Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 50 : Hantu yang Menyaru Seperti Lisa


__ADS_3

Senin pagi, Toha, Wira dan Nara ada di taman sekolah. Ari


tidak ada di sana. Sejak sampai di sekolah, Ari langsung menuju area sekitar


kantin. Sampai saat ini, dia masih merasa bersalah karena belum menemukan


cincin pemberian Lisa. Bolak-balik Ari menelusuri tempat-tempat di sana. Dia


periksa sampai selokan-selokan kecil hingga sela-sela rerumputan. Tapi hingga


bel berbunyi, dia tidak menemukan cincin itu.


Murid-murid berbondong menuju lapangan untuk mengikuti


upacara. Upacara pun berlangsung khidmat. Hingga menjelang mengheningkan cipta,


Ari, Toha, Wira dan Nara merasakan hal yang sama. Seperti yang sudah-sudah,


saat lagu mengheningkan cipta dilantunkan, mereka melihat anak perempuan


bertangan hitam itu lagi. Seperti biasa, anak itu berada di antara barisan paduan


suara dan mencoba bernyanyi mengikuti regu paduan suara. Tidak seperti awal


mereka melihat anak itu, kini Ari, Toha, Wira dan Nara jadi sudah terbiasa.


Mereka tahu, setelah lagu mengheningkan cipta selesai, anak itu akan


menghilang.


Jam istirahat pertama, Ari masih mencari cincin pemberian


Lisa. Sampai Toha, Wira dan Nara merasa kasihan. Mereka pun ikut membantu


mencari, tapi tetap saja cincin itu tidak ditemukan. Jam istirahat kedua, Ari


berusaha mencari lagi. Lama-lama Toha, Wira dan Nara merasa Ari terlalu


berlebihan memikirkan cincin itu.


“Udah lah Ri, kalau memang nggak ketemu ya gimana lagi,”kata


Toha.


“Kamu beliin aja dia gantinya yang baru, yang mirip-mirip,”tambah


Nara.


Tapi tetap saja Ari masih kepikiran dengan cincin itu.


Hingga hari Selasa pagi, Ari masih terus melakukan


pencariannya. Toha, Wira dan Nara masih berkumpul di taman. Mereka menganggap


Ari tidak mendengarkan saran mereka. Saat Ari masih mondar-mandir mencari,


muncul Pak Min mendekatinya.


“Kamu Ari ya?” tanya Pak Min.


“Iya Pak Min,” jawab Ari.


“Kamu lagi nyari cincin ini?” tanya Pak Min.


Mata Ari terbelalak. Di tangan Pak Min ada cincin bermotif


bintang yang selama ini dicarinya.


“Iya Pak Min!” Ari setengah teriak tanpa sadar.


“Saya nemu di got yang sebelah sana,” kata Pak Min.


Pak Min pun menyerahkan cincin itu. Saking gembiranya,


hampir-hampir Ari bersujud ke Pak Min. Tak henti-hentinya dia ucapkan


terimakasih. Tapi ketika Ari berniat untuk mengembalikan cincin itu ke Lisa,


bel masuk sudah berbunyi.


Jam istirahat pertama, Ari yang pertama keluar kelas. Cincin


pemberian Lisa ada di sakunya. Dengan langkah tergesa, dia menuju ke arah kelas


10. Di antara murid kelas 10 yang mulai keluar kelas\, Ari mempercepat


langkahnya menyusuri lorong. Tapi sebelum sampai ke kelas Lisa, Ari


menghentikan langkahnya. Barusan dia melewati lorong buntu yang ujungnya tempat


penyimpanan sound system. Dan dia merasa melihat Lisa di sana. Ari pun berbalik


menuju ke lorong buntu itu. Dan benar, dia melihat ada Lisa di sana. Lisa


berdiri sendirian di ujung lorong. Awalnya Ari heran, Lisa ada di sana


sendirian. Tapi niatnya untuk mengembalikan cincin membuat dia tidak terlalu


memikirkannya. Ari sudah mengambil cincin dari sakunya.


“Lisa, aku mau kembaliin cincin kamu,” kata Ari sembari


berjalan ke arah Lisa.


“Kak Ari, tolong aku…” suara Lisa pelan.


“Lisa, kamu ngga apa-apa?” tanya Ari. Kini dia melihat wajah


Lisa begitu pucat.


