
Belasan mobil pemadam kebakaran memenuhi halaman sekolah. Suara sirine bersautan. Nyala lampu di atas mobil pemadam berkilat-kilat. Kru pemadam kebakaran sibuk keluar masuk. Ari, Toha, Wira dan Nara mengendap lewat
jalan belakang. Mereka berusaha mengambil jalan memutar untuk sampai di ruang guru. Saat lewat tak jauh dari laboratorium kimia yang terbakar. Mereka berempat sempat berhenti sebentar. Di sekitar laboratorium kimia, kru pemadam kebakaran sibuk dengan selang panjang dan besar-besar. Tapi di antara hiruk pikuk mereka yang berjibaku memadamkan api, Ari dan ketiga temannya melihat beberapa yang ikut mondar-mandir di sana bukan manusia. Mereka seperti ikut panik. Ada sosok berbaju suster dengan mata mengeluarkan darah, lalu ada sosok yang berjalan kayang, ada juga sosok bongkok berwajah tengkorak. Tapi Ari dan ketiga temannya tidak melihat hantu bayangan.
“Hei anak-anak, keluar dari sini!” kata salah satu petugas pemadam yang memergoki mereka, ”Disini area berbahaya.”
Ari dan ketiga temannya berlari seolah akan keluar dari sekolah. Tapi begitu sampai di satu lorong kelas, mereka masuk ke pintu yang merupakan jalan tembus ke ruang guru. Sesampai di ruang guru mereka berhenti
sebentar. Ruang itu sudah sepi. Tidak ada satu guru pun di sana. Hampir semua meja dan perkakas di sana sudah bersih dengan barang-barang. Sepertinya mereka sudah membawa semua barang-barang yang penting. Suasana sunyi makin mencekam. Tapi bukan itu yang membuat mereka tertahan untuk melangkah. Hantu bayangan ada
di pikiran mereka. Karena bau bangkai kini mulai tercium. Toha, Wira dan Nara memang hanya tahu hantu bayangan dari gambar Ari. Tapi mencium bau yang mulai menyengat membuat mereka bergidik. Nara pun sudah merasa kedinginan. Dia mulai memakai tudung jaketnya. Sementara yang lain masih bimbang, Ari berusaha melangkahkan kakinya. Dia ambil daun kelor dari tas dan membuka plastiknya. Tapi belum Ari melangkah lebih jauh, dari samping terdengar langkah mendekat.
“Ngapain kalian ada di sini!” suara Pak Suman terdengar begitu keras.
Ari dan ketiga temannya sempat tersentak. Sosok Pak Suman ada di dekat mereka. Wajahnya terlihat begitu marah. Matanya melotot. Biji matanya seakan mau keluar. Otot-otot di leher dan tangannya tampak begitu tegang. Dan di tangan Pak Suman ada tongkat baseball yang digenggam erat. Ari pun berusaha menyembunyikan daun kelor di belakang punggungnya.
“Kami cuma mau lewat Pak…” sahut Ari cepat-cepat.
Ari mengira, Pak Suman saat ini bukan Pak Suman yang sebenarnya. Ada sesuatu yang mempengaruhi Pak Suman. Seperti Ari pernah melihat bapaknya, saat sebelum bapaknya meninggal.
“Kalian anak-anak yang tidak bisa diatur!” bentak Pak Suman yang mulai menggerak-gerakkan tongkat baseball di tangannya.
“Pak Suman… Sadar Pak,” kata Ari spontan. Ari melihat Pak Suman seperti bapaknya waktu itu. Dan Ari ingin mengingatkan Pak Suman untuk sadar, karena waktu itu itu dia tidak pernah mengingatkan bapaknya, hingga bapaknya meninggal. Tapi sepertinya sudah terlambat. Mata Pak Suman sudah memerah. Bibirnya bergetar-getar. Dan dia sudah mengangkat tongkat baseball-nya.
“Kalian memang anak-anak tak tahu diuntung!” suara Pak Suman makin keras,” Dari pada saya skors kalian, mendingan saya hukum pakai tongkat ini!”
