Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 68 : Ari, Tata, Lisa dan Belinda


__ADS_3

Walau tak sepenuhnya bisa mencerna kata-kata Pak Hudi, tapi dari sana, Ari kini tahu, Belinda tidak bohong tentang hantu mata satu bergigi panjang. Dan betapa menakutkannya hantu bayangan yang ternyata hantu buangan, hingga Ari ingat Pak Suman yang sekarang kritis di rumah sakit. Lalu Ari bercerita pada Pak Hudi tentang Tata yang telah membunuh salah satu dari mereka. Juga kata-kata Belinda bahwa hantu mata satu bergigi panjang adalah satu-satunya hantu yang mencari Tata yang berhasil masuk ke sekolah. Belinda bilang, walau Tata tak terlihat oleh mereka, tapi baunya masih tercium.


“Untuk saat ini memang kalung itu akan melindungi Tata,” kata Pak Hudi menenangkan Ari yang saat ini terlihat tambah tegang,” Tapi untuk sementara, suruh Tata jangan deket-deket ke ruangan kepala sekolah dulu.”


Ari pun berniat untuk meminta diri. Karena dia ingin cepat-cepat memberitahukan Tata tentang hantu mata satu bergigi panjang. Tapi sebelum Ari bilang ke Pak Hudi, Toha muncul dari pintu. Dia masuk dengan wajah penuh peluh dan seragam basah dengan keringat. Toha terlihat kaget melihat Ari ada di ruang tamu di depan bapaknya.


“Ngapain Ri, kamu ke sini?” tanya Toha. Wajahnya penuh kecurigaan.


“Ari ini lagi tanya ke bapak tentang situasi di sekolah kalian,” Pak Hudi menjelaskan dengan bijak.


“Bukannya kita sepakat nggak berkutat lagi dengan hal-hal kayak gini,” kata Toha sedikit emosi ke Ari tanpa mempedulikan penjelasan bapaknya.


“Justru Ari ini cari info untuk melindungi Tata,” Pak Hudi mencoba untuk menjelaskan lagi.


Walau dibela Pak Hudi, Ari hanya bisa diam. Dia tidak ingin berkelahi dengan Toha.


“Melindungi Tata?” guman Toha,” Terus gimana dengan Astri? Inget nggak kejadian di lab komputer? Astri yang nggak tahu apa-apa malah jadi korban!”


“Iya maafin aku Ha,” kata Ari berusaha mengalah.


“Toha! Duduk dulu! Kalian ini teman… Seharusnya kalian saling dukung!” Pak Hudi sepertinya mulai marah dengan sikap anaknya.


“Ri, kalau terjadi sesuatu sama Astri lagi, lebih baik kita nggak usah temenan selamanya!” kata Toha yang langsung ngeloyor masuk ke ruang dalam.


“Toha! Sini kamu!” Pak Hudi mulai kehilangan kesabarannya.


“Sudah nggak apa-apa Pak Hudi,” kata Ari menetralisir suasana,” Mungkin saya yang salah karena nggak menepati kata-kata saya ke Toha. Biar nanti saya bicara sama Toha kalau dia udah nggak emosi.”


Pak Hudi memandang Ari sebentar. Wajahnya terlihat tenang kembali. Pak Hudi tahu, anak seperti Ari ini yang nantinya bisa menyatukan teman-temannya, termasuk Toha.


Lalu Ari pun meminta diri. Dia berencana, sampai rumah nanti akan langsung menghubungi Tata. Tapi sesampai di rumah, Ari heran, karena di depan pintu ruang tamu ada sepasang sepatu sekolah perempuan. Ari tahu, dan benar-benar tahu, itu sepatu Tata. Ari cepat-cepat masuk rumah. Tapi di ruang tamu, Ari tidak mendapati siapa-siapa. Di ruang makan pun tidak ada siapa-siapa. Ketika sampai di dapur, Ari melihat ibunya sedang memasak. Dan di sebelahnya ada Tata yang masih memakai seragam sekolah, sedang membantu Ibunya memasak.


