Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 42 : Perkemahan Sabtu Minggu


__ADS_3

Hari Sabtu telah tiba. Persami dimulai jam 3 sore.


Murid-murid kelas 11 sudah berdatangan di sekolah. Mereka membawa barang-barang


dan peralatan yang diperlukan. Ari, Toha, Wira dan Nara sudah tiba di sekolah.


Walau ini bukan pagi sebelum jam pelajaran, mereka tetap berkumpul dulu di


taman. Karena mereka tahu, ada sesuatu di sekolah mereka yang hanya mereka yang


tahu. Sebelumnya Ari sudah mengirim pesan ke Tata untuk tidak melepas kalungnya


walau cuma sebentar selama acara Persami berlangsung. Dan Ari, Toha dan Wira


khawatir dengan Nara. Karena dia perempuan sendiri dan nantinya murid laki-laki


dan perempuan akan dipisah di kelas berbeda untuk ruang istirahat dan tidurnya.


Dan mereka tidak diijinkan membawa ponsel.


“Tenang Ra, nanti kita akan selalu ngecek lo,” kata Ari.


“Iya, setiap 1 jam kita akan bolak-balik ke tempat lo Ra,”


tambah Wira menenangkan Nara.


“Tapi pasti nanti ada guru yang jaga di tempat cewek,” kata


Toha.


“Ya kita diem-diem aja ke sananya,” kata Wira.


Lalu kegiatan Persami dimulai dengan Upacara Pembukaan yang


dipimpin Kepala Sekolah. Walau baru dimulai, Ari, Toha, Wira dan Nara sudah


mulai was-was. Beberapa kali mereka mengamati sekitar, takut ada sesuatu muncul


di sana. Lalu kegiatan diteruskan dengan baris-berbaris dan kepramukaan. Hari


pun mulai gelap. Walau sekolah Ari terawat dan tertata, tapi bangunan tuanya mengantar


senja ini menjadi terasa muram. Acara pentas seni pun diadakan di lapangan. Suasana


jadi riuh karena ada pertunjukan band akustik dan stand up comedy. Di lapangan


begitu ramai dengan terang lampu yang benderang. Tapi tetap saja ada


sudut-sudut sekolah yang sepi dan gelap seiring bergulirnya malam. Acara pun


berlanjut ke api unggun. Lampu di sekitar lapangan sengaja dimatikan. Hingga semua


mata tertuju pada terang api unggun. Walau berada di tengah kerumunan, Ari


hampir tidak bisa melihat siapa-siapa di kanan kirinya. Ini membuat Ari, Toha,


Wira dan Nara semakin was-was. Tapi sampai acara api unggun selesai dan lampu


lapangan dinyalakan kembali, mereka tidak melihat sesuatu pun muncul. Setelah


acara dibubarkan dan murid-murid mulai kembali ke kelas untuk istirahat, Ari berusaha


bertemu Tata. Toha pun mengikuti Ari karena dia ingin bertemu Astri. Dan di


sana ada Tata bersama Astri sedang berjalan menuju kelas bersama murid


perempuan yang lain. Ari melihat kalung Tata masih melingkar di lehernya.


“Ta, please jangan pernah lepas kalungnya ya,” kata Ari


mengingatkan.


“Iya, nggak akan kulepas kok,”kata Tata tersenyum senang.


Bukan karena kalung di lehernya, tapi karena dia melihat Ari yang selalu


menjaganya.


Malam pun semakin larut. Murid-murid sudah berada di


kelas-kelas yang disediakan untuk istirahat dan tidur. Lampu kelas sudah


dimatikan. Hampir semua murid sudah terlelap. Kecuali Ari, Toha dan Wira.


Mereka terbaring di tikar, tapi mata mereka tetap terbuka. Kadang mereka


melihat ke arah jendela. Karena di sana terlihat lorong kelas dengan penerangan


yang redup. Dan mereka punya rencana. Lima menit lagi mereka akan menengok ke


tempat Nara. Sebelum beranjak dari tikar, diam-diam Wira memakai cincinnya.


Lalu dengan mengendap-endap mereka bertiga keluar kelas. Mereka sengaja lewat jalan


yang gelap, takut ada guru yang jaga di sekitar situ. Sekilas Ari melirik ke


Wira. Karena barusan dia lihat ada bayangan hitam besar di belakang Wira. Lalu


Ari melihat di jari Wira ada cincin yang dulu pernah Wira pakai waktu ada


insiden di aula.


