Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 37 : Pertemanan Sampai Dewasa


__ADS_3

Nara sudah mandi. Ari dan Wira pun harus memaksa Nara makan,


karena Nara bilang malam ini dia tidak nafsu makan. Kata pembantu Nara, Nara


baru makan waktu sarapan tadi pagi dan pembantu Nara sudah siapkan masakan


favorit Nara di meja makan. Akhirnya Nara bisa dipaksa makan juga ditemani Ari


dan Wira. Walau makanannya tidak habis tapi itu sudah cukup memberi sedikit


tenaga buat Nara. Nara pun permisi mau ke tempat tidur karena badannya masih


terasa lemas. Ari bilang, dia dan Wira akan berjaga-jaga di ruang tengah. Ari


dan Wira memang berniat tidak tidur malam ini. Mereka berjaga-jaga duduk di


depan televisi. Kebetulan Ari menemukan kertas dan bolpen di ruang itu. Dia pun


mulai menggambar apa yang dilihatnya saat ada insiden di aula sekolah. Dia


ingin menunjukkannya ke Wira. Juga Toha dan Nara. Dia menggambar sosok bersayap,


bermuka seperti tengkorak, seperti kelelawar sedang bergumul dengan sosok


binatang seperti macan berwarna hitam. Setelah jadi, gambar itu dia serahkan ke


Wira. Lama Wira mengamati gambar Ari.



Wira tidak menyangka akan ada mahluk seperti itu karena


cincinnya. Dia pun mengembalikan gambar Ari. Dan Ari mengembalikan cincin Wira.


Wira sebentar memandangi cincinnya, lalu dia masukkan ke saku bajunya.


“Lo masih mau pakai?” tanya Ari.


“Nggak tahu…” jawab Wira datar.


Lalu datang Nara turun dari kamarnya. Dia membawa bantal dan


selimut.


“Kenapa Ra? Nggak bisa tidur?” tanya Wira.


“Gue mau tidur sini aja,” kata Nara. Dia sudah merebahkan


tubuhnya di sofa yang panjang. Dia pasang selimutnya dan mulai membenamkan


wajahnya ke bantal.


Ari dan Wira hanya diam memandangi Nara yang sudah pulas


lagi di sofa depan mereka.


“Wir, lo udah bilang ke Nara?” tanya Ari setengah berbisik,


takut Nara bangun.


“Bilang apa?” Wira tanya balik dengan suara pelan.


“Lo katanya naksir Nara.”


“Iya itu Ri, gue kan udah dijodohin sama keluarga gue.”


“Sama yang keturunan ningrat juga ya?”


“Iye.”


“Ya udah, lo batalin aja perjodohannya, gampang kan?


“Enak aja lo ngomong. Gue bisa dihujat seluruh keluarga.


Sama leluhur.”


“Terus gimana dong?”


“Ya itu Ri, makanya gue pusing.”


“Awas ya Wir, kalau lo sampai nyakitin Nara.”


“Iye, gue tahu…”


“Kasihan Nara. Nyokap bokapnya udah cerai. Terus mereka udah


pada nikah lagi.”

__ADS_1


“Iye, iye…”


Malam pun bergulir. Tak terasa Ari dan Wira juga ketiduran.


Hingga pagi-pagi sekali, pembantu Nara yang mau mengepel lantai membuat mereka


terbangun. Ari dan Wira pun berpamitan dengan pembantu Nara. Mereka berdua


meninggalkan Nara yang masih pulas di sofa.


Pagi di sekolah, hanya Ari, Wira dan Toha yang berkumpul di


taman. Hari ini Nara ijin tidak masuk. Toha begitu antusias melihat gambar Ari


dan terus bertanya pada Ari dan Wira tentang insiden di aula sekolah tadi


malam. Ari dan Wira menjawab sekenanya karena kantuk masih menggelayuti mereka.


Sebelum masuk ke kelas, mereka bertiga sempat memeriksa aula. Pintu ruang


penyimpanan matras tampak tertutup dengan gembok baru. Kata Pak Min, ruang


penyimpanan matras tidak boleh dibuka dulu. Dia juga diinstruksikan kepala sekolah


untuk tidak bilang ke siapa-siapa mengenai kondisi ruang itu. Rencananya hari


minggu, lantai ruang itu akan diperbaiki lagi.


Saat jam pelajaran sekolah, Ari dan Wira bergantian ijin


pergi ke UKS sekedar untuk melanjutkan tidur. Lalu tersebar berita, ada rencana


pihak sekolah akan memasang kamera CCTV. Kepala sekolah terlihat berkeliling


dengan stafnya membicarakan titik-titik mana di lingkungan sekolah yang akan


dipasang kamera CCTV. Sepulang sekolah guru-guru dan staf pergi menjenguk Pak


Riza di rumah sakit, termasuk ibu Ari juga ikut. Sedang Ari, Toha dan Wira


pergi ke rumah Nara. Sampai di rumah Nara, mereka melihat Nara sudah lebih


segar. Bahkan begitu girangnya Nara didatangi ketiga teman cowoknya sampai dia


menyuruh pembantunya memasak khusus untuk mereka siang ini. Ari, Toha dan Wira


pun dapat makan siang gratis di rumah Nara.


kalung kayak punya Tata,” kata Ari di sela kegiatan mereka di meja makan.


