Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 78 : Saudara yang Tak Akan Terpisahkan


__ADS_3

“Ari, kita harus pergi…” suara Belinda lirih di belakang Ari.


Ari menoleh ke arah Belinda. Sosok remaja berambut pirang itu terlihat gelisah. Tidak tersenyum seperti biasanya.


“Mereka sudah pada bangun,” suara Belinda mendesis.


“Mereka siapa?” tanya Ari.


“Yang tinggal di hutan kering,” jawab Belinda.


Ari mengira, yang dimaksud Belinda mungkin gundukan-gundukan rumput yang Ari lihat diantara pohon-pohon kering. Ari melihat seperti ada bentuk tangan dan kaki di sana. Nyali Ari sempat menciut. Belinda sudah mendekat ke Ari dan mengulurkan tangannya. Ari menyempatkan menoleh ke arah kamar Tata, seakan belum puas melihat Tata tidur di ranjangnya. Tapi Ari tahu harus segera pergi dari situ. Ari lekatkan pandangannya ke wajah Tata yang pulas tertidur. Ari hanya bisa berpamitan ke Tata dalam hati. Lalu Ari menyambut tangan Belinda.


Langkah Belinda semakin lama semakin cepat. Ari merasa ditarik begitu kencang. Ari melihat batang-batang pohon kering di sekitarnya melesat cepat ke belakang. Dan Ari merasa kakinya sudah tidak menapak tanah lagi. Lalu Ari mulai mendengar suara-suara. Seperti suara burung yang mencicit. Semakin lama suara itu semakin keras terdengar dari berbagai arah. Sekilas Ari melihat kanan kiri. Banyak bayangan berkelebat di antara batang-batang pohon. Semakin Ari perhatikan, mereka sosok-sosok berbaju putih dan berambut panjang. Ari tahu mereka sedang mengejarnya. Satu sosok sepertinya sudah tak jauh di belakang Ari. Ari bisa melihat baju putihnya yang belepotan tanah dan banyak kerikil menempel di sana. Lalu ada batang-batang rumput yang tumbuh di punggungnya. Mata sosok itu merah menyala. Ari mengalihkan pandangannya ke Belinda. Belinda terlihat ketakutan. Tarikan tangan Belinda pun semakin kencang. Ari merasa melaju begitu cepat hingga dia tidak bisa melihat dengan jelas kanan kirinya. Ari hanya bisa melihat sosok Belinda di depannya yang sekarang seperti terbang. Lalu di depan, Ari mulai melihat padang rumput yang Ari kenal. Ari pun jatuh tersungkur. Dia merasa terseret begitu cepat di atas rumput. Ari hanya bisa memejamkan matanya.


 Ari membuka matanya. Dia sudah ada di kamarnya. Posisinya tersungkur di lantai dekat ranjangnya.


“Ari ada apa?” Ibu Ari masuk ke kamar Ari dengan wajah khawatir. Barusan tadi dia mendengar suara gaduh di kamar Ari.


Ari mencoba bangun tapi ada yang terasa sakit di bagian lengannya.


“Ari kamu kenapa?” Ibu Ari bertambah khawatir. Dia berusaha membantu Ari untuk bangun.


“Ari nggak apa-apa Ma…” jawab Ari sembari meringis menahan sakit. Dia tidak mau membuat ibunya khawatir.


“Bener kamu nggak kenapa-kenapa?” Ibu Ari masih khawatir.


“Benaran Ma…” Jawab Ari. Posisinya sudah duduk di atas lantai,” Mmm… Ari tadi ketiduran. Terus jatuh…”


Ibu Ari terlihat sedikit lega.


“Iya sudah… Tidur lagi sana,” Ibu Ari masih memperhatikan anaknya sebelum keluar,”Kok kayak bau melati ya?” Tanya ibu Ari tiba-tiba. Dia menghentikan langkahnya dan mencoba menajamkan penciumannya.


Ibu Ari memandangi anaknya. Ari hanya mengangkat bahunya sambil pura-pura mengantuk. Ibu Ari hanya mengangguk dan keluar menutup pintu kamar Ari. Ibu Ari tahu, sesuatu terjadi pada Ari. Dia tahu, takdir Ari akan seperti takdir kakeknya. Sebenarnya ibu Ari ingin Ari menjadi seperti bapaknya. Tapi kini dia sudah pasrah.


