Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 21 : Hantu yang Ingin Masuk ke Sekolah


__ADS_3

Hari ini pelajaran menggambar diadakan di luar kelas. Untuk


meningkatkan apresiasi pada bangunan bersejarah, murid-murid disuruh menggambar


gedung sekolah mereka. Ari, Toha, Wira dan Nara memilih menggambar di halaman


depan. Mereka duduk di bawah pohon beringin. Sekarang tidak ada perasaan takut


lagi berada di dekat pohon besar yang banyak sulurnya itu. Sebelumnya Wira


sudah booking Toha untuk dibuatkan gambarnya. Begitu juga Nara, dia sudah


booking Ari.


“Bikinin sketsa kasarnya aja,” kata Wira ke Toha. “Ntar gue


terusin sendiri finishingnya.”


Toha mengangguk dan mulai membuat gambar pesanan Wira.


“Kalau aku sekalian arsirannya juga dong Ri,” Nara memohon


ke Ari. “Tapi jangan dibuat bagus-bagus, ntar ketahuan lagi.”


“Tenang… nggak akan ketahuan kok,” kata Ari sembari mulai


menggerakkan pensilnya di kertas punya Nara.


Di tengah kegiatan mereka, tiba-tiba Nara merasa kedinginan.


Dia mulai merapatkan jaketnya. Ari, Toha dan Wira sudah mengerti dengan gelagat


Nara. Hampir bersamaan mereka bertiga melirik ke atas. Was-was jika ada sesuatu


akan mereka lihat di antara ranting-ranting pohon beringin. Tapi mereka tidak


melihat apa-apa di pohon itu. Nara pun mulai melirik ke arah pagar halaman


sekolah. Di trotoar depan sekolah, beberapa orang berjalan lalu lalang. Tetapi


mereka bisa lihat, ada satu yang berkali-kali bolak-balik. Sesekali berhenti,


seperti ingin masuk ke halaman sekolah. Dia laki-laki, memakai jas, rambutnya


awut-awutan dan hampir setengah wajahnya hancur.


“Dia melihat ke sini,” desis Toha.


“Bagaimana kalau dia masuk ke sini?” kata Nara. Dia sudah


siap beranjak.


Tapi Ari malah serius memperhatikan sosok yang kini berdiri


di tengah orang sedang berjalan di trotoar.


“Dia nggak melihat ke kita,” kata Ari mengamati dengan


seksama. “Dia melihat ke atas kita, ke pohon beringin.”


Lalu Ari mengambil selembar kertas dan mulai menggambar


sosok itu.


“Iseng banget sih lo Ri,” kata Nara. Dia tidak jadi


beranjak.


Ari terus menggambar. Ketiga temannya pun  memperhatikannya.

__ADS_1



 “Sepuluh menit lagi


gambar dikumpulkan!” suara pak guru seni rupa terdengar keras di tengah halaman.


Ari dan Toha pun cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Mereka berempat jadi lupa dengan sosok yang masih mondar-mandir di depan pagar


sekolah.


Setelah pelajaran menggambar, ada pelajaran olah raga. Kali


ini olah raga dilakukan di dalam aula. Murid-murid disuruh bergantian melakukan


lompat harimau. Satu per satu mereka melakukan di atas matras yang sudah


disediakan. Murid-murid pun bergiliran melakukannya sesuai absen. Ari


(Harindra) sudah melakukannya. Lalu setelah beberapa murid, giliran Toha


melakukannya. Selang beberapa murid, giliran Wira (Prawira). Saat giliran Nara


(Unara), ada yang aneh. Nara lama berdiri di tempatnya dia melakukan


ancang-ancang. Murid-murid yang tersisa di belakangnya menunggu. Wajah Nara


pucat. Dia menyilangkan tangannya. Tampaknya dia merasa kedinginan. Dan dia


tidak memakai jaketnya.


“Nara, kenapa? Kamu sakit?” tanya pak guru olah raga.


