Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 51 : Bercak Hitam yang Berbentuk Sosok Bertangan dan Berkaki Panjang


__ADS_3

Hari ini hari Rabu. Hari ini Ari harus bicara dengan Lisa.


Tapi Ari tidak tahu apa yang harus diomongkan. Seperti biasa, pagi-pagi Ari


berkumpul dengan Toha, Wira dan Nara di taman.


“Udah, bilang aja ke Lisa, suruh tinggalin hantu-hantunya di


rumah. Jangan dibawa ke sekolah” kata Toha.


“Nggak bisa gitu juga Ha,”Sergah Wira,”Emang sih, Tata bisa lihat


semua hantu-hantu itu… Tapi kan itu masih sebatas pendapat Tata.”


Ari masih diam. Walau seratus persen dia akan percaya Tata,


tapi pendapat Wira ada benarnya.


“Kalau nggak, lo terus terang aja Ri. Bilang ke Lisa apa


yang dilihat Tata,”kata Nara,” Terus lo tanya deh pendapatnya si Lisa.”


Ari merasa Nara selalu punya ide yang jitu. Dia akan


menuruti kata-kata Nara. Dan minimal dia bisa mengembalikan cincin Lisa.


“Tapi ntar gue ikut ya Ri,” kata Nara,”Gue penasaran. Gue


pengen foto Lisa dari jauh. Penget tahu, ketangkep nggak anak yang tangannya


item itu.”


Sebenarnya Ari agak ragu. Tapi dia mengiyakan.


“Gue juga ikut,”kata Toha.


“Kita kan satu komplotan,” tambah Wira.


Jam istirahat pertama, Ari, Toha, Wira dan Nara buru-buru


keluar kelas. Nara sudah membawa kameranya. Tapi mereka tidak menuju ke kelas


10. Ari tahu\, hari Rabu\, sebelum jam istirahat pertama\, Lisa ada pelajaran


komputer. Tapi baru beberapa saat mereka berjalan di lorong kelas, sesuatu


menghentikan langkah mereka. Mereka berempat sempat kaget, karena tiba-tiba ada


anak perempuan berlari di depan mereka. Dan mereka yakin, itu anak perempuan


yang tangannya hitam. Mereka berusaha menenangkan diri. Karena tidak seorangpun


murid yang lalu lalang di lorong melihat anak itu. Nara pun sudah memakai


tudung jaketnya. Anak itu sudah tak terlihat. Tapi sekilas tadi mereka sempat


perhatikan wajah anak itu seperti ketakutan. Lalu di lorong seberang, sekelebat


terlihat wanita dengan baju serba hitam di antara kerumunan murid. Rambut


wanita itu melayang ke atas. Dia bergerak cepat seperti tanpa melangkah dan


menghilang di ujung lorong. Lalu di saat hampir bersamaan, di lorong lantai 2, terlihat


wanita dengan baju Belanda berjalan mundur. Wanita itu berkelebat cepat dan


menghilang tepat di depan ruang ekstrakurikuler band. Ari melihat ketiga


temannya. Wajah mereka terlihat pucat. Sebelumnya mereka hanya melihat wanita rambut


melayang dan noni Belanda itu di gambar Ari dan di rekaman CCTV. Kini mereka


berempat bisa melihatnya. Nara sempat berpegangan pada Wira. Sementara ketiga


temannya masih shock, Ari justru buru-buru menuju laboratorium komputer. Ia


merasa ada sesuatu terjadi pada Lisa. Dan benar saja, baru sampai di depan


laboratorium komputer, Ari melihat kerumunan murid di sana. Lalu serombongan


murid terlihat keluar dari laboratorium membopong seorang anak perempuan. Dan


setelah dekat, Ari tahu anak perempuan itu Lisa. Sepertinya Lisa pingsan lagi.


Ari langsung meringsek berbaur dengan rombongan yang membopong Lisa. Toha, Wira


dan Nara pun sudah menyusul Ari. Tapi saat berjalan menuju UKS bersama


rombongan itu, perasaan Ari tidak enak. Dia merasa ada sesuatu tidak jauh-jauh


dari dirinya. Dan perasaan itu begitu kuat. Lalu Ari mencium bau bangkai. Ari


melihat Nara semakin ketat melipatkan tangan di dadanya. Badannya terlihat


menggigil. Ari mendekat pada ketiga temannya.


“Kalian cium bau bangkai?” tanya Ari dengan suara berbisik.


“Iya bau banget,”jawab Toha.


“Sejak dari depan lab komputer tadi,”tambah Wira.


Lalu rombongan sampai di UKS. Lisa sudah dimasukkan ke


ruangan dan langsung dibaringkan ke salah satu ranjang. Ari berpikir, mungkin


dia akan melakukan apa yang pernah dia lakukan sebelumnya. Pura-pura sakit


untuk menemani Lisa di dalam sana. Tapi sebelum melakukan niatnya, Ari melihat


sesuatu yang janggal. Rombongan yang membopong Lisa tadi sudah pada keluar.

