Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 52 : Pengakuan Lisa


__ADS_3

Bel pulang berdering. Ari orang pertama yang keluar kelas. Setengah


berlari, Ari menuju ke UKS. Dia berharap Lisa akan baik-baik saja. Dan dia


berharap bisa menyampaikan apa yang Tata lihat waktu itu. Nara mau taruh tasnya


ke mobil dulu, baru nanti dia akan menyususl Ari. Wira pulang dulu, nanti jam 2


dia ada ekstrakurikuler karawitan. Sedangkan Toha, seperti biasa, bersepeda


ria, pulang sambil mengantar Astri. Saat sampai di depan UKS, Ari melihat pintu


UKS terbuka. Dia bisa lihat dua ranjang di dalam yang kosong. Dan memang di


dalam sana tidak ada orang. Ari langsung menuju ke kelas 10. Sampai di kelas


Lisa, Ari tidak menemukan anak perempuan itu. Ari bertanya pada segelintir murid


yang masih di dalam kelas. Mereka bilang, setelah pingsan dan dibawa ke UKS,


Lisa tidak balik ke kelas lagi. Ari pun berlari menuju arah keluar sekolah.


Hari ini dia harus bertemu Lisa. Ari berharap masih bisa menemukan Lisa di


halte. Tapi saat Ari melewati halaman sekolah, dia mendengar suara Nara


memanggilnya.


“Ri sini!” Nara terlihat melambaikan tangan di depan tempat


parkir.


Ari pun bergegas ke sana.


“Ada apa Ra?” tanya Ari setelah dekat.


“Itu si Lisa ada di parkiran,” kata Nara,” Dia pulang dijemput


pakai mobil sama sopirnya.”


Ari langsung berlari menuju tempat parkir. Nara menyusul di


belakang.


“Itu Ri mobilnya,” seru Nara.


Ari melihat mobil Lisa sudah meninggalkan tempat parkir


menuju ke gerbang sekolah. Dengan nafas terengah, Ari hanya bisa menatap mobil


Lisa yang mulai keluar gerbang. Tampaknya dia harus pasrah, hari ini dia tidak


bisa bicara dengan Lisa.


“Ri! Kita susul dia!” seru Nara tiba-tiba.


“Maksud lo?” tanya Ari memandangi Nara yang ada di


belakangnya.


“Kita susul dia pakai mobil gue,” kata Nara,” Sampai


rumahnya lo tanyain dia deh!”


Ari sempat ragu. Tapi ide Nara boleh juga. Karena hari ini


dia merasa harus benar-benar bicara dengan Lisa.


“Kalau perlu kita cegat di jalan,” tambah Nara.


“Kita ikutin aja dulu,” kata Ari.


Lalu mereka berdua masuk mobil Nara. Nara langsung tancap


gas memacu mobilnya keluar tempat parkir. Sampai semua yang ada di sekitar


parkir memperhatikan mobil Nara dengan gas meraung dan bunyi ban yang berderit.


Di jalanan, Nara masih tancap gas. Mobilnya kencang melewati mobil-mobil lain. Karena


di depan, mobil Lisa belum terlihat. Nara cuma yakin, mobil Lisa tadi mengambil


arah ke sini. Ari yang was-was di sebelah Nara segera mengencangkan sabuk


pengamannya. Tapi Ari tahu Nara sudah mengambil arah yang benar, karena ini


adalah jalur Ari bila naik bus bersama Lisa. Lalu di antara mobil di jalanan,


di depan sudah terlihat mobil Lisa. Nara pun tidak lagi melajukan mobilnya


kencang-kencang. Sampai mobil Lisa terlihat berbelok keluar jalan raya. Nara


pun mengikutinya. Tampaknya mereka masuk ke jalan kompleks. Ari tahu, ini


adalah salah satu kompleks elite yang ada di kota mereka. Dan sampai di satu


rumah, mobil Lisa berhenti. Sopir Lisa yang bapak-bapak tua, keluar membuka


gerbang. Nara pun memarkir mobilnya tak jauh di seberang rumah. Dan dia


buru-buru menyiapkan kameranya. Dari dalam mobil, Nara mengambil gambar Lisa


yang sudah turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ari masih


memandangi rumah Lisa. Rumahnya tidak sebesar rumah Tata, tapi masih terlihat


mewah.


“Lo mau masuk ke sana kan?” tanya Nara ke Ari sembari


memeriksa kameranya.


“Iya…” jawab Ari masih memandangi rumah Lisa.


Tapi tiba-tiba Nara jadi serius memperhatikan kameranya.


Karena di displaynya, di semua gambar-gambar yang dia ambil barusan, tertangkap


bayangan putih yang membentuk sosok anak perempuan di pojok teras.


“Ri lihat deh,”seru Nara sembari menunjukkan kameranya ke


Ari.


“Iya, itu anak kecil yang bertangan hitam,” kata Ari.


Lalu Ari memandang rumah Lisa lagi, karena dari tadi ada


sesuatu yang dirasakannya.