Ari berusaha bangkit dan duduk di ranjangnya. Dari tadi dia memang sudah mencium bau melati yang dia kenal. Dia tahu ada yang sudah membujur di langit-langit tepat di atas ranjangnya.


“Aku capek…” suara Belinda lirih di atas Ari.


Ari mendongak ke atas, melihat Belinda sudah menempel di langit-langit. Belinda memang terlihat kecapekan. Mata merah birunya terlihat sayu.


“Boleh kan aku tidur di sini?” tanya Belinda.


Ari mengangguk. Lama-lama Ari terbiasa dengan Belinda ada di dekatnya.


“Terima kasih ya, sudah antar aku ke tempat Tata,” kata Ari dengan suara tulus. Selintas terpikir, dia mungkin tidak akan pernah ke sana lagi.


Belinda mengangguk. Senyumnya sedikit tersungging. Lalu pelan dia memejamkan matanya. Ari pun mulai merebahkan badannya di ranjang. Dia pandangi sosok Belinda yang pulas tertidur tepat di atasnya. Setelah pengalaman dengan kakeknya, kini dia punya pengalaman dengan Belinda. Ari tak sabar untuk bertemuTata, menceritakan semua peristiwa yang dia alami.


***


Pagi jam 8 Ari sudah sampai di sekolah. Hari ini dia ada janji dengan Nara. Barusan tadi Ari melihat mobil Nara masuk gerbang menuju area parkir. Ari menunggu di pinggir tempat parkir. Walau hari ini libur, ada beberapa murid yang datang ke sekolah. Mungkin masih ada kegiatan ekstrakurikuler. Nara pun sudah bertemu Ari.


“Yuk Ri kita ke tempat Pak Min,”kata Nara,” Gue bawain Pak Min makanan,” Nara sudah menenteng satu plastik makanan cepat saji.


Lalu Ari dan Nara menuju rumah Pak Min. Nara menyerahkan bingkisan makanannya ke Pak Min. Pak Min berterimakasih ke Nara dan mempersilahkan Ari dan Nara duduk. Lalu Ari menanyakan perihal lantai ruang kepala sekolah yang pernah dibongkar.


“Wah itu udah lama sekali ya,” kata Pak Min mencoba mengingat-ingat.


“Kapan itu Pak Min?” tanya Ari tak sabar.


“Waduh kalau tahunnya saya nggak ingat,” jawab Pak Min,”Tapi kalau nggak salah, dulu yang nyuruh bongkar itu Pak Nando.”


Ari dan Nara saling pandang. Pak Nando adalah paman ipar Nara.


“Pak Min yakin?” tanya Nara,


“Iya deh kayaknya,” jawab Pak Min,”Soalnya dulu yang bawa mandornya Pak Nando sendiri. Dan saya tuh kenal sama mandornya.”


“Pak Min tahu ada yang di tanam di bawah lantainya?” tanya Ari.


“Wah nggak tahu ya,” jawab Pak Min,” Itu kan cuma lantainya yang diganti baru.”


Nara melirik ke Ari karena pertanyaan Ari mungkin sudah terlalu jauh.


“Pak Min tahu rumahnya mandornya,” tanya Nara.


“Tahu,”jawab Pak Min,”Saya pernah minta tolong benerin mesin air.”


“Pak Min, bisa minta tolong anterin ke rumahnya?” pinta Nara.


“Bisa… Bisa Neng,” jawab Pak Min,” Tapi maaf Neng… Buat apa Neng Nara tanya-tanya beginian,” tanya Pak Min penasaran.


Nara sempat terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Min.


“Pak Nando itu om iparnya Nara Pak Min,” Ari mencoba menjelaskan,” Kita lagi selidiki penyebab kematiannya om ipar Nara ini.”


Pak Min pun mengangguk-angguk. Sepertinya dia akan siap untuk mengantar Nara kemanapun.

__ADS_1


***


Mobil Nara sudah memasuki kawasan perkampungan. Nara ada di belakang kemudi. Ari di sebelahnya. Pak Min duduk di belakang. Sedari tadi Pak Min memberikan arah jalan ke Nara. Sampai akhirnya Pak Min menunjuk sebuah rumah bercat hijau lumut. Pak Min turun duluan dan mengetuk pintu rumah. Seorang ibu muda keluar dan bicara pada Pak Min. Ternyata yang dicari Pak Min orangnya tidak sedang di rumah. Pak Min pun mendatangi mobil Nara dan bicara pada Nara yang masih di dalam.