“Wir, lo pakai cincin itu ya?” tanya Ari dengan suara


berbisik.


“Iya, buat jaga-jaga,” jawab Wira pelan.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Ari menghentikan langkahnya. Dia melihat


sesuatu bergerak cepat ke arah kelas yang dipakai murid perempuan untuk


istirahat.


“Ada apa Ri?” tanya Toha.


Ari masih diam mengamati sekitar. Sekilas dia tadi melihat binatang


berkaki empat.


“Kayaknya gue lihat macan…” kata Ari setengah tidak yakin,”


Tapi dia agak kecil… Warnanya putih… Ekornya pendek.”


Toha ikut mengamati sekitar, tapi dia tidak melihat apa-apa.


Wira sepertinya biasa saja menanggapi apa yang dilihat Ari. Lalu di belakang


mereka bertiga, seorang dengan baju serba putih datang mendekat.


“Sedang apa kalian di sini?” kata orang itu. Tampangnya


terlihat masih muda.


Ari, Toha dan Wira sempat tidak bisa menjawab.


“Mau ke toilet,” jawab Wira sekenanya.


“Bukannya toilet ke arah sana?” kata orang itu curiga.


“Mau nyari tissue dulu,” jawab Ari spontan.


Orang berbaju serba putih itu tambah curiga. Lalu datang Pak


Riza dengan setengah berlari.


“Itu murid sini Bang,” kata Pak Riza.


Lalu Pak Riza memperkenalkan orang berbaju putih itu ke Ari,


Toha dan Wira. Panggilannya Bang Yudha. Pak Riza memang sengaja mengusulkan ke


pihak sekolah untuk mengundang orang-orang padepokan di acara Persami untuk menjaga


supaya kegiatan berlangsung lancar. Ada empat orang padepokan yang datang


termasuk Bang Yudha. Mereka berjaga di sudut-sudut sekolah yang berbeda.


“Kamu namanya siapa?” tanya Bang Yudha sambil menunjuk Wira.


“Wira Bang,” Jawab Wira.


“Demi keamanan kita semua, sementara saya terpaksa harus


menyita cincin yang kamu pakai,” kata Bang Yudha sambil menunjuk ke cincin di


“Kenapa Bang,” tanya Wira. Sepertinya dia enggan untuk


melepas cincinnya.


“Kamu belum siap untuk memakai itu,”kata Bang Yudha,”Itu


bisa mencelakai kamu sendiri, bisa mencelakai orang lain juga. Besok pagi kamu


bisa ambil lagi ke saya di depan sekolah.”


Lalu dengan sedikit himbauan dari Pak Riza, Wira menyerahkan


cincinnya ke Bang Yudha.


“Gimana Bang Yudha? Sekolah kita aman?” tanya Toha


takut-takut ke Bang Yudha.


“Aman. Kalian nggak usah khawatir,”jawab Bang Yudha.”Eh,


kamu anak yang dulu pernah datang ke padepokan ya?” tanya Bang Yudha setelah


dia mengamati lagi wajah Toha.


“Iya Bang. Waktu itu aku nggak boleh masuk. Tapi aku maksa


masuk ketemu Mbah Soma,”jawab Toha senang karena merasa dikenali oleh Bang


Yudha.


“Iya… Cucu Mbah Soma kan ada yang sekolah di sini. Namanya…


Fatar. Dia memang pinter anaknya,”kata Bang Yudha.


“Kelas berapa Bang?” tanya Toha.


“Kelas 10… Nggak tahu 10 berapa,” jawab Bang Yudha.


Lalu setelah sedikit basa-basi, Ari, Toha dan Wira


berpamitan untuk pergi ke toilet. Tapi sampai di sana, mereka tidak masuk ke


toilet. Mereka berputar lewat belakang menuju kelas yang dipakai murid


perempuan untuk istirahat. Sampai di sana, Wira mengetuk jendela belakang kelas


tempat Nara istirahat. Dan Nara belum tidur, karena memang dia tidak bisa tidur.


