
Hari ini hari yang istimewa buat Ari dan Tata. Mereka sudah merancang rencana jadian mereka, sehari sebelumnya. Setelah melanjutkan pembahasan projek karya ilmiah di rumah Astri nanti, Ari dan Tata akan berangkat ke gedung Alun-alun dari sana. Tentu ibu Tata tahunya Tata sedang di rumah Astri mengerjakan projek karya ilmiah. Rencananya, Ari dan Tata akan naik motor. Ari sudah pinjam jaket dan helm ojek online milik tetangganya agar nanti jika ada yang mengenali Tata di jalan, mereka tahunya Tata sedang naik ojek online. Dan pagi ini di sekolah,
Nara sudah masuk sekolah. Nara tahu hari ini Ari dan Tata akan jadian. Dan Ari diam-diam sudah membawa setangkai bunga mawar atas saran Nara. Tak seorangpun tahu, kecuali Nara, Toha dan Astri kalau Ari dan Tata akan jadian.
Siangnya, Ari dan Tata benar-benar berangkat naik motor dari rumah Astri. Toha dan Astri mengantar sampai depan rumah. Mereka ikut senang, sahabat mereka akhirnya jadian juga.
“Eh, kalian mau jadian di mana sih?” Tanya Astri saat Ari dan Tata sudah di atas motor.
“Ada deh…” Jawab Tata sambil bercanda,” Kita maunya ini jadi rahasia buat kita berdua.” Khusus untuk Astri, Tata memang sengaja merahasiakan tempat jadian mereka, walau Toha sebenarnya sudah tahu.
“O, gitu. Romantis banget sih kalian,” kata Astri polos.
Lalu Ari menjalankan motornya meninggalkan Toha dan Astri.
Langit sedikit mendung. Ari meluncurkan motornya di antara kendaraan lain di jalan menuju Gedung Alun-alun. Ini pengalaman pertama buat Ari naik motor bersama seorang anak perempuan dan juga buat Tata memboceng motor
bersama anak laki-laki. Mereka pun masih was-was, kalau-kalau ada yang mengenali mereka, walau sudah pakai helm dengan penutup di bagian muka. Tapi buat Tata ini merupakan sensasi baru setelah selama ini kemana-mana dia hanya naik mobilnya atau naik taxi. Sekarang berama Ari, dia bisa merasakan deru angin dan hiruk pikuk kota saat mereka melintas di jalanan.
Sesampai di gedung Alun-alun, Ari memarkir motornya di tempat parkir liar dekat situ. Ari dan Tata pun masuk ke halaman depan. Di salah satu sudut halaman, sudah ada kerumunan crew yang tampaknya akan membuat acara uji nyali nanti malam. Ari dan Tata berjalan berdua sembari mengamati gedung tua di depan mereka. Sebenarnya dari sejak masuk halaman tadi perasaan Ari tidak enak. Tapi dia berusaha tak menghiraukannya. Karena dia tidak mau kehilangan momen bisa berjalan berdua bersama Tata. Ari sempat melirik kalung perak yang masih melingkar di leher Tata.
“Kamu lihat sesuatu, Ri?” Tanya Tata, tapi mukanya sambil senyum-senyum.
“Enggak, nggak ada apa-apa kok,” jawab Ari, walau tadi sempat sekilas terlihat bayangan-bayangan hitam berkelebatan di antara deretan jendela yang besar-besar.
Tata tahu, Ari bohong untuk menenangkan dirinya. Tapi dengan begitu, Tata malah bertambah senang.
“Kamu yakin?” kata Ari ke Tata sebelum mereka memasuki gedung. Ari tidak masalah kalau Tata membatalkan rencana mereka, karena dia tahu apa yang ada di dalam gedung sana.
Tata menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan mata berbinar-binar, tanda dia sudah tidak ragu lagi dengan rencana mereka. Dan mereka pun melangkahkan kakinya memasuki gedung tua itu. Atap gedung itu tinggi.
Disana-sini banyak ornamen jaman Belanda yang sudah tidak terawat. Ari sengaja mengajak Tata menghindari jalan ke arah ruang bawah tanah. Karena di lobby gedung saja Ari sudah melihat bayangan-bayangan orang yang merangkak di langit-langit. Tetapi Tata ternyata menikmati ketegangan di wajah Ari sembari memegangi bandul kalungnya. Lalu Ari melihat sosok hitam setinggi gedung tak jauh dari mereka berdiri. Ari pun memandang ke Tata.
