Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 29 : Ruang Penyimpanan Matras yang Penuh Belatung


__ADS_3

Malam ini Ari duduk di depan meja belajarnya. Tapi dia tidak


sedang belajar karena besok libur. Setelah terima rapot, sekolah diliburkan


selama seminggu. Hampir satu jam, Ari serius memandangi foto yang diberikan


Nara tadi siang. Foto yang diambil ibu Nara 30 tahun yang lalu. Foto gambar


denah sekolah Ari yang sudah tua dari jaman Belanda. Ada beberapa foto yang


diberikan Nara. Satu foto menunjukkan keterangan di bawah denah tertulis tahun


1936. Yang menjadi perhatian Ari adalah foto bagian denah yang menunjukkan


ruang bawah tanah. Ari tahu karena di balik foto itu ada tulisan ibu Nara : RUANG BAWAH TANAH. Ada gambar empat persegi panjang yang menunjukkan ruang bawah tanah itu. Di tengahnya ada


keterangan bahasa Belanda : Der kelder.


Ruang itu sekarang sudah jadi laboratorium komputer. Ada dua garis panjang yang


terhubung ke ruang bawah tanah. Ari yakin itu adalah lorong yang di salinan


denah sekarang sudah dihapus. Lorong itu sekarang ditutup. Ari membayangkan


lorong itu terhubung ke salah satu dinding yang sekarang dipakai untuk


menggantung papan tulis. Dari sanalah hantu kaki kuda dan gerombolannya waktu


itu keluar. Tapi benar apa kata Toha, lorong itu sudah diamankan oleh orang-orang


berbaju putih. Lorong itu tergambar panjang sampai batas kertas gambar. Kalau


melihat tanda mata angin dia mengarah ke utara. Ari mulai memincingkan matanya.


Karena ada garis yang agak kabur yang terhubung dengan lorong. Garis itu


seperti gambar lorong lain, tapi dia mengarah ke barat. Tapi Ari tidak yakin karena


garis itu agak kabur dan gambar itu terlalu kecil di foto ukuran postcard. Ari


pun menghubungi nomor Nara.


“Halo Ra, belom tidur lo?” kata Ari setelah tersambung


dengan Nara.


“Belom, lagi baca-baca aja. Kenapa Ri?” tanya Nara di ponsel


Ari.


“Ra, kamu ada scanner nggak?”


“Ada, di ruang kerja mama.”


“Ra, gue barusan lihat di foto mama kamu, kayaknya ada


lorong lain deh di gambar denahnya.”


“Beneran lo?”


“Makanya kalau nanti discan, kan bisa diperbesar di


komputer.”


“Ya udah, kapan kamu ke sini buat scan?”


“Besok paling. Ntar aku bawa foto-foto mama kamu.”


“Ajak juga Toha sama Wira.”


“Iya, ntar kukabarin mereka.”


Esok harinya, Ari, Toha, Wira dan Nara sudah berkumpul di


ruang kerja ibu Nara. Kebetulan ibu Nara masih ada di Amerika. Mereka sudah


scan foto ibu Nara yang ada gambar denah ruang bawah tanah. Lalu mereka lihat


gambar itu di komputer. Nara mulai perbesar gambar itu sampai beberapa kali.


“Nih, lihat nggak?” kata Ari menunjukkan ke teman-temannya.


Gambar yang dia kira ada lorong lain kini terlihat jelas. “Ada lorong lain yang


mengarah ke sini.”


“Emang itu gambar lorong?” tanya Toha.


“Iya, karena dia masih terhubung sama lorong yang satunya


dan lebarnya dua-duanya sama,” kata Ari mempertahankan pendapatnya.


“Jadi lorong itu bercabang ya,” desis Nara.


“Kalau yang satu arahnya ke basement, yang ini kemana?” Wira


memunculkan pertanyaan.


“Coba kita lihat,” kata Nara sambil menggeser gambar di


komputer dengan mousenya. “Tuh, dia ujungnya ada di sini!”


“Kalau ujungnya di situ, berarti dia ada di… “ Wira mencoba mengkira-kira


posisi ujung gambar lorong itu.


