Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 55 : Insiden di Laboratorium Komputer


__ADS_3

Ari berjalan cepat-cepat menuju laboratorium komputer. Dia


sengaja menyuruh Tata berjalan tepat di belakangnya. Saat laboratorium komputer


sudah di depan, Ari tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Ada apa Ri?” tanya Tata di belakang Ari.


Ari melihat pintu laboratorium komputer tertutup. Tapi tepat


di depan pintu ada orang sedang jongkok.


“Ada orang jongkok di depan pintu,”kata Ari. Dia berusaha


mengamati orang itu. Tapi Ari melihat sosok itu begitu samar, cuma bayangan


hitam dan kepalanya pun tertunduk.


Bunyi bel masuk sempat mengagetkan Ari. Tapi Ari tetap


berusaha terus memperhatikan sosok yang ada di depan pintu. Lalu Ari melihat


sosok itu berdiri. Ari kaget, karena sosok itu tiba-tiba berubah menjadi tinggi


hingga hampir melebihi atap sekolah. Badannya gelap seperti bayangan. Kaki,


tangan dan jari-jarinya menjulur sangat panjang. Sosok gelap tinggi itu mulai


melangkahkan kakinya. Ari sempat khawatir sosok itu akan menghampirinya. Tapi


ternyata dia bergerak ke arah tanah kosong di belakang sekolah dan menghilang


di sana. Ari pun lega. Beberapa saat dia masih bisa mencium bau bangkai yang


menyengat. Lalu Ari perhatikan sekitar mulai sepi karena hampir semua murid


sudah masuk ke kelas.


“Ta, sebaiknya kamu balik ke kelas,”kata Ari menatap Tata


lekat-lekat.”Biar aku yang masuk ke sana.”


“Nggak Ri, aku ikut kamu,”kata Tata dengan tatapan memohon,”


Astri ada di dalam sana Ri.”


Beberapa saat Ari memandangi Tata. Tampaknya dia tidak bisa


untuk tidak meluluskan permintaan Tata.


“Ok, tapi kamu harus tetap di belakangku,” kata Ari.


Mereka berdua pun cepat berjalan ke laboratorium komputer


sebelum ada guru memergoki. Begitu masuk ke ruang komputer, Ari melihat


beberapa meja komputer bergelimpangan. Beberapa set komputer berserakan. Di


ujung ruangan, lubang besar di dinding terlihat menganga. Lorong bawah tanah


terlihat gelap di belakang sana. Dan tepat di sebelahnya, Ari melihat sosok


yang tadi menempel di dinding kelas Tata. Kini dia sedang berdiri dengan empat


kakinya.


“Astri!” Tata berteriak dan beranjak ke salah satu sudut


ruangan.


Ari melihat di sana ada Astri yang tergeletak dekat Toha.


Tata langsung bersimpuh memeriksa kondisi Astri yang ada di pangkuan Toha. Ari


begitu khawatir karena posisi Astri dan Toha tidak jauh dari sosok berkaki


empat itu berdiri. Tapi Ari melihat sosok itu hanya berdiri mematung. Seperti


kelelahan dan terlihat lemah. Seperti ada luka di beberapa bagian tubuhnya. Dan


Ari yakin Tata dan Toha tidak melihat sosok itu.


“Astri kenapa Ha?” tanya Tata cemas sambil memegangi kepala


Astri yang terasa dingin.


“Dari tadi dia pingsan,”kata Toha dengan suara gemetar,”


Kadang dia ngigau.”


“Kita harus keluarin dia dari sini Ha,” kata Astri.


“Udah  gue coba


berkali-kali Ta,”kata Toha dengan wajah berkeringat,”Badannya jadi berat


banget.”


Tata pun mencoba mengangkat badan Astri dibantu Toha. Dan


memang badan Astri terasa sangat berat untuk diangkat. Walau berdua, Tata dan


Toha tidak mampu mengangkatnya.


Sementara di sudut ruangan lain, Ari melihat Wira dan Nara


di antara serakan meja komputer. Wira terbaring di lantai. Dan tak jauh dari


Wira, Nara tersimpuh bersandar di tembok.


“Ari…” Suara Nara terdengar lemah memanggil Ari.


Ari pun cepat-cepat mendatangi Nara yang terlihat lemas.


“Ra, lo kenapa?” Tanya Ari cemas. Dia melihat mata Nara


hanya terbuka setengah.