“Kamu takut?” Tanya Ari.
“Enggak…” Jawab Tata,” Kan ada kamu…”
Ari tahu, Tata masih memakai kalungnya. Tetapi tetap saja dia merasa was-was. Lalu Ari menggandeng Tata dan mengajaknya menuju tangga ke atas.
“Kita naik tangga itu aja,” kata Ari. Dia merasa di atas sana suasananya lebih menenangkan.
“Ok…” kata Tata menurut. Dia akan menurut kemana saja Ari akan membawanya.
Mereka pun mulai menaiki tangga lebar yang memutar. Ari merasa bayangan yang merangkak di langit-langit semakin banyak. Dan sepertinya sosok hitam besar di belakang mulai mendekat. Ari pun mengeratkan genggamannya ke tangan Tata dan Tata pun membalasnya lebih erat. Ari menuntun Tata berjalan agar
lebih cepat sampai ke atas. Dan sesampai di atas, suasana redup pun berubahnterang. Sinar matahari begitu cerah. Ternyata mereka berdua telah sampai di puncak menara. Mereka bisa melihat suasana alun-alun dengan leluasa. Tata pun merapatkan berdirinya di pinggir salah lubang jendela yang besar. Dia takjub dengan pemandangan yang bisa dia lihat dari puncak menara.
“Bagus sekali Ri, pemandangannya,” kata Tata sembari menikmati angin sore yang menerpa wajah dan rambutnya.
Ari lega Tata akhirnya bisa menikmati tempat ini juga, walau dia masih was-was dengan apa yang ada di bawah tadi. Dan Ari merasa ini saatnya dia harus memberikan setangkai bunga mawar yang dia bawa buat Tata. Ari
cepat-cepat mengeluarkan bunga itu. Tapi ada yang aneh buat Ari. Dia mengeluarkan bungan mawar, tapi yang tercium di tempat itu malah bunga melati. Ari pun berusaha untuk tidak menghiraukannya, karena Tata sudah terlanjur melihatnya menggenggam setangkai bunga itu.
“Ini buat kamu Ta,” kata Ari menyerahkan bunga itu ke Tata. Dan Ari semakin kuat mencium bau bunga melati.
Tata langsung menerima bunga itu dan menciumnya dalam-dalam sembari tak berhenti menatap Ari. Dan Ari merasa ada sosok lain bersama mereka di tempat itu.
“Berarti kita jadian ya Ri,” kata Tata berbunga-bunga.
“Iya, kita jadian Ta…” kata Ari.
“Kita nggak akan terpisahkan kan Ri,” kata Tata dengan muka berharap.
“Iya Ta, kita nggak akan terpisahkan…” Kata Ari serius.
Lalu Ari terdiam sebentar. Karena lama-lama dia bisa melihat jelas sosok yang ternyata dari tadi memperhatikan mereka berdua.
“Ada apa Ri?” Tanya Tata setengah berbisik, setelah melihat perubahan wajah Ari.
Ari masih diam. Dia ragu untuk bercerita ke Tata.
“Kamu lihat sesuatu?” Tanya Tata.
“Iya…” jawab Ari sembari melirik arah samping kirinya.
__ADS_1
Tata berusaha melihat ke sana, tapi dia tidak melihat apa-apa. Tata tahu, itu karena kalung yang dipakainya.
“Serem ya Ri?” Tanya Tata.
“Enggak…” jawab Ari.
“Emang kayak gimana dia Ri?”
“Dia perempuan… Kayaknya dia seumuran kita deh Ta… Tapi dia bule, pakai baju balet.”
“Orang Belanda?”
“Mungkin… Dari tadi dia ngelihatin kita.”
Lalu Ari terlihat sedikit kaget. Karena sosok itu kini mengajaknya bicara.
“Kenapa Ri,” Tanya Tata penasaran.
“Dia ngajak bicara Ta…”
“Apa katanya?”
“Katanya dia senang lihat orang saling jatuh cinta...”
Tata merasa aneh, ternyata hantu tahu juga tentang jatuh cinta. Tapi setidaknya dia jadi tidak merasa takut. Lalu wajah Ari mulai memerah.
“Ada apa Ri,” Tata penasaran melihat wajah Ari yang jadi linglung.
“Mmmm…” Ari ragu untuk mengatakannya.
“Dia bilang apa sih Ri ?” Tata tambah penasaran.
“Mmm dia bilang… Dia bilang kalau orang jatuh cinta harusnya saling ciuman…”
“Ih… Ada-ada aja ya dia…” kata Tata. Tapi kini wajah Tata ikut memerah.
