Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 70 : Kekacauan di Sekolah


__ADS_3

Tempat di belakang rumah Pak Min adalah tempat pertemuan rahasia Ari dan Tata di sekolah. Tapi kini jadi tempat bertemunya teman-teman Ari. Walau Ari tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, ini adalah hari yang paling melegakan buatnya. Tapi sepertinya ada orang lain lagi yang tahu tempat rahasia Ari dan Tata. Dari samping rumah Pak Min terdengar suara langkah-langkah orang mendekat. Dan beberapa murid muncul di hadapan Ari dan teman-temannya. Ternyata Drago bersama kelompoknya. Mereka ada enam orang. Di antara mereka ada Jodi.


“Wah-wah, sudah diusir dari taman, ternyata kalian pada ngumpet di sini,” kata seorang dari mereka yang berbadan paling besar.


“Tata! Ngapain kamu ada di sini?” pekik Jodi. Di sekolah, tidak akan ada yang menyangka Tata bergaul


dengan anak-anak yang mereka sebut ‘freak’.


Tata hanya bengong melihat tatapan Jodi dan teman-temannya. Tapi Ari sudah maju selangkah di depan Tata.


“Tata! Sini! Jangan dekat-dekat sama mereka!” teriak Jodi.


“Lagian, mending kalian bubar, sebelum aku laporkan kepala sekolah,” kata Drago sok cool.


Wira pun maju mendekati Drago dengan muka yang penuh emosi.


“Hei, kalau mau berantem, ayo berantem,” Kata anak berbadan besar,” Kita tunggu aja, siapa yang


dikeluarkan dari sekolah.”


Wira pun menghentikan langkahnya, walau matanya tambah nanar memandangi Drago dan kelompoknya.


“Tata…!” teriak Jodi sekali lagi sembari melambaikan tangannya menyuruh Tata bergabung dengan kelompoknya.


Tata hanya terpaku menggigit bibirnya. Dia beringsut sembunyi di belakang Ari. Lalu Toha maju ke depan, berdiri di samping Wira. Nara pun menyusul, berdiri di samping Toha.


“Jangan sok jagoan deh kalian!” kata anak berbadan besar sembari mengepalkan tangannya.


Tapi tiba-tiba Nara mendekap badan dengan tangannya. Sepertinya dia merasa kedinginan. Lalu di pintu penghubung ke toilet muncul sosok bongkok berwajah tengkorak. Nara, Toha, Wira dan Ari yang melihat sosok itu jadi tegang. Mereka pun mundur beberapa langkah karena sosok itu mulai bergerak mendekat. Sementara Drago dan kelompoknya yang tidak melihat sosok itu, tertawa terpingkal-pingkal melihat Ari dan teman-temannya yang kini sudah mundur sampai pojok belakang.


“Dasar freak lo semua,” kata anak berbadan besar di tengah tawanya.


“Udah freak, pecundang lagi,” tambah Drago.


Mereka tertawa semakin kencang. Kecuali Jodi. Dia hanya diam. Matanya nanar memandangi Tata yang sembunyi di belakang Ari. Lalu Ari dan teman-temannya terlihat tambah tegang. Bukan karena kelompok Drago yang kini di atas angin mem-bully mereka, tapi karena sosok bongkok berwajah tengkorak yang mulai berputar-putar di antara Drago dan kelompoknya. Sosok itu seperti sedang mengendus mereka satu per satu. Sementara Drago dan kelompoknya benar-benar tidak tahu akan kehadiran sosok itu. Justru mereka malah terus tertawa dan Jodi sepertinya sudah tak sabar untuk menjemput Tata. Tapi lama-lama sosok itu hanya berputar-putar di sekitar Jodi. Saat Jodi hendak melangkahkan kakinya mendekati Tata, sosok bongkok itu masuk ke badan Jodi. Dan tiba-tiba Jodi jadi berjalan bongkok layaknya kakek-kakek. Dia berputar-putar dengan tangan seperti membawa tongkat.