__ADS_1


Tapi di antara mereka ada satu murid laki-laki yang memakai baju putih-putih,


bukan putih-abu-abu. Dan Ari merasa tidak bisa melihat bagian kakinya. Anak itu


mengikuti rombongan murid lain berjalan menuju kelas 10. Saat dia tak jauh


melewati Ari, bau bangkai semakin tajam tercium oleh Ari. Ari memperhatikan


ketiga temannya. Dari tingkah mereka yang seperti mencari arah bau, Ari yakin


mereka pun mencium bau bangkai yang tambah menyengat, tapi mereka tidak melihat


anak berbaju putih-putih yang tidak terlihat kakinya itu. Ari pun memutuskan tidak


akan masuk UKS. Ari berusaha mengikuti rombongan murid yang membopong Lisa


tadi. Tapi perhatiannya hanya tertuju pada anak yang memakai baju putih-putih.


Toha, Wira dan Nara sudah menyusul Ari. Mereka tahu, Ari sedang melihat


sesuatu. Mereka hanya mencium bau bangkai yang tambah menyengat. Saat rombongan


murid lain masuk lorong kelas 10, anak berbaju putih-putih itu berbelok ke arah


lain. Ari pun berusaha menjaga jarak dan mengikutinya dari belakang. Dan dengan


tidak adanya rombongan murid yang tadi, Ari jadi bisa memperhatikan tangannya.


Langkah Ari sempat tertahan, karena dia bisa melihat tangan anak itu. Dan di


salah satu jari anak itu, Ari melihat cincin melingkar di sana. Cincin itu


bermotif bintang, sama seperti yang diberikan Lisa padanya. Setelah beberapa


saat berjalan, Ari tahu anak itu sedang menuju ke laboratorium komputer. Lalu


Ari melihat anak itu seperti menembus masuk pintuk laboratorium yang tertutup.


Ari sebenarnya punya niat untuk masuk ke sana, tapi bel masuk sudah berbunyi.


Saat istirahat kedua, Ari, Toha, Wira dan Nara berjalan


bergegas menuju laboratorium komputer. Sebelumnya Ari sudah menceritakan pada


ketiga temannya mengenai anak berbaju putih-putih yang tidak terlihat kakinya.


Juga mengenai cincin yang ada di jarinya. Situasi jadi semakin rumit buat


mereka. Selain cerita Tata mengenai 4 hantu yang mengikuti Lisa. Kini ada lagi


sesuatu muncul. Sesampai di depan laboratorium komputer, mereka melihat pintu


laboratorium terbuka.


“Yakin kita akan masuk ke sana Ri?” tanya Nara dengan suara


gemetar karena badannya mulai menggigil kedinginan. Sementara bau bangkai sudah


“Iya,”jawab Ari tanpa ragu,”mungkin dia ada hubungannya sama


sesuatu yang narik Lisa, terus ada yang keluar dari sarangnya,” Ari ingat


kata-kata hantu yang menyaru seperti Lisa.


“Mungkin yang dimaksud sarang itu… lorong yang terhubung


sama lab komputer,” kata Nara sembari menahan dingin.


“Bisa jadi,” kata Ari setuju dengan Nara.


“Tapi kan lorong itu udah dikasih perlindungan sama orang


padepokan,” sanggah Toha.


“Mending lo tunggu di sini aja deh Ra,” kata Wira,”Biar kita


bertiga aja yang masuk ke sana,” Wira sudah tidak sabar dengan rasa


penasarannya.


Nara sebenarnya ingin masuk. Tapi semakin dia mendekat ke


laboratorium komputer, badannya makin terasa dingin. Akhirnya dia hanya bisa


memandangi ketiga temannya berjingkat masuk ke sana. Saat Ari, Toha dan Wira


masuk ke laboratorium, bau bangkai makin menyengat. Tapi yang ini mereka rasa


baunya telah bercampur dengan udara di dalam ruangan. Dan mereka bertiga heran,


di dalam ruangan sudah ada Pak Min sedang menaiki tangga, membongkar-bongkar


langit-langit.


“Pak Min… Ada apa Pak Min,”Cepat-cepat Toha mencoba menyapa.


“Eh kamu Ha…” Pak Min baru sadar ada orang masuk,”Ini ada


Bangkai tikus apa kucing, bau banget.”kata Pak Min sambil membongkar satu lagi


panel langit-langit. Lalu dia melongok ke lubang langit-langit mencari asal


bau.


