Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 6 : Permata + Harindra = Matahari


__ADS_3

Siang ini hujan deras. Ari dan Tata memandangi bulir-bulir


yang berjatuhan di jalanan. Warung bakso itu pun sepi. Hanya Ari dan Tata duduk


di pojokan. Tempat itu serasa jadi milik mereka. Apalagi setelah benar-benar


tidak ada komunikasi selama beberapa hari. Pertemuan ini seperti obat rindu


layaknya hujan yang menyiram rumput jalanan. Setelah selesai dengan bakso


favorit mereka, lama mereka terdiam. Tak terpikirkan mengenai hal-hal yang


selalu mereka bicarakan.


“Eh, nama lengkap kamu siapa sih?” suara Tata pelan memecah


kebisuan.


“O iya, kita belum kenalan ya,” Ari tersenyum lepas sedikit


bercanda. Dia juga merasa aneh, selama ini mereka tidak tahu nama lengkap


masing-masing.


“Namaku Harindra,” Ari mengulurkan tangannya.


Tata menyambutnya,” Hari… siapa?” tanya Tata agak geli


karena dia susah mengucapkannya atau karena suara hujan yang begitu deras di


luar sana.


Ari pun mengeluarkan buku kecil dan pensilnya. Dia tuliskan


namanya besar-besar di sana.


HARINDRA


“Nama kamu siapa?” sekarang Ari balik tanya.


Tata mengulurkan tangannya,” namaku Permata,”


Ari pun menyambut tangan Tata. Lalu Tata mengambil pensil


Ari dan menuliskan namanya besar-besar di bawah tulisan Ari.


PERMATA


Mereka berdua pun tertawa. Geli dengan tingkah mereka


sendiri. Lalu Tata mengamati lama tulisan mereka di buku Ari. Dia ambil pensil


Ari dan mulai melingkari nama Ari di bagian HARI. Lalu dia lingkari namanya di


bagian MATA. Dia tambahkan tanda + dan tanda =. Lalu dia dia tulis besar-besar


di bagian bawah.


MATAHARI


Lama meraka berdua mengamati buku Ari yang terbuka di meja.


Kali ini bukan perasaan geli. Tapi mereka merasa ada sesuatu yang spesial


dengan nama mereka.



Hujan pun mereda. Matahari mulai menyembul di balik sisa


mendung. 1 jam berlalu terasa masih kurang buat Ari dan Tata bertemu.


“Ari, kita akan selalu ketemu di sini kan?” kata Tata lirih


di sisa waktu mereka.


“Iya,” jawab Ari pendek


“Sampai kapanpun?” tanya Tata. Dia tersenyum kecil. Kayaknya


pertanyaannya terlalu konyol.


“Sampai kapan pun.” Ari menjawabnya serius.


“Ntar SMA kamu mau  kemana?” Tata masih berpikir apakah masih bisa


ketemu Ari saat SMA nanti. “Aku mau masuk SMA favorit.”


“Aku juga mau masuk ke sana,” jawab Ari cepat.


“Beneran?” kali ini Tata serius menatap Ari.


“Beneran. Kan papaku guru di situ. Dia guru fisika. Sekarang


lagi diusulkan untuk jadi Kepala Sekolah.”


“Kita akan selalu saling dukung kan?” Mata Tata


berbinar-binar.


“Iya, kita akan saling dukung,” Ari menatap mata itu lekat.


Lalu Tata mengeluarkan diarynya. Dia tunjukkan tulisan


terakhirnya ke Ari. Ari membacanya dengan serius.


“Ibu-ibu yang pakai payung itu sudah masuk rumah?” tanya


Ari. Diary Tata masih di tangannya.


“Iya, di teras. Sering dia ninggalin payungnya di teras.


Ibuku yang selalu suruh pembantu buang tuh payung. Lama-lama jadi nyebelin.


Takutnya dia masuk-masuk ke dalem.” Jawab Tata. Ada kecemasan di wajahnya.


“Kamu sih, kemarin-kemarin ditanggapin.”


“Iya sih.”


“Kalau dia datang lagi cuekin aja.”


“Iya.”


Lalu Ari merogoh sesuatu di tasnya. Tapi sepertinya dia agak

__ADS_1


ragu.


“Ada gambar baru?” tanya Tata.


“Iya. Tapi ini terlalu serem,” Jawab Ari.


“Mana aku lihat,” Tata merasa mereka sudah berjanji untuk


saling dukung.


Ari mengeluarkan gambar perempuan yang lidahnya menjulur


panjang. Dia berikan ke Tata.