“Nggak ah…” kata Nara seperti tak menghiraukan perkataan


Ari.


“Lho kenapa?” tanya Wira,”lo jadi aman Ra. Nggak akan ada


kejadian kayak kemarin. Lagian lo kan cewek.”


“Emang gue cewek apaan!” jawab Nara. Kali ini nada suaranya


tinggi. “Gue bukan model cewek yang mehek-mehek!”


“Tapi ini kan demi keamanan lo Ra,”kata Wira.


Toha pun manggut-manggut tanda setuju sambil menambah nasi


di piringnya.


“Denger ya gaes!” kata Nara tegas,”Gue nggak perlu seperti


Tata. Gue bisa jaga diri. Lagian gue pengen selalu jadi bagian dari apa yang


kalian lakukan. Ngerti?”


“Iye, iye,” jawab Wira mencoba mengalah.


Ari dan Toha pun sepertinya tidak akan membahas masalah itu


lagi.


Selesai makan mereka pun beranjak turun ke ruang tengah.


Tapi saat Ari dan Toha menuruni tangga, Nara memanggil Wira dan mengajaknya


masuk ke ruang kerja ibu Nara.


“Ada apa Ra?” tanya Wira penasaran.

__ADS_1


“Wir, lo bisa mintain nggak ke kakek lo, cincin yang kayak


punya lo buat gue?” tanya Nara dengan suara pelan.


“Maksud lo?” tanya Wira. Dia tidak menyangka Nara punya


keinginan seperti itu.


“Iya, gue pengen bisa kayak lo. Lo tahu sendiri kejadian


tadi malem. Tapi jangan bilang-bilang ke Ari sama Toha,” kata Nara.


“Lo yakin Ra?” tanya Wira lagi. Wira sendiri sebenarnya


tidak yakin akan memakai cincin itu lagi.


“Iya Wir. Gue pengen nggak tergantung sama siapa-siapa. Gue


pengen bisa bantuin kalian juga,”kata Nara.


“Ok, ntar gue tanyain dulu ya. Tapi itu juga kalau ada acara


ke Gunung Lawu lagi…” kata Wira dengan suara ragu.


“Nggak apa-apa. Lo tanyain dulu. Tapi please, gue serius nih


Wir,” kata Nara.


“Iye, iye…” jawab Wira. Apapun permintaan Nara, pasti akan


Wira lakukan.


Ari, Toha, Wira dan Nara pun berkumpul di ruang tengah di


depan TV sambil menonton acara TV kabel. Pembantu Nara sudah mengeluarkan


minumam es buah.


“Eh Ri, tadi pagi gue kan telpon ke mama,” kata Nara sambil


minum es buahnya,”Gue ceritain tuh semua tentang kalian.”


“Terus, mama kamu bilang apa?”tanya Ari penasaran.


“Kata mama, kalian kalau berteman dijaga sampai dewasa,”


jawab Nara.


“O gitu,” kata Ari sambil manggut-manggut.


“Iya, kita kan satu komplotan sampai dewasa,” seru Toha,”Iya


kan Wir.”


“Yoi coy,”jawab Wira santai.


“Terus gue kan bilang kalau Ari itu anak guru fisika


senior,” kata Nara lagi,”kata mama, waktu itu bapak lo mau jadi kepala sekolah


ya Ri? Karena meninggal, terus digantiin sama kakak iparnya mama, om gue. Tahu


nggak Ri, baru beberapa bulan om gue juga meninggal.”


Ari kaget juga dengan cerita Nara. Tapi sedikit banyak dia


jadi teringat bapaknya. Terutama karena dia tahu dan hanya dia yang tahu apa


yang terjadi sebelum bapaknya meninggal. Sesuatu yang berhubungan dengan hantu


yang paling mengerikan yang pernah Ari lihat. Dan melihat perubahan muka Ari,


Nara pun jadi merasa bersalah.


“Eh, sori Ri…” kata Nara gugup,”Gue nggak bermaksud begitu.


Gue cuma cerita apa yang mama bilang tadi pagi,”


“Ya udah Ra,” kata Wira,”Nggak usah diomongin lagi.”


“Iya, iya…” kata Nara penuh penyesalan.


Tapi sepertinya Wira, Toha dan Nara memang sudah melupakan


pembicaraan tadi. Mereka kini sedang ribut-ributnya berebut remote karena masing-masing


punya acara kesukaan sendiri-sendiri di TV kabel. Kecuali Ari. Sosok hantu

__ADS_1


lidah menjulur muncul lagi dalam pikirannya. Dan dia belum bisa benar-benar


menerima kematian bapaknya.


__ADS_2