Di depan Ari, Pak Suman siap mengayunkan tongkat baseball-nya. Ari pun sudah siap-siap mundur. Tapi dari belakang terdengar langkah orang berlari mendekat.
“Pak Suman! Tunggu!” Suara Pak Riza terdengar dari belakang.
Pak Riza terlihat berjalan hati-hati mendekati Pak Suman.
“Pak Suman… Sadar Pak Suman,” Pak Riza sudah di dekat Pak Suman. Dia mengulurkan tangannya untuk meminta tongkat baseball yang ada di Pak Suman.
“Riza! Ngapain kamu di sini!” bentak Pak Suman sembari masih mengangkat tongkat baseball-nya, ”Seharusnya kamu sudah keluar dari sini!”
“Pak Suman, tenang… Sabar Pak,” Pak Riza mencoba menenangkan Pak Suman,”Saya memang sudah keluar… Tapi nggak apa-apa Pak. Sekarang Pak Suman musti sadar dulu. Pak Suman sekarang sedang kacau pikirannya. Sadar Pak…”
Tapi sepertinya Pak Suman tidak mendengarkan kata-kata Pak Riza. Tongkat baseball di tangannya sudah siap terayun di depan Ari. Pak Riza dengan sigap menangkap pergelangan tangan Pak Suman. Pak Riza pun berhasil menahan tongkat baseball terayun ke Ari. Lalu terjadi perebutan tongkat baseball antara Pak Riza dan Pak Suman. Mereka saling dorong ke samping dan belakang. Tapi sepertinya Pak Riza lebih kuat dari Pak Suman. Pak Suman mulai oleng. Mereka berdua terjerembab ke lantai. Dan kepala Pak Suman sempat terbentur lantai. Tongkat baseball terlepas dan menggelinding. Pak Riza berusaha bangkit. Sementara Pak Suman masih tergeletak.
“Pak Riza!” Ari mendekati Pak Riza, diikuti teman-temannya.
Ari begitu lega tiba-tiba Pak Riza ada di sini. Dia tak pernah mengira Pak Riza akan kembali.
“Tadi kebetulan saya lewat sini,” kata Pak Riza,” Saya lihat ada kebakaran. Terus saya lihat di parkir cuma ada mobil Nara. Saya menebak kalian masih di sini. Terus saya coba cek ke sini.”
Lalu Pak Riza memeriksa kondisi Pak Suman.
“Gimana Pak Suman Pak?” tanya Ari.
“Sepertinya dia pingsan,” kata Pak Riza sembari memeriksa leher Pak Suman,”Kita harus cepat bawa dia ke rumah sakit. Sementara kita bawa dia keluar. Nanti di luar banyak petugas pemadam yang akan bantu.”
Toha dan Wira mencoba menolong Pak Riza mengangkat Pak Suman keluar. Mereka berdua membiarkan Ari di dalam untuk meneruskan misi. Karena sebenarnya sedari tadi, mereka berempat semakin lama semakin mencium bau bangkai yang menyengat. Sementara di dalam, tinggal Ari dan Nara. Nara pun mulai mendekap badannya karena kedinginan. Ari dan Nara merasa hantu bayangan tak jauh dari mereka. Lalu Ari melangkah lebih dalam masuk ke ruangan. Perasaan Ari mengatakan hantu itu kini semakin dekat.
__ADS_1
“Ari! Sebaiknya kita tunggu yang lain,” pekik Nara tertahan. Dia khawatir karena Ari maju sendirian.
Ari hanya menoleh ke Nara. Pandangannya meyakinkan Nara untuk percaya padanya. Lalu Ari berusaha mengacung-acungkan sebatang daun kelor yang dia bawa. Tak berapa lama, Ari melihat bayangan berkelebat di langit-langit. Ari berhenti melangkah. Kini dia melihat di dinding sesosok bayangan sedang bergerak mendekat. Dan bayangan itu berhenti di dinding tepat di depan Ari. Bayangan di dinding itu membentuk kepala, badan, kaki dan tangan dengan jari yang panjang-panjang.