“Ri… mahluk itu… sengaja mengincar Wira…” kata Nara


patah-patah.


“Maksudnya?” Ari belum mengerti.


Ari melirik ke arah mahluk itu. Dia masih berdiri di sana.


Dan Ari melihat Wira masih tergeletak tak bergerak di lantai.


“Ri… Mahluk itu… Dia induknya mahluk bersayap… yang dibunuh


Wira,”kata Nara.


Ari mulai ingat kejadian hampir setahun yang lalu saat


terjadi insiden di aula. Saat itu dia dan Wira sedang menyelamatkan Nara. Sosok


yang ada di cincin Wira memang mengejar mahluk bersayap seperti kelelawar. Tapi


Ari tidak tahu kalau mahluk bersayap itu sampai terbunuh. Lalu lama-lama Ari


melihat tak jauh di sebelahnya ada sosok binatang berkaki empat. Samar Ari


melihat sosok macan berwarna putih yang tersimpuh di lantai. Lalu Ari melihat


tak jauh dari Wira ada sosok macan berwarna hitam yang tergeletak tak bergerak.

__ADS_1


“Kalian tadi berantem sama mahluk itu?” tanya Ari ke Nara.


Nara hanya mengangguk pelan. Lalu Ari melihat cincin di jari


Nara yang bermata merah.


“Ra, kayaknya lo harus lepas cincin itu,” Kata Ari.


Nara hanya mengangguk. Dia mengangkat lemas tangannya,


meminta Ari untuk melepas cincin di jarinya. Setelah melepas cincin Nara, Ari


berlari ke Wira dan cepat-cepat melepas cincin bermata biru yang ada di jari


Wira. Sementara Wira masih pingsan tak bergerak.


“Ari! kita harus keluarin Astri!”Tata berteriak ke Ari


dengan muka begitu cemas.


Ari pun berlari ke sana. Dia langsung ikut mengangkat Astri.


Tapi walau sudah bertiga, Astri tetap saja tidak bisa diangkat. Badan Astri


seakan menempel di lantai. Lalu hidung Astri mulai mimisan. Ada darah keluar


dari salah satu lubang hidungnya. Ari melihat mahluk itu lagi. Dia masih diam


berdiri di sana. Tapi posisi badannya kini lebih tegak dan luka di badannya


sudah tidak ada. Ari mengira, mahluk itu sedang menggunakan Astri untuk


memulihkan kekuatannya. Ari pun memberanikan diri untuk berdiri menghadap ke


mahluk itu.


“Lepaskan dia!” seru Ari ke mahluk itu.


Ari melihat mahluk itu cuma diam sembari menatap tajam ke Ari


dengan matanya yang putih penuh. Sementara Tata dan Toha mulai mencari-cari


yang diajak Ari bicara. Tapi mereka cuma melihat Ari menghadap ke lubang yang


ada di tembok dan tidak ada siapa-siapa di sana.


“Lepaskan dia!” Ari berteriak lebih keras.


Kini mahluk itu cuma terkekeh sinis seakan tidak


mempedulikan Ari. Sebersit rasa takut melintas di benak Ari. Tapi dia coba


singkirkan mengingat apa yang telah diperbuat mahluk itu pada Astri, Nara dan


juga Wira.


“Yang bunuh anakku harus mati…” mahluk itu bicara dengan


suara serak.


Lalu dia mulai menengadahkan kepalanya dan membentangkan


keempat tangannya. Mahluk itu mengerang keras. Bersamaan dengan itu, dari mulut


Astri mulai keluar darah. Tata dan Toha semakin bingung. Tata sampai meneteskan


air mata karena tidak tahan melihat kondisi Astri yang seperti itu. Toha


membuka bajunya untuk membersihkan darah yang mengalir ke pipi Astri. Dan Ari


tahu, mahluk itu yang membuat Astri semakin menderita.


