Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 28 : Suara Kepak Burung di Atap Sekolah


__ADS_3

Ari, Toha, Wira dan Nara berjalan menuju parkir mobil.


Mereka ingin membuktikan cerita Nara. Sampai di sana, mereka bisa melihat dari


jauh mobil Tata terparkir. Memang di dalam mobil tidak terlihat apa-apa. Tetapi


mereka masih ragu untuk mendekat ke mobil. Lalu Ari memberanikan diri mendekat


ke sana. Dia harus memastikan apa yang ada di dalam sana. Dia harus memastikan


keselamatan Tata. Toha dan Wira pun menyusul Ari. Sementara Nara masih was-was diam


di tempatnya berdiri. Ari pun sudah di depan mobil Tata. Hati-hati dia mulai


melongok ke jendela mobil.


“Hati-hati Ri” ujar Toha cemas.


Ari masih berusaha melongok ke jendela yang di belakang. Dia


tidak peduli kecemasan temannya.


“Nggak ada apa-apa,” kata Ari. Dia tidak menemukan apa-apa


di dalam mobil Tata.


Akhirnya Ari, Toha dan Wira kembali ke tempat Nara.


“Gimana?” tanya Nara penasaran.


“Nggak ada apa-apa,” jawab Wira.


“Tapi tadi aku beneran lihat perempuan seperti yang digambar


Ari,” kata Nara meyakinkan teman-temannya.


Tapi tidak lama di tengah keheranan mereka berempat, tiba-tiba


Ari melihat seekor binatang berlari menyusur tak jauh dari mereka. Ari melihat


kucing hitam itu lagi. Ari pun berlari mengejar binatang itu. Sampai di depan


sebuah pohon Ari berhenti. Ari mencari-cari di balik pohon. Juga dia atas


pohon, di antara ranting-ranting. Dia tidak melihat kucing itu lagi.


“Ada apa Ri,” tanya Toha.


“Gue tadi lihat kucing hitam,” jawab Ari sembari masih memeriksa


sekitar,” harusnya dia ada di di sini.”


“Gue nggak lihat apa-apa,” kata Toha.


Lalu Toha dan Wira pun mengikuti Ari memeriksa sekitar.


Barangkali mereka akan melihat kucing hitam itu. Tapi tidak lama, Ari, Toha dan


Wira melihat Nara seperti kedinginan. Nara menyilangkan tangan di badannya dan


dia sudah memakai tudung jaketnya.


“Kamu kedinginan Ra?” tanya Wira.


Nara mengangguk. Dan bel masuk pun berbunyi. Mereka berempat


pun cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


Ari, Toha, Wira dan Nara berlari masuk kelas. Karena semua


murid kecuali mereka sudah ada di dalam kelas. Tetapi sebelum masuk pintu, Ari


sempat berhenti, karena dia mendengar sesuatu. Dia dengar suara seperti kepak


burung. Burung besar atau mungkin ayam. Ari tengok kanan kiri mencari asal


bunyi, tapi sepertinya dia harus masuk kelas karena guru yang akan mengajar


kelasnya sudah terlihat di ujung lorong. Saat pelajaran pun, beberapa kali Ari


masih mendengar suara kepak burung. Mendengar suaranya, burung itu pasti besar


sekali. Ari melirik ke bangku Nara, Toha dan Wira. Ari tahu mereka juga


mendengar apa yang Ari dengar. Saat istirahat di kantin mereka berempat


membicarakan suara itu.


“Kayaknya burung garuda atau rajawali,” cetus Toha.


“Tapi kalau gue perhatiin, anak-anak yang lain nggak denger


deh,” kata Nara.


“Yang pasti sih suaranya dari atas,” tambah Wira.


“Trus perempuan yang ada di gambar Ari gimana?” tanya Nara.


Dia masih penasaran.


“Kan tadi dilihat nggak ada apa-apa,” sahut Toha sambil


menguyah makanannya.


“Tapi anehnya gue lihat kucing itu lagi,” kata Ari.


“Itu dicari-cari juga nggak ada,” sahut Toha lagi.


“Iya. Tadinya gue mau kasih tahu Pak Riza. Tapi gue nggak


pasti juga,” kata Ari.


“Kasih tahu Pak Riza?” Tanya Wira.


“Gini, waktu itu kan gue dipanggil Pak Riza,” Ari sengaja


memelankan suaranya karena tak ingin terdengar murid-murid yang lalu lalang di


kantin. “Gara-gara kejadian di kolam renang, kita disuruh lapor ke dia kalau


lihat sesuatu di sekolah. Tapi ini rahasia.”


“Emang Pak Riza tahu kita bisa lihat?” Tanya Wira lagi.


“Ya gue kasih tahu. Cuma Pak Riza yang tahu. Orang lain


nggak boleh tahu,” jawab Ari.


