Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 60 : Puluhan Bungkusan Putih di Kebun


__ADS_3

Hari ini, saat jam istirahat pertama, Nara ijin pulang


dengan alasan badannya kurang sehat. Lalu tiba-tiba Wira menghampiri Ari.


“Ri, bisa bicara?” tanya Wira.


“Bisa,” jawab Ari spontan,” kenapa Wir?”


“Kita bicara di toilet aja Ri.”


“Boleh.”


Ari dan Wira pun pergi ke toilet. Wira sengaja mencari sudut


toilet yang sepi.


“Ri, menurut lo, siapa pelakunya?” tanya Wira tanpa


basa-basi.


“Yang nyoret mobil Nara sama yang ngambil jaketnya?” Ari


tanya balik, karena dia merasa tidak punya jawabannya.


“Iya lah…” Jawab Wira agak kesal dengan basa basi Ari.


“Emm… gue belum tahu Wir…”


“Si Drago bukan pelakunya?”


“Drago…?”


“Iye… Dia kan yang waktu itu kasih surat petisi ke lo.”


“Nggak tahu juga deh Wir…” Kata Ari ragu,” Kita musti


selidiki dulu…”


“Udah jelas pelakunya dia!” suara Wira agak keras,” Siapa


lagi di sekolah ini yang paling benci sama kita Ri!”


Lalu tanpa basa-basi, Wira langsung meninggalkan Ari.


Sepertinya Wira kesal dengan sikap Ari yang dinilainya tidak tegas. Dan Ari belum


sempat mengatakan sesuatu untuk menenangkan Wira. Di kelas, Ari masih


memikirkan Nara. Dan beberapa kali dia melirik ke Wira. Ari khawatir, Wira akan


bertindak gegabah, seperti dulu pernah kejadian saat kasus dengan adik kelas


bernama Fatar hingga Wira harus menjalani hukuman skorsing 1 minggu. Dan Ari


tidak akan membicarakan masalah Nara dan Wira ini dengan Toha. Ari tahu, Toha


akan berusaha menjauh dengan masalah apapun yang berkenaan dengan  Nara dan Wira.


Malam hari, saat belajar, Ari masih kepikiran Nara.


Sebenarnya Ari merasa kasihan pada Nara. Meskipun Nara anak orang kaya, tapi


dia broken home. Bapak ibunya sudah bercerai dan punya keluarga baru


sendiri-sendiri. Di tengah Ari mulai membuka bukunya, ponselnya bunyi. Ada


panggilan dari Tata. Ari langsung mengangkatnya.


“Halo Ta,”Ari langsung menjawab.


“Halo Ri, lagi belajar ya? Maaf ganggu,” Tata bicara agak


buru-buru di ponsel Ari. Ari pikir mungkin Tata takut ketahuan ibunya.


“Ngga apa-apa Ta. Kenapa Ta?”


“Ri, besok siang kita ketemuan lagi yuk. Sama Astri, sama


Toha juga.”


“Boleh…”


“Tapi jangan di Kafe Donat lagi. Takutnya Jodi maksa mampir


ke kafe. Kita ke rumah Astri aja. Kalau di rumah Astri, Jodi nggak bakal ke


sana.”


“Iya boleh…”


“Tapi tadi Astri bilang, dianya malu, katanya karena


rumahnya jelek.”


“Nggak apa-apa Ta… Kata Toha, di belakang rumah Astri


kebonnya luas. Nanti kamu bisa ngerjain di kebon.”


“Wah, bagus juga idenya Ri. Nanti kita bisa pasang tikar di


sana. Ntar aku bujuk si Astri lagi. Nanti kamu telpon Toha juga ya Ri. Suruh si


Toha bujuk Astri.”


“Iya Ta.”


Lalu Ari pun menelpon Toha. Toha langsung antusias. Dia


optimis bisa membujuk Astri. Dan Ari pun sudah lupa dengan Nara.