Lalu Ari untuk beberapa saat terlihat sedang menyimak.
“Ta, katanya dia nggak bisa lihat kamu,” kata Ari,” Tapi katanya dia tetep bisa mencium bau kamu…”
“Katanya bau kamu wangi sampai kemana-mana…”
Sejenak Tata tertegun, begitu juga Ari.
“Katanya beberapa hari ini, di bawah banyak yang sedang cari orang yang baunya seperti kamu… Katanya mereka dari pelabuhan, lewat sini, mau ke rumah sakit.”
Ari jadi ingat peta kota yang ditempelkan Nara di kamarnya. Di peta itu Nara menarik garis tebal antara pelabuhan, Gedung Alun-alun dan sekolah mereka.
“Ta, katanya yang ada di lobby sudah mencium bau kamu,” kata Ari. Wajahnya kini tegang. “Kita disuruh cepet pergi dari sini Ta.”
Tanpa pikir panjang, Ari dan Tata pun bergegas beranjak dari tempat itu. Tapi saat akan menuruni tangga yang tadi, langkah Ari terhenti.
“Ta, katanya kita disuruh turun tangga yang satu lagi,” kata Ari.
Ari dan Tata pun menemukan tangga lain di ujung ruangan. Mereka berdua segera menuruni tangga itu. Tangga lebar melingkar yang sama. Tapi yang satu ini langsung menuju ke pintu keluar. Dan akhirnya dengan
setengah berlari, mereka berdua sampai di luar. Tapi Tata tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Ri! Bunganya…” Kata Tata.
“Kenapa Ta?” Tanya Ari melihat wajah Tata yang bingung.
“Kayaknya bunganya jatuh di tangga deh Ri,” kata Tata.
“Udah nggak apa-apa Ta,” kata Ari,” Nanti aku beliin lagi,” Ari merasa keselamatan Tata lebih penting. Apalagi kini dia tahu, walau Tata tidak bisa terlihat oleh mereka, tapi mereka masih bisa mencium bau Tata.
“Ri, kita musti balik ke sana, ambil bunganya,” kata Tata dengan wajah merengek.
“Ta, please… Mereka sudah mencium bau kamu Ta…”
Tata menggigit bibirnya. Wajahnya terlihat kecewa. Bunga itu kini sangat berarti buatnya.
“Ri, please, kita harus balik sana…” kata Tata dengan muka
__ADS_1
memelas.
Ari pun tidak bisa untuk tidak memenuhi permintaan Tata, walau apapun resikonya. Tapi sebelum Ari mengiyakan, ponsel Tata berdering. Ternyata dari ibunya. Tata pun mengangkat ponselnya.
“Halo Ma…”
“Halo Ta, kamu masih di rumah Astri ?” Tanya Ibu Tata di ponsel Tata.
“Masih Ma… Ini udah mau pulang. Tata naik ojek online aja. Naik taxi takut macet, lama sampai rumah.”
“O gitu… Hati-hati ya… Cepetan, soalnya ini udah mau hujan.”
“Iya Ma…”
Tata menutup ponselnya. Dia memandang Ari sebentar. Sepertinya dia harus merelakan bunga itu.
Gerimis pun mulai turun saat Ari dan Tata meluncur di atas motor. Tata masih memikirkan bunga mawar yang tertinggal di gedung Alun-alun. Dia berusaha pasrah. Dan dia peluk erat Ari dari belakang. Dia akan relakan bunga itu. Tapi dia tidak mau kehilangan Ari. Pelukannya semakin erat. Dia sandarkan kepalanya ke punggung Ari sembari menyaksikan suasana jalanan dalam balutan gerimis yang lewat dan mereka tinggal di belakang. Lalu Tata ingat hantu yang ada di menara Gedung Alun-alun.
“Ri, nanti kamu gambar hantu yang di menara ya…” kata Tata.
“Kenapa Ta...” Ari tidak terlalu mendengar suara Tata karena
bising deru jalanan.
Tata pun mendekatkan kepalanya ke Ari.
“Nanti kamu gambar hantu yang di menara ya!” kata Tata lebih
keras.
“Iya Ta!”
Mereka pun sampai di depan rumah Tata. Kebetulan ibu Tata terlihat di halaman. Sepertinya ibu Tata baru turun dari mobilnya. Dan ibu Tata terlanjur melihat Tata. Tata pun cepat-cepat turun. Dia serahkan helm ojek onlinenya ke Ari dan mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Dia serahkan uang itu ke Ari.
