Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 17 : Petunjuk Sang Paranormal


__ADS_3

Mobil Nara melewati jalan-jalan sempit di perkampungan. Kali


ini dia tidak pakai sopir. Nara ada di belakang kemudi. Ari di sebelahnya. Ari


sedikit khawatir karena Nara belum punya SIM. Toha dan Wira ada di belakang.


Tadi pagi Toha dijemput Wira pakai vespa saat ke sekolahan. Vespa Wira


dititipkan di kedai kakaknya. Beberapa kali Toha memberikan arahan ke Nara


menuju  rumahnya. Setelah dekat, mobil


Nara diparkir di lapangan bulu tangkis karena jalan kampung terlalu sempit.


Mereka pun keluar dari mobil. Bocah-bocah kampung berdatangan mengagumi mobil


Nara. Toha sempat memarahi mereka untuk tidak mendekat ke mobil. Sampai di


depan rumah Toha, mereka sudah disambut Pak Hudi, bapaknya Toha. Pak Hudi


paranormal yang cukup terkenal. Beberapa kali menulis di media masa dan


diundang seminar. Ari sempat berpikir, Pak Hudi seperti sudah tahu kedatangan


mereka. Lalu mereka dipersilahkan duduk. Pak Hudi pun menyuruh istrinya membuat


minuman.


“Ini teman Toha semua?” tanya Pak Hudi.


“Iya Pak, temen sekelas,” jawab Wira.


“Katanya kemarin di sekolah banyak yang kesurupan ya,” tanya


Pak Hudi lagi.


“Iya Pak, mereka dari basement. Gara-gara basementnya dibongkar,”


jawab Ari. Dia sudah tidak sabar masuk ke inti persoalan.


Sementara Toha hanya diam duduk di pojokan. Ibu Toha keluar


menyajikan minuman di meja kecil. Beberapa saat Pak Hudi terlihat seperti


sedang merenung.


“Itu memang jin yang sudah lama dikunci di sana. Di bawah


situ memang tempat tinggal mereka,” Pak Hudi menjelaskan.


“Pagi ini mereka sudah dibersihkan,” kata Ari.


“Iya, sama orang-orang yang sama, yang dulu pernah


membersihkan juga,” Nara menimpali.


“Iya, memang sudah pada diambil yang ada di sana,” kata Pak


Hudi. “Basement-nya sudah dikunci lagi. Tapi saya nggak yakin itu sudah


memecahkan masalah.”


“Kenapa Pak?” tanya Wira penasaran.


Lalu Pak Hudi lama merenung. Tatapannya mengarah ke lantai.


“Itu basement sebenarnya panjang,” kata Pak Hudi. “Ada


lorong panjang yang tembus ke suatu tempat. Ada satu kerajaan di ujung sana.


Kerajaan jin.”


Wira dan Nara jadi tegang. Toha masih diam di pojokan.


Sementara Ari, sesuatu masih mengganjal dalam pikirannya.


“Tapi kayaknya di sekolah masih ada yang belum keambil deh


Pak,” Ari tidak tahan untuk mengatakan apa yang ada di kepalanya.


Pak Hudi memandang Ari sejenak. Lalu dia seperti menerawang


ke suatu tempat. Lalu dia memandang Ari lagi.


“Masih ada satu memang. Dia semacam pemimpin gerombolan di


sana,” kata Pak Hudi. “Memang ada jin yang punya kekuatan untuk menyembunyikan diri.


Jin seperti itu susah untuk dilihat. Hanya orang tertentu yang bisa melihatnya.


Termasuk kamu. Siapa nama kamu?”


“Ari Pak,” jawab Ari.


“Orang seperti kamu biasanya tidak disukai jin. Biasanya, semakin


mereka tidak menyukaimu, semakin mereka tidak bisa melihatmu,” Pak Hudi

__ADS_1


menjelaskan. “Tapi justru ada yang sebaliknya. Ada yang bener-bener disukai


jin. Orang seperti ini sering diikuti jin. Biasanya sih orangnya perempuan.”


“Terus kalau orang seperti itu diincar sama salah satu dari


mereka,  gimana?” tanya Ari dengan wajah


tegang.


“Dulu sih pernah kejadian ada yang diculik jin. Sampai ada


yang dijadikan istri sama raja jin selama berbulan-bulan,” jawab Pak Hud.


Ari menelan ludah. Ari tidak bisa membayangkan Tata diculik


dan dijadikan istri si Kaki Kuda.


“Lalu bagaimana cara membunuhnya Pak?” tanya Ari polos.


Pertanyaannya begitu polos, sampai Wira, Nara dan Toha bengong melihat Ari.


Tapi Pak Hudi hanya tersenyum bijak.


“Saya tahu kamu punya kelebihan,” kata Pak Hudi tenang.


“Kalian semua, termasuk Toha. Dengan melihat hal-hal semacam itu, saya kira itu


sudah cukup buat kalian.”


“Tapi kan masih ada satu di sekolah. Itu bisa bahaya kalau


dia mengincar seseorang,” kata Ari. Wajahnya begitu kuatir. Dan dia tidak bisa


menyebut nama Tata.


“Ya kalian bilang saja sama bapak-bapak yang membersihkan di


sana,” jawab Pak Hudi. “Kalian bisa minta tolong sama guru kalian.”


“Mereka nggak akan percaya Pak. Tadi pagi saya sudah mau


bilang, tapi saya malah diusir,” Ari berkilah.


“Mmm, begitu ya,” Pak Hudi manggut-manggut. “Tunggu sebentar


ya…” lalu Pak Hudi masuk ke ruang dalam.