“Ra, lihat di teras!” kata Ari.

__ADS_1


Ari melihat ada anak perempuan bertangan hitam yang sudah


sering mereka lihat di sekolah, lalu di belakangnya ada nenek-nenek berambut


putih panjang menjuntai. Ada satu giginya yang mencuat ke depan.


“Lo lihat kan Ra?” tanya Ari.


“Iya gue lihat… Anak kecil itu…Kayaknya dia ngelihat kita


deh Ri,” ujar Nara sembari memasang tudung jaketnya.


“Lo lihat ada nenek-nenek?” tanya Ari.


“Nggak… Gue nggak lihat,” jawab Nara.


Berati hanya Ari yang bisa melihat nenek itu. Ari jadi ingat


tentang sesuatu yang menarik Lisa. Juga tentang sesuatu yang keluar dari


sarangnya. Lalu cepat-cepat Ari membuka pintu mobil dan beranjak keluar.


“Ri, yakin lo mau ke sana?” tanya Nara yang kini jadi


was-was.


“Iya… Lo tunggu di sini,” kata Ari.


Ari menyeberang jalan dan berjalan menuju pintu gerbang


rumah Lisa. Lalu Ari memencet bel yang ada di sana. Ari sempat memandang ke


teras. Tapi dia sudah tidak melihat anak kecil dan nenek-nenek itu lagi.


Beberapa menit berselang, sopir Lisa yang bapak-bapak tua keluar dan mendapati


Ari yang berdiri di depan gerbang.


“Permisi Pak,” kata Ari sopan,” Saya teman sekolahnya Lisa…


Lisa ada Pak?”


Sopir Lisa memandangi Ari sebentar. Dia melihat Ari memakai


seragam sekolah. Lalu di bergegas masuk. Tak berapa lama, dia keluar lagi


menemui Ari.


“Maaf… Kata Neng Lisa, dia lagi nggak enak badan,” kata


sopir Lisa.


Ari sempat berpikir, mungkin setelah kejadian masalah cincin


itu, Lisa tidak mau menemuinya lagi. Kini Ari benar-benar pasrah kalau memang dia


tidak akan bisa bicara dengan Lisa lagi. Setelah berpamitan dengan sopir Lisa,


Ari kembali ke mobil menemui Nara.


“Ya udah kalau begitu,” kata Nara yang juga ikut pasrah,”Kalau


gitu kita balik aja.”


Tapi sebelum Nara menjalankan mobil, tiba-tiba kaca sebelah


Ari diketuk. Ternyata ada sopir Lisa di luar. Ari segera membuka jendela


kacanya.


“Kamu yang namanya Ari ya?” tanya sopir Lisa.


“Iya Pak,” jawab Ari.


“Boleh bicara sebentar?” kata sopir Lisa,”Tapi jangan di sini,


kita cari tempat sepi… Ini mengenai masalah Neng Lisa.”


Nara pun menawarkan untuk mencari restoran yang sepi


dekat-dekat situ. Lalu sopir Lisa ikut ke mobil Nara. Akhirnya, tak jauh dari


situ, mereka menemukan restoran padang yang sepi. Sopir Lisa ditawarin Nara


makan. Dia makan lahap sekali. Sementara Ari dan Nara makan sekedarnya. Dan


sopir Lisa pun mulai bercerita.


“Saya sudah ikut keluarga Neng Lisa sejak saya muda,” cerita


sopir Lisa,”Dari saya baru menikah. Kalau mendiang istri saya lebih lama lagi.


Dari masih remaja dia sudah ikut neneknya Neng Lisa. Dari nenek buyutnya,


keluarga Neng Lisa itu memang seperti keluarga cenayang,” dari sini suara sopir


Lisa mulai pelan,” Tapi khusus yang dari pihak wanitanya, kalau yang laki-laki


biasa aja.”


“Lisa punya kakak laki-laki ya Pak,” tanya Ari memotong.


“Wah Kakak Neng Lisa itu sayang banget sama Neng Lisa,”


jawab sopir Lisa,”Tapi kalau memang sudah takdir gimana ya... Kebetulan waktu


itu saya nggak masuk, badan lagi meriang. Waktu itu mereka pergi berempat naik


mobil. Yang sopirin kakaknya Neng Lisa. Mereka pergi sama ibunya Neng Lisa,


sama neneknya Neng Lisa, sama neng Lisa juga. Waktu itu mobilnya ditabrak bus yang


ngelawan arah.


Beberapa saat suasana hening. Ari dan Nara sempat terhenyak dengan


cerita tragis sopir Lisa.


“Jadi cuma Lisa yang selamat ya Pak?” tanya Ari.


“Iya cuma Neng Lisa,” jawab sopir Lisa,” Ini menurut


mendiang istri saya ya… Karena sedikit-sedikit dia juga bisa ngelihat… Jadi


saat kejadian malam itu, yang ngikutin ibu Neng Lisa, sama yang ngikutin nenek


Neng Lisa, semuanya ngelindungin Neng Lisa. Mobilnya itu sampai ringsek dan kebakar.


