Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 80 : Misi Komplotan Tidak Takut Hantu


__ADS_3

Pagi-pagi, begitu bangun tidur, Ari mendapati pesan dari Tata di ponselnya. Isinya, Tata ingin Ari, Toha dan Wira datang lagi ke rumah Nara hari ini. Ari langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ari bergegas


mempersiapkan semuanya. Tapi di tengah semangatnya untuk bertemu Tata lagi, Ari sedikit merasa aneh. Tidak biasanya Tata mengirim pesan sesingkat itu. Dan Tata mengirimkannya jam tiga pagi.


Kali ini Ari meminjam motor ibunya. Sampai di rumah Nara, Ari masih kepagian. Nara baru bangun.


“Semangat banget lo Ri,” Nara mengucek matanya sembari mengantar Ari ke ruang tamu.


“Emang siapa lagi yang ulang tahun Ra?” tanya Ari.


“Lah… Emang Tata nggak bilang apa gitu sama lo?” Nara balik tanya.


“Nggak tuh…” Jawab Ari.


Kini Nara yang jadi heran. Lalu Nara minta ijin mandi dan bebenah. Ari pun menunggu di ruang tamu. Selang satu jam, Tata datang diantar sopirnya. Seperti biasa, Ari sembunyi dulu supaya tidak ketahuan sopir Tata. Walau wajah Tata ceria saat bertemu Ari tapi Ari tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan Tata.


“Ada apa sih Ta?” tanya Ari.


“Mmm… Ntar aku ceritain deh kalau udah ada Toha ama Wira,” jawab Tata terbata sembari membuka pizza bawaannya.


Tapi sepertinya Ari dan Nara tidak begitu tertarik dengan pizza, karena walau Tata berusaha untuk bersikap normal, tetap saja terlihat sesuatu sedang dipikirkannya. Ari pun mengutuki Toha dan Wira yang selalu datang ngaret. Hampir setengah jam kemudian, terdengar suara vespa Wira. Toha dan Wira masuk ruang tamu dengan ceria dan langsung menyerbu pizza yang ada di meja.


“Hoi gaes… Bisa sabar dikit nggak sih,” sergah Nara ke Toha dan Wira,” Ini ada yang mau disampaikan sama Tata…”


Seketika Toha dan Wira berhenti mengunyah.


“Ada apa sih Ta?” tanya Toha dengan setengah mulutnya penuh dengan pizza.


“Mmm… Jadi gini…” kata Tata sembari mengatur duduknya,”Tadi malam tuh mamaku ngobrol sama aku. Ternyata kemarin di sekolah ada pertemuan sekitar sepuluh orang tua murid dengan Bu Mulyani.”


“Bu Mulyani kepala sekolah baru?” tanya Toha spontan.


“Ya iya lah siapa lagi,” timpal Wira sewot.


“Iya, termasuk mamaku dan mamanya Jodi juga ikut di pertemuan itu,” Tata menjelaskan,” Mereka mengadu ke kepala sekolah masalah gangguan hantu yang kemarin-kemarin sering terjadi…”


“Terus?” tanya Nara tak sabar.


“Ya gitu…” Tata agak ragu mengatakannya,” Mereka itu bawa nama-nama kalian…”


“Maksudnya nama kita?” tanya Ari.


“Iya… Kalian… Ari, Toha, Wira sama Nara,”jawab Tata,”Mereka bilang, karena kegiatan kalian, hantu-hantu jadi berdatangan dan bikin murid lain pada takut masuk sekolah.”


“Wah, ini pasti akal-akalannya kelompoknya Drako,” sergah Toha,”Pada ngadu yang nggak bener sama orang tuanya.”


“Memang kurang ajar itu Drako,”Wira menimpali,”Pasti orang tuanya ikutan juga kan Ta?”


“Iya sih kata mamaku…” jawab Tata.


“Terus… Terus gimana Ta?” tanya Nara.


“Terus ya gitu…”Lagi-lagi Tata ragu untuk mengatakannya,” Mereka mengusulkan…”


“Mereka mengusulkan apa Ta?” tanya Ari.