Ari dan yang lain diam menunggu di ruang tamu. Sementara ibu


Toha keluar menggendong adik Toha yang masih kecil dan mempersilahkan tamunya


begitu cemas dengan keselamatan Tata. Beberapa menit kemudian Pak Hudi keluar


dengan membawa sesuatu di tangannya. Lalu dia meletakkan benda itu di atas


meja. Dua buah buntalan kecil dari kain berwarna merah.


“Ini sangat beresiko,” Pak Hudi bersuara. “Saran saya sih


tetep, kalian kalau bisa hubungi dan bicara sama bapak-bapak yang membersihkan


sekolah. Tapi kalau nggak, ini ada satu cara. Kalian nanti ada yang deketin jin  itu. Lalu lempar bungkusan ini ke dia.


Tapi di saat bersamaan yang lain harus ketemu salah satu bapak-bapak yang


membersihkan sekolah. Minta dia pegang bungkusan yang satu lagi”


“Maksud Bapak, nanti si orang baju putih… e, maksud saya,


bapak-bapak yang membersihkan sekolah, bisa melihat mahluk itu setelah pegang


benda ini?” Tanya Nara penasaran.


“Iya, semacam itulah,” kata Pak Hudi. “Mudah-mudahan dia


cepat bertindak setelah itu.”


“Tapi waktu lempar ke mahluk itu, sama yang satu lagi


dikasih ke bapak-bapak yang membersihkan sekolah, waktunya harus bersamaan?”


Tanya Wira.


“Ya… seharusnya begitu,” jawab Pak Hudi. “Ya… selang


beberapa detik mungkin masih bisa. Kalau nggak, apa yang kalian lakukan akan


sia-sia.”


Lama Wira, Nara, Ari dan Toha memandang bungkusan kecil


berwarna merah di meja. Mereka masih tidak yakin bisa melakukannya. Pak Hudi,


sekali lagi, juga tidak menyarankan cara itu. Tapi Ari sudah bertekad untuk


menyelamatkan Tata. Dia akan hadapi semua resikonya.

__ADS_1


“Memang resikonya apa Pak?” Toha yang sedari tadi diam, kini


bersuara.


“Yah, kalau mahluk itu nggak lihat kalian, bagus,” jawab Pak


Hudi. “Atau mahluk itu takut sama kalian. Tapi kalau dia marah, itu yang bahaya


buat kalian.”


Lalu Pak Hudi menasehati mereka untuk bijaksana mengambil


keputusan. Setelah menghabiskan minuman di meja, Nara, Wira dan Ari pun


berpamitan. Toha mengantar mereka ke mobil Nara diparkir. Tapi Ari mengusulkan


mereka berembug dulu di mobil Nara. Ari tidak sabar untuk segera bertindak.


“Kita harus melakukannya besok!” kata Ari, setelah mereka


berempat ada di dalam mobil.


“Kita tunggu hari libur,” sergah Nara,”Kita kan musti cari


rumahnya orang-orang berbaju putih dulu.”


“Ngga bisa Ra. Bagaimana kalau besok dia mencelakai


seseorang?” kata Ari. Sekali lagi dia harus menyembunyikan soal Tata.“Kamu


harus telpon kakek kamu sekarang,”


Nara agak sewot terhadap sikap Ari. Menurutnya Ari terlalu


berlebihan. Pakai nyuruh-nyuruh segala. Tapi Wira pikir Ari ada benarnya.


“Ok, kita lakukan setelah pulang sekolah,” kata Wira.


“Ngga bisa Wir,” kata Ari. “Bagaimana kalau sebelum pulang


sekolah ada anak yang dia celakai?”


Wira, Toha dan Nara diam. Kali ini sikap Ari benar-benar


menyebalkan.


“Please teman-teman, kita harus segera melakukan sesuatu,”


Ari memohon. Mukanya memelas. Dia seperti minta maaf atas sikapnya. Tapi Tata


selalu ada di pikirannya.


“lo ada sesuatu yang dirahasiain sama kita?” kata Toha


curiga.


Ari diam. Dia tak tahu harus berkata apa. Dia tidak bisa


membuka rahasia Tata.


“Kita ini satu komplotan Ri,” kata Wira. “Kita akan lakukan


semuanya sama-sama. Tapi kalau lo ada rahasia sama kita, ngapain juga kita


lakuin sama-sama.”


Ari mengerti sepenuhnya yang dikatakan Wira. Tapi dia sudah


janji sama Tata.


“Maaf teman-teman…” kata Ari dengan nada ragu. “Tapi kalau


gue cerita, janji nggak bilang ke siapa-siapa ya. Ini akan jadi rahasia kita


ya.”


“Iye, kita janji,” sahut Toha. Wira dan Nara menganggukan


kepala.


“Mahluk itu sebenarnya sedang mengincar Tata…” kata Ari.


“Anak yang waktu upacara dikejar suara kaki kuda?” tanya


Toha.


“Iya, kayaknya cuma gue dan Tata yang bisa lihat si kaki


kuda. Dan Tata kayaknya seperti yang dibicarakan Pak Hudi tadi. Dia tipe yang


disukai mahluk seperti mereka. Gue takut si kaki kuda mau menculik Tata. Tadi


pagi aku lihat dia lagi nungguin di bangku Tata.”


Suasana hening. Toha, Nara dan Wira jadi serius. Nara


mengambil ponsel dari tasnya. Dia mulai memencet nomer untuk menghubungi

__ADS_1


kakeknya.


__ADS_2