
Hari Sabtu telah tiba. Persami dimulai jam 3 sore.
Murid-murid kelas 11 sudah berdatangan di sekolah. Mereka membawa barang-barang
dan peralatan yang diperlukan. Ari, Toha, Wira dan Nara sudah tiba di sekolah.
Walau ini bukan pagi sebelum jam pelajaran, mereka tetap berkumpul dulu di
taman. Karena mereka tahu, ada sesuatu di sekolah mereka yang hanya mereka yang
tahu. Sebelumnya Ari sudah mengirim pesan ke Tata untuk tidak melepas kalungnya
walau cuma sebentar selama acara Persami berlangsung. Dan Ari, Toha dan Wira
khawatir dengan Nara. Karena dia perempuan sendiri dan nantinya murid laki-laki
dan perempuan akan dipisah di kelas berbeda untuk ruang istirahat dan tidurnya.
Dan mereka tidak diijinkan membawa ponsel.
“Tenang Ra, nanti kita akan selalu ngecek lo,” kata Ari.
“Iya, setiap 1 jam kita akan bolak-balik ke tempat lo Ra,”
tambah Wira menenangkan Nara.
“Tapi pasti nanti ada guru yang jaga di tempat cewek,” kata
Toha.
“Ya kita diem-diem aja ke sananya,” kata Wira.
Lalu kegiatan Persami dimulai dengan Upacara Pembukaan yang
dipimpin Kepala Sekolah. Walau baru dimulai, Ari, Toha, Wira dan Nara sudah
mulai was-was. Beberapa kali mereka mengamati sekitar, takut ada sesuatu muncul
di sana. Lalu kegiatan diteruskan dengan baris-berbaris dan kepramukaan. Hari
pun mulai gelap. Walau sekolah Ari terawat dan tertata, tapi bangunan tuanya mengantar
senja ini menjadi terasa muram. Acara pentas seni pun diadakan di lapangan. Suasana
jadi riuh karena ada pertunjukan band akustik dan stand up comedy. Di lapangan
begitu ramai dengan terang lampu yang benderang. Tapi tetap saja ada
sudut-sudut sekolah yang sepi dan gelap seiring bergulirnya malam. Acara pun
berlanjut ke api unggun. Lampu di sekitar lapangan sengaja dimatikan. Hingga semua
mata tertuju pada terang api unggun. Walau berada di tengah kerumunan, Ari
hampir tidak bisa melihat siapa-siapa di kanan kirinya. Ini membuat Ari, Toha,
Wira dan Nara semakin was-was. Tapi sampai acara api unggun selesai dan lampu
lapangan dinyalakan kembali, mereka tidak melihat sesuatu pun muncul. Setelah
acara dibubarkan dan murid-murid mulai kembali ke kelas untuk istirahat, Ari berusaha
bertemu Tata. Toha pun mengikuti Ari karena dia ingin bertemu Astri. Dan di
sana ada Tata bersama Astri sedang berjalan menuju kelas bersama murid
perempuan yang lain. Ari melihat kalung Tata masih melingkar di lehernya.
“Ta, please jangan pernah lepas kalungnya ya,” kata Ari
mengingatkan.
“Iya, nggak akan kulepas kok,”kata Tata tersenyum senang.
Bukan karena kalung di lehernya, tapi karena dia melihat Ari yang selalu
menjaganya.
Malam pun semakin larut. Murid-murid sudah berada di
kelas-kelas yang disediakan untuk istirahat dan tidur. Lampu kelas sudah
dimatikan. Hampir semua murid sudah terlelap. Kecuali Ari, Toha dan Wira.
Mereka terbaring di tikar, tapi mata mereka tetap terbuka. Kadang mereka
melihat ke arah jendela. Karena di sana terlihat lorong kelas dengan penerangan
yang redup. Dan mereka punya rencana. Lima menit lagi mereka akan menengok ke
tempat Nara. Sebelum beranjak dari tikar, diam-diam Wira memakai cincinnya.
Lalu dengan mengendap-endap mereka bertiga keluar kelas. Mereka sengaja lewat jalan
yang gelap, takut ada guru yang jaga di sekitar situ. Sekilas Ari melirik ke
Wira. Karena barusan dia lihat ada bayangan hitam besar di belakang Wira. Lalu
Ari melihat di jari Wira ada cincin yang dulu pernah Wira pakai waktu ada
insiden di aula.
