
Hari ini, saat jam istirahat pertama, Nara ijin pulang
dengan alasan badannya kurang sehat. Lalu tiba-tiba Wira menghampiri Ari.
“Ri, bisa bicara?” tanya Wira.
“Bisa,” jawab Ari spontan,” kenapa Wir?”
“Kita bicara di toilet aja Ri.”
“Boleh.”
Ari dan Wira pun pergi ke toilet. Wira sengaja mencari sudut
toilet yang sepi.
“Ri, menurut lo, siapa pelakunya?” tanya Wira tanpa
basa-basi.
“Yang nyoret mobil Nara sama yang ngambil jaketnya?” Ari
tanya balik, karena dia merasa tidak punya jawabannya.
“Iya lah…” Jawab Wira agak kesal dengan basa basi Ari.
“Emm… gue belum tahu Wir…”
“Si Drago bukan pelakunya?”
“Drago…?”
“Iye… Dia kan yang waktu itu kasih surat petisi ke lo.”
“Nggak tahu juga deh Wir…” Kata Ari ragu,” Kita musti
selidiki dulu…”
“Udah jelas pelakunya dia!” suara Wira agak keras,” Siapa
lagi di sekolah ini yang paling benci sama kita Ri!”
Lalu tanpa basa-basi, Wira langsung meninggalkan Ari.
Sepertinya Wira kesal dengan sikap Ari yang dinilainya tidak tegas. Dan Ari belum
sempat mengatakan sesuatu untuk menenangkan Wira. Di kelas, Ari masih
memikirkan Nara. Dan beberapa kali dia melirik ke Wira. Ari khawatir, Wira akan
bertindak gegabah, seperti dulu pernah kejadian saat kasus dengan adik kelas
bernama Fatar hingga Wira harus menjalani hukuman skorsing 1 minggu. Dan Ari
tidak akan membicarakan masalah Nara dan Wira ini dengan Toha. Ari tahu, Toha
akan berusaha menjauh dengan masalah apapun yang berkenaan dengan Nara dan Wira.
Malam hari, saat belajar, Ari masih kepikiran Nara.
Sebenarnya Ari merasa kasihan pada Nara. Meskipun Nara anak orang kaya, tapi
dia broken home. Bapak ibunya sudah bercerai dan punya keluarga baru
sendiri-sendiri. Di tengah Ari mulai membuka bukunya, ponselnya bunyi. Ada
panggilan dari Tata. Ari langsung mengangkatnya.
“Halo Ta,”Ari langsung menjawab.
“Halo Ri, lagi belajar ya? Maaf ganggu,” Tata bicara agak
buru-buru di ponsel Ari. Ari pikir mungkin Tata takut ketahuan ibunya.
“Ngga apa-apa Ta. Kenapa Ta?”
“Ri, besok siang kita ketemuan lagi yuk. Sama Astri, sama
Toha juga.”
“Boleh…”
“Tapi jangan di Kafe Donat lagi. Takutnya Jodi maksa mampir
ke kafe. Kita ke rumah Astri aja. Kalau di rumah Astri, Jodi nggak bakal ke
sana.”
“Iya boleh…”
“Tapi tadi Astri bilang, dianya malu, katanya karena
rumahnya jelek.”
“Nggak apa-apa Ta… Kata Toha, di belakang rumah Astri
kebonnya luas. Nanti kamu bisa ngerjain di kebon.”
“Wah, bagus juga idenya Ri. Nanti kita bisa pasang tikar di
sana. Ntar aku bujuk si Astri lagi. Nanti kamu telpon Toha juga ya Ri. Suruh si
Toha bujuk Astri.”
“Iya Ta.”
Lalu Ari pun menelpon Toha. Toha langsung antusias. Dia
optimis bisa membujuk Astri. Dan Ari pun sudah lupa dengan Nara.