“Kak Ari, ada yang narik aku…” kata Lisa terbata.


“Maksud kamu?” tanya Ari.


“Dia mau keluar dari sarangnya…” kata Lisa lagi.


“Aku nggak ngerti maksud kamu…” Ari makin bingung dengan

__ADS_1


kata-kata Lisa.


Tapi sebelum Ari bertanya lebih lanjut, dia melihat ada


sebagian rambut Lisa yang memutih. Lalu semakin lama Ari perhatikan, hampir


semua rambut Lisa berwarna putih. Ari mundur sejengkal, karena kini Ari melihat


tangan Lisa jadi keriput. Hampir saja Ari terjengkang ke belakang waktu dia


lihat wajah Lisa juga jadi keriput. Ada satu gigi yang tumbuh panjang ke depan.


Lisa terlihat bingung. Lalu Lisa berbalik dan berlari menjauhi Ari. Darah Ari


terasa terkesiap, karena lorong di depannya buntu. Dan Ari melihat Lisa seperti


menghilang menembus lorong buntu itu. Dengan badan gemetar, Ari keluar dari


lorong itu. Di luar lorong, murid-murid kelas 10 sudah ramai lalu lalang saat


istirahat. Tanpa sengaja Ari mendongak ke lantai 2. Dan di lorong lantai 2, Ari


melihat Lisa. Dia sedang bersama-sama anak-anak band, baru keluar dari ruang


ekstrakurikuler. Ari baru sadar, yang dia temui di lorong buntu tadi bukan


Lisa. Ari pun cepat-cepat balik ke kelasnya. Sampai di kelas, Ari ceritakan


semuanya ke Toha, Wira dan Nara.


“Ih serem banget sih Ri,” kata Nara,” Untung bukan gue yang


lihat.”


“Berarti ada hantu yang bisa menyaru jadi Lisa,” kata Toha


berteori.


“Bisa jadi ini hantu ke empat yang kita belum tahu,” tambah


Wira.


“Iya… Sepertinya dia ingin bilang sesuatu,” kata Ari,”Ada


yang narik dia… Terus ada yang mau keluar dari sarang…”


Mereka berempat jadi terdiam. Saat ini mereka benar-benar


tidak bisa mencerna kejadian yang dialami Ari. Terutama Ari. Dia jadi tidak


bisa konsentrasi mengikuti pelajaran sampai bel pulang berbunyi. Selesai


pelajaran sekolah, Ari dan Toha ada ekstrakulikuler melukis. Sedang Nara ada


ekstrakurikuler fotografi. Saat di tengah kegiatan ekstrakurikuler melukis,


seorang adik kelas memanggil Ari.


“Kak Ari, ada yang cari tuh di depan,” kata adik kelas Ari.


“Siapa?” tanya Ari.


kelas Ari.


Ari langsung tahu siapa yang dimasksud. Buru-buru Ari menuju


ke pintu.


“Ta? Kok kamu belum pulang?” tanya Ari begitu mendapati Tata


di depan pintu.


“Iya Ri, eksklul aku dipindah ke hari ini,”jawab


Tata,”Soalnya ruangannya lagi direnovasi.”


Lalu Tata tengak-tengok melihat halaman sekitar ruangan


ekstrakurikuler melukis.


“Kenapa Ta?” tanya Ari.


“Iya, takut ada temen sekelas aku yang suka resek,” jawab


Tata,” Mereka suka bilang-bilang ke mama.”


Ari tahu maksud Tata. Lalu Ari mengajak Tata ke dalam. Di


sana ada ruang penyimpanan peralatan melukis. Ari dan Tata bisa berduaan saja


di situ.


“Gini Ri, dari kemarin-kemarin aku sebenarnya pengen bilang sesuatu


ke kamu,” kata Tata dengan suara pelan,”Pas kebetulan ekskul aku dipindah hari


ini, jadi aku sempetin ketemu kamu.”


“Emang ada apa Ta?” tanya Ari penasaran.


“Ingat nggak Ri, waktu aku sempet lepas kalung aku yang lama


di kantin?”


“Iya, aku inget.”


“Waktu itu kan Lisa datang…”


“Iya, terus?”


“Sebenarnya aku sempet lihat sesuatu di belakang


Lisa…Mungkin gara-gara aku nggak pakai kalung…”


“Emang kamu lihat apa Ta?”