“Orangnya lagi pergi Neng,” kata Pak Min.


Nara mencoba untuk maklum.


“Coba kita tunggu aja,” usul Ari yang ada di samping Nara.


Nara dan Pak Min pun setuju. Tapi sebelum Pak Min masuk ke mobil lagi, ada suara memanggil Pak Min.


“Pak Min!” Seorang pria paruh baya datang mendekat ke Pak Min.


“Tuh dia orangnya,” kata Pak Min ke Nara. Lalu Pak Min mendatangi orang itu dan menyalaminya. Lalu Pak Min bicara dengan orang itu dan mengajaknya bertemu Nara.


“Nah ini neng Nara…” kata Pak Min menunjuk Nara yang masih di dalam mobil pada orang itu.


Nara pun langsung keluar, menyalami orang itu dan menyebutkan namanya.


“Tarjo,” kata orang itu menyebut namanya balik.


“Pak Tarjo, Neng Nara ini ponakannya Pak Nando,”kata Pak Min,” Dia mau nanya-nanya waktu ada renovasi di ruang kapala sekolah.”


Air muka Pak Tarjo tiba-tiba berubah. Ada sebersit ketegangan disana.


“Iya Pak Tarjo,” kata Nara tanpa mempedulikan perubahan mimik Pak Tarjo,” Waktu pembongkaran lantai itu, ada nggak yang ditanam di bawah tanahnya?”


Mendengar pertanyaan Nara, wajah Pak Tarjo bertambah tegang.


“Mmm… Maaf. Saya sebenarnya mau pergi,” kata Pak Tarjo terbata,”Saya tadi mau pamitan sama istri saya dulu… Terus saya mau pergi.”


Lalu dengan tergopoh-gopoh, Pak Tarjo meninggalkan Nara dan Pak Min masuk ke rumahnya. Nara dan Pak Min saling berpandangan. Ari yang barusan keluar dari mobil pun heran melihat sikap Pak Tarjo. Lalu Nara bicara ke Pak Min pelan agar menyerahkan uang Rp 500.000 ke Pak Tarjo untuk mau bercerita tentang pembongkaran lantai di ruang kepala sekolah. Pak Min pun membawa uang yang diberikan Nara menuju rumah Pak Tarjo. Setelah Pak Min mengetuk pintu, Pak Tarjo keluar. Dari jauh Ari dan Nara melihat Pak Tarjo seperti marah-marah dan mencoba untuk menyuruh Pak Min pergi. Tapi Pak Min terlihat cepat-cepat menyerahkan uang yang ada di tangannya dengan mencoba menjelaskan sesuatu. Awalnya Pak Tarjo terlihat ragu. Tapi lama-lama dia pandangi uang yang ada di tangan Pak Min, pelan dia pun menerima uang itu. Lalu Pak Min dan Pak Tarjo berjalan menuju ke Nara.


“Neng Nara, ini uangnya saya terima ya… Saya terimakasih sekali,” kata Pak Tarjo,” Tapi sebelumnya maaf, bukannya saya tidak mau cerita, tapi apa yang saya ceritakan ini sangat berhahaya,” Pak Tarjo yang mulai memelankan suaranya,” Saya cerita ke Neng Nara ini juga takut Neng…”


“Takut kenapa Pak Tarjo?” tanya Nara.


“Takut kena kutuk,” desis Pak Tarjo.


“Seperti omnya Nara?” Ari mencoba menyela.


Pak Tarjo mengangguk-angguk dengan bibir gemetar.


“Tapi memang bener Pak, ada yang di tanam di ruang kepala sekolah?” tanya Ari tak sabar.


Pak Tarjo memandangi Ari. Dia menganggap Ari bicara terlalu lancang. Tetapi tetap saja dia harus cerita karena dia sudah menerima uang Nara.


Ari sempat berpandangan dengan Nara. Berarti yang dikatakan Bang Yudha memang benar.


“Apa yang ditanam Pak Tarjo?” tanya Ari.


“Saya nggak tahu,”jawab Pak Tarjo.


“Emang yang nyuruh tanam itu Om Nando ya Pak?” Tanya Nara.