“Jodi, kenapa kamu?” tanya Drago yang mulai sadar ada yang aneh dengan Jodi.


Jodi masih berputar-putar di antara kelompoknya sembari terkekeh seperti kakek-kakek. Kelompok Drago yang


lain pun jadi kaget. Mereka mulai menjauhi Jodi. Tapi semakin mereka menjauhi Jodi, semakin Jodi mengejar mereka. Drago dan kelompoknya pun lari terbirit meninggalkan tempat itu. Sementara Jodi tetap mengejar mereka walau jalannya terseret-seret dengan badan bongkok.


Belum selesai ari dan teman-temannya dengan ketegangan atas apa yang mereka saksikan barusan, bel


masuk sudah berbunyi. Mereka pun membuat kesepakatan, apapun yang terjadi di sekolah hari ini, mereka harus berkumpul setelahnya. Pulang sekolah mereka akan berkumpul di mobil Nara. Dan Ari menyuruh Tata untuk langsung pulang saja. Sopir Tata pasti akan membuat masalah jika Tata ikut mereka. Nanti Tata akan dihubungi lewat telepon. Ari merasa masih membutuhkan kepintaran Tata untuk memberikan saran-sarannya.


Hari ini kekacauan benar-benar terjadi di sekolah. Hampir di tiap kelas ada anak yang kesurupan. Di kelas Ari, Boncel berteriak-teriak seperti anak kecil yang ditinggal ibunya. Ari, Toha, Wira dan Nara bisa melihat ada anak kecil gundul dan telanjang dada yang dari tadi keluar masuk badan Boncel. Guru-guru pun sibuk menenangkan murid-murid. Pak Solidin, guru agama senior, begitu kewalahan, kesana-kemari, menangani murid-murid yang kesurupan. Kegiatan belajar mengajar jadi terganggu. Lalu Kocik sang ketua kelas mendatangi Ari.


“Ri, bagaimana ini?” tanya Kocik dengan muka tegang sambil memandangi Boncel yang kebetulan sekarang sedang diam.


Ari yang ditanya begitu jadi seperti bingung sendiri. Dia pandangi Toha, Wira dan Nara. Sepertinya mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Lalu Ari melihat sekelilingnya. Teman-teman sekelasnya kini sudah mulai berkerumun di sekitarnya. Satu di benak Ari. Dia harus menyelamatkan mereka. Mereka pasti tidak mau mengalami apa yang dialami Boncel. Boncel terlihat sedang sadar ditemani Nara di sampingnya. Sosok anak gundul itu belum datang lagi.


“Sebaiknya kalian semua keluar dari sini,” kata Ari spontan.


“Maksud lo keluar sekolahan,” tanya Kocik.


“Iya, yang penting keluar dari pagar sekolah,” kata Ari lagi. Dia tahu, hantu-hantu yang ada di sekolahnya tidak akan bisa melewatinya. Orang-orang padepokan sudah membuat 'pagar’ di sana.

__ADS_1


Kocik langsung setuju dengan ide Ari. Lalu dia menyuruh teman-teman sekelasnya untuk sekalian berkemas dan siap-siap. Bagi yang bawa motor atau mobil, bisa dipikirkan nanti-nanti. Yang penting mereka keluar dulu dari sekolah. Lalu beberapa anak menanyakan, bagaimana nanti kalau guru-guru marah dengan apa yang akan mereka lakukan.


“Yang penting kita lakukan sama-sama,” kata Kocik,” Resikonya nanti kita tanggung sama-sama satu kelas!”


Tampaknya tidak ada yang tidak setuju dengan seruan Kocik. Ari pun mengisyaratkan untuk buru-buru bergerak mumpung Boncel masih sadar. Dengan setengah berlari, gerombolan kelas Ari berbondong meninggalkan kelas. Kocik memimpin mereka di depan. Sementara Ari membantu Nara yang memapah Boncel, diikuti Toha dan Wira di belakang. Sesekali Ari menoleh kanan kiri, berharap sosok anak gundul itu tidak mengikuti Boncel. Tapi walau tidak melihat anak gundul, Ari, Toha, Wira dan Nara beberapa kali melihat sosok-sosok yang berkelebat di sekitar mereka. Lalu salah satu guru yang sedang sibuk menenangkan murid-murid di kelas lain melihat mereka.


