Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 81 : Ari dan Penderitaan Ibunya


__ADS_3

Ari berdiri di trotoar depan sekolah bersama murid-murid lain yang mau pulang. Bus yang ditunggunya belum datang. Di antara bising jalanan, Ari mendengar ponselnya berdering. Ternyata ada panggilan dari Tata. Ari langsung mengangkatnya.


“Halo Ta, kamu dimana?” Tanya Ari seketika.


“Ri, coba kamu ke deket pagar deh…” Pinta Tata di ponsel Ari.


Ari sempat bingung. Dia pun berjalan merapat ke pagar sekolah. Dari sana Ari bisa melihat area parkir yang sudah mulai kosong. Dan tak jauh dari tempatnya berdiri, Ari melihat mobil Tata. Jendela belakangnya terbuka. Tata terlihat di dalam sedang melambaikan tangannya ke Ari. Tangan satunya masih memegang ponsel. Dari jauh Ari bisa melihat senyum ceria Tata.


“Tadi aku lihat kamu di trotoar, jadi aku langsung telpon kamu…” suara Tata begitu riang di ponsel Ari.


“Terus mama kamu mana?” tanya Ari khawatir.


“Mamaku masih di dalam, masih ngobrol sama ibu-ibu lain,” jawab Tata.


“Ta, selamat ya kamu dapat ranking dua.”


“Kamu dong Ri yang selamat, kamu kan dapat ranking satu.”


“Kok kamu tahu Ta?”


“Nara tadi yang message ke aku… Jadi dong nanti kita masuk ke universitas favorit…”


“Iya… Jadi sih Ta…”


“Kok kayak nggak yakin gitu sih Ri? Yakin dong… kamu pasti bisa Ri…”


“Iya Ta.”


“Janji?”


“Janji Ta.”


“Demi apa?”


“Mmm… Demi kamu dong…”


Ari sebenarnya tidak yakin. Dapat ranking satu saja Ari masih belum percaya. Memang selama ini Ari selalu berusaha untuk belajar keras. Tapi Ari merasa senang bisa membuat Tata ceria dengan janji-janjinya. Dari jauh Ari melihat Tata menatapnya dengan senyum yang makin lebar.


Eh Ri, katanya kalian sudah mulai terapi ya?”


“Terapi?”


“Iya Ri, banyak yang lihat kalian dibawa Pak Riza ke gudang bawah tanah.”


“Mmm… Iya sih…


“Terus gimana Ri…”


“Mmm… Ya gitu sih…”


“Ya gitu gimana sih Ri…”


“Mmm… Sebenarnya kita nggak boleh bilang sama siapa-siapa Ta…”


“Jadi kamu nggak mau cerita ke aku Ri?”


“Ya perintahnya memang gitu Ta…”


“….”


“Ta, kamu nggak apa-apa kan?”


“Kamu tahu nggak Ri…”


“Kenapa Ta?”


“Kalau ada sesuatu yang kamu rahasiakan ke aku… Aku merasa kehilangan kamu…”


Lalu Tata terlihat menurunkan ponselnya. Dari jauh Ari bisa melihat perubahan wajah Tata yang sayu.


“Ta… Halo Ta… Ta, angkat teleponnya…”


Tata masih menatap Ari dengan wajah sayunya. Ari mencoba memberikan isarat dengan tangannya agar Tata maumengangkat ponselnya. Karena saat ini justru Ari yang merasa takut kehilangan Tata. Tak berapa lama, Tata mengangkat lagi ponselnya.


“Ta, aku akan ceritakan semuanya, tapi janji kamu nggak cerita siapa-siapa kalau aku kasih tahu ke kamu, termasuk ke Toha, Wira sama Nara.”


“Iya, aku janji Ri.”


Lalu Ari cerita semua ke Tata tentang pertemuan mereka di gudang bawah tanah.


“Jadi kamu ketemu Kak Karin yang nulis buku tentang anak indigo itu?” tanya Tata.

__ADS_1


“Iya Ta. Kak Karin orangnya ramah dan sabar. Dan dia tahu kalau aku akan lihat sesuatu yang terbang di sekitar sekolah.”


“Sesuatu yang terbang?”


“Iya Ta. Tadi di halaman sekolah aku lihat bola api terbang.”


“Serem juga ya Ri… Tapi kan ada orang padepokan… ada Bang Yudha yang magarin sekolah kita.”


“Iya sih Ta… Tapi aku agak nggak yakin…”


“Kenapa?”


