Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 1 : Hantu Anak Kecil yang Suka Mengambil Mainan


__ADS_3

Bayi yang hidup kembali itu kini umurnya hampir 5 tahun.


Nama lengkapnya Harindra. Ibunya memanggilnya Ari. Hari ini Ari mendapatkan sepeda


pertamanya. Sepeda roda empat yang dia kendarai di depan rumah. Seperti biasa,


sore ini anak-anak ramai bermain di jalan kampung. Ari termasuk anak yang


pendiam. Di atas sepedanya dia hanya mengamati anak seumuran lainnya bercanda dan


berlarian. Tapi dari tadi dia perhatikan seorang anak yang terus menangis.


Umurnya di bawah dia. Ari tahu kenapa dia menangis. Ada anak lain yang


mengambil mainannya. Mainan bebek plastik. Mainan itu dibawa berlarian di


antara anak-anak yang lain. Sampai ibu anak yang menangis itu datang dan menyadari


apa yang terjadi.


“Siapa ya yang ambil mainannya adik?” Ibu itu bertanya pada anak-anak


di situ.


Anak-anak saling celingukan. Tidak ada yang merasa mengambil


mainan.


“Nggak ada yang ngambil!” seorang anak berani menjawab.


“Jatuh ke got kali!” seorang lagi nyeletuk.


Si ibu hanya diam. Mukanya kesal sambil menggendong anaknya


yang masih menangis.


Ari tahu siapa yang mengambil. Dia ingin memberitahu ibu itu.


Tapi ibu RT datang dan menyuruh anak-anak untuk pulang.


“Ayo anak-anak, ini udah Maghrib, ayo pulang, setan-setan udah


pada dateng, ntar kalian diculik sama setan lho.”


Keesokan harinya, ibu Ari marah besar. Dia berdiri di depan


Ari. Di tangannya ada mainan bebek plastik. Katanya mainan itu dia temukan mengambang


di sumur. Rumah mereka memang ada sumurnya di samping.


“Bukan Ari yang ambil. Kemarin ada anak yang ambil,” dengan lugu


Ari mebela diri.


Ibu Ari tambah marah. Ari mendapat satu jeweran. Ibu Ari


bergegas ke rumah tetangga mengembalikan mainan itu. Ari menangis tersedu,


tersimpuh di depan pintu kamarnya.


Sore hari, seperti biasa Ari ada di atas sepedanya.

__ADS_1


Anak-anak riuh bermain dan berlarian. Dan anak kecil itu menangis lagi. Anak


yang kemarin kehilangan mainan bebek plastik. Tangisannya semakin menjadi. Dia kehilangan


mainannya lagi. Dan Ari melihatnya anak itu lagi. Anak yang mengambil mainan.


Kali ini mainan kerincingan. Mainan itu dibawanya berputar-putar, berlarian diantara


anak-anak lainnya. Bunyi kerincingan terdengar bercampur dengan riuhnya anak-anak


bermain. Hingga anak yang menangis itu didatangi ibunya. Sambil menggendong anaknya


dia menatap Ari. Spontan Ari menunjuk ke anak yang mengambil mainan.


“Dia yang mengambil mainannya,” teriak Ari dengan polosnya.


Tapi Ari heran, ibu itu malah memandang ke anak-anak yang


lain. Bukan anak yang Ari tunjuk.


“Itu yang ambil mainannya,” suara kecil Ari lebih keras.


Jarinya kini mengarah ke tempat lain karena anak itu berlari kesana kemari sambil


membunyikan kerincingannya.


Si ibu malah melotot ke arah Ari. Dia merasa dipermainkan. Lalu


dia bawa anaknya yang masih menangis masuk ke rumahnya.


Malam itu hening. Detak jam dinding terdengar teratur di


kamar Ari. Jarum jam menunjuk angka 2 lebih. Ari pulas di dalam selimutnya. Tetapi


Ari terduduk di ranjang. Lama-lama Ari ingat, itu suara mainan kerincingan tadi


sore. Ari baru sadar ini masih tengah malam. Suara itu terdengar dari luar


kamar, arah sumur. Terbayang ada anak tadi sore sedang main kerencengan di


dekat sumur. Ari mulai takut. Dia turun dari ranjang memanggil ibunya. Tapi


saat melewati jendela, dia terhenti. Bunyi gemerincing itu masih disana. Ari


penasaran, apakah anak itu ada di sana? Ari buka tirai jendela. Area sumur


terlihat remang . Tidak ada orang di sana. Tapi suara gemerincing terdengar


jelas. Suara itu bergema, seperti berasal dari dalam sumur. Spontan Ari berlari


menuju kamar orangtuanya.


“Mama, Ari takut,” Ari membangunkan ibunya. Bapaknya di


sebelah ibunya mendengkur pulas.


Ibu Ari terbangun, melihat anaknya pucat pasi berdiri di


pinggir ranjang.


“Kenapa sayang?” Ibu Ari memegang tangan anaknya. Tangan itu

__ADS_1


dingin dan basah karena keringat.


“Ari takut Ma,” wajah Ari memelas.


“Kamu mimpi buruk ya?” tanya Ibu Ari yang mulai iba melihat


anaknya


Ari hanya mengangguk. Dia tidak tahu bagaimana


menjelaskannya.


Malam itu Ari tidur ditemani Ibunya. Ibunya pulas di


sebelahnya. Tapi Ari belum bisa tidur. Suara gemerincing itu masih keluar dari


dalam sumur.


Ari terbangun. Matanya masih terbuka setengah. Tapi dia bisa


lihat ibunya duduk di samping ranjang, menunjukkan sesuatu di tangannya. Mainan


kerincingan.


“Mama nggak tahu harus gimana, mau bilang apa lagi sama ibu


sebelah,” wajah ibu Ari marah, Tapi tidak seperti kemarin. Sekarang dia agak


pasrah.


“Bukan Ari yang ambil, kemarin sore ada anak yang ambil,”


suara kecil Ari masih serak.


“Udah ini yang terakhir. Kalau kamu ambil mainan lagi, lalu


kamu buang ke sumur, seminggu kamu nggak boleh main di luar!”


Lalu Ibu Ari keluar kamar. Sepertinya dia ingin segera


mengembalikan mainan itu. Sendiri Ari masih terbaring di ranjangnya. Kali ini


dia tidak ingin menangis. Karena yang ia bayangkan adalah sumur di samping


rumah. Dengan langkah masih gontai dia menuju ke sumur. Makin dekat ke sumur


langkah Ari makin pelan. Selangkah lagi dia bisa melihat ke dalam sumur. Sampai


di pinggir sumur, Ari melongokkan kepalanya. Di dalam sumur ada seorang anak.


Anak yang mengambil mainan. Dia duduk di atas air. Ari lari terbirit menuju


kamarnya. Di kasur dia tutupkan bantal di kepalanya.


Tak lama ibu Ari datang. Dia temukan anaknya terisak di


kasur. Badannya menggigil.


“Kamu kenapa nak? Kamu sakit?”


Kini ibu Ari begitu cemas. Sebersit dia begitu menyesal

__ADS_1


telah memarahi anaknya. Anak yang pernah hampir dia tidak miliki.


__ADS_2