“Hei! Ini pada mau kemana kalian!” teriak guru itu.


“Mau pulang Bu!” teriak Kocik ngasal menjawab guru itu. Dia tetap mengajak teman-temannya untuk terus bergerak.


Sesampai mereka di halaman, ternyata gerbang sekolah masih digembok. Nara pun berinisiatif mencari Pak Min. Dia tahu gembok itu kuncinya di bawa Pak Min.


“Pak Min!” teriak Nara ketika melihat Pak Min melintas di taman.


Melihat Nara yang memanggil, Pak Min pun bergegas mendatanginya.


“Ada apa Neng?” tanya Pak Min.


“Pak Min, bukain gerbang dong,” pinta Nara,” temen-temen mau keluar, di dalam udah gawat.”


“Waduh Neng, barusan tadi, kunci yang saya bawa, diambil sama Pak Suman semua,” kata Pak Min polos.


Nara hanya menatap Pak Min seakan tak percaya. Lalu dia menoleh ke Ari yang sedari tadi ada di belakangnya. Tapi sepertinya Ari tidak terkejut akan hal ini.


“Kalau gitu kita lompat pagar aja!” cetus Ari tiba-tiba.


“Betul! Ayo kita lompat pagar!” teriak Kocik keras-keras.


Lalu Kocik mengajak teman-temannya menuju pagar. Mereka pun ramai-ramai melompat pagar. Mereka yang tidak bisa melompat pagar dibantu yang lainnya. Hingga semua sudah ada di luar pagar, kecuali empat orang, Ari, Toha, Wira dan Nara.


”Kita akan cari informasi dulu di dalam,” kata Ari, “Kalian jangan masuk dulu, mending pulang aja.”


Kocik mengangguk, dia percaya pada Ari dan kelompoknya. Lalu dia menganjurkan pada yang lain untuk


pulang saja. Sebenarnya buat Ari, ini lebih karena Tata masih ada di dalam sana. Dan tentu Toha berpikir hal yang sama tentang Astri. Lalu Ari, Toha, Wira dan Nara saling pandang. Mereka tahu, ini saatnya mereka harus berkumpul di mobil Nara.


Walau berempat mereka sudah ada di dalam mobil, tetapi rasa was-was tak pernah hilang dari perasaan mereka.


Apalagi barusan, dari kaca depan, terlihat sosok nenek-nenek yang melintas di antara mobil yang terparkir. Nenek-nenek itu menyeret karung yang penuh dengan bercak darah. Lalu Ari cepat-cepat bercerita pada tiga temannya tentang apapun yang teman-temannya belum pernah dengar darinya. Ari ceritakan semua, seperti semua yang Ari ceritakan ke Tata. Tentang Belinda, hantu bayangan, hantu mata satu bergigi panjang, tentang kakeknya dan tentunya juga tentang Pak Suman. Dan setelah itu, ketiga teman Ari hanya bisa bengong. Setelah lama tak saling bicara, banyak hal yang membuat mereka hampir-hampir tak percaya.


“Jadi semua berawal dari hantu bayangan...” Guman Toha.


“Dan sekarang dia menguasai Pak Suman!” Ujar Wira.


“Lorong bawah tanah itu memang akan selalu bikin masalah…” Kata Nara. Matanya menerawang, membayangkan peta yang dia pasang di kamarnya.


“Iya Ra, gue udah lihat peta lo,” kata Ari,” hantu bayangan ini dari pelabuhan. Buangannya keluarga Lisa.”


“Apa kita perlu bantuan orang padepokan?” tanya Toha.


“Pak Riza kan udah nggak di sini,” ujar Ari.


“Kita datengin padepokan aja, kayak dulu gue sama Nara,” cetus Toha,” Iya kan Ra? Kakek lo masih bisa bantu kan Ra?”