“Tapi gara-gara bapak-bapak padepokan itu, sekolah kita


aman-aman aja kok,” kata Toha. “Hantu seberang gedung aja nggak bisa masuk ke


sini. Yang di kolam renang itu kan bukan di sekolahan.”


“Iya, bener juga lo Ha,” kata Wira.

__ADS_1


Tinggal Ari dan Nara seperti tidak terima perkataan Toha.


“Eh Ra, gue pinjem foto yang denah sekolah itu lagi dong,”


kata Ari.


“Ok, besok gue bawa ya,” jawab Nara.


Lalu tak berapa lama, di luar kantin banyak murid-murid


berkerumun. Ada seorang murid dibantu beberapa temannya dibawa ke UKS. Murid itu


memegangi kepalanya. Karena dari sana darah mengucur membasahi wajahnya. Dari


pembicaraan murid yang berkerumun, dia tertimpa genteng jatuh di depan


kelasnya. Ari, Toha, Wira dan Nara pun bergegas menuju kelas murid tadi. Dan


benar saja, di depan kelas murid tadi, ada beberapa genteng pecah di atas tanah


karena jatuh dari atas.


Sepulang sekolah, Ari langsung menuju ke parkir mobil. Dia


bilang ke Toha, Wira dan Nara ada keperluan dengan ibunya di kantor TU.


Sebenarnya di tempat parkir Ari berharap akan bertemu Tata. Dia harus ceritakan


apa yang dilihat Nara ke Tata. Ari tidak mau terjadi apa-apa dengan Tata. Tapi


setiba di sana, dari jauh Ari melihat Tata di depan mobilnya sedang ngobrol


sama Jodi. Tata terlihat ceria. Tata dan Jodi terlihat asik ngobrol. Sesekali


mereka tertawa. Ari pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Mungkin nanti


malam dia bisa menghubungi Tata dari HP-nya.


Malamnya, Ari berusaha menghubungi Tata. Dia merasa apa yang


akan disampaikannya sangat penting. Bisa bicara sebentar saja itu sudah bagus,


pikirnya. Ponsel Ari pun sudah tersambung dengan Tata.


“Halo Ta.”


“Halo Ri.”


“Kamu sama mama kamu?”


“Iya, tapi dia masih di dapur. Kenapa Ri?”


“E… Ada yang mau aku sampaikan. Penting. Kapan kita bisa


ketemuan?”


“Serius banget?”


“Iya serius. Gimana kalau pagi-pagi di tempat parkir?”


“Besok kan ada mama aku.”


“O iya. Besok ambil rapot ya.”


“Gimana kalau pas jam ambil rapot? Kita ketemuan di tempat


parkir.”


“Iya. Ok kalau begitu. Sampai besok ya. Bye.”


“Bye.”


mengambil rapot. Murid-murid tetap masuk walau tidak ada pelajaran. Tapi


pagi-pagi murid-murid dikejutkan dengan banyaknya genteng jatuh di depan


beberapa kelas, termasuk kelas Ari. Mereka berkerumun menyaksikan pecahan


genteng yang berserakan.


“Pasti gara-gara burung itu,” kata Toha pelan.


“Mana mungkin burung bisa menjatuhkan genteng,” suara Nara


juga pelan.


“Iya nggak mungkin. Apalagi di kelas lain juga banyak yang


jatuh gentengnya,” Wira menambahi.


Lalu terlihat Pak Min membawa tangga dan mulai memperbaiki


genteng yang jatuh.


“Nggak ada hujan, nggak ada angin, genteng pada jatuh,”


suara Pak Min yang menggerutu terdengar oleh murid-murid. Dia kesal


pekerjaannya jadi bertambah banyak.


Saat orang tua murid sudah masuk ke kelas, Ari bilang ke


Toha, Wira dan Nara, dia mau ke kantor TU untuk kasih tahu ibunya. Padahal Ari


tidak ke kantor TU. Dia berjalan menuju tempat parkir. Dan Tata sudah disana,


menunggunya di bawah pohon.


“Hai Ta,” Ari menyapa duluan.


“Hai Ri,” jawab Tata dengan senyum merekah. Tata bisa lihat


jam pemberiannya dipakai Ari.


“Aku mau kasih tahu sesuatu Ta,” kata Ari.


“Apaan sih?” Tata selalu geli kalau Ari seserius ini.


“Kemarin Nara cerita, kalau dia lihat perempuan di dalam


mobil kamu,” lalu Ari mengeluarkan gambar perempuan cantik memakai bunga yang


duduk di pinggir kolam.


Wajah Tata seketika berubah serius. Apalagi setelah melihat


gambar Ari. Dia melihat gambar itu lama sambil menggigit bibirnya.


“Kenapa Ta?” Ari jadi bertanya-tanya karena perubahan raut


Tata.


Tata masih diam. Dia masih melihat gambar Ari.


“Ta?” tanya Ari lagi.