“Setiap malem dia keluar masuk kamar papa mamaku,” kata Ari.


Tata memegang gambar Ari. Dia merasa seram. Tapi dia tahan.


“Kamu takut ya?” Tata mengembalikan gambar Ari.


“Nggak juga sih. Cuma aku khawatir sama papa mama aku,” Ari


memasukkan gambarnya ke tas, lalu dia melihat jam tangannya,” eh, udah jam


segini, ntar sopir kamu nyariin nggak?”


Tata melihat jam tangannya,” O, iya. Ayo kita balik,” Tata


cepat-cepat memasukkan diarynya.


Setelah membayar bapak tukang bakso, mereka berjingkat


menembus sisa hujan, meninggalkan tempat pertemuan mereka.


Sudah dua malam Ari terbangun karena bau kabel terbakar. Dan


seperti malam-malam sebelumnya dia memergoki perempuan lidah menjulur itu lagi.


Tapi tidak seperti awal Ari melihatnya. Perempuan itu hanya lewat di depannya dan


menghilang menuju dapur. Setelah itu bapaknya selalu bangun dan menuju kamar


mandi karena batuk dan muntah-muntah. Dan sudah dua hari pula bapaknya tidak


bisa mengajar karena sakit. Esok harinya bapaknya pergi ke rumah sakit diantar


ibunya. Dokter bilang bapak Ari cuma kecapekan, hanya perlu istirahat. Tapi


yang terjadi justru bapaknya sering tidak mau makan, susah tidur dan kadang


terlihat seperti orang linglung menyendiri di kamarnya. Hingga suatu malam


setelah sekian kali kejadian yang sama, Ari mendengar orangtuanya bertengkar.


Lalu ibunya masuk kamarnya dan rebah di samping Ari.


“Kenapa Ma?” tanya Ari dengan mata setengah ngantuk.


“Mama mau tidur sini aja, takut ketularan papa,” jawab mama


Ari sambil membetulkan selimutnya.


Ari melanjutkan tidurnya tapi matanya tak terpejam. Dia


Malam selanjutnya Ari tidur nyenyak. Bau kabel terbakar


tidak menghampirinya. Hingga hampir di penghujung malam, bapaknya


membangunkannya. Ari terbangun sambil mengusap matanya.


“Ari, maafin Papa ya,” kata bapak Ari lirih seolah tak mau


terdengar orang lain.


“Ada apa Pa?” tanya Ari bingung campur ngantuk.


“Maafin Papa ya, kamu mau maafin Papa kan?”


Ari mengangguk. Dia melihat wajah papanya pucat. Wajah itu


kini kurus. Matanya cekung. Rambut dan kumisnya tidak terawat.


“Maafin Papa kalau keliru menilai kamu,” kata bapak Ari


lagi. Lalu dia mengusap kepala Ari dan beranjak keluar kamar.


Ari hanya memperhatikan bapaknya yang berjalan tanpa


ekspresi hingga keluar kamarnya. Lama Ari memikirkan bapaknya sampai kantuk


menidurkannya lagi.


Siang berkutnya saat Ari baru sampai di rumah dari sekolah, Ari


mendengar bapak ibunya bertengkar di kamar mereka. Tidak seperti biasanya,


suara mereka begitu keras bersahutan. Lalu ibunya keluar dari kamar menjinjing


koper.


“Ari kemasin barang-barangmu seperlunya, kita ke rumah


nenek,” kata ibu Ari begitu melihat Ari di ruang tengah.


Ari masih bingung. Dia ingin bertanya tapi ibunya sudah


membawakan satu koper lagi buatnya. Ari pun mengemasi barangnya. Ibunya ikut


membantu supaya cepat. Ari lihat mata ibunya lebam karena tangis. Sesekali


ibunya menahan isaknya. Ari tidak mungkin bertanya. Dia hanya akan mengikuti


kemauan ibunya. Saat melewati ruang tengah, langkah Ari tertahan. Dia mencium


bau terbakar itu lagi. Kali ini baunya sangat jelas. Ari mendekat ke kamar


orang tuanya karena dia merasa bau itu berasal dari dalam sana. Kamar itu


tertutup. Bapaknya ada di dalam. Dan ini siang hari bolong.


“Ari cepat!” Ibu Ari berteriak. Dia sudah di depan pintu


rumah.


Ari pun mengejar ibunya. Sebersit dia lihat ada ketakutan di

__ADS_1


mata ibunya. Lalu mereka berjalan cepat di jalan mencari taxi. Ari menenteng


tas kopernya. Dia masih memakai seragam sekolah. Dan dia khawatir dengan


bapaknya.


