Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 12 : Suara Kaki Kuda di Teras Kelas


__ADS_3

Pagi-pagi Ari berniat bertemu Tata di parkir mobil sekolah.


Tapi pagi ini sebagian area parkir dipenuhi material untuk renovasi ruang bawah


tanah. Ada satu mobil masuk untuk menurunkan pasir di salah satu sudut. Sepertinya


Ari tidak bisa bertemu Tata di situ. Ari pun berjalan menuju gedung sekolah.


Dia mulai memikirkan tempat yang sepi untuk bisa bertemu Tata. Tapi di tengah


jalan dia berpapasan dengan Toha yang habis memarkir sepedanya.


“Ri, basement sekolah mulai direnovasi lho,” kata Toha


begitu bertemu Ari.


“Iya,” jawab Ari singkat.


Toha seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi dia urungkan


karena Ari sepertinya tidak sedang mood untuk diajak bicara. Hanya ada Tata di


pikiran Ari sekarang. Beberapa kali Ari tengak-tengok mencari tempat sepi.


Sempat mereka melewati area basement. Orang-orang konstruksi belum pada datang.


Tapi sekarang ada tanda DILARANG MASUK! SEDANG ADA RENOVASI dan ada tali


melintang menghalangi orang ke arah basement. Lalu ada seorang murid datang


dari sana. Seorang anak perempuan sedang tergesa dan berusaha melewati tali


penghalang untuk keluar dari area basement. Itu Nara. Dia memakai jaket dengan


tudung kepalanya. Saat telah melewati tali penghalang, tanpa sengaja dia


melihat Ari dan Toha yang ada di dekat situ. Nara seperti kaget dan langsung


kabur meninggalkan tempat itu. Ari dan Toha pun heran melihat gelagat Nara.


Tapi Ari jadi dapat ide. Karena tempat itu sepi. Dan Tata pasti akan lewat sini


menuju kelasnya. Ari pun meminta Toha untuk ke kelas duluan.


Ari berdiri di depan area basement. Dia ada di belakang


tumpukan semen. Di sana Ari tidak terlihat oleh murid-murid yang mulai lewat


situ. Karena toh, setelah kejadian kemarin, Ari tidak ingin bertemu siapapun di


sekolah ini kecuali Tata. Lalu Tata mulai terlihat besama dua temannya berjalan


ke arah Ari. Ari pun keluar dari persembunyiannya. Dia setengah berlari menuju


ke arah Tata.


“Tata, aku ingin bicara sama kamu,” kata Ari setelah di


depan Tata.


Tata setengah terkejut melihat Ari ada di depannya. Dia


masih melihat Ari dengan tatapan heran.


“Please Tata, ijinkan aku bicara sama kamu,” muka Ari kini


memelas.


Salah satu teman Tata sempat menarik tangan Tata untuk


segera meninggalkan Ari.


“Kalian duluan, sebentar aku nyusul,” kata Tata pada dua


temannya.


“Ok, kamu nggak pa pa kan Ta?” tanya teman Tata yang satu lagi


sambil memandangi Ari yang sudah terkenal dengan julukan Si Penggambar Hantu.


“Nggak, nggak apa-apa,” Tata berusaha terlihat tenang.


Dua teman Tata pun berjalan meninggalkan Tata. Tapi


sebenarnya mereka sengaja berjalan lambat karena tidak ingin meninggalkan Tata.


“Ok Ari, ada apa?” tanya Tata datar.


“Aku cuma ingin bicara Ta. Soalnya aku ngerasa tidak ada


orang yang ngertiin aku. Aku ngerasa cuma kamu yang bisa ngertiin aku. Seperti


dulu Ta,” Ari mencoba menjelaskan.


“Ri, sori ya, tolong ngertiin aku juga. Susah payah aku


untuk menjadi aku yang sekarang ini. Please Ri, jangan bawa-bawa hal-hal yang


dulu lagi.”


“Tapi tolong Ta. Saat ini aku lagi butuh dukungan kamu. Dulu


katanya kita akan selalu saling dukung.”


Saat itu juga Tata menatap tajam Ari. Bibirnya bergetar. Ada


emosi yang muncul di tatapan matanya.


“Sekarang kamu bicara saling dukung?” suara Tata berat


seperti menahan emosi. “Lalu dimana kamu saat itu waktu aku tunggu kamu di

__ADS_1


warung bakso! Waktu itu aku selalu tunggu kamu tapi kamu nggak pernah datang


lagi! Dimana waktu itu saat aku butuh kamu! Kamu tahu dua anak yang bermuka


rata di sana? Mereka mendatangiku saat kamu tidak di sana! Dimana kamu waktu


itu?”