Nara tidak menjawab. Badannya terlihat menggigil.


Dia mengerti apa yang dialami Nara. “Biar saya antar ke UKS.”


Pak Guru tidak mau Wira mengantar Nara. Dia menyuruh murid


perempuan yang mengantar Nara. Tapi Wira menyelinap di antara murid-murid dan


keluar dari aula. Dia ingin memastikan Nara baik-baik saja. Tinggal Ari dan


Toha was-was setelah apa yang terjadi pada Nara. Mereka berdua diam-diam


memutarkan pandangannya ke seantero aula. Sesuatu di dalam aula membuat Nara


merasa kedinginan.


“Mungkin yang ada depan sekolah tadi?” bisik Toha ke telinga


Ari.


Ari menggeleng, tanda dia tak tahu. Tapi dari tadi mereka


tidak melihat apa-apa. Sampai Wira balik lagi ke aula dan mengabarkan Nara


baik-baik saja. Di UKS Nara tidak kedinginan lagi. Setelah pelajaran olah raga selesai,


Ari, Toha, Wira dan tiga murid lainnya membantu membereskan matras untuk


dimasukkan kembali di ruang penyimpanan di pojok aula. Tapi saat hendak


memasukkan matras ke ruang penyimpanan, Ari melihat ada kucing masuk ke ruangan


itu. Dan semua matras sepertinya sudah dimasukkan ke sana. Pak guru olah raga


pun hendak mengunci pintu ruang penyimpanan.

__ADS_1


“Tunggu Pak! Ada kucing tadi masuk ke dalam,” Ari setengah


teriak ke pak guru.


“Kucing?” tanya pak guru heran. Seumur-umur mengajar dia


tidak pernah melihat kucing di dalam aula.


“Iya Pak. Takutnya dia tidak bisa keluar,” kata Ari.


Pak guru pun membuka lagi pintu ruang penyimpanan. Ari masuk


ruangan dan mencari kucing yang dilihatnya tadi. Dia memanggil-manggil kucing


itu untuk keluar. Tapi lama kucing itu tidak keluar juga. Sampai Toha dan Wira


membantu mengeluarkan semua matras yang ada di situ. Hingga ruangan itu


benar-benar terlihat kosong. Dan tidak ada kucing di sana. Ari memeriksa


mungkin ada lubang di sana. Tetapi ruangan itu benar-benar rapat dan tertutup,


kecuali pintu yang ada di situ. Pak guru pun marah-marah pada Ari. Dianggapnya


Ari mengada-ada. Dan memang di kalangan guru, Ari sering dianggap anak yang


aneh. Dibantu Toha dan Wira, Ari memasukkan kembali semua matras. Tapi di dalam


ruangan itu, perasaan itu datang. Perasaan yang biasa Ari rasakan. Sesuatu ada


di dalam ruangan itu.


“Lo yakin lihat kucing Ri?” tanya Toha saat mereka keluar


dari aula.


“Iya, kucingnya warna hitam,”jawab Ari sembari mencoba


meyakinkan dirinya sendiri.


“Besar apa kecil?” tanya Wira.


“Sedeng,” jawab Ari.


Kebetulan mereka sedang berpapasan dengan Pak Min si penjaga


sekolah.


“Pak Min, tadi ada kucing di aula,” kata Toha ke Pak Min.


“Beneran? Sudah lama tidak ada kucing masuk,” guman Pak Min.


“Sudah saya buang semua. Suka pada nyuri makanan.”


“Iya Pak Min. Tadi ada satu di aula. Warnamya hitam,” Toha


menambahkan,


“Biarin! Ntar sore akan saya buru dia. Kalau ketemu akan


saya buang jauh-jauh,” kata Pak Min.


Ari dan Wira melotot ke Toha. Mereka merasa Toha sedang


mengerjai Pak Min.


“Biarin aja. Kita lihat aja besok,” kata Toha dengan muka


serius.

__ADS_1


__ADS_2