Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 61 : Hantu Bayangan Setinggi Gedung Sekolah


__ADS_3

Pagi-pagi, Ari begitu ceria datang ke sekolah. Dari semalam


dia tidak bisa berhenti memikirkan tentang rencana jadian dengan Tata. Setelah


masuk gerbang sekolah, Ari tidak mengambil jalan yang biasa dia lewati


sehari-hari. Dia sengaja lewat jalan di pinggir parkir mobil. Karena dia tahu,


sebentar lagi mobil Tata akan parkir tak jauh dari situ. Tak berapa lama, mobil


Tata parkir tak jauh dari tempat Ari berjalan. Tata terlihat keluar dari


mobilnya. Dia agak kaget begitu melihat Ari. Tapi seketika wajahnya berubah


ceria. Senyumnya lebar tersungging. Tapi dia tak mungkin mendekat ke Ari.


Begitu juga Ari. Di sana ada sopir Tata. Dan banyak teman Tata yang kenal ibu


Tata, tahu kalau Tata dilarang berhubungan dengan Ari. Apalagi dengan cap


‘freak’ yang disematkan ke Ari dan komplotannya. Ari dan Tata tetap berjalan di


tempatnya masing-masing. Walau berjalan saling berjauhan, sebentar-sebentar


mereka saling lirik dan senyum-senyum sendiri. Lalu tak jauh dari mereka datang


tiga murid perempuan yang sepertinya baru keluar dari mobil masing-masing.


Mereka teman-teman Tata. Tata pun memberi kode ke Ari untuk berpisah. Dan


dengan tangannya dia memberikan kode, nanti dia akan call ke Ari.


Sesampai di kelas, Ari langsung disambut Toha.


“Ri, kapan Tata mau ke rumah Astri lagi?” tanya Toha.


“Emm… Belum tahu Ha, nanti dikabarin sama Tata,” jawab Ari.


“Tapi nanti pasti ke sana kan?” tanya Toha tidak sabar.


“Iya, pasti Ha,” Ari tahu itu. Karena rencana jadian mereka


akan berawal dari sana.


Bel masuk pun berdering. Ari lihat bangku Nara kosong.


Pertanda Nara tidak masuk lagi hari ini. Juga bangku Wira. Wira masih menjalani


hukuman skorsing. Walau hubungan mereka sedang tidak baik, Ari tetap merasa


tidak lengkap dengan ketidakhadiran mereka.


Saat pulang sekolah, Ari lewat di depan bekas laboratorium


komputer. Ari melihat ruang bawah tanah itu sudah mulai dialihfungsikan sebagai


gudang. Pak Min dibantu para tukang sedang sibuk memindahkan barang-barang dari


gudang lantai 2. Pertanda lorong di dalam sana sudah ditutup kembali. Ari


merasa lega. Jika mengingat kejadian di sana waktu itu, Ari begitu khawatir


dengan keselamatan Tata. Bukan tidak mungkin mahluk dari dalam sana akan


mencari Tata. Ari selalu berharap, apa yang dibangga-banggakan Toha tentang


pagar yang dipasang di sana oleh orang padepokan benar adanya.


Tiba-tiba Ari mencium bau busuk. Dan perasaan Ari mulai


tidak enak. Bau busuk pun tercium semakin menyengat. Mendadak Ari harus menahan


langkahnya. Karena sesuatu lewat tepat di depannya. Ari melihat bayangan hitam


yang berkelebat. Ari agak mundur, berusaha mengamati bayangan tadi. Bayangan


itu panjang menjulang ke atas. Ari baru sadar itu bayangan kaki dari sosok


hitam yang hampir setinggi gedung sekolah. Dan kaki yang panjang itu terlihat


melangkah bersama tukang-tukang yang membawa barang. Sosok bayangan dengan


tangan dan jari-jari yang juga panjang itu mengikuti para tukang menuju ruang


bawah tanah. Ari melihat sosok itu mulai menyusut saat sudah dekat dengan ruang


bawah tanah dan menghilang di sana. Ari sempat terhenyak sebentar. Tapi dia


cepat-cepat bersikap normal karena banyak murid lain yang lewat di sekitar


situ. Ari pun melanjutkan langkahnya menuju gerbang. Ari pernah lihat sosok


bayangan tadi sebelum kejadian di laboratorium waktu itu. Dan Ari ingat, Pak


Hudi pernah bilang ada sosok seperti itu yang masih tertinggal waktu


orang-orang padepokan membersihkan sekolah mereka. Tapi Ari mulai berpikir


untuk tidak menghiraukannya. Dia sudah tidak ambil pusing dengan apa yang dia


lihat sekarang. Tapi tetap dia akan gambar untuk Tata. Ini akan menjadi rahasia


antara dia dan Tata.


Malam harinya, setelah belajar, Ari sudah siap-siap dengan


kertas gambar dan pensilnya. Saat itu ada panggilan dari Tata di ponselnya.


Dari tadi memang Ari menunggu-nunggu panggilan Tata. Ari langsung


mengangkatnya.