“Aku lihat empat sosok…”

__ADS_1


“Empat sosok?”


“Iya, ada anak kecil… perempuan…”


“Tangannya hitam?”


“Iya tangannya hitam Ri… Terus ada perempuan pakai baju


hitam, rambutnya panjang tapi melayang ke atas… Terus… Ada noni-noni Belanda


gitu…”


“Noni Belandanya kepalanya terbalik?”


“Iya… Bener Ri… Terus ada nenek-nenek rambutnya panjang, putih


semua… Ada giginya satu yang panjang ke depan…”


Ari pun cepat-cepat memeriksa kalung Tata. Ari lega, kalung


baru Tata masih melingkar di leher Tata.


“Jangan pernah lepas kalung kamu ya Ta,” pinta Ari spontan.


“Iya Ri,” jawab Tata,” Cuma yang aku pengen bilang,


sosok-sosok itu enggak gangguin Lisa…Dia cuman kayak ngikut gitu.”


“Maksud kamu Ta?”


“Ingat nggak Ri, kamu pernah bilang ada yang bawa hantu ke


sekolah,”


“Iya…”


“Aku pikir Lisa yang bawa hantu-hantu itu…”


Lama Ari memandangi Tata. Memang setelah kejadian demi


kejadian yang Ari alami bersama yang lain, kata-kata Tata ada benarnya.


“Kamu yakin Ta?” tanya Ari.


“Iya sih Ri… Soalnya mereka kayak nurut gitu, berdiri di


belakang Lisa,” jawab Tata.


Ari masih memikirkan kata-kata Tata. Tapi sebenarnya, seratus


persen dia akan percaya Tata.


“Mending kamu bicara aja langsung sama Lisa,” kata Tata.


“Kamu nggak apa-apa aku bicara sama Lisa?” tanya Ari polos.


“Enggak apa-apa Ri,” jawab Tata,” Aku percaya sama kamu kok…


Selamanya aku pengen percaya sama kamu…”


Lalu Tata buru-buru meminta diri, karena tadi dia bilangnya


ijin ke toilet waktu di ekstrakurikuler KIR. Ari pun langsung cerita ke Toha


apa yang dibicarakannya dengan Tata.


“Wah beneran tuh Ri?” tanya Toha.


“Iya… Gue percaya sama Tata,” jawab Ari.


“Ntar kita harus bilang ke Nara,” kata Toha.


Setelah ekstrakulikuler selesai, Ari dan Toha langsung mencari


Nara. Kebetulan Nara barusan selesai dari kegiatan fotografinya. Ari langsung


cerita ke Nara. Beberapa saat Nara terlihat sedang berpikir. Lalu dia


mengeluarkan kameranya.


“Gue sebenarnya pernah curiga juga lho,” kata Nara sambil


membuka display kameranya,” Waktu gue foto-foto makanan di kantin, kan


ketangkep hantu yang anak kecil itu… Kalian lihat deh, setiap ada gambar


hantunya muncul, di belakang sana ada yang sedang duduk. Itu sepertinya Lisa.”


Lalu Ari dan Toha memperhatikan foto-foto yang ditunjukkan


Nara di kameranya. Ada beberapa foto menangkap bayangan blur berbentuk hantu


anak perempuan. Dan di setiap foto itu, di belakangnya tertangkap satu murid


perempuan yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku kantin. Murid


perempuan itu terlihat sepeti Lisa.


“Iya… gue ingat…” kata Ari,” Waktu itu memang Lisa duduk di


situ sendirian. Itu sehari sebelum Lisa ikut audisi.”


“Terus… Jangan lupa juga rekaman CCTV yang ada di komputer


Wira,” Toha menambahkan.


“Tapi sekarang yang bisa lihat hantunya lengkap kan si


Tata,” ujar Nara.


“Mendingan kita ajak Tata bergabung ke komplotan kita Ri,”


kata Toha antusias,” kayaknya kemampuannya melebihi lo deh Ri.”


“Enggak! Jangan!” kata Ari spontan.


“Lho kenapa?” kata Toha,”Dia kan bisa bantu kita.”

__ADS_1


“Gue nggak mau Tata bertemu dengan hantu manapun,” kata


Ari,”Gue nggak mau Tata mengalami apa yang gue alami.”


__ADS_2