Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 82 : Bola Api di Atas Atap Sekolah


__ADS_3

Ari pelan menutup kamar ibunya. Dia lega, ibunya mau mendengar kata-katanya untuk istirahat. Saat masuk kamarnya, Ari lihat di jendela, hujan terlihat mulai reda. Ari sudah terbiasa begitu bau melati kembali tercium. Dia tahu, sosok Belinda sudah menempel di langit-langit di atas ranjangnya. Tapi Ari tidak begitu mempedulikannya. Karena dia ingin bicara dengan Wira saat ini. Ari pun menghubungi nomor Wira.


“Wir dimana lo?” tanya Ari.


“Gue lagi di tempat kakek gue,” jawab Wira di ponsel Ari.


“Di Jawa?” tanya Ari lagi.


“Iya… Kayaknya gue mau minta cincin lagi sama kakek gue…”


“Yakin lo Wir.”


“Menurut lo… Kemarin Pak Riza kan bilang tentang misi ke kita… Ri, kita musti punya sesuatu.”


“Tapi kita kan cuma disuruh kasih info Wir.”


“Ri.. Lo gimana sih… Tahu sendiri kita lagi berurusan dengan hal kayak ginian…”


“Iya juga sih Wir.”


Ari pikir Wira ada benarnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau Wira tidak memakai cincinnya waktu mereka berusaha menyelamatkan Nara di aula setahun yang lalu. Tapi berawal dari peristiwa itu juga mereka kini sedang dicari-cari. Lalu Ari cerita ke Wira apa yang dikatakan Belinda tentang ratusan sosok yang sedang menuju sekolah mereka. Ari yakin mereka sedang mencari Wira, Tata dan juga dirinya.


“Beneran lo Ri?” ada kecemasan di suara Wira.


“Tapi mereka nggak bisa lewat pagar yang dibuat orang padepokan…”


“Yakin mereka nggak masuk Ri… Kita harus belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya…”


“Tapi kita sekarang kan ada Bang Yudha… Tinggal bilang sama Nara aja untuk panggil Bang…” Ari tidak meneruskan kata-katanya. Dia merasa sudah keceplosan membahas Bang Yudha. Apalagi dia tahu kalau Bang Yudha mengajak Nara jadian. Hanya dia dan Tata yang tahu.


“Ah Bang Yudha…” kata Wira dengan suara tidak suka,” Emang mereka bisa diandelin?”


Ari tahu, Wira agak emosi kalau membahas Bang Yudha. Tapi Ari merasa mereka mungkin akan membutuhkan Bang Yudha dan orang padepokan.”


Lo takut Ri?” Tanya Wira.


“Mmm… Nggak sih Wir… Cuma khawatir aja…”


“Khawatir Tata maksud lo?”


“Iya… Apalagi tadi siang kan gue lihat bola api…”


“Kalau nggak lo coba nanya ke bokapnya Toha deh Ri.”


“Iya bener juga Wir.”


“Eh ngomong-ngomong soal Toha, tadi dia nelpon gue. Dia mau pinjem duwit buat bayar study tour. Kata gue… Gue adanya cuman setengahnya… Itu juga adanya minggu depan. Lo ada nggak Ri?”


“Apalagi gue Wir… Gue aja ngambil tabungan mama gue.”


“Lo telpon deh si Toha. Takutnya dia nggak bisa ikut study tour. Sekalian nanya-nanya sama bokapnya.”


“Ok… Ok…”


Lalu Ari menutup sambungan ponsel Wira dan menelpon Toha.


“Halo Ha, dimana lo?” tanya Ari.


“Di rumah… Kenapa Ri?” tanya Toha di ponsel Ari.


“Lo ntar ikut study tour kan?” Ari memancing dengan pertanyaan.


“Iya ikut Ri…”


“Mmm… Katanya lo mau pinjem duwit sama Wira?”


“O… Udah kok… Gue nanti ikut… Ada yang ngasih… Eh…” Toha tidak melanjutkan kata-katanya.


“Ada yang ngasih Ha? Maksud lo?”


“Wah gimana ya… Gue keceplosan nih…”


“Keceplosan gimana?”


“Iya Ri… Soalnya gue nggak boleh bilang-bilang sama yang ngasih…”


“Nggak boleh bilang-bilang?” Ari penasaran.


“Iya Ri… Tapi sebenarnya gue pengen banget bilang sama lo… Tapi kalau gue bilang ke lo, janji ya lo nggak cerita ke yang ngasih kalau gue bilang sama lo.”


“Iya deh janji.”