__ADS_1


“E… Nggak. Nggak kenapa-kenapa,” Tata mengembalikan gambar


Ari. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Kamu pernah lihat perempuan ini,” tanya Ari.


“E… Enggak sih. Aku nggak pernah lihat,” kata Tata dengan


suara patah-patah.


“Beneran?” tanya Ari. Ari merasa Tata menyimpan sesuatu.


“Iya… Beneran,” jawab Tata.


“E… Ok. Tapi kalau ada apa-apa kasih tahu aku ya,” kata Ari


serius.


“Iya… E… Ri, aku mau nanya,” kata Tata. Tapi sepertinya dia


masih ragu.


“Kenapa Ta?” tanya Ari.


“Pernah nggak Ri, kamu lihat hantu gitu, tapi hantunya


baik…”


“Maksudnya baik?”


“Ya, misalnya ada kejadian kita lagi nyeberang jalan. Trus kita


mau ditabrak motor. Trus dia nolongin kita biar nggak ketabrak itu motor.”


“O, gitu. Aku belum pernah lihat sih.”


Tata tidak melanjutkan pembicaraannya. Karena dari jauh


terlihat ibunya sedang berlalan menuju ke arah parkir. Lalu terlihat Jodi


bersama ibunya menghampiri ibu Tata. Sepertinya Jodi sedang memperkenalkan


ibunya pada ibu Tata. Dari jauh mereka terlihat ngobrol sambil tertawa santai.


Ari pun memahami situasi ini.


“E… Ta, aku tinggal dulu. Kalau ada apa-apa bilang ya,” kata


Ari.


“Ok Ri. Bye.”


“Bye.”


Ari pun meninggalkan Tata. Tapi di balik papan majalah


dinding tak jauh dari tempat parkir, Ari masih bisa mendengar suara ibu Jodi.


“O, ini to yang namanya Tata,” kata ibu Jodi. “Jodi sering


cerita tentang kamu lho. Aduh, cantik sekali anak mama ini!”


“Tata ini ekstrakurikulernya ikut KIR (Karya Ilmiah Remaja ) Ma,” kata Jodi, ”Kaya Mama dulu.”


“Waduh, udah cantik, pinter lagi ya,” kata ibu Jodi lagi.


Entah kenapa setelah mendengar pembicaraan itu, Ari jadi


merasa jauh dengan Tata. Terbesit kalau ibu Ari yang mengatakan itu. Tapi Ari


jadi ingat perkataan Tata barusan. Ari merasa ada sesuatu yang tidak


diungkapkan Tata. Atau mungkin sudah saatnya Ari tidak terlalu memikirkan Tata.


Tata sudah punya kehidupannya sendiri. Mungkin Nara benar. Dia terlalu


berlebihan memikirkan Tata.


“Woi, ngelamun aja!” suara Toha mengagetkan Ari, ”Ntar


nabrak lo jalannya.”


“Dari mana lo Ri?” tanya Wira. “Kita cari di kantor TU nggak


ada. Kata mama lo, lo nggak ke sana.”


“E… Tadi gue ke toilet dulu,” jawab Ari sekenanya.


Teman-teman Ari bingung. Toilet tidak ke arah sana. Tapi


Nara segera menyahut.


“Ri, tahu nggak! Tadi Pak Min jatuh dari atap,” kata Nara.


“Beneran?” tanya Ari.


“Iya, katanya ada yang ndorong dia,” kata Nara. “Ini kita


mau ke rumah dia. Sekalian gue mau kasih dia uang buat berobat. Kasihan dia Ri.


Ntar lo yang ngasih ya Ha.”


“Iya,” jawab Toha.


Lalu Nara memberikan uang 200 ribu ke Toha. Mereka pun


bergegas ke rumah Pak Min si penjaga sekolah. Di rumahnya, Pak Min sedang tidur


di ranjang reot. Tangan kanannya dililit kain. Beberapa bagian tubuhnya


diperban. Toha segera menyerahkan uang Nara ke Pak Min.


“Pak Min, ini dari kita, buat berobat Pak,” kata Toha.


“Maksudnya dari Nara,” kata Wira meluruskan.


“Wah, terimakasih sekali ya Neng Nara,” kata Pak Min sambil


meringis menahan sakit.


“Iya Pak Min cepet sembuh ya,” jawab Nara.


“Emang Pak Min tadi ada yang ndorong?” tanya Ari tanpa


basa-basi.


“Iya, tadi saya sudah bilang ke Pak Suman juga. Tapi dia kayaknya


nggak percaya,” jawab Pak Min.


“Kepala sekolah kita kan nggak percaya gitu-gitu Pak Min,”


kata Toha.


“Emang Pak Min tadi lihat Apa?” tanya Ari lagi.

__ADS_1


“Nggak tahu ya,” jawab Pak Min, “Pokoknya ada burung terbang


gitu. Saya cuma lihat sayapnya hitam besar banget. Lalu dia ndorong saya.”


__ADS_2