“Mereka… Mereka mengusulkan kalian dikeluarkan dari sekolah…”


Ari, Toha, Wira dan Nara saling pandang.


“Tapi kata Bu Mulyani, pihak sekolah nggak bisa keluarin murid begitu saja,” Tata langsung menimpali.


“Terus?” tanya Ari.


“Akhirnya disepakati pihak sekolah akan mendatangkan psikiater buat kalian,” Tata menjelaskan.


Nara yang di sebelah Tata, posisi duduknya terlihat lemas. Toha bengong hingga lupa mengunyah pizzanya. Muka Wira terlihat menahan emosi dengan tangan terkepal. Dan Ari hanya melihat Tata yang matanya mulai berkaca-kaca.


“Maafin aku ya teman-teman…” Suara Tata serak,”Kalian jadi banyak masalah di sekolah… Kalian nggak benci aku kan?”

__ADS_1


Nara memandangi Tata sebentar. Lalu dia mendekap Tata.


“Ini bukan salah kamu Ta,”kata Nara,”Kamu nggak perlu minta maaf…”


Ari melihat wajah Tata yang penuh penyesalan. Ari tahu, Tata sedang menanggung apa yang telah dilakukan ibunya yang akan berimbas pada teman-temannya. Justru Ari merasa kasihan pada Tata karena posisinya yang harus berada di dua sisi yang berbeda. Kadang tersirat di benak Ari, hari-hari Tata mungkin akan lebih mudah jika tidak bergaul dengan Ari dan yang lainnya.


“Ok gaes… It’s ok… “ Ari buka suara setelah beberapa saat tadi hening,” Masih beruntung kita tidak dikeluarin dari sekolah. Yang penting kita akan selalu bersama… Kita hadapi semuanya sama-sama…”


“Iya… apapun yang terjadi, kita akan hadapi sama-sama,” Wira ikut bicara.


“Mulai sekarang kita akan selalu saling dukung,” Nara menambahkan,” Jangan lagi ada perpecahan di antara kita… Iya kan Ta?”


Tata yang ditanya mengangguk. Senyumnya mulai merekah. Melihat Ari dan yang lain mulai bersemangat, bebannya jadi terasa hilang. Tata dan Nara pun berpelukan. Spontan Ari ikut memeluk Tata dan Nara. Lalu Toha dan Wira menyusul. Mereka berlima pun saling berpelukan.


***


Hari ini hari penerimaan rapot. Orang tua murid berdatangan ke sekolah untuk mengambil rapot. Buat Ari, Toha, Wira dan Nara, datang ke sekolah sekarang menjadi sebuah beban. Bukan saja karena sebagian besar murid menganggap mereka ‘freak’. Atau kelompok Drako yang dari jauh bergerombol dengan memandang mereka sinis. Kini permasalahannya sudah di kepala sekolah. Tapi di situasi seperti ini, ikatan di antara mereka justru semakin kuat. Mereka sudah sepakat untuk tetap bersama. Sempat tadi mereka melihat Tata dari jauh. Tata juga melihat mereka. Tata bersama ibunya datang ke sekolah. Dan Nara tidak boleh terlihat bersama Ari oleh ibu Tata. Lalu Kocik dan Boncel terlihat datang menghampiri Ari.


“Ri! katanya kalian nanti disuruh periksa psikiater di sekolah ya?” tanya Kocik.


Ari memandang Kocik sebentar. Ternyata berita tentang mereka berempat yang harus berurusan dengan psikiater sudah menyebar.


“Iya Cik,” jawab Ari,” Kepala sekolah yang nyuruh.”


“Tenang Ri, kita akan selalu dukung kalian,” kata Kocik,”Gue selalu percaya sama kalian.”


“Iya, lo kalau ada apa-apa bilang ke aja ke kita,” Boncel menambahkan.


Ari berterimakasih pada Kocik dan Boncel. Ternyata masih ada yang mendukung mereka. Teman-teman sekelas masih mendukung mereka. Teman-teman dari kelas buangan.