“Wir, lo pakai cincin itu ya?” tanya Ari dengan suara
berbisik.
“Iya, buat jaga-jaga,” jawab Wira pelan.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Ari menghentikan langkahnya. Dia melihat
sesuatu bergerak cepat ke arah kelas yang dipakai murid perempuan untuk
istirahat.
“Ada apa Ri?” tanya Toha.
Ari masih diam mengamati sekitar. Sekilas dia tadi melihat binatang
berkaki empat.
“Kayaknya gue lihat macan…” kata Ari setengah tidak yakin,”
Tapi dia agak kecil… Warnanya putih… Ekornya pendek.”
Toha ikut mengamati sekitar, tapi dia tidak melihat apa-apa.
Wira sepertinya biasa saja menanggapi apa yang dilihat Ari. Lalu di belakang
mereka bertiga, seorang dengan baju serba putih datang mendekat.
“Sedang apa kalian di sini?” kata orang itu. Tampangnya
terlihat masih muda.
Ari, Toha dan Wira sempat tidak bisa menjawab.
“Mau ke toilet,” jawab Wira sekenanya.
“Bukannya toilet ke arah sana?” kata orang itu curiga.
“Mau nyari tissue dulu,” jawab Ari spontan.
Orang berbaju serba putih itu tambah curiga. Lalu datang Pak
Riza dengan setengah berlari.
“Itu murid sini Bang,” kata Pak Riza.
Lalu Pak Riza memperkenalkan orang berbaju putih itu ke Ari,
Toha dan Wira. Panggilannya Bang Yudha. Pak Riza memang sengaja mengusulkan ke
pihak sekolah untuk mengundang orang-orang padepokan di acara Persami untuk menjaga
supaya kegiatan berlangsung lancar. Ada empat orang padepokan yang datang
termasuk Bang Yudha. Mereka berjaga di sudut-sudut sekolah yang berbeda.
“Kamu namanya siapa?” tanya Bang Yudha sambil menunjuk Wira.
“Wira Bang,” Jawab Wira.
“Demi keamanan kita semua, sementara saya terpaksa harus
menyita cincin yang kamu pakai,” kata Bang Yudha sambil menunjuk ke cincin di
“Kenapa Bang,” tanya Wira. Sepertinya dia enggan untuk
melepas cincinnya.
“Kamu belum siap untuk memakai itu,”kata Bang Yudha,”Itu
bisa mencelakai kamu sendiri, bisa mencelakai orang lain juga. Besok pagi kamu
bisa ambil lagi ke saya di depan sekolah.”
Lalu dengan sedikit himbauan dari Pak Riza, Wira menyerahkan
cincinnya ke Bang Yudha.
“Gimana Bang Yudha? Sekolah kita aman?” tanya Toha
takut-takut ke Bang Yudha.
“Aman. Kalian nggak usah khawatir,”jawab Bang Yudha.”Eh,
kamu anak yang dulu pernah datang ke padepokan ya?” tanya Bang Yudha setelah
dia mengamati lagi wajah Toha.
“Iya Bang. Waktu itu aku nggak boleh masuk. Tapi aku maksa
masuk ketemu Mbah Soma,”jawab Toha senang karena merasa dikenali oleh Bang
Yudha.
“Iya… Cucu Mbah Soma kan ada yang sekolah di sini. Namanya…
Fatar. Dia memang pinter anaknya,”kata Bang Yudha.
“Kelas berapa Bang?” tanya Toha.
“Kelas 10… Nggak tahu 10 berapa,” jawab Bang Yudha.
Lalu setelah sedikit basa-basi, Ari, Toha dan Wira
berpamitan untuk pergi ke toilet. Tapi sampai di sana, mereka tidak masuk ke
toilet. Mereka berputar lewat belakang menuju kelas yang dipakai murid
perempuan untuk istirahat. Sampai di sana, Wira mengetuk jendela belakang kelas
tempat Nara istirahat. Dan Nara belum tidur, karena memang dia tidak bisa tidur.