“Itu kan aula,” cetus Ari.


“Iya, ini Aula,” kata Nara menunjuk gambar denah besar


dengan keterangan bahasa Belanda : De Hal.

__ADS_1


“Iya, jaman dulu belum ada sekat-sekatnya,” kata Ari.


“Tapi tuh, posisi lorongnya ujungnya di situ!” Wira menunjuk


gambar di monitor.


“Di situ kan sekarang ada ruang penyimpanan buat matras!”


cetus Ari.


Mereka berempat pun saling berpandangan. Ari pernah merasa


melihat kucing hitam dan menghilang di sana. Dan kucing itu muncul saat mereka


mencari sosok perempuan cantik memakai bunga di mobil Tata.


“Terus apa hubungannya sama genteng yang pada jatuh?” Nara


bersuara.


Tapi tampaknya tidak ada jawaban yang bisa keluar dari otak


mereka.


“Eh, ngomong-ngomong Pak Min gimana ya? Kasihan juga dia,”


Toha mengalihkan pembicaraan.


“Gimana kalau kita kunjungin dia,” cetus Ari. “Sekalian


nanya-nanya. Kali dia ada informasi.”


“Iya, sekalian nanti aku bawain makanan buat dia,” kata Nara.


Mereka pun sepakat untuk bertemu Pak Min. Ari, Toha dan Wira


duduk di ruang tamu menunggu Nara menyiapkan makanan.


“Kayaknya gue bener-bener naksir Nara deh,” Wira buka suara.


Ari dan Toha serius memandang Wira.


“Ya udah, lo bilang aja ke dia,” kata Toha.


“Iye maunya begitu. Tapi justru itu yang bikin gue pusing,” kata


Wira.


“Emang kenapa?” tanya Toha.


“Gue kan udah dijodohin,” jawab Wira dengan suara pelan.


“Hari gini emang masih ada orang dijodohin?” tanya Toha.


“Ah, lo nggak tahu keluarga gue sih. Keluarga gue kan masih


keturunan ningrat,” kata Wira.


“Iye, kayak gitu deh,” jawab Wira.


Lalu Nara keluar dengan membawa sebungkus makanan. Dia sudah


memakai jaketnya.


“Ada apa sih?” tanya Nara melihat wajah-wajah aneh ketiga


teman cowoknya.


“Nggak ada apa-apa,” sahut Ari. “Mending kita langsung


berangkat aja deh.”


Mereka berempat pun berangkat menuju sekolah memakai mobil


Nara. Sampai di sekolah, mereka langsung ke rumah Pak Min. Pak Min sedang duduk


di ruang tamu. Tapi tangan kirinya masih diikat kain. Nara menyerahkan makanan


yang dia bawa ke Pak Min.


“Wah terima kasih ya Neng Nara,” kata Pak Min.


“Iya cepet sembuh ya Pak Min,” kata Nara.


“Untung sekolah libur ya Pak Min. Jadi Pak Min bisa


istirahat,” tambah Toha.


“Nggak juga Ha, sekolah kan harus dibersihin setiap hari,”


kata Pak Min.


“Pak Min, sebelum jatuh, emang Pak Min ada lihat hal-hal


yang aneh-aneh nggak?” tanya Ari tanpa basa-basi.


“Nggak juga sih,” jawab Pak Min. “Tapi tadi malem waktu saya


ngecek pintu, itu kelelawar banyak banget pada terbang. Terus ada bau bangkai.


Kali ada tikus mati atau apa. Tapi saya cari-cari nggak ada. Tapi itu bau ada


di banyak tempat sih. Emang itu banyak kali tikus yang mati. Siang ini musti


saya cek.”


Setelah sedikit basa-basi, Ari, Toha, Wira dan Nara minta


ijin Pak Min untuk masuk halaman sekolah. Mereka bilang mau ambil foto-foto


buat tugas sekolah. Lalu mereka langsung menuju ke aula. Sampai di depan pintu

__ADS_1


aula mereka berhenti. Karena di sana bau busuk begitu menusuk hidung.”


“Ih, bau banget,” kata Nara menutup hidungnya.


