,” kata Wira.
Ari membenarkan perkataan Wira. Tetapi tetap saja dia merasa
mereka tidak punya sesuatu untuk dibuktikan. Dan sekarang kejadiannya harus
dibayar mahal dengan Wira menjadi bulan-bulanan Fatar dan teman-temannya. Lalu
saat mereka sudah dekat gerbang sekolah, tiba-tiba Wira berdiri terpaku.
Matanya lurus menatap ke arah gerbang. Ari pun langsung melihat ke sana. Dan di
luar gerbang sekolah, sesuatu sedang berdiri di sana. Sosok laki-laki dengan
kepala kijang. Kini bukan Ari saja yang melihat sosok itu. Wira juga bisa
melihatnya. Sosok itu benar-benar berdiri kaku, seolah ingin menghalangi Ari
dan Wira untuk melewati gerbang. Tapi Ari perhatikan, tatapan sosok itu lebih
ke arah Wira dari pada dirinya. Ari sempat melirik ke Wira. Wira mengeluarkan
cincin dari tasnya dan dia pakai cincin itu di jarinya. Sosok kepala kijang itu
tiba-tiba mundur sejengkal. Dan sesuatu terjadi pada Wira. Posisi badan Wira
kini seperti sedang merangkak di tanah. Jari-jari dan tangannya menegang.
Matanya melotot dan dari mulutnya keluar geraman. Dan lama-lama Ari bisa
melihat bayangan hitam yang besar melingkupi badan Wira. Bayangan itu membentuk
sosok binatang berkaki empat dan berekor dengan taring panjang di mulutnya.
Lalu sosok kepala kijang mulai bergerak mundur. Lama-lama dia melesat ke arah
jalan. Ari pun berusaha mengejar. Ari berhenti di trotoar dan berusaha mencari
sosok kepala kijang tadi. Dan di antara lalu lalang jalanan, Ari bisa melihat
Fatar di seberang, berdiri di halte. Ari dan Fatar sempat beradu pandang. Dan
Fatar seperti kaget saat Ari melihatnya. Fatar pun cepat-cepat mengalihkan
pandangannya dan berjalan ke arah bus yang baru datang. Dan Ari bisa melihat di
__ADS_1
belakang Fatar, sosok kepala kijang selalu mengikuti Fatar. Saat Fatar masuk ke
bus, sosok itu juga ikut masuk ke bus. Bus pun berjalan meninggalkan halte.
Tinggal Ari yang kini ingat Wira. Saat Ari mendatangi Wira, dia sedang tergeletak
pingsan. Beberapa murid yang hendak pulang dari kegiatan ekstrakurikuler
mendatangi tempat Wira tergeletak. Ari berusaha membangunkan Wira. Ari tahu,
ini karena efek Wira memakai cincinnya. Apalagi Wira barusan cedera. Akhirnya
Wira sadar juga. Ari berusaha membantu Wira berjalan, meninggalkan murid-murid
lain yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Wira.
Keesokan harinya di sekolah, Ari dan Fatar dipanggil ke
Ruang BP. Atas keputusan Kepala Sekolah, mereka berdua diberi hukuman skorsing
selama 1 minggu. Setelah jam sekolah, Ari cepat-cepat menemui Pak Riza di ruang
guru. Ari ceritakan semua kejadian selengkap-lengkapnya dan sedetil-detilnya
pada Pak Riza. Termasuk menyerahkan gambar terakhirnya, Noni Belanda yang
berjalan mundur. Setelah melihat gambar Ari, lama Pak Riza terlihat berpikir.
“Si Fatar ini, memang cucunya orang padepokan ya?” Pak Riza
bersuara.
“Iya Pak,” jawab Ari,” Seperti yang kata Bang Yudha waktu
ada Persami. Saya juga sudah cek di data sekolah. Di kelas 10 cuma ada satu
yang namanya Fatar.”
“Ok, gini saja,” kata Pak Riza,” Nanti saya akan hubungi
orang padepokan lagi. Akan saya ceritakan mengenai masalah Fatar ini. Semoga
dari sana bisa ada solusinya.”
Ari pun berpamitan dengan Pak Riza.
Hari berikutnya, setelah jam sekolah, Ari disuruh menghadap
Pak Riza di ruang guru. Ari pun duduk di depan Pak Riza. Setelah semua guru
pulang, Pak Riza mulai bicara.
“Pertama-tama saya mau tanya sama kamu dulu Ri,” kata Pak
Riza,” Apakah hari ini kamu lihat sesuatu?”
“Emm, enggak Pak,” jawab Ari,” Hari ini saya nggak lihat
apa-apa.”
“Ok kalau begitu,” kata Pak Riza,” Kemarin kan saya jadi
hubungi orang padepokan Ri. Dan setelah saya ceritakan panjang lebar masalah
Fatar ini, mereka langsung faham dan akan menindaklanjuti. Tadi pagi saya dapat
call dari mereka. Katanya masalah Fatar sudah mereka atasi. Apapun yang
mengikuti Fatar sudah mereka tangani. Jadi saya kira masalah Fatar ini sudah
selesai sekarang.”
“Maaf Pak, maksudnya yang ngikutin Fatar yang ditangani yang
mana ya?” tanya Ari.
“Maksudmu?” tanya Pak Riza. Dia tidak mengerti apa yang Ari
tanyakan.
“Maksud saya, setahu saya, yang ngikutin Fatar itu tidak
cuma satu Pak,” kata Ari,”Bapak tahu sendiri gambar-gambar yang saya kasih ke
Bapak.”
“Wah kalau itu saya nggak tahu Ri,” jawab Pak Riza. “Ya saya
kan nggak bisa juga bicara itu ke mereka Ri. Tapi yang pasti, masalah ini sudah
ditangani sendiri oleh orang padepokan. Mudah-mudahan setelah ini tidak ada
lagi kejadian-kejadian kayak kemarin.”
“Iya, mudah-mudahan Pak,” kata Ari.
Setelah berpamitan dengan Pak Riza, Ari pun meninggalkan
ruang guru. Tapi setelah pembicaraan tadi, Ari masih ragu. Kemarin yang dia
lihat, sosok yang mengikuti Fatar baru sosok laki-laki berkepala kijang. Belum
yang lain-lain. Tapi seperti kata Pak Riza, Ari juga berharap masalah ini sudah
selesai. Dia tidak ingin terjadi sesuatu lagi di sekolahnya. Dia tidak ingin
sesuatu bisa terjadi pada Tata. Atau juga terjadi pada Lisa.
__ADS_1