Air mata Tata pun tumpah ke pipinya. Sepertinya dia sudah


tidak sanggup bicara lagi. Lalu dia berlari meninggalkan Ari dengan menutup


mukanya. Salah satu teman Tata yang ternyata masih berdiri tak jauh dari situ


menyusul Tata. Satu temannya lagi memandangi Ari dengan tatapan benci sebelum


beranjak menyusul Tata.


Sekarang tinggal Ari sendiri berdiri mematung. Betapa dia


tidak menyangka Tata akan berkata seperti itu. Betapa dia tidak menyadari


kejadiannya dulu seperti itu. Sampai dia sadar banyak murid yang mulai lewat situ.


Setengah berlari Ari meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin ke kelas. Dia


perlu tempat sepi untuk meluruskan pikirannya. Akhirnya dia menuju ke belakang


kantin. Di lahan kosong dia berdiri sendiri. Dia memukul-mukul kepalanya sendiri.


Bodoh! Bodoh! Bodoh! Itu yang terpikir di otaknya. Saat itu memang dia lagi


down karena kematian bapaknya. Tapi tidak seharusnya dia melupakan Tata.


Bagaimana dia membayangkan Tata yang membutuhkannya saat itu. Bagaimana dia


merasa betapa bodohnya dia. Sampai tak sadar dia telah menendang tempat sampah


di depannya. Dan matanya pun mulai berair. Hingga suara bel masuk


menyadarkannya.


Ari mempercepat jalannya menuju kelas. Tapi di tengah jalan


beberapa anak basket mendatanginya. Jodi ada di paling depan.


“Hei penggambar hantu, apa yang kamu perbuat ke Tata!” Jodi


sudah mencengkeram kerah baju Ari. “Kamu apain dia sampai dia nangis!” Muka


Jodi sudah dekat dengan Ari. “Kalau mau selamat, jangan coba-coba deketin Tata


lagi!”


“Hei ada apa ini!” seorang guru yang kebetulan lewat situ


menegur mereka.”Ayo masuk ke kelas! Udah jam berapa ini!”


Anak-anak basket itu pun bubar dan Ari cepat-cepat menuju ke


pelajaran. Sampai perasaan itu datang. Tapi tidak seperti biasanya. Apa yang


dia rasakan ini begitu berasa sekali. Dia pun melirik ke jendela. Mungkin Awuk


ada di sana. Tapi tidak ada apa-apa di jendela. Lalu ada suara di luar kelas.


Sepertinya suara itu dari lantai teras kelas. Ari mulai perhatikan suara itu.


Dan Ari pun seperti tak percaya. Itu seperti suara langkah kuda. Suara kaki


kuda yang lewat di teras kelas. Dan suara itu semakin dekat. Makin lama makin


keras dan seperti lewat di depan kelas. Ari pun menengok ke jendela, tapi dia


tidak melihat apa-apa di sana. Lalu tanpa sadar Ari melihat Nara di depannya


juga menengok ke jendela yang sama.


“Kamu berdua! Kalau guru sedang bicara diperhatikan!” Guru


yang mengajar menegur Ari dan Nara karena kedapatan melototi jendela saat dia


memberikan pelajaran. “Kalau nggak suka pelajaran saya silahkan keluar!”


Ari pun hanya bisa diam. Begitu juga Nara. Lalu ada


pengumuman, nanti sebelum jam istirahat kedua, murid-murid boleh pulang karena


ada acara rapat guru. Saat istirahat pertama, Ari ke toilet. Dia tidak


mengambil toilet yang pojok. Di sana dia sengaja berlama-lama, karena dia sudah


malas bertemu dengan siapapun di sekolah ini. Saat jam istirahat sudah hampir


habis, Ari keluar toilet. Tapi dia lihat tak jauh dari toilet ada segerombolan


anak basket. Jodi ada di sana. Mereka seperti sedang mencari-cari sesuatu.


“Itu si penggambar hantu!” salah seorang dari mereka melihat


Ari.