“Kurang tahu juga sih,” jawab Pak Tarjo,” Waktu itu ada orang datang, katanya suruhan Pak Nando, dia bawa bungkusan putih buat ditanam di ruang itu.”


“Pak Tarjo tahu orangnya?” tanya Ari.


“Saya sih nggak kenal,” jawab Pak Tarjo,”Waktu itu dia pakai baju item-item kayak dukun.”


“Pak Tarjo tahu namanya?” tanya Ari lagi.


“Nggak tahu juga…”jawab Pak Tarjo,” Tapi waktu itu anak buahnya memanggilnya Warok.”


“Kalau alamatnya tahu Pak, mungkin kita bisa menemuinya?” tanya Ari lagi.


“Nah justru itu…” jawab Pak Tarjo,” Saya dengar orangnya juga meninggal kena kutuk.”


***


Nara menjalankan mobilnya lagi setelah mengantar Pak Min balik ke sekolah. Dari semenjak meninggalkan rumah Pak Tarjo, Ari dan Nara hanya saling diam. Dugaan Nara tentang Pak Suman ternyata salah. Terakhir tadi. Ari menanyakan kapan pembongkaran lantai ruang kepala sekolah dilakukan. Pak Tarjo bilang sekitar tahun 2018. Dan menurut Ibu Ari, Pak Suman jadi kepala sekolah tahun 2019. Dan jika dirunut semua cerita, bisa jadi paman Nara yang ada di belakang kematian bapak Ari.


“Ri, gue jadi nggak enak sama lo,” suara Nara memecah kebisuan.


“Emang kenapa Ra?” tanya Ari.


“Yah, ternyata paman gue yang di balik semua ini,” kata Nara.


“Gue justru kepikiran sama hantu yang ada di gambar gue,” kata Ari,” paman lo akhirnya jadi korbannya juga,” kata Ari. Dia jadi ingat kata-kata kakeknya tentang hantu yang selalu ingin mengalahkan manusia. Hantu yang bersekutu dengan iblis. Hantu itu bukan hanya menakutkan tetapi juga mengerikan. Tiga orang sudah menjadi korban. Bukan tidak mungkin dia akan terus mencari mangsa. Semakin Ari membayangkannya, semakin ciut nyalinya untuk mencari hantu itu.


“Lo masih mau temenan sama gue kan Ri?”


“Tenang aja Ra… Lo selamanya akan jadi temen gue.”


Nara sempat melirik Ari yang wajahnya tetap serius.

__ADS_1


“Jadi gimana nih?” tanya Nara,” Mau omongin lagi masalah ini di rumah gue?”


“Mmm… Gimana ya Ra?” kata Ari ragu,” Gue coba tanya Tata dulu deh… Gue tuh lagi ngajak Tata maen ke rumah lo…”


“Mmm boleh…”kata Nara santai sembari memutar setir mobilnya.


Lalu Ari mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Tata.


“Halo Ta…” kata Ari setelah panggilannya tersambung.


“Halo Ri…” jawab Tata di ponsel Ari.


“Nggak apa-apa kan Ta aku hubungi kamu?”


“Nggak apa-apa kok Ri… Aku lagi di luar.”


“Lagi di mana Ta?”


“Ini lagi beli hadiah buat Nara… “


“Hadiah?”


“Iya hadiah… Tadi malam Nara telpon, dia undang aku ke rumahnya. Hari ini kan Nara ulang tahun… Nah, kamu yang temennya gimana bisa nggak tahu?”


“Mmm…” Ari bingung untuk menjawab. Dia masih heran, ternyata Nara sendiri yang menghubungi Tata untuk datang ke rumahnya.


Ari sempat melirik Nara. Nara hanya senyum-senyum sembari sok serius memperhatikan jalan.


“Kamu masih sama Nara kan Ri?”


“Iya… Kok kamu tahu?”


“Nara yang cerita kok tadi malem… Katanya kalian ada urusan pagi ini.”


Ari melirik Nara lagi. Senyum Nara makin lebar.


“Ri, ntar kalau aku sampai di rumah Nara, kamu jangan keluar dulu ya, soalnya aku dianter sama sopir aku.”


“Iya Ta…”


“Ok Ri… Sampai ketemu di rumah Nara ya… Bye.”


“Bye.”


Ari memandangi Nara yang masih senyum-senyum. Ternyata Nara sudah mengatur semuanya.


“Nah, ntar puas-puasin deh lo ketemuan sama Tata di rumah gue,” kata Nara.


