Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 73 : Ari Hanya Ingin Menyelamatkan Tata


__ADS_3

Ari berusaha mengumpulkan keberaniannya. Rasa marah mulai membakar jantungnya. Siapapun tidak akan pernah dia biarkan menyentuh Tata. Tidak hantu bayangan, tidak semua hantu yang gentayangan di sekolahnya, tidak juga hantu mata satu bertaring panjang yang ada di depannya. Sementara hantu matasatu itu belum selesai tertawa, Ari berlari cepat ke arahnya. Tikam dari belakang, kata kakeknya. Dengan rasa marah Ari menikam sosok itu dari belakang. Lalu ambil jantungnya, itu kata kakeknya lagi. Di benak Ari, siapapun yang akan mencelakai Tata, tidak akan dia biarkan hidup, termasuk hantu yang kini merasa kepanasan. Tangan Ari sudah menghuncam ke badan sosok itu yang kini meronta-ronta dengan suara jeritan menyayat. Lalu Ari terlontar ke lantai. Karena sosok itu seperti meledak. Ari yang berusaha bangun melihat sisa-sisa sosok itu yang terbakar api. Lalu asap berbau anyir mulai mengepul menyisakan abu yang bertaburan jatuh ke lantai. Dan Ari baru sadar nyala api yang tadi melayang-layang di sekitar Tata kini berjatuhan dan membakar apa saja yang ada di dekatnya.


“Ari!” Tata menghampiri Ari,” Kamu nggak apa-apa?” Tangan Tata mengusap-usap muka Ari yang penuh dengan abu.


“Nggak apa-apa Ta,” kata Ari sembari berusaha berdiri.


Sebenarnya badan Ari masih gemetar, tapi dia berusaha untuk terlihat tegar di depan Tata. Tata pun melihat tangan Ari yang merah seperti bekas terbakar. Seperti tangan Tata waktu habis kejadian di laboratorium, tapi punya Ari lebih parah.


“Kita harus keluar dari sini Ta,” ujar Ari begitu melihat sekelilingnya yang mulai terbakar api.


Ari dan Tata melihat meja, kursi, lemari dan semua yang ada di sekelilingnya sudah dilalap api. Mereka cepat-cepat beranjak menuju pintu keluar. Tapi baru sampai depan pintu, seonggok besar kayu dari atap yang terbakar jatuh menghalangi mereka bejalan ke pintu. Mereka pun mencari jalan lain untuk keluar. Tapi sepertinya semua sudut ruang itu sudah penuh dengan api yang berkobar. Kini mereka sudah dikelilingi api yang menjilat-jilat. Ari dan Tata muai merasakan panas yang membakar kulit. Mereka hanya bisa jongkok, diam tak bisa ke mana-mana. Berkali-kali mereka berteriak minta tolong. Tapi sepertinya tidak ada yang mendengar di luar sana. Ari memandangi Tata. Badan Tata gemetar. Tata pun memandangi Ari. Mata Tata basah. Air matanya mengalir ke pipi. Bibirnya bergetar.


“Kita akan mati di sini Ri,” kata Tata lirih.


Ari cuma bisa memandangi Tata. Mulutnya kelu untuk mengatakan sesuatu. Bagaimanapun ketakutan juga melanda dirinya.


“Peluk aku Ri,” kata Tata.


Ari pun cepat memeluk Tata. Mengusap kepala Tata, seakan dia sedang melindungi Tata dengan badannya. Baru saja dia menyelamatkan Tata dari hantu mata satu bertaring panjang. Tapi bagaimana dengan api yang kini membakar semua yang ada di sekeliling mereka. Dengan mata nanar, Ari memandangi jilatan api yang sudah mendekat. Kulitnya sudah terasa terbakar. Ari pun mengeratkan dekapannya ke Tata. Kalaupun api sudah menghampiri mereka, dia berharap, dia duluan yang akan terbakar. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.


“Jangan tinggalin aku ya Ri,” kata Tata dengan sisa suaranya.


Ari hanya bisa membenamkan wajahnya ke rambut Tata dengan mata terpejam. Karena kini asap tebal mulai melingkupi mereka. Ari merasa hidup mereka akan berakhir di sini. Mereka dilahirkan di hari yang sama, dan akan mati bersama di tempat ini.


Tiba-tiba terdengat bunyi keras benda yang berjatuhan. Ari melihat pintu yang terbakar disana dibongkar orang. Lalu seseorang masuk membawa alat pemadam dan menyemprotkan ke api di sekitarnya. Kobaran api pun sempat mengecil di sana. Ari mulai bisa melihat orang yang membawa alat pemadam. Itu Pak Min. Dan di belakang Pak Min ada Toha dan Wira.