“Kaya bau bangkai,” kata Toha.


“Asal baunya dari dalem,” kata Ari.


Mereka berempat sempat saling berpandangan. Mereka masih


ingat tentang gambar lorong yang berujung di ruang penyimpanan matras. Ari


memberanikan diri masuk ke aula. Ketiga temannya pun mengikutinya. Dan benar


juga, sampai di depan pintu penyimpanan matras, bau bangkai itu semakin


menusuk. Ari, Toha dan Wira sempat melihat Nara. Tapi sepertinya Nara baik-baik


saja. Tudung jaketnya tidak dipakai.


“Baunya dari dalem,” kata Ari.


“Tapi itu pintunya digembok,” kata Wira menunjuk gembok di


pintu penyimpanan matras.


“Iya, kita bilang aja ke Pak Min. Dia pasti punya kuncinya,”


kata Ari.


Lalu mereka memberitahu Pak Min tentang bau bangkai di dalam


ruang penyimpanan matras. Pak Min pun menuju ke sana dengan membawa 1 set


kunci. Setelah memilih kunci yang cocok, Pak Min pun mulai membuka gemboknya.


“Tikus bikin kerjaan aja!” Pak Min menggerutu,”Ini tikus apa


kucing ya yang mati, bau banget!”


“Hati-hati Pak Min,” kata Toha khawatir.


Ari, Wira dan Nara juga terlihat khawatir. Mereka tahu apa


yang ada di bawah ruang penyimpanan matras. Dan bau busuk yang menyengat


menyeruak begitu pintu terbuka. Waktu lampu dinyalakan, terlihat tumpukan


matras di sana. Dan di atas matras-matras itu bergelimpangan belatung-belatung


yang menggeliat di permukaan kainnya. Sambil masih menggerutu Pak Min mulai


mengangkat satu persatu matras yang ada di dalam.


“Pak Min aku bantuin ya,” kata Toha. Dia kasihan sama Pak


Min, karena satu tangannya masih dililit kain.


“Wah makasih Ha,” kata Pak Min. “Hati-hati, takut ada


bangkai di bawahnya.”


Toha, Ari dan Wira pun membantu Pak Min mengeluarkan semua matras


keluar ruangan. Kadang mereka harus menahan nafas karena bau bangkai yang


menyengat. Tapi saat matras sudah dikeluarkan semua, mereka tidak menemukan


apa-apa. Tidak ada bangkai. Tidak ada benda berbau busuk. Ari sempat masuk ke


ruangan yang sudah kosong itu. Dia coba-coba menginjak lantai di bawahnya. Ari


merasa bunyinya berbeda. Seperti ada ruang kosong di bawah lantai. Tanpa Ari


sadari, ada satu belatung yang jatuh di pundak Ari.


“Ri, ada belatung di pundak lo!” kata Toha menunjuk ke


pundak Ari.


Ari pun menyingkirkan binatang kecil yang menggeliat itu.


Tapi di lantai terlihat belatung-belatung lain yang pada berjatuhan.


“Itu, asalnya dari atas,” kata Wira menunjuk ke arah


langit-langit.


Di langit-langit ada satu bagian yang tampak menghitam dan


membusuk. Dan dari sela-sela seratnya yang membusuk keluar belatung-belatung


yang berjatuhan ke lantai.


“Pak Min, bangkainya ada di atas,” kata Toha ke Pak Min.


Lalu Pak Min mengambil tangga dan mulai membongkar bagian


langit-langit yang membusuk itu. Hati-hati Pak Min mengeluarkan bagian


langit-langit itu. Saat diletakkan di luar, ternyata tidak ada apa-apa di sana.


Cuma bagian langit-langit yang membusuk dan penuh belatung. Tanpa pikir panjang


Pak Min cepat-cepat membakarnya. Ari sempat melihat lagi ke dalam ruang


penyimpanan matras. Dia susurkan pandangannya ke semua arah. Tetapi dia tidak


melihat sesuatu. Ari memandangi Toha, Wira dan Nara, tapi sepertinya mereka


juga tidak merasakan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2