Ari, Toha dan Wira saling bepandangan. Perhatian mereka kini


mengarah ke papan tulis yang tertempel di salah satu dinding. Dinding yang


menyekat lorong bawah tanah dengan ruang komputer. Pelan mereka mendekat ke


papan tulis. Dan benar, bau bangkai semakin menyengat. Sampai mereka harus

__ADS_1


menutup hidung begitu berada di depan papan tulis.


“Pak Min, baunya ada di balik papak tulis,” kata Ari ke Pak


Min.


Pak Min pun memperhatikan mereka bertiga. Karena tidak


terpikirkan olehnya ada bangkai di balik papan tulis. Tapi karena sudah putus


asa mencari asal bau di langit-langit, dia pun turun tangga dan menuju ke papan


tulis. Sampai di depan papan tulis, dia ikut menutup hidung seperti yang


lainnya.


“Emang bisa ada bangkai di belakang situ?” kata Pak Min


masih bingung sembari memandangi papan tulis.


“Mungkin tikusnya kecil-kecil Pak Min,” kata Toha ngasal.


“Mungkin ada lubang tikus,” kata Ari menambahkan. Ari ingin


Pak Min lekas membongkar papan tulis itu. Karena sebelumnya mereka pernah


melihat dinding yang menghitam di balik papan tulis dengan harus susah payah


mengangkat ujung papan tulis.”


Akhirnya Pak Min membongkar papan tulis itu. Mencopotnya


dari dinding. Dan setelah papan tulis disingkirkan, bau bangkai semakin


menyengat, sampai Toha berlari keluar karena ingin muntah. Dan di dinding itu


kini benar-benar terlihat bercak hitam yang pernah Ari, Toha, Wira dan Nara sebelumnya


lihat. Tapi sekarang bercak hitam itu semakin membesar, tampak basah dan


berlendir. Dan di beberapa tempat yang menghitam, temboknya berlubang di


sana-sini. Dan belatung keluar dari lubang-lubang itu. Lalu ada yang membuat


Ari bertambah tegang. Lama-lama baru Ari sadari kalau bercak hitam itu membentuk


satu sosok, dengan dua tangan, dua kaki dan jari-jari yang panjang-panjang,


lengkap dengan bentuk kepala di bagian atas.


“Wir, lo lihat bentuknya kan?” tanya Wira ke Ari.


“Iya,”jawab Wira. Dia juga menengarai bentuk dari bercak


hitam di dinding itu,” kaki, tangan dan jarinya panjang…”


“Wah ini sih perlu dibongkar, terus dicat baru lagi,” gerutu


Pak Min memeriksa kondisi dinding di depannya. Dia bahkan tidak memikirkan


bentuk dari bercak hitam itu.


Saat Ari dan Wira keluar, mereka ceritakan apa yang ada di


dinding itu pada Toha dan Wira. Dan sepertinya Nara sudah tidak memakai tudung


jaketnya lagi. Dia sudah tidak kedinginan. Nara cepat-cepat menyiapkan


kameranya dan masuk ke dalam laboratorium komputer. Di dalam dia ambil gambar


bercak hitam di dinding yang membentuk sosok dengan tangan, kaki dan jari yang


panjang, sementara Pak Min sibuk merapikan langit-langit. Sebenarnya Ari ingin


balik ke UKS memeriksa kondisi Lisa. Tapi bel masuk tinggal beberapa detik


saja. Mereka berempat pun kembali ke kelas. Ari berencana akan memeriksa Lisa setelah


bel pulang nanti. Sampai di depan kelas, Nara ingin ke toilet dulu. Tapi waktu


mereka melihat ke arah toilet perempuan, dari jauh terlihat di depan toilet ada


kehebohan dari kerumunan murid-murid perempuan. Ada beberapa murid yang


berteriak-teriak. Ari, Toha, Wira dan Nara langsung berlari ke sana. Sampai di


depan toilet, hanya Nara yang bisa masuk ke toilet. Nara langsung bertanya pada


kerumunan murid yang ada di sana. Dan bel masuk pun berbunyi. Setelah keluar


dari toilet, Nara langsung cerita ke Ari, Toha dan Wira.


“Tadi pas pada ngantri toilet… ada anak yang antri di toilet


paling pojok,”kata Nara,”Terus waktu orangnya keluar, orang itu tuh Pak Min.”


“Pak Min?” kata Ari, Toha dan Wira hampir bersamaan.


“Bukannya Pak Min tadi ada di lab komputer,” kata Toha.


“Makanya itu…”kata Nara,”Pas pada heboh, mereka cari-cari


Pak Min, tapi udah nggak ada. Sampai ada yang mau laporin Pak Min ke kepala


sekolah.”


“Kok aneh…”kata Wira,”barusan tadi kan kita sama Pak Min di


lab komputer bongkar papan tulis.”


“Kasihan juga ya Pak Min…”kata Ari,”Atau jangan-jangan ada

__ADS_1


yang nyaru kayak Pak Min.”


__ADS_2