“Ari!” suara Toha memanggil Ari.


Dengan terbatuk-batuk Ari mengajak Tata untuk cepat menuju ke sana. Ari membantu Tata untuk beranjak karena badan Tata sudah lemas karena asap yang dihirupnya. Ari dan Tata berusaha melewati api yang sempat meredup karena semprotan alat pemadam. Toha dan Wira yang sudah berhasil masuk segera membantu Ari dan Tata keluar dari tempat itu. Mereka pun berhasil keluar. Sementara onggokan-onggokan kayu yang terbakar mulai berjatuhan di ruangan itu.


Ari, Tata, Toha dan Pak Min berlari menjauhi laboratorium kimia. Dari lubang jendela dan ventilasi, asap hitam mulai keluar. Di salah satu sudut atap, api sudah terihat menjilat-jilat. Asap hitam tebal pun mulai bergumpalan membumbung ke langit. Di dekat parkir sepeda mereka berhenti berlari. Dengan nafas terengah, mereka hanya bisa memandangi laboratorium kimia yang mulai dilalap api. Semua orang yang ada di sekolah jadi panik. Nara pun terlihat menyusul ke parkir sepeda.

__ADS_1


“Ari! Tata! Kalian nggak apa-apa?” tanya Nara cemas.


Nara melihat rambut, wajah, baju Ari dan Tata penuh abu.


“Nggak apa-apa Ra,” jawab Ari datar. Tapi pandangan Ari tidak pernah beralih dari Tata.


Karena Tata masih terlihat shock. Bukan saja karena hantu mata satu bertaring panjang yang mengincarnya. Tetapi peristiwa tebakarnya laboratorium kimia masih menghantui pikirannya.


“Kamu harus pulang sekarang Ta,” kata Ari.


Tata hanya memandangi Ari dan mengagguk pelan. Lalu Ari mengajak Tata keluar sekolah. Tata tidak mungkin pulang pakai mobilnya. Sekarang, sebelum jam satu, gerbang sekolah tidak akan pernah dibuka. Ari tahu itu. Ari membantu Tata untuk melompat pagar sekolah. Lalu di trotoar, Ari menghentikan taxi yang lewat. Tata pun sudah duduk di belakang.


“Ta, sampai rumah, mandi, makan, langsung tidur ya,” kata Ari memandang Tata serius saat kaca taxi masih terbuka.


Tata hanya bisa menatap Ari dan mengangguk pelan. Lalu Tata  tangan Ari yang masih berdiri di luar taxi.


“Kamu gimana Ri?” tanya Tata dengan suara patah-patah.


Tata masih menggenggam erat tangan Ari. Sepertinya, setelah mengalami kejadian di laboratorium kimia bersama Ari, Tata belum siap ditinggal Ari secepat ini. Tapi sopir taxi sudah menengok ke belakang.


“Ini jadi jalan apa tidak?” tanya sopir taxi.


Pelan dan hati-hati, Ari melepas tangan Tata. Taxi pun mulai berjalan. Dari jendela taxi, Tata tidak pernah melepas pandangannya ke Ari. Beberapa saat Ari masih memandangi taxi yang mulai tak terlihat ditelan deru jalanan. Lalu Ari berniat kembali ke sekolah. Sebelum Ari melompat pagar, terdengar sirine meraung-raung. Beberapa mobil pemadam kebakaran melintas cepat di jalanan depan sekolah. Iringan-iringan itu berhenti di depan gerbang sekolah. Tapi ada masalah di sana. Mobil-mobil pemadam itu tidak bisa masuk karena gerbang terkunci. Setelah melompat pagar Ari pun melangkah ke sana. Di sana sudah ada beberapa guru yang kebingungan karena gerbang tidak bisa dibuka. Ari pun melihat asap hitam makin besar membumbung tinggi dari dalam sekolah. Lalu Pak Min terlihat di antara guru-guru. Pak Min bilang, kunci gerbang sekarang Pak Suman yang bawa. Dan dari tadi tidak ada yang bisa menemukan Pak Suman. Akhirnya pihak pemadam kebakaran membuka paksa gerbang sekolah. Dan rombongan mobil pemadam kebakaran mulai masuk dengan sirine yang meraung-ranung.