“Ari ada apa?” Suara Nara terdengar di belakang.
“Dia di sini,” kata Ari.
Ari menoleh ke belakang. Ternyata tidak cuma Nara di sana. Ada Toha, Wira, dan Pak Riza. Juga Bang Yudha dan dua temannya sudah di sana. Tapi Ari baru sadar, mereka semua sepertinya tidak bisa lihat apa yang Ari
lihat sekarang. Kini Ari tahu, memang dia yang harus melakukannya sendiri. Ari pun nekat mendekati bayangan itu. Lalu dia acungkan sebatang daun kelor ke sana. Lama-lama Ari mendengar suara terkekeh-kekeh. Lalu bayangan itu mulai membentuk sosok hitam yang keluar dari dinding. Sosok itu mendekat ke Ari dan semakin lama semakin tinggi hingga langit-langit. Ari berusaha bertahan di tempatnya berdiri. Hingga dia merasa sosok itu sudah di atasnya dan melingkupinya. Ari merasa ini saatnya dia harus menyentuhkan sebatang kelor ke bayangan di depannya. Tapi sebelum dia melakukannya, Ari merasa kegelapan telah melingkupinya. Dia tak bisa melihat apa-apa kecuali gelap. Dan lama-lama Ari merasa susah bernafas. Terakhir, Ari hanya mendengar suara melengking yang menyayat. Setelah itu Ari tidak ingat apa-apa lagi.
Pelan-pelan mata Ari terbuka. Pandangannya masih kabur. Samar Ari lihat Pak Riza disamping sedang memijat lehernya. Setelah berangsur pulih, Ari melihat Toha, Wira dan Nara mengelilinya. Wajah mereka terlihat cemas.
“Hantu bayangan gimana?” tanya Ari dengan suara lemah.
“Tenang Ri, kamu berhasil,” kata Nara,”Hantu itu sudah kena daun kelor.”
“Iya Ri, begitu kena daun kelor, kita semua bisa lihat dia,” tambah Toha,”Kita lihat sosoknya item tapi kecil dan cebol. Dia udah ditarik sama Bang Yudha dan temen-temennya. Sekarang mereka lagi narik-narik yang lainnya”
Ari berusaha menoleh kanan kiri, dia melihat Bang Yudha dan dua temannya sibuk mondar-mandir dengan melakukan gerakan-gerakan dengan tangan mereka. Tapi saat Bang Yudha dan dua temannya berada di dalam ruang kepala sekolah, mereka tampak begitu lama melakukan ritual di sana. Lalu setelah selesai, mereka bilang ke Pak Riza bahwa sekolah mereka sekarang sudah bersih. Mereka pun berpamitan dengan Pak Riza. Ari dan yang lainnya pun berterimakasih pada Bang Yudha dan dua temannya. Terutama Nara, dia tidak akan melupakan kebaikan Bang Yudha. Dan Ari tak lupa berterimakasih pada Pak Riza.
“Saya berharap Pak Riza bisa balik ke sini lagi,” kata Ari.
“Saya juga pengennya begitu Ri,” kata Pak Riza,” Tapi kita lihat saja nanti.”
Di luar, petugas kebakaran tidak sesibuk sebelumnya. Api di laboratorium kimia berhasil dipadamkan. Tinggal sisa-sisa reruntuhan yang perlu dibereskan. Ari dan teman-temannya berjalan melewati mereka seperti biasa. Toha
“Ra, tadi waktu di ruang kepala sekolah, aku sama temen-temen sempet curiga ada sesuatu di ruangan itu. Auranya jelek banget,” kata Bang Yudha.
“Emang kenapa Bang Yudha?” tanya Nara penasaran. Ari pun ikut mendengarkan.
“Sekarang aku tahu kenapa banyak mahluk halus yang selalu ingin datang dan tinggal di sekolahmu,” kata Bang Yudha.
“Kenapa tuh Bang?” tanya Nara dan Ari bersamaan.