Pagi ini Ari harus berangkat sekolah pagi-pagi. Karena rumah


nenek Ari jauh dari tengah kota. Tapi ini adalah hari yang dinanti-nanti Ari.


Hari ini jadwal terapinya. Dia akan bertemu Tata. Pulang sekolah dia langsung


ganti bajunya. Jarak rumah nenek Ari ke klinik lebih jauh lagi. Tapi Ari tidak


peduli. Saat Ari ingin berpamitan dengan ibunya, dia dapati ibunya sedang duduk


mematung di ruang depan. Dia masih menggenggam ponselnya. Air matanya menetes


tapi pandangannya datar.


“Mama, ada apa? tanya Ari khawatir.


“Papa kamu, Ri,” jawab ibunya tertahan.


“Papa kenapa?”


“Papa kamu meninggal.”


“Papa meninggal? Meninggal bagaimana?” Ari seperti tak


percaya.


“Iya, papa kamu meninggal di kamarnya,” sepertinya ibu Ari


tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya terasa


berat.


Ari cepat mengambil duduk karena kakinya serasa lemas. Masih


dia pandangi ibunya yang duduk di depannya. Pandangan ibunya masih menerawang.


Papanya meninggal di kamarnya. Kata-kata ibunya tadi masih terngiang di


kepalanya. Setelah kejadian yang dia tahu akhir-akhir ini, dia masih belum bisa


percaya kalau bapaknya sampai meninggal. Pikirannya kini seperti tidak


menemukan ujung pangkal.


Siang ini, di warung bakso pengunjung sudah mulai ramai.


Sudah berpuluh kali Tata melirik jam tangannya. Yang dinantinya tidak kunjung


datang. Beberapa pengunjung yang tidak kebagian bangku meliriknya karena Tata


sudah duduk di situ lama dan belum pesan apa-apa. Dia pandangi lama ponselnya.


Dia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk menghubungi Ari. Dia sudah


memikirkan rencana untuk menghapus notifikasinya agar ibunya tidak tahu. Nomor


Ari pun dia sudah ketik. Saat memanggil, nomor itu selalu tidak bisa dihubungi.


Sepuluh menit berlalu, Tata sudah putus asa. Dia tinggalkan warung bakso itu


dengan perasaan tidak menentu.


Ibu Ari hampir tidak mau menghadiri pemakaman suaminya kalau


tidak dipaksa kerabat yang lain. Dan Ari merasa ibunya menyembunyikan sesuatu


tentang kematian bapaknya. 2 hari setelah itu Ibu Ari sakit. Ari pun tidak


masuk sekolah untuk merawat dan menemani ibunya. Mereka berencana menjual rumah


bapaknya. Beberapa hari ini Ari dan ibunya sibuk mengurus pindahan. Dan terapi


Ari pun harus berhenti karena tidak ada lagi yang membiayai. Siang ini Ari


mengunjungi kuburan bapaknya. Hingga hujan turun pun dia masih berdiri di sana.


Dia tidak tahu bagaimana bapaknya meninggal. Tapi dia tahu siapa yang


menyebabkan bapaknya meninggal. Sampai kapanpun dia akan cari mahluk itu. Di


tengah lebatnya hujan, dia berjanji kepada dirinya sendiri. Karena yang ada di


hatinya kini hanya dendam yang membara.


Warung bakso itu sepi karena hujan lebat di luar sana. Hanya


Tata duduk sendiri di pojok. Dia berharap seseorang muncul dari kucuran air di


depannya. Menemaninya pada saat seperti ini. Dari tadi dia pegang diarynya. Hampir


1 jam dia menunggu. Tapi di luar dugaannya, dua anak berbaju SMU itu muncul di


depannya. Sepasang remaja itu duduk di depannya dengan baju sobek-sobek penuh


darah dan dengan muka rata, tak ada hidung, tak ada mulut, tak ada mata.


“Mau apa kalian!” spontan Tata berteriak. Lalu dia berlari


keluar warung.


 “Neng, tunggu neng!”


suara bapak tukang bakso memanggilnya.


Tata menahan langkahnya. Dia lihat bapak itu menyusulnya di


tengah hujan.


“Tadi kamu lihat anak saya?” tanya bapak itu.


Tata belum mengerti maksud bapak itu.


“Anak saya meninggal kecelakaan naik motor sama pacarnya,”


kata bapak itu lagi.


Spontan Tata tinggalkan bapak itu. Dia terus berlari di


menembus hujan. Karena kini hatinya sedang hancur.

__ADS_1


__ADS_2