Nara hanya mengangguk. Tapi ada keraguan tersirat di wajahnya.


“Bukan masalah orang padepokan juga sih,” Ari menyela,” Waktu ada kejadian di lab komputer, mereka bersihin sekolah, tapi hantu bayangan ini nggak keambil juga.”

__ADS_1


“Kita tanya aja sama bokapnya Toha,” cetus Wira.


Toha pun melotot ke Wira.


“Gue udah dikasih tahu sama Lisa. Neneknya pernah buang hantu ini,” kata Ari,”Katanya pakai daun kelor.”


“Bokap juga sering bilang begitu,” tambah Toha.


“Tapi kata Lisa, daun kelornya harus dipipisin dulu sama perempuan yang masih perawan,” kata Ari.


“Ada-ada aja,” kata Wira spontan.


Sejenak mereka berempat terdiam. Lalu Ari dan Toha memandangi Nara.


“What…?” tanya Nara membalas pandangan Ari dan Toha.


Nara dan Wira pun saling lirik. Selanjutnya mereka berdua jadi salah tingkah.


“Kita cuma minta bantuan lo Ra,” kata Ari,” lo kan satu-satunya cewek di sini.”


“Mmm, bukannya gue nggak mau bantu, tapi…” Nara masih salah tingkah dan sepertinya ada sesuatu yang dia


sembunyikan,”Kenapa sih lo nggak minta bantuan Tata, Ri?” kata Nara lagi mencoba mengalihkan perhatian.


Suasana jadi serba kikuk.


“Kayaknya mending Tata aja deh Ri,” kata Toha memecah suasana. Karena dari tadi tidak ada yang bicara.


Ari pun melotot ke Toha. Toha cuma cengar-cengir. Tapi pada akhirnya Ari mengalah juga.


“Ok, gue nanti tanyain Tata,” kata Ari,” Mudah-mudahan dia mau bantu.


Yang lain pun jadi lega.


“Cuma gue musti tanya lagi ke Lisa,” tambah Ari,” waktu itu nenek Lisa gimana caranya…”


“Mending lo telpon Lisa sekarang,” cetus Wira.


Ari pun setuju, karena situasi sudah sangat mendesak. Tapi lama Ari hubungi Lisa dengan ponselnya, panggilannya tidak diangkat-angkat. Mungkin di sana Lisa sedang belajar di sekolah. Ini kan masih jam pelajaran.


“Nanti siang kita hubungi lagi…” kata Ari,” Sebenarnya gue lebih takut sama hantu yang diceritain Belinda…Kebetulan gue juga belum pernah lihat.”


“Yang katanya bermata satu dan bergigi panjang?” desis Nara.


“Iya, katanya dia nyariin Tata,” kata Ari dengan suara tertahan,” mungkin gara-gara kejadian di lab komputer waktu itu.”


“Bisa jadi sih Ri,” sahut Wira.


“Kata bokapnya Toha, dia kan ada di ruang kepala sekolah…” Guman Nara.


“Berarti dia deket dong sama kepala sekolah…” Wira memandangi Nara.


“Eh, tahu nggak sih… Tadi aneh nggak sih, si Pak Suman meriksain satu-satu murid-murid dari kelas ke kelas?” tanya Nara.


“Eh iya lho, gue baru inget,” ujar Toha,” Tadi sebelum ke belakang rumah Pak Min, gue ketemu Astri. Katanya Pak Suman juga meriksain murid-murid di kelas dia. Tapi sampai bangku dia, Pak Suman lama ngobrol di sana tentang projek KIR mereka selanjutnya. Tapi yang ditanya Tata terus bukan Astri.”


Ari pun menatap tajam Toha. Menghubung-hubungkan semua kemungkinan yang terjadi. Hantu mata satu bergigi panjang, lalu hantu bayangan, lalu Pak Suman, lalu Tata. Ari merasa sesuatu sedang mengincar Tata. Dan itu sudah sangat dekat.

__ADS_1


__ADS_2