“Yang ngasih itu Tata Ri… Soalnya Si Astri tadinya kan rencananya nggak ikut, karena nggak ada beayanya juga. Nah si Tata maunya Astri ikut. Trus Astri dikasih sama Tata. Terus Astri juga cerita soal gue. Terus gue dikasih juga deh sama Tata. Jangan bilang-bilang ya Ri sama Tata…”


“Iye gue nggak akan bilang…”


Ari jadi ingat perkataan ibunya, kalau Tata itu baik hatinya.


“Eh, Ha… Bola api yang gue lihat di sekolah, lo bisa tanyain nggak Ha ke bokap lo?” tanya Ari.


“Gue udah cerita ke bokap sih Ri…”


“Terus gimana?”


“Kata Bokap, bola api itu bukan wujud aslinya.”


“Jadi aslinya gimana?”


“Belum bisa dilihat sih kata bokap… Tapi katanya dia asalnya dari pelabuhan… Terus kalau sampai bisa jadi bola api gitu, dia itu bukan hantu sembarangan...”


Kekhawatiran Ari jadi bertambah besar. Sepertinya sekolah mereka sudah didatangi sosok yang mungkin jauh lebih menyeramkan dari yang sudah-sudah.


“Ha, lo takut?”


“Kata bokap, kita nggak perlu takut Ri… Anggap aja mereka mahluk juga, kaya binatang atau tumbuhan… Cuman kadang bentuknya nyeremin aja…”


“Iya bener Ha, gue juga begitu… Makanya terus pengennya gue gambar…”


“Tapi ada baiknya kita bilang juga sama Bang Yudha, soalnya sudah ada tanda-tanda yang masuk ke sekolah kan.”


“Iya bener lo Ha.”


“Mending lo telpon aja ke Nara. Suruh aja si Nara yang cerita ke Bang Yudha, biar Bang Yudhanya semangat bantuin.”

__ADS_1


“Ada-ada aja lo Ha…”


“Iya beneran… Telpon gih si Nara.”


“Ok… Ok…”


Lalu Ari menutup sambungan ponsel Wira dan menelpon Nara.


“Halo Ra…”


“Halo Ri… Tumben nelpon… Ada apaan nih?”


“Ra… Tadi barusan tadi gue dapat info dari Belinda.”


“Info apaan?”


Lalu Ari menceritakan apa yang Belinda bilang tentang ratusan sosok yang ingin masuk ke sekolah.”


“Serem amat Ri… Kalian gimana ntar?”


“Gue cuma khawatir sama Tata aja sih Ra…”


“Iye… Gue tahu lah, lo pasti khawatirin Tata… Tapi gue yakin kok, pagarnya orang padepokan nggak akan bisa dilewati.


“Tapi tadi siang gue kan lihat bola api Ra…”


“Iya, itu gimana Ri?”


“Dia kan terbang Ra… Gue takutnya dia sudah masuk ke sekolah kita…”


“Gitu ya Ri…”


“Iya… Maksud gue ntar lo tanyain deh ke Bang Yudha…”


“Iya… Iya, ntar gue tanyain…”


( “Kamu lagi bicara sama siapa Ra…” ada suara di belakang Nara. )


“Sama Ari Ma.” Jawab Nara.


( “Mama mau bicara dong sama Ari… ” )


“Ri, nyokap mau bicara sama lo…”


“Eh Ra… Nggak enak gue…”


Tapi Nara sudah memberikan ponselnya ke ibunya.


“Halo semalat malam… Ini Ari ya,” suara ibu Nara terdengar berwibawa di ponsel Ari.


“Iya Tante… Selamat malam Tante…” kata Ari canggung.


“Iya… Nara udah sering cerita tentang kalian, kamu, Toha… Wira… Sama… Siapa pacar kamu?”


“Tata Tante…”


“Iya Tata… Beruntung banget ya Tata… Coba kalau Nara yang


jadian sama kamu…”


“Nggak sih… Tante becanda… Tante cuma iri sama pertemanan kalian… Dulu Tante waktu seumuran Nara, tante merasa sendirian. Tante nggak punya temen yang seperti tante… Jadi Tante bersukur, Nara punya teman-teman seperti kaian.”


Lalu setelah sedikit basa-basi, Ibu Nara menyerahkan ponsel ke Nara lagi.


“Ri… Jangan didengerin omongan nyokap yang tadi… Ntar lo bilang ke Tata lagi…”


“Nggak lah… Emang nyokap kapan balik ke Amrik?”


“Besok dia juga udah balik.”


“Mmm gitu ya… Ya udah, ntar kalau udah dapat info dari Bang Yudha, kabarin gue ya.”


“Iya ntar gue kabarin Ri.”


“Ok sip Ra.