“Halo Ta,” jawab Ari.


“Halo Ri. Lagi belajar ya,” tanya Tata di ponsel Ari.


“Nggak. Udah kelar kok,” jawab Ari.


“Mama aku lagi di rumah bude… “ kata Tata. Suaranya tidak


terburu-buru seperti kalau ada ibunya di rumah.


“O, gitu Ta.”


“Iya… Eh Ri, tadi aku tanya Astri, dia bisanya ketemuan besok


lusa. Jadi kita ke Gedung Alun-alunnya lusa… Gimana?”


“Iya nggak apa-apa Ta… Nanti aku bawa motor aja ke rumah

__ADS_1


Astri. Pinjam sama mamaku… Nggak apa-apa kan kamu naik motor.”


“Mmm… Nggak apa-apa deh Ri, asal sama kamu.”


“Nggak usah khawatir Ta… Aku udah jago kok bawa motornya.”


“Iya, aku percaya… Eh Ri, gimana kabarnya si Nara?”


“Si Nara? Emang kenapa Ta?”


“Lah, bukannya dia temen kamu Ri?”


“Nara hari ini dia nggak masuk lagi.”


“Ri… Aku udah baca-baca buku adiknya Pak Riza. Kebanyakan


anak kayak kita tuh punya pengalaman di-bully orang. Kalau udah kayak gitu,


yang mereka butuhkan itu temen…”


“Terus…”


“Yah, kalau saran aku kamu temuin itu si Nara. Ajak dia


bicara, Ri…”


“Lah, dianya yang nggak mau diajak bicara.”


“Yah, wajarlah itu. Kamunya yang harus bisa ngertiin…”


“Mmm, gitu ya Ta… Ok, ok, besok kalau dia belum masuk, aku


coba ke rumah deh.”


“Iya Ri. Kasihan… Dia cuman butuh temen.”


“Iya Ta…”


“Eh Ri, ada gambar buat aku kan malam ini?”


“Ada lah… Abis ini aku gambar ya.”


“Iya, kirim ke aku ya. Ntar aku lihat sebelum bobok.”


“Ok…”


Setelah menutup ponselnya, Ari cepat-cepat


mengambil pensil. Tangannya kini sibuk mencorat-coret kertas gambar. Ari


menggambar sosok bayangan yang tingginya hampir segedung sekolah. Kaki, tangan


dan jari-jarinya panjang. Sosok itu melangkahkan kakinya di antara tukang-tukang


yang sedang mengangkat barang. Lalu seperti biasa, Ari kirim ke Tata dengan


ucapan selamat tidur dan mimpi indah



Dugaan Ari benar. Besoknya di sekolah, Nara tidak masuk


lagi. Ari pun menghampiri Toha.


“Ha, kita jenguk Nara yuk,” kata Ari ke Toha.


“Ngapain?” tanya Toha spontan.


“Dianya yang duluan nganggap kita bukan temen Ri…”


Ari pun pasrah. Sepertinya dia tidak akan bisa mengajak


Toha. Akhirnya sepulang sekolah, Ari berangkat sendiri ke rumah Nara, meminjam


motor ibunya. Sampai di rumah Nara, Ari bertemu pembantu Nara yang sudah


mengenal Ari. Ari pun disuruh menunggu di ruang tamu. Ari sudah disuguhi snack


dan minuman. Tapi baru lima menit kemudian, pembantu Nara datang ke Ari.


“Mas kata Mbak Nara, disuruh langsung ke kamarnya di atas,”


kata pembantu Nara.


Ari pun langsung menuju lantai 2. Di sana, kamar Nara


pintunya sudah terbuka. Ari mencoba mengetuk pintu, tapi Nara tidak muncul


juga. Pelan Ari berjalan masuk. Lalu Ari melihat di dinding yang paling luas di


kamar itu. Dinding itu ditempel peta kota yang sangat besar. Ada


guntingan-guntingan kertas yang ditempel di atas peta. Juga ada coretan-coretan


dan garis-garis yang dibuat dengan spidol. Pelan Ari mendekat ke sana. Potongan-potongan


kertas itu ternyata foto-foto bangunan Belanda yang ditempel sesuai lokasi yang


ada di peta. Lalu ada coretan nama-nama bangunan. Lalu ada garis-garis yang


menghubungkan bangunan satu dengan lainnya.


“Ngapain lo ke sini?” suara Nara terdengar di belakang Ari.


Ari agak kaget. Dia pun menoleh ke belakang, mencari arah


suara. Ternyata Nara sedang duduk di lantai, di sisi lain dari kasur yang ada


di kamar itu. Ari pun mendekat ke sana. Nara terlihat sedang sibuk menggunting


kertas. Walau tahu Ari mendekatinya, tapi tetap saja Nara tidak


mempedulikannya. Dia terus menggunting kertas yang bergambar bangunan Belanda.


“Gue pengen ngobrol sama lo…” kata Ari pelan.


Nara masih sibuk dengan pekerjannya.