Lalu ada satu orang lagi datang menghampiri Ari. Seketika Ari, Toha, Wira dan Nara jadi terkejut. Pak Riza menyapa mereka dengan baju seragam guru lengkap.


“Pak Riza?” kata Ari spontan.


“Iya Ari, saya dipanggil lagi mengajar di sini,” kata Pak Riza.


Walau heran, perasaan Ari begitu gembira melihat Pak Riza lagi.


“Apa ini ada hubungannya sama kami yang harus ketemu psikiater?” tanya Ari.


Nara melirik Ari dengan muka serius. Dan Ari baru sadar kalau dia keceplosan menanyakan hal itu. Karena mereka tahu duluan masalah ini dari Tata.


“Lho kok kamu tahu?” tanya Pak Riza.


“Mmm… Ya soalnya memang beritanya sudah menyebar Pak,” kata Ari terbata mencari alasan supaya dia tidak menceritakan sesuatu tentang Tata,” Kocik sama Boncel juga tahu Pak,” kata Ari sembari menunjuk Kocik dan Boncel yang masih ada di situ.


“O gitu…” kata Pak Riza sembari melihat Kocik dan Boncel. Lalu Pak Riza melihat sekeliling. Beberapa murid memang terlihat sedang berjalan di sekitar situ. Sepertinya Pak Riza tidak ingin apa yang dibicarakannya terdengar orang,” Kalau gitu nanti jam sembilan kalian berempat saya tunggu di depan gudang bawah tanah ya.”


Lalu Pak Riza meminta diri dan berjalan menuju ruang guru, meninggalkan Ari, Toha, Wira dan Nara yang keheranan dengan seribu pertanyaan. Dan tepat jam sembilan, Ari dan ketiga temannya sudah sampai di depan pintu gudang bawah tanah. Kebetulan Pak Riza juga baru sampai di sana. Pak Riza cepat-cepat membuka pintu gudang yang memang sudah tidak terkunci dan menyuruh Ari dan ketiga temannya masuk. Di dalam gudang banyak kardus dan perkakas yang tidak terpakai sampai Ari dan ketiga temannya susah untuk berjalan. Di ujung gudang terlihat ada dinding partisi dengan satu pintu, yang sepertinya sengaja dibuat untuk dipakai sementara. Lalu Pak Riza membuka pintu itu. Di dalam ada meja kursi yang ditata rapi. Di satu meja ada seorang wanita muda sedang duduk. Dia berambut lurus sebahu. Memakai kacamata dan berbaju kerja. Begitu Ari dan ketiga temannya masuk, wanita itu berdiri dan melempar senyum.


“Nah, kenalkan ini psikiater yang akan membimbing kalian selama satu bulan nanti setelah liburan,” Pak Riza memperkenalkan wanita itu,” namanya Bu Karin, kebetulan dia ini kakak saya, saya dulu pernah cerita kakak saya ini ke Ari.”


Wanita itu langsung berjalan dan menyalami satu per satu Ari dan ketiga temannya.


“Panggil saja saya Kak Karin,” kata wanita itu.


 Lalu Pak Riza menyuruh Ari dan ketiga temannya duduk di bangku yang sudah disediakan.


“Sebelumnya saya ingin jelaskan dulu kenapa kalian ada di sini…“ Pak Riza mulai membuka pembicaraan,” Karena


banyaknya peristiwa di sekolah kita yang berhubungan dengan hantu yang semuanya kalian tahu… Kemarin itu beberapa orang tua murid datang ke sekolah untuk melayangkan… yah… semacam protes lah. Karena kan murid-murid jadi takut untuk datang ke sekolah. Saya dengar ada yang sampai pindah sekolah juga. Lalu saya nggak tahu… ada isyu yang berkaitan dengan kalian. Sampai keputusannya kalian harus menjalani konsultasi dengan psikiater di sekolah… Jadi nanti setelah liburan, selama sebulan, kalian akan berada di sini bersama Bu Karin, seminggu sekali setelah pulang sekolah.”


“Tapi kami nggak akan di keluarin dari sekolah kan Pak?” tanya Ari polos.