Pagi harinya di sekolah, saat Ari baru masuk pintu gerbang,
dia melihat kerumunan di dekat lapangan basket. Dari jauh Ari melihat Wira
sedang dilerai beberapa murid. Dan tak jauh dari situ ada Drago yang juga
dipegangi beberapa murid. Ari bisa lihat muka Drago berdarah. Lalu ada guru
pria datang ke kerumunan murid. Tak berapa lama, Wira dibawa guru itu menuju
ruang BP. Ari menyusul ke ruang BP. Di depan ruang BP sudah banyak murid
berkerumun. Ada beberapa murid berdatangan ingin masuk ruang BP. Ari tahu
mereka teman-teman Drago. Beberapa dari mereka adalah pengurus OSIS. Sepertinya
mereka tidak terima dengan apa yang dilakukan Wira terhadap Drago. Tapi ada
guru BP yang melarang mereka untuk masuk. Lalu guru itu menyuruh murid-murid
yang berkerumun untuk bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Ari pun harus
cepat pergi dari situ, karena beberapa teman Drago sudah mulai menatap Ari
dengan penuh kebencian. Mereka tahu, Ari masih satu komplotan dengan Wira.
Sampai di kelas, Ari mendapati Nara tidak masuk.
“Ri nanti jadi kan kita ke rumah Astri,” Toha mendatangi
bangku Ari.
“Jadi Ha,” kata Ari pasti.
“Ok deh,” kata Toha sembari balik ke bangkunya dengan wajah
__ADS_1
berbunga-bunga.
Ari tahu, Toha tidak akan peduli dengan apa yang terjadi
pada Wira. Juga pada Nara yang tidak masuk hari ini. Sampai jam istirahat
pertama, Wira belum kembali juga ke kelas. Setelah Ari cari info, ternyata Wira
langsung disuruh pulang. Besok orang tuanya dipanggil ke sekolah dan Wira
dihukum skorsing selama seminggu. Wira diberi peringatan untuk terakhir kali.
Jika terjadi lagi, dia akan dikeluarkan dari sekolah.
Setelah bel pulang sekolah, seperti rencana yang
sudah-sudah, Ari dan Toha menunggu di bekas pom bensin sampai taxi yang
ditumpangi Tata dan Astri datang. Waktu taxi datang, Ari dan Toha sempat
melihat sosok bapak-bapak yang berdarah-darah. Tapi Ari lega, sosok itu sudah
menyeberang jalan ketika mereka masuk taxi. Tata dan Astri menyambut mereka
dengan ceria. Seperti biasa, Toha duduk di belakang, di sebelah Astri, dan Ari
duduk di depan, di sebelah sopir.
“Eh, Ri… Ngomong-ngomong si Wira sama si Nara kenapa?” tanya
Astri dengan polosnya di tengah canda mereka. Mungkin karena beritanya masih
hangat dibicarakan di sekolah.
“Mmm… Si Wira…” Ari masih memikirkan kata-kata yang tepat
buat Astri karena Astri tidak seperti mereka.
“Gara-gara sok jago bisa lihat hantu, trus mereka mau masuk
ke lorong bawah tanah,” kata Toha menyela.
Ari langsung melotot ke Toha. Tidak seharusnya Toha berkata
begitu di depan Astri. Dan Toha sepertinya baru sadar akan kekhilafannya.
“Si Nara itu nemu buku penelitian kakeknya tentang lorong
bawah tanah yang ada di bangunan Belanda,” Ari buru-buru menjelaskan dengan
kata-kata yang mungkin bisa dipahami Astri,” Kakek Nara dulu kan kepala
sekolah. Kebetulan dia guru sejarah juga. Nah si Nara ini ingin membuktikan
penelitian kakeknya itu…”
“O, gitu…” kata Astri serius,” Aku sering baca juga tentang
bangunan Belanda. Memang dulu Belanda banyak membuat lorong-lorong bawah tanah.
Lorong itu menghubungkan dengan bangunan-bangunan penting saat itu. Katanya
Belanda membangun lorong-lorong itu untuk jalan meloloskan diri kalau mereka
kalah perang. Makanya diperkirakan lorong itu ada yang sampai ke pelabuhan.”
Ari, Toha dan Tata terdiam sejenak. Ternyata Astri tahu
banyak tentang bangunan peninggalan Belanda. Lalu Astri menyebutkan beberapa
bangunan peninggalan Belanda di kota mereka dengan sejarahnya masing-masing.
