Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 54 : Hantu Perempuan yang Menempel di Tembok


__ADS_3

Bel berbunyi, tanda pergantian pelajaran. Tapi belum bu guru


keluar kelas, Ari sudah berdiri, memandang ke arah Toha. Tanpa suara Ari


mengucapkan nama Astri ke Toha. Toha mengerti apa yang dimaksud Ari. Karena


mereka masih melihat wanita yang punggungnya berlubang, berdiri di belakang


Vira. Dari tadi Toha sudah memikirkan Astri. Ari dan Toha bergegas meninggalkan


bangku. Wira pun ikut menyusul. Sedang Nara cuma melihat teman-teman


laki-lakinya berlarian ke pintu. Tapi pak guru jam pelajaran berikutnya sudah


ada di depan pintu.


“Mau kemana kalian?” tanya pak guru melihat Ari, Toha dan


Wira buru-buru hendakluar kelas. Sementara sebentar lagi dia akan memulai


pelajaran.


“Ke toilet Pak,” kata Ari mencari alasan.


“Kenapa bertiga-tigaan?” tanya pak guru,” Maksimum dua orang


yang ke toilet!”


Akhirnya Wira harus mengalah kembali ke bangkunya.


Ari dan Toha langsung berlari menuju kelas Astri. Pak guru


sempat heran melihat Ari dan Toha tidak pergi ke arah toilet. Di depan kelas


sebelah, Ari sempat berhenti. Begitu juga Toha. Dari jendela kelas, terlihat


murid-murid mulai belajar. Tapi perhatian Ari dan Toha tertuju pada murid


perempuan yang tadi pingsan di lorong bawah tanah. Seperti yang lain, dia


sedang mengikuti pelajaran. Tapi sepertinya dia tidak sadar. Dan di kelas itu


memang tidak ada yang sadar. Di belakang murid perempuan itu sedang berdiri


sosok hitam, besar dan berbulu. Ari dan Toha saling berpandangan. Toha langsung


melanjutkan larinya menuju kelas Astri. Sedang Ari, dia pergi ke kelas yang


satu lagi dimana ada satu murid perempuannya yang tadi pingsan di lorong bawah


tanah. Dari jendela kelas, Ari bisa melihatnya. Di belakangnya berdiri sosok


berbungkus kain kafan. Ari langsung berlari menyusul Toha. Sampai di depan


kelas Astri, Ari menemukan Toha sedang berdiri di lorong tak jauh dari jendela.


Tapi Ari melihat wajah Toha tidak setegang seperti saat melihat murid yang di


kelas lain.


“Kayaknya Astri baik-baik saja,” kata Toha masih memandangi


Astri yang sedang mengikuti pelajaran di dalam kelas.” Nggak ada yang ngikutin dia.”


Ari pun mulai memperhatikan ke dalam kelas. Dia melihat Astri.


Tata ada di sebelahnya. Mereka sedang mengikuti pelajaran. Di belakang Astri


memang tidak ada apa-apa. Tapi perasaan Ari begitu tidak enak. Lalu Ari mulai


memperhatikan sekeliling Astri dan Tata. Mereka berdua duduk di meja pojok yang


menempel tembok. Dan di tembok, tepat di atas Astri duduk, Ari melihat sesuatu


menempel di sana. Ada sosok perempuan berambut panjang yang menggantung di


tembok. Badannya menempel di tembok dengan tangan dan kaki terbentang seperti


cicak. Dan Ari perhatikan, tangan perempuan yang membentang itu ada empat. Kakinya


juga ada empat. Yang membuat Ari terperanjat adalah sosok itu kini sedang


menoleh ke arahnya. Ari yakin Toha tidak melihat apa yang dilihatnya. Dan Ari


baru sadar kalau Tata dan Astri sedang memperhatikannya. Mereka terlihat heran


melihat Ari dan Toha ada di luar kelas. Ari pun segera menutupi kekagetannya


barusan saat melihat sosok yang menempel di tembok. Dia tidak mau Tata khawatir.


Walau dia tahu, saat ini Tata pasti berpikir sedang ada sesuatu di kelasnya.


Lalu beberapa murid kelas Tata mulai ikut memperhatikan Ari dan Toba. Hingga bu


guru yang mengajar pun keluar kelas.


“Ngapain kalian di sini?” Tanya bu guru galak,”ini kan masih


jam pelajaran!”


