Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 20 : Aku Selalu Percaya Sama Kamu


__ADS_3

Jam ke 3, ada pelajaran Pak Riza. Sebelum masuk ke materi


pelajaran, sebagai wali kelas, Pak Riza menyampaikan amanat kepala sekolah agar


murid-murid tidak perlu takut dalam melaksanakan kegiatan belajar di sekolah. Kejadian


saat upacara kemarin tidak akan terjadi lagi. Bahkan kepala sekolah optimis,


renovasi ruang bawah tanah bisa dilanjukan lagi.


“Kita harus bangga, karena gedung sekolah kita ini termasuk


cagar budaya yang harus dilestarikan,” kata Pak Riza. “Ke depan akan ada team


dari Dinas Kebudayaan untuk meneliti gedung ini, termasuk ruang bawah tanahnya.”


Nara sempat melirik ke Ari di belakangnya. Ari jadi ingat


kata-kata Pak Hudi mengenai ruang bawah tanah sekolah mereka. Ari pun melirik


Toha dan Wira di seberang bangkunya. Kata-kata bapaknya Toha pun akan menjadi


rahasia mereka berempat.


Hari pun berganti. Ari, Toha, Wira dan Nara masih menyimpan


rahasia mereka. Sepulang sekolah mereka suka lewat area basement dan melongok


ke dalam. Ruangan bawah tanah itu sudah mulai rapi. Nantinya akan digunakan


untuk laboratorium komputer. Sebenarnya mereka juga berharap apapun yang ada di


basement sana tidak seperti apa yang bapak Toha katakan.


Hari ini hari Minggu. Langit sedikit mendung. Seperti biasa


Ari disuruh ibunya untuk belanja mingguan ke pasar naik motor. Sepulang dari


pasar, motor Ari penuh kantung belanjaan. Sesampai di rumah, Ari parkir motor


di depan. Dia jinjing semua kantung yang ada di motor. Tapi saat mau masuk rumah,


dia perhatikan ada sepatu kets di depan pintu. Sepertinya sepatu cewek. Ari mengira


ada tamu. Saat melihat ke dalam, Ari heran. Ada Tata sedang duduk di ruang


tamu, berhadapan dengan ibunya. Ada dua cangkir di meja depan mereka. Tampaknya


mereka habis ngobrol.


“Nah itu Ari sudah datang,” kata ibu Ari begitu melihat Ari


di depan pintu.


Tata pun memandangi Ari dengan senyum merekah dan mata


berbinar. Dan Ari masih berdiri menjinjing kantung belanjaan. Seperti belum


bisa menghilangkan keheranannya. Tata ada di depannya. Duduk di ruang tamu


rumahnya. Di depan ibunya.


“Ini temen kamu Tata, repot-repot banget dia bawa banyak


oleh-oleh,” kata ibu Ari lagi. “Lagian kamu nggak pernah bilang sih sama mama,


kalau Tata ini yang waktu itu kamu selametin.”


Ari jadi semakin heran, dari mana ibunya tahu semua itu.


Pasti Tata sudah cerita banyak. Lalu ibu Ari mengambil belanjaan yang ada di


tangan Ari dan menyuruh Ari menemui tamunya.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Ari.


“Emang nggak boleh?” Tata justru geli melihat tingkah Ari.

__ADS_1


“Nanti kamu dimarahin mama kamu.”


“Mamaku tahunya aku les bahasa Inggris.”


“Dari mana kamu tahu alamat sini?”


“Tanya sama mama kamu di sekolahan.”


“Kamu ke sini naik apa?”


“Naik taxi.”


“Terus sopir kamu?”


“Aku tinggal di tempat les bahasa Inggris.”


Spontan Ari dan Tata bebarengan tertawa. Mereka jadi ingat


saat mereka dulu pernah bertemu di klinik psikiatri. Mereka pun sempat bepandangan


lama.


“Kok kamu cerita-cerita ke mamaku?” tanya Ari menutupi rasa


kikuknya.


“Tentang aku?” tanya Tata.


“Iya.”