“Thank You ya Ra…” kata Ari polos.


“Iya… Tapi inget-inget tanggal ulang tahun gue dong.”


“Iya… Iya, sori ya Ra.”


“Iya Ri… Lo sih, cuma Tata aja yang dipikirin.”


Ari cuma nyengir.


“Gue juga ajak Toha sama Wira juga Ri.”


“Beneran lo?”


“Iye.”


***


Ari hanya bisa melihat dari jendela rumah Nara saat Tata datang diantar sopirnya. Nara langsung menyambut Tata di pintu gerbang rumahnya. Dan Tata tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang berbunga-bunga begitu melihat Ari ada di ruang tamu Nara. Tapi sebelumnya Tata cepat-cepat memberikan kado hadiahnya pada Nara. Nara pun menerima kado itu dengan wajah ceria. Nara langsung memeluk Tata. Ari memandangi mereka berdua. Ari merasa kini Nara punya saudara baru. Tapi ponsel Tata tiba-tiba berdering. Ternyata dari ibunya Tata. Ari tahu, ibu Tata pasti akan mengecek keberadaan anaknya. Tata terlihat sedang berbicara dengan ibunya di ponsel. Lalu seperti yang sudah Ari kira, ibu Tata pasti akan bicara dengan Nara. Tapi Ari tidak mengira, Nara malah ingin bicara pada ibu Tata lewat panggilan video. Tata pun mengganti setting ponselnya ke panggilan video. Sebelumnya, cepat-cepat Nara menyuruh Ari sembunyi di balik sofa.


“Halo tante, ini Nana yang waktu itu datang ke rumah Tata,”Nara melambaikan tangan ke arah ponsel Tata. Di sana ada ibu Tata di video ponsel Tata.


“Halo Nana, semua baik-baik kan di sana?” tanya ibu Tata di ponsel.


“Baik-baik dong tante,” Sembari merangkul Tata, Nara mengarahkan ponsel ke mereka berdua dan suasana ruang tamu Nara,” Nih, Tata kasih Nana kado ulang tahun. Baik banget deh Tata, Tante.”


Tata terlihat senyum-senyum sendiri. Diam-diam dia mengagumi Nara yang pintar akting. Harusnya Nara ikut ekstrakurikuler drama.


“Wah, selamat ulang tahun ya Nana,” kata ibu Tata.


“Makasih Tante,” jawab Nara,” Eh, tante, boleh nggak Tata ntar malem nginep di rumah Nana? Soalnya Nana kan sendirian di rumah…”


“Iya boleh lah,” jawab ibu Tata,” Tante senang Tata berteman sama Nana. Dari pada berteman sama anak-anak yang nggak jelas dan aneh-aneh.”


“Wah, makasih tante,” kata Nara,” Tata dijamin amak kok Tante.”


Ibu Tata terlihat tertawa lepas. Lalu Nara memberikan ponselnya ke Tata. Setelah ngobrol sebentar dengan ibunya, Tata mematikan ponselnya. Nara dan Tata pun berpelukan lagi dengan tawa gembira. Tata sepertinya bahagia dengan kebebasannya bisa keluar dari rumahnya. Lalu Ari keluar dari persembunyiannya. Tata pun memandangi Ari dengan mata berbinar.


“Ntar malem lo musti nginep di rumah gue Ri,” kata Nara dengan nada mengancam.

__ADS_1


“Iye, tenang aja Ra,” kata Ari yang tak melepas pandangannya ke Tata.


Tak berapa lama terdengar suara vespa di luar. Wira datang bersama Toha berboncengan. Nara langsung menyuruh mereka masuk. Ari pun menyambut Wira dan Toha dengan heboh. Lalu Nara mengajak mereka semua ke kolam renang. Di pinggir kolam renang sudah tersaji makanan dan minuman. Toha yang langsung antusias memulai acara makan-makan. Setelah itu mereka berenang. Nara meminjamkan baju renangnya ke Tata. Ari, Toha dan Wira memakai celana seadanya nyemplung ke kolam renang. Siang ini mereka begitu gembira. Siang ini Ari merasa mereka bukan hanya sekedar teman. Mereka yang mendapat julukan ‘freak’ di sekolah. Siang ini mereka seperti satu keluarga. Seperti saudara yang tak akan terpisahkan.


__ADS_2