“Ya… Tentu saja tidak,” kata Pak Riza sambil tertawa. Tapi setelah itu wajah Pak Riza kembali serius,” Denger ya… Ini penting sekali… Dan ini sebenarnya sangat rahasia. Apapun tuntutan dari orang tua murid atau perlakuan murid lain di luar sana pada kalian… Keberadaan kalian disini hanya untuk meredam situasi yang akhir-akhir ini tidak kondusif di sekolah kita… Di balik itu semua, ada satu misi yang harus kalian lakukan… Yah, tujuannya tetap menjaga sekolah kita agar tetap aman dan kondusif untuk belajar. Tetap kalian lakukan seperti kemarin-kemarin, tapi setelah itu kita harus bicarakan semuanya di sini, bersama Bu Karin juga. Biarlah nanti di luar orang tahunya kalian sedang diterapi, tapi sebenarnya kalian sedang melakukan satu misi untuk melindungi sekolah ini. Jadi apapun yang kita bicarakan di sini, semuanya rahasia. Jadi jangan bilang ke siapapun. Mau itu orang tua kalian…Ataupun pacar kalian. Dan di luar sana kalian harus low profile… Jangan terpancing dengan situasi yang menganggu kalian.”


“Jadi Pak Riza sudah merencanakan semua ini?” tanya Ari penasaran.


“Bukan saya yang merencanakan,”jawab Pak Riza,” Saya cuma menjalankan perintah dari Bu Mulyani.

__ADS_1


Jadi Bu Mulyani lah yang mengatur semuanya di balik layar. Dan ini adalah rahasia yang harus kalian simpan. Kalau nggak, sekolah kita akan jadi heboh…Kalian mengerti ya?”


“Mengerti Pak…” Kata Ari dan ketiga temannya hampir bersamaan.


Lalu Pak Riza mempersilahkan kakaknya untuk bicara apabila ada yang ingin disampaikan.


“Sebenarnya nanti setelah liburan kita bisa bicarakan banyak hal,” kata Kak Karin, kakaknya Pak Riza dengan suara lembut,” Tapi sebelumnya saya ingin mengenal kalian semua lebih dalam. Jadi saya harap, di forum ini, kita bisa terbuka satu sama lain.”


Ari yang mendapatkan giliran pertama untuk bercerita tentang dirinya. Ari pun bercerita tentang kematian


bapaknya hingga sosok hantu lidah menjulur yang selalu ada di ingatannya. Lalu tentang kakeknya dan pengalaman pertamanya masuk alam lain. Ari merasa begitu leluasa bercerita di depan Kak Karin. Begitu juga dengan Toha, Wira dan Nara. Toha bercerita tentang bapaknya yang berprofesi sebagai paranormal. Dia juga cerita tentang rencananya bersama Nara untuk belajar di padepokan. Lalu Wira cerita tentang kakek buyutnya yang masih keturunan ningrat dengan kemampuan supranatural. Juga tentang cincin pemberian kakeknya. Nara cerita tentang kemampuannya yang diturunkan dari ibunya. Tentang kebiasannya jadi kedinginan jika ada hantu di sekitarnya. Kak Karin begitu sabar dan serius mendengar cerita mereka semua. Sesekali dia mencatat di buku kecilnya.


“Saya dulu juga seperti kalian,”kata Kak Karin setelah itu,”cuma memang profesi saya sekarang sebagai psikiater. Tapi tetap saya bisa memahami dan percaya apa yang kalian alami. Saya akui memang sulit menjadi diri kalian. Tapi pesan saya, apapun yang orang katakan tentang kalian, tetaplah menjadi diri kalian sendiri.”


Lalu Kak Karin bercerita sekilas tentang pengalamannya sebelum ini. Setelah itu Pak Riza pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kali ini. Rencananya setelah liburan mereka akan bertemu lagi di tempat ini. Tapi sebelum Ari dan ketiga temannya keluar ruangan, Kak Karin memanggil Ari.


“Ri… Kalau kamu lihat sesuatu terbang di sekitar sekolah, mungkin lain kali bisa kita bicarakan,” kata Kak Karin.