“Ada sesuatu yang ditanam di bawah ruangan itu,” jawab Bang Yudha.
“Apaan tuh Bang,” tanya Ari spontan.
“Aku nggak tahu. Pastinya yang bikin aura negatif. Dan itu yang dicari para mahluk halus. Mereka jadi nyaman di sini.”
Ari cuma manggut-manggut. Sementara Nara terlihat takjub dengan kemampuan Bang Yudha. Lalu Bang Yudha berpamitan dengan Ari dan Nara. Sebelumnya, Bang Yuda bilang ke Nara, kalau butuh bantuan dia lagi, Nara bisa langsung telpon ke dia.
“Ra, Kalau ada masalah, jangan sungkan-sungkan telpon saya ya,” kata Bang Yudha.
“Pasti Bang,” kata Nara antusias.
Lalu Bang Yudha meninggalkan mereka berdua. Ari dan Nara pun masuk ke mobil. Tapi saat di mobil, Nara lama tidak menghidupkan mobilnya. Spertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
“Ada apa Ra?” tanya Ari.
“Gue baru inget Ri,” kata Nara,” Dulu mamaku pernah cerita, kalau nggak salah, papa kamu pernah mau jadi kepala sekolah ya?”
__ADS_1
“Iya Ra.”
“Nah, kata mamaku, ada kandidat lain yang ingin jadi kepala sekolah juga. Katanya ada issue permainan kayak black magic gitu.”
Ari pun memandangi Nara lama, sampai Nara jadi takut dipandangi Ari seperti itu.
“Beneran lo Ra?” tanya Ari dengan muka super serius.
“Iya gitu deh,” kata Nara tidak pasti,”Mama sih pernah cerita kayak gitu. Gue waktu itu nggak terlalu serius sih dengerinnya.”
“Ra, bisa minta tolong, tanyain ke mama kamu lagi nggak?”
“Ok, ntar gue tanyain ya Ri.”
Lalu Nara menjalankan mobilnya meninggalkan tempat parkir. Mobil Nara pun keluar gerbang bersama beberapa mobil pemadam kebakaran.
Malamnya Ari tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan kata-kata Nara tadi siang di mobil. Dia berharap Nara benar-benar akan menanyakan ke ibunya. Lalu ada panggilan dari Tata. Ari pun cepat-cepat mengangkatnya.
“Halo Ta, gimana kamu, baik-baik aja kan,” Ari langsung bertanya.
“Iya Ri, aku baik-baik aja,”kata Tata di ponsel Ari,” Kamu Gimana Ri?”
“Gue baik-baik aja. Mama kamu lagi pergi ya Ta?”
“Iya, mama aku lagi pergi, makanya aku telpon kamu. Eh, gimana tadi di sekolah Ri?”
Lalu Ari menceritakan semua kejadian siang tadi di sekolah sedetil-detilnya pada Tata.
“Syukurlah akhirnya semua bisa selesai ya Ri.”
“Iya Ta. Mudah-mudahan seterusnya sekolah kita aman sih…”
“Iya mudah-mudahan Ri. Jadi kita bisa ketemuan lagi di tempat biasa…”
“Tapi aku nggak yakin sih Ta…”
“Emang kenapa Ri?”
Ari pun menceritakan apa yang Bang Yudha bilang tentang sesuatu yang ditanam di ruang kepala sekolah. Lalu Ari juga bercerita tentang kata-kata Nara tentang pergantian kepala sekolah dan issue black magic.
“Beneran tuh Ri?”
“Nggak tahu juga sih Ta. Aku lagi nunggu kabar dari Nara…”
“Ya udah Ri, kamu tunggu aja kabar dari Nara, nanti jangan lupa ceritain ke aku semuanya ya.”
“Makasih sudah dukung aku ya Ta…”
“Kita kan udah sepakat untuk saling dukung kan Ri…”
“Iya Ta. Kita akan saling dukung… Selamanya.”
“Iya Ri. Selamanya…”
__ADS_1