“Nyari toilet Bu,” kata Ari berdalih,”Toilet yang di sana


rusak.”


Lalu Ari dan Toha buru-buru pergi dari situ. Bu guru hanya geleng-geleng


kepala. Beberapa murid di dalam kelas berguman. Ada yang bilang Ari dan Toha kelompok

__ADS_1


penggemar tahayul. Ada yang bilang Ari dan Toha kelompok anak aneh. Saat balik


ke kelas, Toha terlihat lega. Tapi tidak dengan Ari. Dia kini begitu tegang.


Apa yang dia lihat di kelas Tata, berbeda dengan yang ada di kelasnya atau di


kelas lain. Dia merasa sosok itu sengaja menunggunya. Di kelas, Ari masih


memikirkannya. Lalu di tengah pelajaran, diam-diam Ari gambar apa yang dia


lihat di kelas Tata. Dia gambar sosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang.


Badannya menempel di dinding, seperti cicak, seperti laba-laba. Tangannya


empat, kakinya empat, membentang dengan kuku-kuku tajam mencengkeram tembok.


Posisi kepalanya menengok ke belakang dengan mata putihnya yang menatap tajam.



Begitu bel istirahat kedua berdering, Ari langsung menunjukkan


gambarnya ke Toha, Wira dan Nara. Toha langsung terlihat tegang.


“Gue harus kasih tahu Astri,” kata Toha. Dia sudah beranjak


dari bangkunya.


“Tunggu!” Seru Ari menahan Toha.” Gue musti bilang dulu ke


Pak Riza. Gue pikir yang ada di kelas Astri berbeda dari yang lain.”


Lalu tanpa sengaja mereka berempat melihat Vira yang lewat


tak jauh dari mereka. Mereka melihat sosok perempuan yang punggungnya berlubang


masih mengikuti Vira.


“Tapi kita harus cepat bertindak Ri!” Suara Toha begitu


tegang.


“Ha, kita perlu Pak Riza untuk menghubungi orang padepokan,”kata


Ari,”Baru setelah itu kita bertindak. Ok?”


Toha hanya memandangi Ari. Tampaknya dia tidak setuju dengan


kata-kata Ari. Begitu juga dengan Wira dan Nara. Ari bisa melihat gelagat


mereka yang ingin mendukung Toha.


“Please guys, tolong…” kata Ari mengharapkan pengertian


teman-temannya,” Pokoknya kalian tunggu gue… Please!”


secepat mungkin, sampai banyak murid yang dia lewati memandang heran. Tapi Ari


tidak peduli. Karena dia merasa situasinya begitu gawat. Bukan hanya karena ada


sosok-sosok yang mengikuti murid-murid yang pernah pingsan di lorong bawah


tanah. Tapi sosok yang dia lihat di kelas Tata, Ari bisa merasakan ancaman dari


tatapan matanya. Sampai di ruang guru, Ari mencoba berjalan biasa. Pak Riza


sudah melihat Ari mendekatinya dengan kertas terlipat di tangan. Dan Pak Riza


tahu apa yang ada di kertas itu. Begitu menerima kertas dari Ari, Pak Riza


hanya membuka sedikit lipatannya.


“Ini dimana?” tanya Pak Riza pelan sambil melihat sekitar.


“Di kelas 11-1 Pak,” jawab Ari pelan.


Lalu Pak Riza mengajak Ari ke parkir motor. Dan Ari


menceritakan sosok-sosok yang mengikuti murid-murid yang pingsan di lorong


bawah tanah. Juga sosok yang ada di gambarnya. Pak Riza pun langsung mengangkat


ponselnya. Dia pergi ke pojok parkir mencari tempat yang tidak ada lalu lalang


orang. Setelah menutup ponselnya, Pak Riza balik ke Ari dengan muka tegang. Beberapa


kali dia menghela nafas.


“Saya sudah hubungi orang padepokan. Sebentar lagi mereka


akan ke sini… “Kata Pak Riza. Ada kebimbangan di raut wajahnya,”Tapi ini


keputusan yang saya ambil sendiri.”


“Tapi kita butuh orang padepokan Pak,” kata Ari. Dia masih


ingat tatapan sosok di kelas Tata. Sosok itu begitu dekat dengan Tata. Dan dia


sangat mencemaskan Tata dari pada Astri. Jika Tata tidak memakai kalungnya, dia


akan jadi bulan-bulanan sosok itu, karena kini dia tahu, kemampuan penglihatan


Tata lebih di atas dirinya.