Mereka pun berlarian menuju ke tempat Ari. Wajah-wajah


mereka menunjukkan kemarahan. Terutama Jodi. Spontan Ari berlari menghindar


dari mereka. Ari mengencangkan larinya. Dia tidak mungkin kembali ke kelasnya. Saat


ada tangga, Ari naik ke lantai 2. Di pikirannya cuma bagaimana dia bisa menjauh


dari mereka. Lalu dia naik ke lantai 3. Di lantai itu sepi. Dan Ari baru sadar

__ADS_1


ketika mentok di ujung teras. Tidak ada jalan lain lagi kecuali kembali ke


tangga menuju lantai 2. Tapi suara orang-orang berlarian di tangga menuju


lantai 3 sudah terdengar. Ari tengak-tengok. Kebanyakan ruang di situ adalah


gudang dan penyimpanan. Semua pintu digembok. Kecuali satu pintu. Itu ruangan bekas


ekstrakurikuler drama. Dan tidak ada yang berani masuk ke ruang itu. Tapi Ari


tidak punya pilihan. Dia pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam.


Di dalam gelap dan pengap. Ari masih berdiri di dekat pintu.


Di luar terdengar kegaduhan suara anak-anak yang mencari Ari. Ari yakin, mereka


tidak akan berani masuk ke sini. Lalu suara-suara di luar mulai tak terdengar,


tanda mereka sudah tidak ada di sana. Dan perasaan Ari mulai tidak enak. Ari


merasa di belakangnya ada yang sedang berdiri. Ari sudah memegang gagang pintu


untuk keluar tapi dia urungkan. Mungkin Awuk yang ada di sini. Pelan Ari


berbalik badan. Benar dugaan Ari. Tak jauh darinya ada Awuk. Tapi dia tidak


melayang. Dia sedikit di atas tanah. Dan kakinya tidak hancur. Kakinya lengkap


dengan sepatu dan kaus kaki. Kelopak matanya tidak hitam. Wajahnya sekarang


cantik. Tapi raut mukanya tetap murung. Dia sedang menatap Ari.


“Ruang bawah tanah jangan diapa-apain,” suara Awuk pelan


seperti suara anak perempuan.


“Siapa yang akan bikin onar?” Ari memberanikan diri


bertanya.


 “Mereka.”


“Mereka siapa?”


Awuk menoleh ke satu arah. Ari menebak dia menoleh ke arah


basement. Lama Awuk menerawang.


“Mereka yang terjebak di basement,” Awuk bersuara lagi.


“Kenapa mereka terjebak di basement?” Tanya Ari.


Lama Awuk diam. Dia masih menoleh ke satu arah.


“Kaki kuda…” suara Awuk makin pelan.


“Iya, aku dengar suara kaki kuda,” Ari menimpali.


“Aku takut.”


“Takut sama siapa?”


Awuk diam lagi. Kali ini tatapannya ke lantai.


“Orang-orang berbaju putih… Mereka mengambil keluargaku,”


kata Awuk dengan kepala masih menunduk.


Ari semakin bingung. Dia tak tahu mau bertanya apa.


“Mereka mengambil keluargaku!” kini suara Awuk keras sembari


menatap Ari. Ari pun mundur sejengkal.


“Mereka mengambil keluargaku! Mereka mengambil keluargaku!


Mereka mengambil keluargaku!” Suara Awuk makin memekakkan telinga Ari. Dan Awuk


makin melayang. Kelopak matanya hitam dan kakinya hancur.


Ari tidak tahan lagi. Dia bergegas keluar dari tempat itu.


Cepat-cepat dia turuni tangga. Sampai di lantai 1, ternyata gerombolan anak


basket masih di sana. Sepertinya mereka masih mencari Ari dan salah satu


memergoki Ari. Tanpa pikir panjang Ari mulai berlari. Ari masih mendengar


langkah-langkah mereka mengejarnya. Sampai di persimpangan lorong, Ari bingung


mau ke kiri atau ke kanan. Tapi di ujung lorong yang ke kiri, Toha ada di sana.


“Ari lewat sini!” Toha berteriak ke Ari.


Ari berlari ke arah Toha. Dia ikuti saja Toha mau lari ke


mana. Hingga mereka sampai di tembok sekolah paling belakang. Di belakang sana


jalan raya. Ari menatap tembok tinggi itu. Nyalinya makin ciut. Ari menengok ke


belakang. Anak-anak basket itu belum sampai ke sini.


“Ari, naik ke pundakku! Kamu bisa naik ke tembok.Wira sudah


di sana,” Toha membungkukkan badannya di depan tembok.


Ari masih bingung. Tapi dia lakukan apa kata


Toha. Ini satu-satu cara dia lolos dari gerombolan anak basket. Dia pun naik ke


pundak Toha hingga bisa menggapai ujung tembok. Dan di balik tembok, Wira sudah

__ADS_1


menunggu. Dengan bantuan Wira, Ari bisa turun sampai ke trotoar. Dan dengan


vespa Wira, Ari kabur dari situ.


__ADS_2