“Makasih ya Pak,” kata Tata keras-keras.
“Makasih Neng,” balas Ari.
Diam-diam Ari dan Tata berusaha menahan tawa karena tingkah mereka sendiri. Lalu Ari pun meninggalkan Tata. Hanya tatapan mata mereka yang bisa menyampaikan ucapan selamat tinggal untuk hari ini.
Malamnya, setelah belajar, Ari mulai menggambar hantu yang ada di menara Gedung Alun-alun. Setelah tadi Tata mengirimkan pesan di ponsel Ari agar tidak lupa akan pesanannya. Ari pun menggambar sosok perempuan remaja,
berkulit pucat dan berambut pirang. Dia memakai baju balet. Dan yang membuat sedikit seram adalah salah satu bola matanya berwarna merah. Ari pun menambahkan warna merah di mata itu dan warna biru di mata sebelahnya. Setelah jadi, Ari kirim gambar itu ke Tata dengan pesan : Selamat tidur & mimpi indah. Kita tidak akan pernah terpisahkan.
Setelah siang tadi berkendara naik motor, badan Ari terasa sedikit capek. Ari pun membanting badannya ke kasur. Tapi ada notifikasi bunyi di ponsel Ari, ternyata ada pesan dari Tata.
Tata : Ri, hantunya kok cantik banget sih, kamu naksir nggak sama dia?
Lalu Ari membalasnya.
Ari : Lailah Ta, dia kan hantu
Tata : tapi kan dia cantik
Ari : cantik gimana, lihat aja matanya yang satu merah, serem
Tata : Iya sih, ya udah aku bobok dulu ya, makasih gambarnya malam ini, bye
Ari : bye
Lalu Ari menaruh ponselnya. Lama-lama matanya terasa berat. Kantuknya pun tak tertahan lagi. Dan malam ini di luar sana hujan turun cukup lebat. Saking ngantuknya, Ari pun lupa mematikan lampu kamarnya seperti
biasanya dia kalau tidur. Hingga hujan di luar mulai mereda. Di antara bunyi gerimis, Ari merasa ada sesuatu di atas dia terbaring. Ari tidur telentang, dan di atas Ari, terbujur tubuh telungkup, melayang tepat di atasnya. Ari berusaha
membuka matanya, tapi tak bisa. Tapi lama-lama Ari bisa melihat wajah yang begitu dekat dengan mukanya. Wajah itu wajah anak perempuan bermuka pucat dan berambut pirang yang ada di menara Gedung Alun-alun. Begitu dekat wajah itu hingga bibir Ari hampir bersentuhan dengan bibirnya. Ari bisa menatap matanya yang tajam berwarna biru dan berwarna merah. Ari berusaha berontak. Dan Ari pun terbangun. Dia terduduk dengan nafas masih tak beraturan. Ternyata tadi hanya mimpi. Tapi Ari merasa aneh, karena gambar anak perempuan itu kini ada di pangkuannya. Seingat Ari, dia sudah menaruh gambar itu di atas meja belajarnya. Atau mungkin Ari lupa karena saking capeknya. Lalu dengan langkah gontai Ari menaruh gambar itu ke mejanya. Ari sempat melirik ke jam dinding. Jarum jam tepat menunjuk di angka tiga. Lalu Ari mencium bau bunga melati. Spontan Ari buru-buru kembali ke ranjangnya. Ari tarik selimutnya sampai ke leher. Ari berusaha memejamkan matanya karena bau melati masih tercium olehnya. Ari pun berusaha tak menghiraukannya. Karena badannya yang memang sudah capek, akhirnya Ari tertidur. Sampai pagi hari dia terbangun oleh ibunya yang mengetuk pintu kamarnya.
“Ari! Bangun! Ini sudah jam 6, nanti kamu terlambat,” suara ibu Ari terdengar lantang di depan kamar.
“Iya Ma,” Jawab Ari dengan suara masih serak,” Ari udah bangun,” ternyata memang Ari bangun kesiangan dari seperti biasanya.
Ari pun cepat-cepat beranjak dari ranjangnya. Tapi saat melewati meja belajarnya, langkahnya terhenti. Dia melihat gambar anaknperempuan bermuka pucat dan berambut pirang itu ada di atas meja belajar. Dan
__ADS_1
di atas gambar itu tergeletak setangkai bunga mawar. Itu adalah bunga yang kemarin di Gedung Alun-alun, Ari kasih ke Tata.