Pagi harinya di sekolah, saat Ari baru masuk pintu gerbang,


dia melihat kerumunan di dekat lapangan basket. Dari jauh Ari melihat Wira


sedang dilerai beberapa murid. Dan tak jauh dari situ ada Drago yang juga


dipegangi beberapa murid. Ari bisa lihat muka Drago berdarah. Lalu ada guru


pria datang ke kerumunan murid. Tak berapa lama, Wira dibawa guru itu menuju


ruang BP. Ari menyusul ke ruang BP. Di depan ruang BP sudah banyak murid


berkerumun. Ada beberapa murid berdatangan ingin masuk ruang BP. Ari tahu


mereka teman-teman Drago. Beberapa dari mereka adalah pengurus OSIS. Sepertinya


mereka tidak terima dengan apa yang dilakukan Wira terhadap Drago. Tapi ada


guru BP yang melarang mereka untuk masuk. Lalu guru itu menyuruh murid-murid


yang berkerumun untuk bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Ari pun harus


cepat pergi dari situ, karena beberapa teman Drago sudah mulai menatap Ari


dengan penuh kebencian. Mereka tahu, Ari masih satu komplotan dengan Wira.


Sampai di kelas, Ari mendapati Nara tidak masuk.


“Ri nanti jadi kan kita ke rumah Astri,” Toha mendatangi


bangku Ari.


“Jadi Ha,” kata Ari pasti.


“Ok deh,” kata Toha sembari balik ke bangkunya dengan wajah

__ADS_1


berbunga-bunga.


Ari tahu, Toha tidak akan peduli dengan apa yang terjadi


pada Wira. Juga pada Nara yang tidak masuk hari ini. Sampai jam istirahat


pertama, Wira belum kembali juga ke kelas. Setelah Ari cari info, ternyata Wira


langsung disuruh pulang. Besok orang tuanya dipanggil ke sekolah dan Wira


dihukum skorsing selama seminggu. Wira diberi peringatan untuk terakhir kali.


Jika terjadi lagi, dia akan dikeluarkan dari sekolah.


Setelah bel pulang sekolah, seperti rencana yang


sudah-sudah, Ari dan Toha menunggu di bekas pom bensin sampai taxi yang


ditumpangi Tata dan Astri datang. Waktu taxi datang, Ari dan Toha sempat


melihat sosok bapak-bapak yang berdarah-darah. Tapi Ari lega, sosok itu sudah


menyeberang jalan ketika mereka masuk taxi. Tata dan Astri menyambut mereka


dengan ceria. Seperti biasa, Toha duduk di belakang, di sebelah Astri, dan Ari


duduk di depan, di sebelah sopir.


“Eh, Ri… Ngomong-ngomong si Wira sama si Nara kenapa?” tanya


Astri dengan polosnya di tengah canda mereka. Mungkin karena beritanya masih


hangat dibicarakan di sekolah.


“Mmm… Si Wira…” Ari masih memikirkan kata-kata yang tepat


buat Astri karena Astri tidak seperti mereka.


“Gara-gara sok jago bisa lihat hantu, trus mereka mau masuk


ke lorong bawah tanah,” kata Toha menyela.


Ari langsung melotot ke Toha. Tidak seharusnya Toha berkata


begitu di depan Astri. Dan Toha sepertinya baru sadar akan kekhilafannya.


“Si Nara itu nemu buku penelitian kakeknya tentang lorong


bawah tanah yang ada di bangunan Belanda,” Ari buru-buru menjelaskan dengan


kata-kata yang mungkin bisa dipahami Astri,” Kakek Nara dulu kan kepala


sekolah. Kebetulan dia guru sejarah juga. Nah si Nara ini ingin membuktikan


penelitian kakeknya itu…”


“O, gitu…” kata Astri serius,” Aku sering baca juga tentang


bangunan Belanda. Memang dulu Belanda banyak membuat lorong-lorong bawah tanah.


Lorong itu menghubungkan dengan bangunan-bangunan penting saat itu. Katanya


Belanda membangun lorong-lorong itu untuk jalan meloloskan diri kalau mereka


kalah perang. Makanya diperkirakan lorong itu ada yang sampai ke pelabuhan.”