Murid-murid pun segera disuruh pulang. Mereka berhamburan keluar sekolah dengan muka-muka yang panik. Murid-murid itu berjalan cepat-cepat ke arah gerbang. Mereka ingin lekas keluar dari situ. Tapi tidak dengan Ari. Dia justru sedang melangkahkan kakinya menuju sekolah. Ada urusan yang musti dia selesaikan di sana. Ari hanya  menatap tajam asap hitam yang membumbung. Setelah peristiwa yang dialaminya bersama Tata tadi, kini tidak tersisa sedikit pun perasaan ragu dan rasa takut pada dirinya. Yang dia pikirkan adalah daun kelor yang masih ada di dalam tasnya. Bahkan dia mulai tidak memikirkan orang padepokan yang akan datang ke sekolah. Bisa saja dia akan menghabisi hantu bayangan dengan tangannya sendiri. Juga kalau bisa, semua hantu yang sedang bergentayangan di sekolahnya.


Sesampai di dalam, Ari berkumpul kembali dengan Toha, Wira dan Nara. Dia pun menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan Tata, tentang hantu mata satu bertaring panjang. Keitga teman Ari hanya bisa bengong mendengarnya. Mereka tidak mengira Ari bisa membunuh hantu mata satu itu. Bahkan mereka tidak pernah mengira hantu itu bisa dibunuh. Memang Ari juga tidak pernah cerita kalau Tata tanpa sengaja pernah membunuh hantu di laboratorium komputer waktu itu.


“Gue mau ambil daun kelor dulu,” kata Ari.


“Nih, ada di sini,” Toha menyerahkan tas Ari. Mereka memang sudah bersiap dengan tas masing-masing.

__ADS_1


“Ok, gue kira kita nggak usah nunggu orang padepokan,” kata Ari.


“Maksud lo?” tanya Nara.


Ari tidak bisa mengucapkannya dengan kata-kata. Dia hanya memandangi ketiga temannya. Emosinya kini sedang memuncak setelah peristiwa yang dialaminya bersama Tata tadi di laboratorium kimia.


“Ri, kita harus lakukan sesuai rencana,” sergah Nara.


Ari masih diam. Matanya masih nanar membayangkan hantu-hantu yang ingin dia bunuh. Toha, Wira dan Nara sempat khawatir dengan sikap Ari. Mereka melihat perubahan pada diri Ari. Mereka tidak melihat Ari seperti yang


biasanya.


“Ri, tenang Ri,” Wira merangkul Ari,” Lo masih shock, biar gue atau Toha yang bawa daun kelornya.”


“Bener Ri,” tambah Toha,” Kita nggak tahu juga hantu bayangan kayak gimana. Pembantunya Lisa kan yang bilang hantu itu pinter dan culas.”


Ari masih diam. Kini pandangannya jatuh ke bawah.


“Ri, denger… “ Kata Nara sembari memegang pergelangan Ari,” Yang penting sekarang lo udah selametin Tata, yang lain-lain kita serahin aja sama ahlinya.”


Mendengar kata-kata ketiga temannya, emosi Ari mereda. Hanya Tata yang kini ada di benaknya. Mata Ari mulai berkaca-kaca.


“Gue cuma nggak mau ada yang mencelakai Tata…” Ari pun bicara walau dengan suara serak.


“Iye… Kita semua tahu kok,” kata Toha yang ikut merangkul Ari dan mengacak-acak rambutnya,” Tata juga tahu itu...”


Lalu ada beberapa guru yang melintas tak jauh dari situ.


“Hei, ngapain kalian masih ada di situ!” Kata salah satu guru,” Ayo pulang! Semua juga sudah pada pulang! Bahaya kalau masih di sini!”


Ari, Toha, Wira dan Nara pun cepat-cepat beranjak dari situ. Tetapi sebenarnya mereka tidak kemana-mana kecuali berkumpul di mobil Nara. Nara menelpon Bang Yudha menceritakan kondisi terkini di sekolah mereka. Bang Yudha pun memutuskan untuk segera datang ke sekolah, karena toh pintu gerbang sudah terbuka dan situasi sekolah yang kini sedang tidak menentu. Lalu Ari meminta teman-temannya, seperti rencana semula, dia yang akan membawa daun kelor. Ari merasa daun kelor itu pemberian dari Tata. Melihat emosi Ari yang sudah mereda, ketiga teman Ari pun tidak masalah. Kini tinggal bagaimana caranya mereka bisa menemukan hantu bayangan. Dengan situasi darurat karena kebakaran di laboratorium kimia, mereka harus bisa masuk ke ruang kepala sekolah.

__ADS_1


__ADS_2