Tapi Neng Lisa selamat. Dia ada di luar, jauh dari mobilnya yang kebakar.”


“Emang mendiang istri bapak pernah lihat apa?” tanya Ari

__ADS_1


memancing sopir Lisa untuk cerita.


“Ya begitu… Ini kata mendiang istri saya ya… Kalau neneknya


Neng Lisa, katanya yang ngikutin nenek-nenek rambutnya putih panjang. Kalau ibunya


Neng Lisa, yang ngikutin dua, ada perempuan baju item, terus ada perempuan


Belanda.”


Ari menebak sopir Lisa tidak tahu mengenai anak kecil


bertangan hitam. Dan Ari menduga, anak kecil itu yang memang mengikuti Lisa.


Dan semua yang dulu ikut nenek dan ibu Lisa, kini jadi ikut Lisa.


“Makanya saya mau minta tolong sama Ari,” kata sopir Lisa,


kali ini nadanya serius,” Soalnya Neng Lisa pernah cerita sekali tentang Ari… Neng


Lisa kan akhir-akhir ini sering marah-marah sendiri kalau malem. Padahal nggak


ada orang. Bapaknya kan lagi dines di Papua. Saya sering denger dari kamar saya…


Saya sering denger dia teriak-teriak, katanya dia lagi kangen sama kakaknya


lah… Katanya dia pengen ikut kakaknya lah... Saya kasihan sama dia


kadang-kadang. Udah sekarang dia sendirian. Nggak ketungguan sama bapaknya


juga.”


Waktu Ari tanya apakah sopir Lisa pernah dengar Lisa bicara


tentang ada yang narik dia dan tentang sesuatu yang keluar dari sarangnya,


sopir Lisa tidak tahu apa-apa. Setelah mengantar pulang sopir Lisa, Ari dan


Nara merasa banyak pertanyaan yang kini sudah terjawab. Mereka ingin


cepat-cepat memberi tahu Toha dan Wira.


***


Malam ini setelah belajar, Ari menghubungi Toha dan Wira. Ari


bilang ke mereka tentang apa yang telah diceritakan sopir Lisa tadi siang.


Walau ternyata Nara sudah menghubungi mereka sebelumnya, Ari tetap cerita ke


mereka. Setelah selesai, baru saja Ari meletakkan ponselnya di meja, ada nada


panggilan berbunyi. Ternyata dari Lisa. Beberapa saat, Ari masih memandangi


ponselnya. Dia tidak menyangka Lisa akan menghubunginya. Lalu buru-buru Ari


angkat ponselnya.


“Halo Kak Ari…” suara Lisa terdengar pelan di ponsel Ari


“Halo Lisa… Gimana kabar kamu,” kata Ari canggung setelah


kejadian akhir-akhir ini.


“Baik Kak…” Jawab Lisa,”Aku minta maaf tadi siang aku nggak


mau nemuin Kak Ari… Soalnya aku lagi galau…”


“Galau kenapa?” tanya Ari polos.


“Kak Ari aku takut…”


“Takut kenapa?”


“Aku udah bikin kesalahan…”


“Maksudnya?”


“Kak Ari… Kalau aku lagi pingsan, sebenarnya aku lagi main


ke tempat lain…”


“Maksudnya dunia lain?”


“Iya… Soalnya disana aku bisa ketemu sama kakak aku…”


“Kakak kamu itu pakai baju putih-putih?” Ari langsung main


tebak.


“Iya…”


“Pakai cincin kayak yang pernah kamu kasih ke aku?”


“Iya…”


“Kamu pernah lihat kakinya?”


“Aku… Aku lupa… Aku nggak pernah lihat kakinya…”


Ari masih ingat betul anak laki-laki berbaju puti-putih yang


tidak terlihat kakinya yang dia lihat tadi siang.


“Kak Ari… Aku takut… Dia itu bukan kakak aku… Aku cuman


main-main… Terus tadi siang dia masuk ke badan aku… Terus aku nggak ingat


lagi…”


Sejenak Ari terdiam. Dia mencoba menghubungkan semua kejadian,


termasuk bercak hitam di dinding laboratorium komputer dan Pak Min yang masuk


ke toilet perempuan.


“Ok Lisa gini…”kata Ari dengan suara serius,”Besok kamu


jangan masuk dulu… Kamu ijin sakit aja.”


“Terus?”


“Ya pokoknya kamu jangan masuk dulu,” kata Ari,” Nanti aku


kabarin situasinya di sekolah.”


Setelah sedikit menenangkan Lisa, Ari menutup ponselnya. Dia


harus cepat-cepat memberi tahu Toha, Wira dan Nara. Dan besok pagi-pagi, dia


harus bicara dengan Pak Riza. Karena Ari bisa merasakan, apapun yang masuk ke

__ADS_1


sekolahnya, dia lebih dari hantu-hantu yang mengikuti Lisa. Apalagi dia masih


ada hubungannya dengan lorong bawah tanah yang ada di sekolah.


__ADS_2