“Mama kamu yang cerita banyak tentang kamu. Mama kamu


percaya sama kamu. Jadi aku juga percaya sama mama kamu. Sebenarnya aku ke sini


pengen tahu banyak tentang kamu. Tadi aku ke toilet. Terus aku lihat sumur di


samping. Aku lihat mereka. Seperti yang ada di gambar kamu dulu.”


“Mereka nggak jahat kok.”


“Iya aku tahu.”


“Tanggal lahir kita sama.”


Ari terdiam sesaat. Akhirnya Tata tahu juga.


“Mama kamu cerita, waktu lahir kamu pernah sudah dianggap


meninggal. Aku dulu juga seperti itu.” Kata Tata.


Ari memandangi Tata lama.


“Kenapa?” tanya Tata.


“Enggak. Aneh aja.”


“Kita ini kayak anak kembar ya?”


“Iya.”


Tata melihat jam tangannya. Sepertinya dia harus kembali ke


tempat les bahasa Inggris. Ari pun tahu. Tapi hujan mulai turun di luar sana.


Ari mengambil payung di belakang. Dia akan mengantar Tata ke jalan raya untuk


mencari taxi. Tata berpamitan dengan ibu Ari. Ari dan Tata pun berjalan di


bawah satu payung, menembus hujan yang mulai lebat. Tak berapa lama mereka


sampai di pinggir jalan raya.


“Aku iri sama kamu,” kata Tata di tengah suara hujan.


“Kenapa?”tanya Ari.


“Kamu punya mama yang percaya sama kamu.”

__ADS_1


Ari jadi kasihan sama Tata. Tata orang kaya, tapi menganggap


Ari lebih beruntung.


“Papa kamu meninggalnya kenapa?” tanya Tata.


Ari sempat terdiam.


“Sori, aku nggak nanya lagi,” Tata merasa dia mengajukan


pertanyaan yang salah.


“Enggak apa-apa kok. Kamu inget gambar aku yang perempuan


lidahnya menjulur?” tanya Ari.


Tata mengangguk.


“Aku kira dia ada hubungannya dengan kematian papa aku.


Siang itu dia ada di kamar papa aku sebelum papa aku meninggal. Aku akan cari


hantu itu sampai ketemu,” suara Ari sarat emosi.


“Ih, kamu jangan macem-macem deh Ri,” wajah Tata khawatir.


“Enggak. Bercanda kok,” kata Ari. Dia hanya tidak mau


membuat Tata khawatir. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia berjanji pada dirinya


sendiri di sebelah Tata, sampai kapanpun dia akan cari hantu itu.


“Kamu inget warung bakso di belakang klinik psikiatri


nggak?” tanya Tata mengalihkan pembicaraan,


“Iya,” jawab Ari


“Kapan-kapan kita ke sana lagi yuk.”


“Ayuk.”


“Tapi janji ya.”


“Janji apaan,”


“Jangan tinggalin aku seperti dulu lagi.”


“Iya, aku janji nggak ninggalin kamu. Justru kamu yang akan


ninggalin aku.”


“Lho kenapa?”


“Tuh taxi kamu udah datang.”


Tata tertawa lepas. Mereka pun menghentikan taxi itu. Sebelum


Tata naik ke taxi, dia memberikan selembar lipatan kertas ke Ari. Ari sempat


heran. Tapi setelah dia buka lipatan itu, ternyata gambar Ari yang pernah Ari


berikan Tata saat mereka bertemu di klinik psikiatri. Gambar penunggu klinik


psikiatri yang dulu pernah membuat Tata ketakutan. Ari tak menyangka Tata masih


menyimpannya. Ari sendiri sudah lupa. Dan di bawahnya ada tambahan tulisan Tata


: Aku selalu percaya sama kamu. Ari


memandangi Tata yang sudah masuk ke Taxi. Lalu Tata melambaikan tangan ke Ari


sebelum taxi itu berjalan menembus hujan. Tinggal Ari sendiri dengan payungnya


di bawah guyuran air dari langit. Ari masih memandangi taxi yang Tata naiki sampai


tak terlihat lagi. Ari berjanji pada dirinya sendiri, sampai kapanpun dia akan

__ADS_1


melindungi Tata.


__ADS_2