 ***


Pagi ini halaman sekolah penuh dengan bus yang diparkir. Murid-murid yang ikut study tour sudah berdatangan. Ari, Wira, Toha dan Nara sudah masuk pintu gerbang. Mereka membawa tas besar-besar tempat bawaan mereka. Tapi di halaman sekolah mereka berpapasan dengan kelompoknya Drako.


“Nanti yang rajin ya ikut terapi…” Kata Drako sinis yang diikuti tawa ejekan kelompoknya yang lain.


Wira sudah mulai maju dengan tangan terkepal tapi Ari cepat-cepat menahannya.


“Ingat Wir, kata Pak Riza kita harus low profile,” kata Ari pelan.


Wira pun mengurungkan niatnya. Wira, Ari, Toha dan Nara hanya bisa melihat Kelompok Drako berjalan menjauhi mereka sembari masih tertawa mengejek. Ari mengajak teman-temannya untuk segera menuju bus mereka. Ari sempat mencari bus kelas Tata. Dia melihat Tata diantar ibunya. Ari dan Tata hanya bisa bertukar senyum dari jauh.


Sebagian besar murid kelas Ari terlihat sudah berkumpul di dekat bus mereka. Ari, Toha, Wira dan Nara segera memasukkan tas bawaan mereka ke bagasi. Pak Riza yang kembali jadi wali kelas, mulai mendata murid-muridnya. Tapi saat itu juga, perasaan Ari mulai tidak enak. Dia mulai mendengar suara gemuruh di atasnya. Ari pun mendongak ke atas. Dia melihat bola api itu lagi, melintas di atas bus mereka. Ari melihat ketiga temannya juga ikut mendongak.


“Ha, lo lihat?” tanya Ari.


“Iya gue lihat,” jawab Toha.


“Gue juga,” kata Wira.


“Ra?” tanya Ari.


Nara hanya mengangguk sembari memasang tudung jaketnya. Mereka berempat melihat bola api itu melayang-layang menuju gedung sekolah. Lalu di atas atap gedung, bola api itu terlihat mulai berputar-putar. Beberapa saat


bola api itu masih berputar-putar di sana. Lama-lama degup jantung Ari bertambah kencang. Bukan karena bola api itu yang kini berputar makin cepat. Tapi Ari mulai mencium sesuatu. Bau kabel terbakar. Bau yang Ari ingat betul. Bau yang mengembalikan ingatan Ari pada sosok yang dulu pernah mondar-mandir kamar orang tuanya. Tanpa berpikir panjang Ari berlari menuju gedung sekolah.


“Ri, mau kemana lo?” teriak Wira.


Tapi Ari tidak menggubris. Dia terus berlari menuju gedung sekolah. Bola api itu masih di atas sana. Wira dan Toha saling pandang. Lalu mereka berlari menyusul Ari.


“Hei! Mau pada kemana kalian! Kita udah mau berangkat!” Teriak Pak Riza.


Nara yang tadinya ragu, ikut menyusul Ari. Semua murid yang ada di halaman sekolah menyaksikan kejadian yang terasa ganjil itu. Tak terkecuali Tata. Dia tahu Ari pasti sedang melihat sesuatu. Tetapi Tata tidak menduga sampai segitunya Ari bereaksi. Ari pun sudah di dekat gedung sekolah. Tapi di jarak ini, Ari justru tidak bisa melihat bola api itu. Dan bau itu makin kuat tercium. Ari melihat sekitar. Dia harus mencari tempat tinggi untuk bisa melihat bola api itu lagi. Di seberang ada gedung kelas sepuluh. Gedung itu berlantai tiga. Ari berlari ke sana dan mulai menaiki tangga. Sesampai di lorong lantai tiga, Ari bisa melihat atap gedung yang tadi ada bola api di atasnya. Ari seperti orang gila mencari-cari bola api itu, karena di sana Ari sudah tidak melihatnya lagi. Toha, Wira dan Nara pun sudah menyusul Ari di lantai tiga. Mereka bertiga juga ikut mencari-cari, tapi sepertinya mereka tidak menemukannya. Justru Toha, Wira dan Nara heran dengan kelakuan Ari. Mereka melihat Ari seperti orang gila mencari sesuatu kesana-kemari.


“Ari! Toha! Wira! Nara! Ayo turun kalian!” Pak Riza berteriak dari bawah,” Cepat Turun! Atau kalian berempat kita tinggal!”


Toha dan Wira pun cepat-cepat menarik Ari yang sepertinya tidak mau berhenti mencari.

__ADS_1


“Ayo Ri, dia udah nggak ada!” ajak Toha ke Ari.