Ari, Toha dan Tata terdiam sejenak. Ternyata Astri tahu


banyak tentang bangunan peninggalan Belanda. Lalu Astri menyebutkan beberapa


bangunan peninggalan Belanda di kota mereka dengan sejarahnya masing-masing.


Kebetulan taxi mereka melewati bangunan peninggalan Belanda yang sering disebut


dulunya dipakai untuk markas Belanda. Ari melihat gedung itu begitu besar


dengan banyak jendela lebar hampir di seluruh gedung. Di bagian depan ada


menara besar yang tinggi menjulang. Gedung itu sudah lama tidak terpakai


sehingga meninggalkan kesan misterius dan angker. Banyak cerita aneh-aneh


mengenai gedung itu yang berhubungan dengan hantu. Tentu Ari dan Toha  tidak akan membahas hal tentang hantu. Karena


Astri sedang begitu antusias bicara dari sisi sejarah. Walau dari tadi Ari


beberapa kali melihat ke arah gedung. Beberapa kali pula perasaan Ari tidak


enak. Dan Ari sempat melihat banyak bayangan hitam yang bersliweran terlihat di


jendela yang besar-besar. Lalu di atas menara, Ari melihat perempuan sedang


berdiri. Ari melirik ke Toha. Ari tahu Toha melihatnya juga. Dan Tata tahu, Ari


dan Toha melihat sesuatu di sana. Tata hanya bisa memegangi kalung yang


melingkar di lehernya.


Hingga akhirnya mereka sampai di kampung Astri. Sampai di


rumah Astri, mereka langsung menuju ke kebun di belakang rumah. Kebun Astri


luas. Banyak pohon buah-buahan di sana. Mereka menggelar tikar di salah satu


pohon yang paling rindang. Ibu Astri terlihat begitu senang anaknya dikunjungi


teman-temannya. Dia keluarkan semua jajanan lokal buatannya sendiri. Lalu Tata


dan Astri mulai membahas projek karya ilmiah mereka. Sedang Ari dan Toha dengan


setia menemani mereka sembari melahap jajanan buatan ibu Astri.


Saat asyik makan jajanan, perasaan Ari mulai tidak enak. Dan


dari tadi Ari memang sedang memandang ke arah kebun tetangga Astri yang lebih


luas lagi di belakang. Dia pikir tadi ada kambing atau domba yang berlompatan


di antara pohon-pohon di sana. Ari berusaha mengumpulkan konsentrasinya. Lama-lama


Ari bisa melihat, sesuatu yang berlompatan di sana semakin banyak. Mungkin ada


puluhan. Ari melihat puluhan bungkusan putih orang mati sedang melompat-lompat


di antara pepohonan. Mereka sedang melompat-lompat ke satu arah. Hingga terakhir


ada satu bungkusan kecil lewat, lalu Ari tidak melihat mereka lagi. Sekarang


hanya pepohonan kosong yang Ari lihat. Mungkin mereka tadi cuma lewat saja,


pikir Ari. Ketegangan Ari pun berkurang. Lalu Ari melirik ke Tata. Ari tahu,


saat tegang tadi, Tata selalu memperhatikannya. Alamat nanti malam Ari harus


menggambar lagi untuk Tata.


Menjelang sore, Tata dan Astri sepakat menyudahi pembahasan


projek mereka. Lalu sembari beres-beres, dengan polosnya Astri menanyakan


sesuatu ke Tata dan Ari.


“Eh, kalian kok nggak jadian aja sih,” tanya Astri sambil


menggulung tikar.

__ADS_1


Tata dan Ari yang merasa ditanya, terlihat bingung untuk


menjawabnya.


“Ari sama Tata itu, nggak usah jadian, udah kayak jadian,”


Toha menyela.


“Emang musti jadian ya?” tanya Tata sambil menutupi


kecanggungannya.


“Iya lah Ta,”jawab Astri,”Kan harus ada momennya.”


“Jadian mah gampang,” Ari berkilah,” Di sini juga bisa


jadian…”


“Jangan di sini lah Ri,” kata Asti,” Nggak romantis amat.”


“Emang kalian waktu itu jadian di mana?” tanya Ari ke Astri


dan Toha.