“Iya, saya nggak punya pilihan Ri,” kata Pak Riza. Matanya


menerawang.” Saya akan tanggung resikonya.”

__ADS_1


“Resikonya?” tanya Ari.


“Ya minimal saya akan dikucilkan guru senior,”kata Pak Riza


sembari menghela nafas,”Maksimal saya dikeluarkan dari sekolah.”


Ari hanya memandangi Pak Riza. Hati kecilnya tidak terima


apapun yang akan ditanggung Pak Riza.


“Ini semua berawal dari Lisa Ri…” kata Pak Riza.


“Dari Lisa Pak?” tanya Ari. Ari tahu Lisa memang berperan


dalam hal ini. Tapi dia merasa Lisa cuma dimanfaatkan.


“Saya dikasih tahu orang padepokan,”Pak Riza mulai


bercerita,”Saat Lisa pingsan, sebenarnya dia sedang masuk ke alam sana. Lalu


dia dia dimanfaatkan mahluk yang ada di sana. Dia benar-benar tahu kelemahan


Lisa. Itu yang tidak saya mengerti. Lalu… Yah begitulah… Sampai akhirnya


dinding itu dibongkar. Sebenarnya pagar pelindung orang-orang padepokan masih


di sana. Tapi mereka memanfaatkan anak-anak yang pingsan itu. Jadi mereka bisa


menembus pagar orang padepokan.”


Ari manggut-manggut tanda mengerti. Dia masih ingat sosok


yang masuk ke badan Tata dan Nara waktu itu, sehingga dia bisa keluar masuk


gerbang sekolah.


“Kini saya harus cepat-cepat memikirkan caranya


mengkarantina anak-anak yang tadi pingsan itu,” kata Pak Riza dengan raut


berpikir,”Mereka tidak boleh pulang sebelum orang-orang padepokan datang.”


“Bapak bisa bilang ke mereka untuk cek kesehatan lagi di UKS


sebelum pulang,”kata Ari mengusulkan.


“Ya, itu ide yang bagus Ri,”kata Pak Riza,” Saya harus


cepat-cepat hubungi pengurus UKS.”


Lalu Pak Risa bergegas mencari Bu Mirna, pengurus UKS. Dan


Ari buru-buru balik ke kelasnya. Dia ingin cepat-cepat bertemu Toha, Wira dan


Nara. Tapi belum sampai di kelas, dia mendengar suara Tata memanggilnya.


“Ari!,” Tata berteriak mendekat ke Ari.


“Tata!,” Ari pun mendekat ke Tata.


“Ari, aku tadi cari-cari kamu di kelas,” kata Tata dengan


nafas terengah. Wajahnya terlihat begitu tegang.


“Ada apa Ta?” tanya Ari. Ia begitu khawatir melihat kecemasan


di wajah Tata. Tapi Ari lihat kalung Tata masih melingkar di leher Tata.


“Ari, tadi Toha, Wira sama Nara datang ke kelas aku,” Tata


menjelaskan dengan suara gemetar,”Waktu Toha memanggil Astri, aku lihat


pandangan Astri kayak orang linglung. Lalu Astri keluar menemui mereka. Terus


Astri mengajak mereka pergi. Waktu aku ikutin mereka, ternyata Astri mengajak


mereka masuk ke lab komputer.”


Beberapa saat Ari memandangi Tata. Ini yang Ari khawatirkan.


Toha akan bertindak sendiri. Dan dia didukung Wira dan Nara.


“Aku akan ke lab komputer sekarang,” kata Ari.


“Aku ikut!,” kata Tata.


“Kamu tunggu di kelas Ta!”


“Ri, Astri itu sahabat aku…”


“Tapi yang satu ini mungkin berbahaya Ta.”


“Ri, aku bukan anak-anak. Aku bisa jaga diri.”


Ari diam sebentar. Tampaknya dia harus membiarkan Tata ikut


dengannya.


“Ok Ta, tapi kamu harus benar-benar jaga kalung kamu, jangan


sampai terlepas.”


Tata mengangguk, menatap Ari lekat-lekat. Dan perasaan Ari


semakin tidak enak. Mau tidak mau dia harus ke laboratorium komputer dengan


membawa Tata.

__ADS_1


__ADS_2