“Siapa yang nyuruh lo ke sini?” tanya Nara tanpa


menghentikan apa yang dikerjakannya,” Wira ya yang suruh?”


“Bukan…” Jawab Ari,” Tata yang suruh gue ke sini.”


Mendengar nama Tata, seketika Nara menatap Ari sebentar.


Tapi kemudian dia lanjutkan lagi pekerjaannya. Melihat Nara yang masih sibuk


dengan pekerjaannya, Ari kembali mengamati peta kota yang ditempel di dinding.

__ADS_1


“Ini lo yang bikin?” tanya Ari tanpa menoleh ke Nara.


Nara pun tidak menjawab. Tapi Ari justru tambah serius


mengamati peta kota di depannya. Di sana Ari menemukan gambar bangunan sekolah


mereka yang ditempel di peta. Dan sepertinya Nara menarik garis tebal dengan spidol


warna merah yang menghubungkan gambar bangunan sekolah mereka dengan gambar


Gedung Alun-alun. Tidak seperti garis yang lain, yang dibuat dengan spidol


tipis warna hitam.


“Hanya ada dua terowongan yang besar,” kata Nara.


Ari melirik ke belakang. Nara tampaknya sudah selesai dengan


pekerjaan mengguntingnya. Lalu dia mendekat ke peta kota di dinding dan


menempelkan hasil guntingannya. Ari melihat Nara menempelkannya di gambar peta


yang dekat laut.


“Yang lain hanya lorong-lorong kecil,” kata Nara lagi tanpa


mengalihkan perhatiannya pada hasil pekerjaannya,” Mungkin cuma buat saluran


air.”


Ari memang melihat hanya ada dua garis merah tebal yang


ditarik Nara. Yang satu menghubungkan bangunan sekolah mereka dengan Gedung


Alun-alun. Satu lagi menghubungkan Gedung Alun-alun dengan gambar bangunan yang


baru saja ditempel Nara.


“Mbak Nara, itu makan siangnya nggak dimakan?” kata pembantu


Nara yang muncul di pintu kamar.


“Nggak laper Bi,” kata Nara tanpa menoleh ke pembantunya,”


Buat ntar malem aja.”


Ari pun melirik Nara sebentar. Lalu Ari melihat sekitar


kamar, banyak berserakan buku-buku tentang bangunan Belanda. Ari lihat buku


buatan kakek Nara yang sudah digunting-gunting Nara. Sebenarnya Ari kasihan


sama Nara. Nara mengerjakan ini semua sampai lupa makan. Bahkan lupa sekolah.


“Kapan lo mau masuk sekolah?” tanya Ari lirih.


“Buat apa Ri?” suara Nara pelan,” Gue udah nggak diterima di


sana.”


“Ra… Masih ada gue… Wira… Toha… Masih ada temen-temen


sekelas kita…” kata Ari,” Gue berharap, kita akan selalu berteman Ra… Sampai


kita lulus… Sampai kita kuliah… “


Nara pun terdiam sembari masih mengamati peta kota di depan


mereka.


“Wira nggak ke sini?” tanya Ari.


“Ah… Wira…,” kata Nara sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Kenapa Ra?” tanya Ari,” Kalian baik-baik saja kan?”


“Udah dua hari ini gue telpon, dia nggak angkat,” jawab


Nara.


“Kalian masih jadian kan?” tanya Ari lagi.


Nara hanya melirik Ari sembari tersenyum sinis.


Ari cuma mengangguk-anggukkan kepala. Mencoba untuk mengerti.


Mungkin orang jadian tidak sepenuhnya baik-baik saja. Ari jadi ingat rencana


jadiannya dengan Tata.


“Gue juga mau jadian sama Tata,” kata Ari pelan.


“Beneran lo Ri,?” tanya Nara antusias menatap Ari. Air


mukanya kini tidak sekusut sebelumnya,” Kapan lo mau jadian?”


“Lusa…” Jawab Ari.


“Lo mau bawain apa buat Tata?” tanya Nara.


“Emang musti bawain sesuatu ya?” Ari balik tanya.


“Lha iya lah Ri. Lo kan cowok. Bawain apa kek. Coklat kek.”


“Tata nggak suka coklat.”


“Kalau nggak lo bawain bunga…”


“Bunga? Metik di mana?”


“Metik? Beli lah Ri… Beli di toko bunga.”


“Iya deh gue bawain bunga.”


Nara sempat terpingkal dengan kepolosan Ari. Lalu Ari pun


pamit, sembari berterimakasih karena sudah dikasih ide untuk rencana jadiannya


dengan Tata.


“Ri…” Nara memanggil Ari saat Ari sudah mau keluar dari


pintu kamar Nara.


Ari pun menoleh ke Nara.


“Makasih ya udah datang ke sini,” kata Nara.


Ari mengangguk. Lalu Ari ingat Tata. Kalau bukan karena

__ADS_1


Tata, dia mungkin tidak akan datang menengok Nara. Dan Ari pun sudah tidak


sabar untuk jadian dengan Tata.


__ADS_2