“Karena bola api ini bisa terbang…”


Lalu Ibu Tata terlihat sedang berjalan ke area parkir bersama rombongan ibu-ibu lainnya. Ari dan Tata pun cepat-cepat menyudahi percakapan mereka. Kebetulan bus yang akan ditumpangi Ari sudah datang. Ari bergegas naik bus. Saat bus mulai jalan, diantara orang yang berjejal di dalam bus, Ari bisa melihat mobil Tata di parkiran. Dan Tata masih terlihat di dalam mobil memandang ke arah Ari.


***


Malam ini Ari ada depan meja belajarnya. Bukan untuk belajar, tetapi untuk memilah buku paket untuk dikembalikan ke sekolah awal semester bulan depan. Dari tadi beberapa kali Ari melirik ke jendela kamarnya. Di luar hujan mulai deras. Ari tidak kaget kalau ada yang akan datang malam ini. Dia sudah mulai mencium bau melati. Ari merasa, satu sosok sudah duduk rapi di ranjangnya.


“Belinda…” Ari berusaha menyapa sembari masih meneruskan pekerjaannya memilah buku.


“Banyak yang sedang menuju ke rumah sakit,” Pelan Belinda bersuara.


Ari tahu, yang dimaksud rumah sakit oleh Belinda adalah sekolahnya.


“Lewat jalan raya?” Ari mencoba bertanya sembari masih memilah buku.


“Mereka mau perang,” Suara Belinda lebih keras kali ini.


Ari sempat berhenti memilah buku.


“Berapa banyak?” tanya Ari. Kali ini nadanya serius.


“Ratusan,” jawab Belinda.


Ari pun berdiri menghadap Belinda, mendapati tatapan tajam mata merah birunya. Ratusan sosok mau perang menuju sekolahnya membuat Ari mulai serius menghadapi Belinda.


“Mereka dari pelabuhan?” tanya Ari serius.


Belinda mengangguk. Tatapan matanya masih tajam.


“Sudah pada masuk,” tanya Ari penuh kekhawatiran.


Ari kini tahu, pagar yang dibuat orang padepokan benar-benar tidak bisa ditembus.


“Soalnya ada yang mati di rumah sakit,” kata Belinda yang mulai berdiri memandang ke arah jendela.


Tata pernah tanpa sengaja membunuh hantu bertangan dan berkaki empat di laboratorium komputer. Ari membunuh hantu mata satu bertaring panjang saat menyelamatkan Tata di laboratorium kimia. Dan Wira dengan cincinnya membuat hantu bersayap kelelawar terbunuh.


“Siapa yang dicari di rumah sakit?” Ari mencoba melontarkan pertanyaan saat Belinda mulai berjalan ke arah jendela.


“Mana aku tahu,” jawab Belinda disusul tawa cekikikannya.


Ari sudah terbiasa dengan tawa itu.


“Kamu tahu bola api yang ada di rumah sakit?” tanya Ari lagi sebelum Belinda sampai ke jendela.


Belinda menoleh ke Ari dengan tatapan tajamnya. Sepertinya dia tidak tahu menahu tentang apa yang Ari tanyakan.


“Mau ikut?” Belinda mengulurkan tangannya.


Ari menggelengkan kepala. Wajah Belinda cemberut. Lalu dia hilang menembus jendela. Tak berapa lama pintu kamar Ari terbuka.


“Ari kamu bicara sama siapa tadi?” tanya ibu Ari yang sudah di depan pintu.


“Mmm… Sama Tata Ma… Tadi Tata telpon…” jawab Ari gugup. Dia tidak mau ibunya khawatir.


Ibu Ari duduk di bangku. Dia tahu Ari bohong untuk menenangkan ibunya.


“Gimana kabarnya Tata?” tanya ibu Ari.


“Baik, Ma,” jawab Ari sembari membereskan lagi bukunya.


“Kapan dia mau main ke sini lagi?” tanya ibu Ari,”Bilang, Mama kangen sama Tata.”


“Dia kan susah ke sininya Ma,” cetus Ari.


“Sekali aja Mama pengen lihat Tata… Sebelum…” Ibu Ari tidak meneruskan kata-katanya.


“Sebelum apa Ma?” Ari melirik ibunya. Melihat bulir-bulir peluh di dahinya.

__ADS_1


“Ya… Sebelum Mama bosen masak buat kamu,” jawab ibu Ari.


“Apaan sih Ma…” Ari menganggap ibunya tidak serius.


“Mama mau ngejahit lagi,” agak susah ibu Ari berdiri.


“Mama harusnya istirahat,” kata Ari yang barusan kelar merapikan bukunya.


“Soalnya hari Minggu mau diambil jahitannya,” Ibu Ari mencoba menggerakkan kakinya. Tapi baru beberapa langkah dia terjatuh.