“Lapaskan dia!” Sambil berteriak Ari berlari ke arah mahluk


itu.


melihat kondisi Astri. Dia sengaja menabrakkan dirinya ke mahluk itu, seperti


dulu pernah dia lakukan pada hantu berkaki kuda. Ari pun terpental. Dia


tersungkur ke belakang. Ari sempat mendengar suara berdebum. Dia pikir mahluk


itu juga terpental. Ari berusaha bangkit sambil meringis kesakitan karena


punggungnya tadi sempat membentur meja. Tapi belum sempat Ari berdiri, mahluk


itu sudah ada di depannya. Dia mengerang sangat keras. Astri pun mulai muntah


darah. Tata berteriak histeris memegangi sahabatnya. Toha memanggil-manggil


nama Astri untuk sadar. Mahluk itu sudah mencengkeram Ari dan mengangkat Ari


tinggi-tinggi. Lalu dia menghempaskan Ari ke lantai. Ari terjerembab. Kepalanya


sempat membentur meja. Kini mata Ari mulai berkunang-kunang. Dalam samar dia


masih melihat mahluk itu. Tapi mahluk itu kini menatap ke arah lain. Ari tahu,


mahluk itu sedang memandangi Wira yang masih tergeletak tak jauh darinya. Dan


dalam pandangan samar, Ari lihat Astri yang bajunya sudah basah berwarna merah.


Lalu Ari melihat Tata sudah berdiri. Tata memegangi kalungnya. Ari melihat


wajah Tata penuh kemarahan. Dan pelan Tata mulai melepas kalungnya.


“Tata jangan…” Ari ingin berteriak melarang Tata melepas kalungnya


tapi suaranya seakan telah habis.


Dan Tata benar-benar melepas kalungnya. Kini dia bisa


melihat mahluk itu. Mahluk yang membuat sahabatnya menderita.


“Lepaskan Astri!” Tata berteriak keras seperti orang yang histeris


dan berlari ke arah mahluk itu.


Ari berusaha bangun, tapi kepalanya terasa pusing. Untuk


duduk saja dia begitu susah. Ari cuma bisa melihat Tata yang sudah


mencengkeramkan kedua tangannya ke leher mahluk itu. Mahluk itu meronta


berusaha melepaskan cengkeraman Tata. Tapi dari belakang mahluk itu, Tata sudah


mengaitkan kakinya. Ari melihat Tata seperti orang gila. Tata benar-benar tidak


melepaskan mahluk itu sambil berkali-kali berteriak histeris untuk melepaskan


Astri. Susah payah Ari berusaha berdiri. Dengan langkah sempoyongan Ari masih


melihat mahluk itu meronta-ronta. Lalu satu erangan keras dari mahluk itu


memekakkan telinga Ari. Dan mahluk itu mulai dijalari api. Dalam sekejap api


membesar kemudian padam dan menyisakan kepulan asap hitam yang berbau busuk.


Beberapa saat Ari terhenyak. Lalu sekuat tenaga dia mencoba melangkah. Dan di


tengah asap yang mulai memudar, Ari bisa melihat Tata yang terduduk di lantai.


Cepat-cepat Ari mendekati Tata.


“Ta, kamu nggak apa-apa?” Tanya Ari dengan sisa suaranya.

__ADS_1


Tata masih bengong. Sepertinya dia masih shock. Nafasnya


terengah dan tangannya gemetar. Rambut Tata berantakan. Muka, tangan dan


bajunya belepotan abu. Ari melihat sekeliling, mencari mahluk itu. Tapi Ari


tidak melihatnya di sekitar situ.


“Ta, tenang Ta, mahluk itu sudah tidak ada…” Ari berusaha


menenangkan Tata meski dia masih ragu apakah mahluk itu masih ada atau tidak.


Tata masih diam sembari berusaha mengatur nafasnya. Tangannya


masih gemetar. Lalu Ari melihat sekitar ruangan. Astri terlihat sudah sadar.


Dia sudah bisa duduk di sebelah Toha. Nara sudah menghampiri Wira dan membantu


Wira duduk.


“Astri sudah sadar Ta…” kata Ari.


Tata mengangguk pelan sembari melirik sebentar ke arah


Astri. Lalu Ari ingat kalung Tata. Ari berusaha menemulan kalung Tata di


sekitar situ. Beberapa saat mencari, Ari menemukannya tergeletak di lantai. Ari


pun memakaikannya kembali ke Tata. Tata memegangi bandul kalungnya yang sudah


melingkar di lehernya. Beberapa saat Ari dan Tata saling berpandangan. Lalu


pintu laboratorium komputer dibuka. Beberapa orang berbaju putih masuk ke


ruangan. Di antara mereka ada Pak Riza. Beberapa orang berbaju putih mendatangi


Astri dan Toha. Mereka pun mulai memeriksa Astri. Beberapa mendatangi Wira dan


Nara.