Ari agak bingung dengan perkataan Kak Karin, tapi tetap dia coba untuk mengerti.


“Mmm… Ok, baik Kak Karin,”jawab Ari.


***


Ari, Toha, Wira dan Nara sudah ada di halaman sekolah. Tadi waktu lewat di depan kelas mereka, ruangan sudah kosong. Berarti semua rapot sudah dibagikan ke orang tua murid. Lalu dari jauh terlihat Astri berlari mendekati mereka dengan muka ceria.


“Toha! Aku ranking satu!” teriak Astri.


Toha pun menyambut Astri. Mereka bergandengan tangan sambil menari berputar-putar seperti orang gila. Lalu Astri juga bilang kalau Tata dapat ranking dua. Ingin Ari langsung menyelamati Tata saat itu juga. Tapi hal itu tidak akan bisa dia lakukan, Tata pasti sedang bersama ibunya saat ini.


Lalu datang ibu Ari setengah berlari mendekati mereka dengan menenteng buku rapot di salah satu tangannya.


Ibu Ari langsung memeluk Ari dan dengan gemas mencubiti pipinya. Ari yang diperlakukan seperti itu jadi merasa risih dan malu. Karena teman-temannya masih ada di situ dan banyak murid sedang berjalan pulang di sekitar halaman.


“Ih, Mama ini ngapain sih!” Kata Ari mencoba melepas pelukan ibunya.


“Ari tahu nggak…”kata ibu Ari,” Kamu itu ranking satu!”


Ari jadi bengong. Dia belum percaya dapat ranking satu. Begitu juga Toha, Wira dan Nara. Mereka tidak percaya


seorang Ari bisa dapat ranking satu. Ari langsung meminta buku rapot yang dibawa ibunya. Dia buka halaman semester ini. Toha, Wira dan Nara pun penasaran ikut mengintip di belakang Ari. Dan benar saja, di sana memang tertulis bahwa Ari dapat ranking satu. Spontan Toha, Wira dan Nara berteriak-teriak mengelukan Ari. Toha dan Wira sampai gemas mengacak-acak rabut Ari. Ini adalah momen terbahagia Ari dengan ketiga temannya. Bukan karena dia dapat ranking satu. Tapi karena Toha, Wira dan Nara terlihat begitu gembiranya, seolah mereka yang mendapat ranking satu. Tapi di tengah momen yang membahagiakan itu tiba-tiba perasaan Ari jadi tidak enak. Lalu Ari seperti mendengar suara gemuruh di atasnya. Dan Nara sudah mulai memakai jaketnya. Ari pun mencoba mendongak ke


atas.


“Ada apa Ri?” tanya Toha.


“Ada bola api di atas…” kata Ari


“Bola api?” tanya Wira.


“Iya barusan dia lewat…”


“Berarti dia terbang?” tanya Wira lagi.


“Iya…” Ari berusaha mencari-cari lagi. Tapi sepertinya dia sudah tidak melihatnya lagi.


“Kayak yang dikatakan Kak Karin tadi…” Guman Toha.


Ari, Toha, Wira dan Nara saling berpandangan lama. Dan ibu Ari yang tadinya ceria jadi terlihat cemas. Misi Komplotan Tidak Takut Hantu sepertinya akan dimulai.






__ADS_1


Pesan dari author :


Hai Gaes, sebelumnya author ucapkan banyak terimakasih karena sudah baca cerita Komplotan Tidak Takut Hantu. Author juga minta maaf karena sering membuat kalian menunggu lama update cerita ini. Bukan apa-apa sih, ceritanya kan sudah mendekati tamat, soalnya tokoh-tokohnya sebentar lagi lulus SMA. Jadi author suka mikir lama, biar endingnya nanti tidak mengecewakan. Makanya kali ini, author mau minta bantuan sama kalian nih, kalau ada usulan, ide atau uneg-uneg dari kalian gimana jalan cerita selanjutnya, atau kalian pengennya endingnya kayak gimana, boleh tulis sesuka kalian di kolom komentar ya. Thank Youuuuu!


__ADS_2