“Mama!” Ari langsung menghampiri ibunya, memapah dan membawa ke kamar ibunya.


Ari menidurkan ibunya di ranjang. Lalu dia mengambil obat-obatan ibunya dan segelas air. Setelah minum obat ibu Ari yang tadinya pucat, kini terlihat sedikit segar.


“Udah, pokoknya sekarang Mama harus istirahat, nggak boleh ngejahit dulu,” kata Ari.


“Tapi hari minggu jahitannya mau diambil Ri.”


“Bilang aja Mama sakit, minta jadwalnya diundur.”


“Mana bisa kayak gitu Ri.”


“Bisa lah Ma, daripada Mama tambah sakit.”


“Iya Ri… Iya.”


Lalu Ari membetulkan selimut yang menutup badan ibunya.


“Ri, tahu nggak?” kata ibu Ari,”Tadi malam Mama mimpi kakekmu lagi.”


“Mimpi kakek kayak gimana Ma?”


“Dia pakai baju yang dulu biasa dia pakai, di tangannya ada setangkai bunga, terus dia senyum ke Mama. Perasaan seumur-umur Mama belum pernah melihat kakekmu tersenyum kayak gitu.”


Ari tertegun memandangi ibunya. Ari jadi teringat pertemuan dengan kakeknya waktu itu.


“Kenapa Ri?”


“Mmm… Ma… Sebetulnya Ari pernah ketemu Kakek…”


“Kapan Ri?”


“Ya… dua minggu yang lalu lah Ma… Waktu Ari ke kuburan Papa.”


Ibu Ari sepertinya tidak terlalu terkejut. Entah kapan, kakek Ari pasti akan menemui cucunya.


“Kakek kayaknya pengen minta maaf sama Mama… Sama nenek juga,” Kata Ari.


Ibu Ari mengangguk pelan. Justru dia merasa lega, Ari sudah bertemu kakeknya. Sejak dia tahu Ari berbeda dengan anak lainnya, Ari memang harus bertemu kakeknya.


“Ri… Siapapun nanti jodoh kamu… Mau itu Tata atau yang lain… Kamu harus care sama dia.”


Ari hanya memandangi Ibunya. Dia tahu, ibunya tidak ingin dia seperti kakeknya yang telah menyia-nyiakan neneknya.”


“Tapi Mama tahu kok… Mama lihat kamu care banget sama Tata… Kamu itu perpaduan papa kamu  sama kakek kamu.”


Ibu Ari memandangi anaknya. Suatu saat anak yang berbeda ini akan tumbuh dewasa.


“Ri, janji sama Mama… Apapun yang membuat kamu berbeda sama orang lain, jadikan itu kelebihan kamu. Terus jika kamu meresa kamu punya kelebihan, kamu harus gunakan itu untuk menolong orang lain..”


“Iya, Ari janji Ma…”


Ari pun mulai beranjak dari ranjang ibunya. Tetapi sesuatu ingin dia katakan pada ibunya.


“Ma… Ari tahu Ma, papa bunuh diri karena dipengaruhi sesuatu…”


“Iya Ri… Mama harap juga begitu. Mama tahu betul gimana papa. Nggak mungkin papa bisa sampai bunuh diri.”


Ibu Ari bersyukur Ari punya kelebihan. Walau Ibu Ari tidak tahu menahu dan dia tidak ingin tahu, dia berharap Ari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Mama pengen tahu kejadiannya?” tanya Ari. Hantu lidah menjulur kini sudah ada di kepalanya.


Ibu Ari menggeleng pelan.


“Percuma Ri, itu tidak akan mengembalikan papa kamu.”


Ari jadi ingat perkataan kakeknya. Untuk saat ini dia akan lebih memperhatikan ibunya. Dia ingin Ibunya sehat kembali. Dia akan berusaha melupakan hantu yang selalu ada di kepalanya.


“Ma… Mama kangen sama Papa?” Ari bersuara.


Ibu Ari menatap anaknya. Sepertinya susah buatnya untuk bisa menjawab pertanyaan anaknya. Matanya pun mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


“Setiap hari Ri… “ suara Ibu Ari tertahan,” Mama selalu ingat papa… Mama selalu merasa, papa itu masih ada… Dan kalau mama sadar… Mama begitu merasa kehilangan…”


Ari langsung memeluk ibunya. Merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan ibunya. Bukan lagi karena masalah pekerjaan menjahit yang membuat ibunya kurang sehat. Tetapi rasa kehilangan akan papanya yang selalu menggelayuti ibunya. Ari jadi mengerti bagaimana rasanya kehilangan seseorang. Dan dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika suatu saat dia harus kehilangan Tata.


__ADS_2