“Ari kamu nggak apa-apa?” Pak Riza mendatangi Ari.


“Nggak apa-apa Pak…” kata Ari walau kepalanya masih sedikit


pusing. Dan dia baru sadar ada darah di dahinya. Lalu lengan bajunya sobek. Dan


di lengannya seperti ada luka bekas cakar.


Satu orang berbaju putih mendekati Ari. Dia mengamati


sekitar dan merasa ada bau tertentu di dekat situ. Lalu dia mengamati lantai di


bawahnya. Ada abu berserakan di situ. Dengan ujung jarinya dia amati abu itu.


“Siapa yang bunuh mahluk ini?” tanya orang berbaju putih itu


ke Ari.


Ari dan Tata pun saling pandang. Ari dan Tata bahkan tidak


tahu kalau mahluk itu bisa dibunuh.


“Saya yang bunuh bang…” kata Ari terbata.


Orang berbaju putih itu mengamati Ari sebentar. Lalu dia


bergabung lagi dengan yang lainnya.


“Bener kamu nggak apa-apa Ri?” tanya Pak Riza karena dia


melihat darah yang ada di dahi Ari.


“Nggak apa-apa Pak,” kata Ari,” Tolongin Astri aja Pak.”


Lalu Pak Riza pun menuju ke Astri. Dia dan Toha membantu


Astri berjalan keluar dari ruangan. Sementara Ari dan Tata masih terdiam dan


saling pandang. Mereka tidak mengira kejadiannya akan sejauh ini. Ari dan Tata pun


jadi yang terakhir keluar dari laboratorium komputer. Dan di luar ternyata


sudah banyak orang berkerumun. Banyak murid-murid yang ingin tahu apa yang


terjadi. Ada yang bilang mereka tadi mendengar suara berdebum dari laboratorium


komputer. Ari, Tata dan yang lainnya seperti menjadi tontonan mereka.


“Ta, mendingan kamu langsung pulang,” bisik Ari ke Tata.


Ari tidak mau Tata menjadi tontonan. Apalagi nanti saat


masuk ke kelas Tata. Rambut Tata masih berantakan. Muka, tangan dan baju Tata


belepotan abu.


“Ntar aku ambilin tas kamu di kelas,”tambah Ari masih dengan


suara pelan,”Aku akan bilang ke Pak Riza, kamu sakit langsung pulang.”


Tata pun mengangguk. Dari tadi dia juga bingung untuk masuk


ke kelasnya.


“Tunggu aku di dekat parkir,”kata Ari.


Dari awal Ari memang tidak mau Tata terlibat apapun yang


dilakukannya dengan teman-temannya. Tetapi sekarang sudah terlanjur. Setelah


mengambil tas di kelas Tata dan memintakan ijin ke Pak Riza, Ari menuju ke


parkir mobil. Ari dan Tata bertemu di balik papan majalah dinding di dekat parkir


agar tidak terlihat sopir Tata.


“Ta, kamu musti lupain apapun yang terjadi hari ini,” kata


Ari sebelum berpisah.


Tata mengangguk, memandangi Ari.


“Kamu nggak takut kan Ta?” tanya Ari.


“Enggak, aku nggak takut Ri,”jawab Tata pelan,”Justru aku


takut kalau nggak bisa ketemu kamu lagi.”


Ari hanya diam. Dia tidak punya jawaban atas


kata-kata Tata. Tata pun berpamitan meninggalkan Ari menuju mobilnya diparkir.


Setelah itu Ari hanya bisa memandangi mobil Tata keluar dari parkir. Di masih


melihat Tata di jendela mobil memandang ke arahnya hingga mobil Tata keluar


gerbang. Kini kekhawatiran Ari bertambah besar. Mahluk berkaki dan bertangan


empat tadi mencari Wira karena Wira membunuh anaknya. Itu juga bukan Wira yang


membunuhnya tapi sosok yang ada di cincin Wira. Dan sekarang Tata sudah bunuh


mahluk itu dengan tangannya sendiri. Bukan tidak mungkin Tata akan dicari


mahluk-mahluk itu setelah apa yang terjadi hari ini. Ari sampai tidak berani

__ADS_1


membayangkan apa yang akan terjadi dengan Tata. Ari cuma berharap, Tata akan


selalu memakai kalungnya.


__ADS_2