Nara segera beranjak dari tikar dan berjalan berjingkat menuju jendela agar
__ADS_1
tidak membangunkan murid perempuan lain yang sudah terlelap.
“Ra, lo nggak apa-apa kan?” tanya Wira dengan suara berbisik
di luar jendela.
“Gue nggak apa-apa,” jawab Nara pelan di balik jendela. Nara
memang mengenakan jaket. Tapi tudungnya tidak dipakai.
“Sekolah kita lagi dijaga sama orang-orang padepokan. Lo
tenang aja” kata Wira,”Tapi sebaiknya cincin lo, lo copot aja, biar nggak
disita kayak punya gue sama orang padepokan.”
Lalu cepat-cepat Nara melepas cincin yang ada di jarinya.
Dan setelah melihat kondisi ternyata aman-aman saja, Ari, Toha dan Wira segera
meninggalkan Nara menuju ke kelas tempat istirahat mereka. Sampai di kelas,
mereka bertiga langsung rebah di tikar.
“Kayaknya kita nggak perlu khawatir deh,” kata Toha pelan,”
kalau ada apa-apa, Bang Yudha ama temen-temennya pasti bisa ngatasin,”Toha
seperti mengatakan, mereka tidak perlu lagi mengecek Nara, soalnya sudah tiga
kali dia menguap. Sebentar lagi dia akan masuk ke alam mimpi.
“Wir lo kasih cincin ke Nara ya?” bisik Ari ke Wira, tanpa
menghiraukan perkataan Toha barusan.
“Iya, buat jaga-jaga,” kata Wira pelan,”Lo tahu sendiri
waktu kejadian di aula.”
“Lo tahu kan, pasti ada resikonya?”tanya Ari.
“Iya tahu. Tapi gue udah dapat wejangan dari eyang
gue,”jawab Wira.
“Terus lo udah jadian ama Nara?”Ari membelokkan topik.
“Belum sih, tapi ya gitu, kita udah kayak jadian aja,” jawab
Wira.
“Wir, lo musti cerita apa adanya ke Nara, kalau nggak suatu
saat Nara pasti akan sakit hati,” kata Ari serius.
“Iya, iya, gue tahu. Tenang aja,” kata Wira sambil menguap.
Lalu Ari dan Wira pun jatuh terlelap menyusul Toha yang
sudah pergi ke alam mimpi. Mereka bertiga sudah lupa tentang kehawatiran yang
selalu mereka cemaskan sebelum ini. Dan pagi-pagi jam 4, murid-murid sudah
dibangunkan. Mereka akan mengikuti kegiatan olah raga pagi dan selanjutnya ada
kegiatan kerja bakti menghijaukan sekolah. Saat kerja bakti, Ari, Toha, Wira
dan Nara tidak terlihat cemas lagi seperti kemarin. Persami pun ditutup dengan
Upacara Penutupan yang dipimpin oleh Kepala Sekolah. Setelah upacara selesai,
murid-murid diperbolehkan pulang. Sebelum pulang, Ari, Toha, Wira dan Nara
berkumpul dulu di taman. Dan Wira sudah mengambil cincinnya dari Bang Yudha.
“Syukurlah, sampai pagi nggak ada kejadian apa-apa ya,” kata
Nara mengungkapkan kelegaannya.
“Iya lah, kan sekolah kita sudah dijagain sama Bang Yudha
sama temen-temennya,” kata Toha membanggakan orang-orang dari padepokan.
“Aku kira masalahnya bukan karena sekolah kita dijaga sama
orang padepokan,” kata Ari pelan tapi serius.
“Terus, kenapa hantu-hantu itu tadi malam nggak muncul?”
tanya Nara spontan.
“Ya karena memang tadi malam mereka nggak ada di sini,”
jawab Ari.
“Maksud lo?” tanya Wira.
“Ya karena yang bawa hantu-hantu itu nggak ikut
Persami,”jawab Ari lagi.
“Maksud lo?” tanya Wira, Nara dan Toha hampir bersamaan. Mereka
belum menangkap jawaban Ari.
“Maksud gue, hantu-hantu itu bukan anak kelas 11 yang bawa,”
__ADS_1
jawab Ari,” Bisa jadi yang bawa hantu-hantu itu anak kelas 12, atau anak kelas
10.”