Kebetulan taxi mereka melewati bangunan peninggalan Belanda yang sering disebut
dulunya dipakai untuk markas Belanda. Ari melihat gedung itu begitu besar
dengan banyak jendela lebar hampir di seluruh gedung. Di bagian depan ada
menara besar yang tinggi menjulang. Gedung itu sudah lama tidak terpakai
sehingga meninggalkan kesan misterius dan angker. Banyak cerita aneh-aneh
mengenai gedung itu yang berhubungan dengan hantu. Tentu Ari dan Toha tidak akan membahas hal tentang hantu. Karena
Astri sedang begitu antusias bicara dari sisi sejarah. Walau dari tadi Ari
beberapa kali melihat ke arah gedung. Beberapa kali pula perasaan Ari tidak
enak. Dan Ari sempat melihat banyak bayangan hitam yang bersliweran terlihat di
jendela yang besar-besar. Lalu di atas menara, Ari melihat perempuan sedang
berdiri. Ari melirik ke Toha. Ari tahu Toha melihatnya juga. Dan Tata tahu, Ari
dan Toha melihat sesuatu di sana. Tata hanya bisa memegangi kalung yang
melingkar di lehernya.
Hingga akhirnya mereka sampai di kampung Astri. Sampai di
rumah Astri, mereka langsung menuju ke kebun di belakang rumah. Kebun Astri
luas. Banyak pohon buah-buahan di sana. Mereka menggelar tikar di salah satu
pohon yang paling rindang. Ibu Astri terlihat begitu senang anaknya dikunjungi
teman-temannya. Dia keluarkan semua jajanan lokal buatannya sendiri. Lalu Tata
dan Astri mulai membahas projek karya ilmiah mereka. Sedang Ari dan Toha dengan
setia menemani mereka sembari melahap jajanan buatan ibu Astri.
Saat asyik makan jajanan, perasaan Ari mulai tidak enak. Dan
dari tadi Ari memang sedang memandang ke arah kebun tetangga Astri yang lebih
luas lagi di belakang. Dia pikir tadi ada kambing atau domba yang berlompatan
di antara pohon-pohon di sana. Ari berusaha mengumpulkan konsentrasinya. Lama-lama
Ari bisa melihat, sesuatu yang berlompatan di sana semakin banyak. Mungkin ada
puluhan. Ari melihat puluhan bungkusan putih orang mati sedang melompat-lompat
di antara pepohonan. Mereka sedang melompat-lompat ke satu arah. Hingga terakhir
ada satu bungkusan kecil lewat, lalu Ari tidak melihat mereka lagi. Sekarang
hanya pepohonan kosong yang Ari lihat. Mungkin mereka tadi cuma lewat saja,
pikir Ari. Ketegangan Ari pun berkurang. Lalu Ari melirik ke Tata. Ari tahu,
saat tegang tadi, Tata selalu memperhatikannya. Alamat nanti malam Ari harus
menggambar lagi untuk Tata.
Menjelang sore, Tata dan Astri sepakat menyudahi pembahasan
projek mereka. Lalu sembari beres-beres, dengan polosnya Astri menanyakan
sesuatu ke Tata dan Ari.
“Eh, kalian kok nggak jadian aja sih,” tanya Astri sambil
menggulung tikar.
__ADS_1
Tata dan Ari yang merasa ditanya, terlihat bingung untuk
menjawabnya.
“Ari sama Tata itu, nggak usah jadian, udah kayak jadian,”
Toha menyela.
“Emang musti jadian ya?” tanya Tata sambil menutupi
kecanggungannya.
“Iya lah Ta,”jawab Astri,”Kan harus ada momennya.”
“Jadian mah gampang,” Ari berkilah,” Di sini juga bisa
jadian…”
“Jangan di sini lah Ri,” kata Asti,” Nggak romantis amat.”
“Emang kalian waktu itu jadian di mana?” tanya Ari ke Astri
dan Toha.