Toha dan Wira sampai setengah menyeret Ari untuk turun, karena Ari masih tengak-tengok mencari-cari. Dan Nara jadi khawatir dengan kelakuan Ari. Belum pernah dia melihat Ari seperti ini. Sampai di bawah pun Ari masih tengak-tengok dan sesekali menoleh ke atap gedung sekolah.


“Freak! Freak! Freak!” Kelompok Drako meneriaki mereka dari kejauhan.


Nara mengajak ketiga temannya untuk cepat masuk bus. Sepertinya dia sudah tidak tahan dengan situasi di luar. Ari duduk di salah satu bangku. Wira mencoba menenangkannya.


“Lo kenapa Ri?” tanya Toha.


“Kalian merasa ada bau sesuatu nggak tadi?” tanya Ari.


Ketiga teman Ari jadi terlihat bingung.


“Bau kayak gimana?” tanya Nara.


“Bau kayak kabel terbakar gitu…” jawab Ari.


Toha, Wira dan Nara menggeleng hampir bersamaan.


“Emang kenapa Ri?” tanya Nara lagi.


“Aku mencium bau seperti itu waktu ada hantu mondar-mandir masuk kamar papaku…” jawab Ari.


Toha, Wira dan Nara jadi saling berpandangan.


“Ingat gambar yang aku kasih lihat ke kamu kan Ra?” kata Ari.


“Hantu perempuan yang lidahnya menjulur,” tanya Tata.


Ari mengangguk. Sementara teman-teman sekelas mulai berkerumun di sekitar mereka berempat.


“Tenang-tenang Gaes. Tidak ada masalah apa-apa. Silahkan kembali ke tempat duduk masing-masing,” kata Toha sok ngatur.


Kocik yang mengerti situasinya segera mengatur teman-temannya. Dan bus pun mulai bergerak meninggalkan halaman sekolah. Ari duduk di sebelah Wira. Nara di depannya bersama Toha.


“Lo ok kan Bro?” tanya Wira. Dia lihat masih ada kegalauan di wajah Ari.


“Iya Wir… Gue ok…” jawab Ari.


Lalu ada pesan masuk di ponsel Ari. Ternyata dari Pak Riza :


‘Ri kalau ada sesuatu jangan bereaksi berlebihan. Kalau nggak saya serahkan masalahnya ke kepala sekolah’


Ari langsung membalas :


‘Maaf Pak Riza, tidak akan terjadi lagi’


Ari memperlihatkan pesan itu ke Wira.


“Tenang Bro…” Wira menepuk pundak Ari.


Ari mengangguk. Dia sadar, tadi dia terlalu berlebihan. Ari mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam. Lalu ada panggilan dari Tata di ponsel Ari.


“Halo Ta.”


“Halo Ri… Kamu nggak apa-apa kan?” Suara Tata pelan di ponsel Ari. Mungkin supaya tidak terdengar teman-teman sekelasnya di dalam bus.


“Aku nggak apa-apa Ta,” walau perasaan Ari masih galau, tapi dia tidak mau membuat Tata khawatir.


“Kamu lihat bola api itu lagi ya Ri?”


“Iya, kita berempat melihatnya… Tapi aku mencium bau itu Ta…”


“Bau apa Ri…”


“Bau seperti waktu aku lihat hantu yang mondar-mandir di kamar papa.”


“Hantu yang lidahnya menjulur kayak di gambarmu itu Ri?”


“Iya Ta..”


“Kamu masih mikirin hantu itu Ri?”


“Aku udah berusaha nggak inget sih Ta…”


“Mending kamu mikirin Mama kamu Ri…”


“Iya sih Ta…” Ari ingat, kata-kata Tata seperti nasehat kakeknya waktu itu.


“Mama kamu sehat kan Ri?”


“Sehat sih Ta… Ya kadang-kadang kecapekan aja karena sering ngejahit.”


“Kapan ya aku bisa ke sana? Mungkin pas liburan nanti aku sempetin ya Ri.”


“Iya Ta… Mama bilang, dia kangen sama kamu.”


“Beneran Ri?”


“Iya…”


“Ntar aku bawain buah yang banyak ya Ri…”


“Makasih ya Ta… Sudah baik sama semuanya.”


“Semua siapa?”


“Mmm… maksudnya baik sama aku.”


“O gitu… Tapi janji ya Ri…”


“Janji apaan?”


“Janji kamu akan lupain hantu itu.”


“Iya aku janji Ta…”


“Ntar kalau udah sampai, kita ketemu di hotel ya…”


“Ok Ta…”


“Bye…”

__ADS_1


“Bye.”


Lalu Ari menutup ponselnya. Setelah bicara dengan Tata, Ari jadi merasa lega. Ari bersukur dia punya Tata saat ini. Dia berharap, dia tidak akan pernah kehilangan Tata.


__ADS_2