“Hehe… Waktu itu kita jadian di bengkel sepeda. Sekalian betulin


sepeda,” jawab Toha sambil meringis.


Ari dan Tata langsung tertawa.


“Iya nih, Toha nggak romantis banget,” kata Astri.


Lalu Ari dan Tata berpamitan dengan Ibu Astri. Toha masih


akan di sana sebentar lagi. Ari dan Tata berjalan beberapa menit untuk sampai


ke jalan besar. Di sana mereka memberhentikan taxi. Di dalam taxi, Tata


langsung melirik ke Ari. Ari yang di sebelah Tata pura-pura tidak memperhatikan.


“Tadi lihat sesuatu…?” Tata menyentil Ari dengan pertanyaan


yang tidak dia teruskan.


“Iya… Iya…Ntar malem aku gambar ya,” Jawab Ari pasrah. Lalu


Ari ingat buku dari Pak Riza yang ada di dalam tasnya. Cepat-cepat dia ambil


buku itu dan dia serahkan ke Tata. Karena Ari berharap Tata tidak minta dia


untuk menceritakan yang tadi dia lihat di kebun Astri.


“Itu dari Pak Riza,” kata Ari,” Yang nulis, kakaknya Pak


Riza. Kakaknya Pak Riza dulu bisa lihat hantu. Sekarang dia jadi psikiater.”


Tata hanya memperhatikan sampulnya sebentar. Lalu dia mulai


membuka-buka halamannya. Beberapa halaman dia baca dengan serius.


“Ri, aku boleh pinjem buku ini?” tanya Tata ke Ari penuh


harap.


“Buku itu buat kamu,” jawab Ari.


“Beneran?”


“Iya bener.”


Tata membaca lagi beberapa lembar halamannya. Lalu Tata


menatap Ari sebentar.


“Ri, ntar kalau kuliah, aku mau masuk kedokteran deh, trus


ambil psikiater,” kata Tata.


“Bagus itu Ta,” Ari memberi dukungan. Dia senang buku itu


bisa menginspirasi Tata.


“Aku pengen bisa menolong anak-anak kayak kita, Ri,” kata


Tata lagi.


Ari hanya mengangguk. Tapi dia yakin, anak seperti Tata,


pasti bisa menggapai cita-citanya. Lalu sejenak hening di dalam taxi.


“Eh, Ri…” Tata memecah keheningan,” kata Astri, emang kita


perlu jadian?”


Ari memandang Tata sejenak.


“Kamu mau jadian,” Ari balik tanya.


“Kamu?” Tata balikin lagi pertanyaannya ke Ari.


“Aku sih… Aku mau jadian Ta…” suara Ari terbata-bata.


Tata jadi senyum-senyum melihat tingkah Ari.


“Kita jadian yuk, Ri,” kata Tata dengan muka ceria.


“Ayuk,” jawab Ari serius.


“Tapi aku nggak mau jadian di bengkel sepeda,” kata Tata.


Spontan mereka berdua tertawa ingat cerita Toha. Lalu Tata


terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Ri, aku mau kita jadian di tempat yang spesial,” kata Tata.


“Dimana?” Ari penasaran dengan apa yang Tata pikirkan.


“Di Gedung Alun-alun,” kata Tata dengan mata berbinar-binar.


“Nggak salah?” Ari masih bingung dengan pilihan Tata.


“Nggak Ri, nggak salah,” jawab Tata pasti.


Ari terlihat berpikir sebentar.


“Bisa kan Ri,” tanya Tata penuh harap.


“Bisa Ta…” jawab Ari. Apapun buat Tata, dia akan usahakan


sebisa mungkin.


Lalu seperti biasa, Ari turun di tangah jalan supaya Tata cepat


bisa sampai rumah. Malam harinya setelah belajar, sesuai janjinya buat Tata,


Ari menggambar apa yang tadi siang dia lihat di kebun Astri.


Ari menggambar banyak bungkusan putih orang mati yang


melompat-lompat di antara pohon-pohon di kebun. Lalu dia kirimkan fotonya ke


Tata dengan ucapan selamat tidur dan mimpi indah buat Tata.


__ADS_1


__ADS_2