“Hehe… Waktu itu kita jadian di bengkel sepeda. Sekalian betulin
sepeda,” jawab Toha sambil meringis.
Ari dan Tata langsung tertawa.
“Iya nih, Toha nggak romantis banget,” kata Astri.
Lalu Ari dan Tata berpamitan dengan Ibu Astri. Toha masih
akan di sana sebentar lagi. Ari dan Tata berjalan beberapa menit untuk sampai
ke jalan besar. Di sana mereka memberhentikan taxi. Di dalam taxi, Tata
langsung melirik ke Ari. Ari yang di sebelah Tata pura-pura tidak memperhatikan.
“Tadi lihat sesuatu…?” Tata menyentil Ari dengan pertanyaan
yang tidak dia teruskan.
“Iya… Iya…Ntar malem aku gambar ya,” Jawab Ari pasrah. Lalu
Ari ingat buku dari Pak Riza yang ada di dalam tasnya. Cepat-cepat dia ambil
buku itu dan dia serahkan ke Tata. Karena Ari berharap Tata tidak minta dia
untuk menceritakan yang tadi dia lihat di kebun Astri.
“Itu dari Pak Riza,” kata Ari,” Yang nulis, kakaknya Pak
Riza. Kakaknya Pak Riza dulu bisa lihat hantu. Sekarang dia jadi psikiater.”
Tata hanya memperhatikan sampulnya sebentar. Lalu dia mulai
membuka-buka halamannya. Beberapa halaman dia baca dengan serius.
“Ri, aku boleh pinjem buku ini?” tanya Tata ke Ari penuh
harap.
“Buku itu buat kamu,” jawab Ari.
“Beneran?”
“Iya bener.”
Tata membaca lagi beberapa lembar halamannya. Lalu Tata
menatap Ari sebentar.
“Ri, ntar kalau kuliah, aku mau masuk kedokteran deh, trus
ambil psikiater,” kata Tata.
“Bagus itu Ta,” Ari memberi dukungan. Dia senang buku itu
bisa menginspirasi Tata.
“Aku pengen bisa menolong anak-anak kayak kita, Ri,” kata
Tata lagi.
Ari hanya mengangguk. Tapi dia yakin, anak seperti Tata,
pasti bisa menggapai cita-citanya. Lalu sejenak hening di dalam taxi.
“Eh, Ri…” Tata memecah keheningan,” kata Astri, emang kita
perlu jadian?”
Ari memandang Tata sejenak.
“Kamu mau jadian,” Ari balik tanya.
“Kamu?” Tata balikin lagi pertanyaannya ke Ari.
“Aku sih… Aku mau jadian Ta…” suara Ari terbata-bata.
Tata jadi senyum-senyum melihat tingkah Ari.
“Kita jadian yuk, Ri,” kata Tata dengan muka ceria.
“Ayuk,” jawab Ari serius.
“Tapi aku nggak mau jadian di bengkel sepeda,” kata Tata.
Spontan mereka berdua tertawa ingat cerita Toha. Lalu Tata
terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Ri, aku mau kita jadian di tempat yang spesial,” kata Tata.
“Dimana?” Ari penasaran dengan apa yang Tata pikirkan.
“Di Gedung Alun-alun,” kata Tata dengan mata berbinar-binar.
“Nggak salah?” Ari masih bingung dengan pilihan Tata.
“Nggak Ri, nggak salah,” jawab Tata pasti.
Ari terlihat berpikir sebentar.
“Bisa kan Ri,” tanya Tata penuh harap.
“Bisa Ta…” jawab Ari. Apapun buat Tata, dia akan usahakan
sebisa mungkin.
Lalu seperti biasa, Ari turun di tangah jalan supaya Tata cepat
bisa sampai rumah. Malam harinya setelah belajar, sesuai janjinya buat Tata,
Ari menggambar apa yang tadi siang dia lihat di kebun Astri.
Ari menggambar banyak bungkusan putih orang mati yang
melompat-lompat di antara pohon-pohon di kebun. Lalu dia kirimkan fotonya ke
Tata dengan ucapan selamat tidur dan mimpi indah buat Tata.
__ADS_1