Nara segera beranjak dari tikar dan berjalan berjingkat menuju jendela agar

__ADS_1


tidak membangunkan murid perempuan lain yang sudah terlelap.


“Ra, lo nggak apa-apa kan?” tanya Wira dengan suara berbisik


di luar jendela.


“Gue nggak apa-apa,” jawab Nara pelan di balik jendela. Nara


memang mengenakan jaket. Tapi tudungnya tidak dipakai.


“Sekolah kita lagi dijaga sama orang-orang padepokan. Lo


tenang aja” kata Wira,”Tapi sebaiknya cincin lo, lo copot aja, biar nggak


disita kayak punya gue sama orang padepokan.”


Lalu cepat-cepat Nara melepas cincin yang ada di jarinya.


Dan setelah melihat kondisi ternyata aman-aman saja, Ari, Toha dan Wira segera


meninggalkan Nara menuju ke kelas tempat istirahat mereka. Sampai di kelas,


mereka bertiga langsung rebah di tikar.


“Kayaknya kita nggak perlu khawatir deh,” kata Toha pelan,”


kalau ada apa-apa, Bang Yudha ama temen-temennya pasti bisa ngatasin,”Toha


seperti mengatakan, mereka tidak perlu lagi mengecek Nara, soalnya sudah tiga


kali dia menguap. Sebentar lagi dia akan masuk ke alam mimpi.


“Wir lo kasih cincin ke Nara ya?” bisik Ari ke Wira, tanpa


menghiraukan perkataan Toha barusan.


“Iya, buat jaga-jaga,” kata Wira pelan,”Lo tahu sendiri


waktu kejadian di aula.”


“Lo tahu kan, pasti ada resikonya?”tanya Ari.


“Iya tahu. Tapi gue udah dapat wejangan dari eyang


gue,”jawab Wira.


“Terus lo udah jadian ama Nara?”Ari membelokkan topik.


“Belum sih, tapi ya gitu, kita udah kayak jadian aja,” jawab


Wira.


“Wir, lo musti cerita apa adanya ke Nara, kalau nggak suatu


saat Nara pasti akan sakit hati,” kata Ari serius.


“Iya, iya, gue tahu. Tenang aja,” kata Wira sambil menguap.


Lalu Ari dan Wira pun jatuh terlelap menyusul Toha yang


sudah pergi ke alam mimpi. Mereka bertiga sudah lupa tentang kehawatiran yang


selalu mereka cemaskan sebelum ini. Dan pagi-pagi jam 4, murid-murid sudah


dibangunkan. Mereka akan mengikuti kegiatan olah raga pagi dan selanjutnya ada


kegiatan kerja bakti menghijaukan sekolah. Saat kerja bakti, Ari, Toha, Wira


dan Nara tidak terlihat cemas lagi seperti kemarin. Persami pun ditutup dengan


Upacara Penutupan yang dipimpin oleh Kepala Sekolah. Setelah upacara selesai,


murid-murid diperbolehkan pulang. Sebelum pulang, Ari, Toha, Wira dan Nara


berkumpul dulu di taman. Dan Wira sudah mengambil cincinnya dari Bang Yudha.


“Syukurlah, sampai pagi nggak ada kejadian apa-apa ya,” kata


Nara mengungkapkan kelegaannya.


“Iya lah, kan sekolah kita sudah dijagain sama Bang Yudha


sama temen-temennya,” kata Toha membanggakan orang-orang dari padepokan.


“Aku kira masalahnya bukan karena sekolah kita dijaga sama


orang padepokan,” kata Ari pelan tapi serius.


“Terus, kenapa hantu-hantu itu tadi malam nggak muncul?”


tanya Nara spontan.


“Ya karena memang tadi malam mereka nggak ada di sini,”


jawab Ari.


“Maksud lo?” tanya Wira.


“Ya karena yang bawa hantu-hantu itu nggak ikut


Persami,”jawab Ari lagi.


“Maksud lo?” tanya Wira, Nara dan Toha hampir bersamaan. Mereka


belum menangkap jawaban Ari.


“Maksud gue, hantu-hantu itu bukan anak kelas 11 yang bawa,”

__ADS_1


jawab Ari,” Bisa jadi yang bawa hantu-hantu itu anak kelas 12, atau anak kelas


10.”


__ADS_2