“Eh, Ari… Dari mana saja kamu?” Kata ibu Ari begitu melihat anaknya,”Pulang sekolah bukannya langsung pulang. Ini Tata jadi bantuin mama masak deh…Tuh Tata udah banyak bawain mama buah.”


Ari pun cuma bisa memandangi Tata yang hanya melirik ke arahnya sambil senyum-senyum.


“Udah bersih-bersih dulu sana, sama ganti baju,” kata Ibu Ari,” Habis ini kita makan, sebentar lagi juga jadi.”


Mereka bertiga pun makan di satu meja. Ibu Ari tak berhenti bercerita tentang masa-masa kecil Ari ke Tata yang mungkin dianggapnya lucu. Ari pun beberapa kali melotot ke ibunya, karena kadang ceritanya bikin malu Ari di depan Tata. Tapi Tata malah senyum-senyum ke Ari dan kadang tertawa lepas. Sebenarnya bukan hanya karena cerita ibunya yang Ari anggap norak, yang membuat Ari tidak nyaman. Tapi ada sesuatu yang dari tadi ingin cepat-cepat Ari sampaikan ke Tata. Selesai makan, Ari dan Tata duduk berdua di ruang tamu. Ari pikir, ini saatnya dia harus cerita ke Tata.


“Ta, ada sesuatu yang penting yang mau aku sampaikan,” kata Ari dengan muka serius.


“Aku juga ada sesuatu yang mau kusampaikan,” kata Tata juga dengan muka serius atau dibikin-bikin serius.


Ari melongo. Belum pernah dia melihat Tata dengan muka serius.


“Ok, kalau gitu kamu dulu deh Ta,” kata Ari mengalah.


“Aku tadi lihat anak yang tinggal di sumur…”


“Ta! Kamu lepas kalung kamu?”


“Cuman sebentar kok…”


“Ta! Kan aku udah bilang… Sedetikpun, kamu nggak boleh lepas kalung kamu! Itu bahaya!”

__ADS_1


“Aku juga bicara sama dia…”


“Hah! Bicara sama dia? Ta! Kamu bercanda ya?”


“Kata dia, kamu orangnya sombong…”


“Ya ampun Ta! Kamu ngerti nggak sih…”


“Terus dia bilang Belinda pernah tidur di kamar kamu.”


“Dia bilang tentang Belinda…?”


“Iya Ri. Kok kamu nggak pernah bilang kalau Belinda pernah tidur sekamar sama kamu?”


“Iya, memang dia tidur sekamar sama aku. Tapi dia nempel di langit-langit Ta…. Justru aku jadi nggak bisa tidur.”


“Iya lah, Belinda kan cantik… Sekamar lagi…”


“Ah, kamunya aja sih Ta, yang nggak pernah lihat dia.”


Tata cuma diam. Mukanya sengaja dibikin jutek.


“Ta, denger ya!” kali ini suara Ari agak emosi,” Belinda malam itu datang ke aku. Dia bilang ada hantu yang cari kamu, yang udah berhasil masuk ke sekolah kita. Hantunya itu bermata satu, giginya panjang. Aku sengaja nggak bilang sama kamu karena nggak mau bikin kamu khawatir. Dan tadi, kata Pak Hudi, hantu itu sekarang ada di ruang kepala sekolah. Makanya mulai sekarang kamu jangan deket-deket ke ruang kepala sekolah dulu. Kamu kan udah bunuh satu dari mereka. Dan sudah berapa kali aku bilang, jangan lepas kalung kamu sedetik pun!”


Mendengar suara Ari yang emosi, Tata jadi beringsut merasa bersalah.


“Maaf…” kata Tata lirih.


Ari masih diam. Tapi melihat Tata dengan muka yang merajuk, Ari jadi tidak tega.


“Iya Ta… Maaf aku emosi tadi. Tapi ini buat keselamatan kamu…”


Beberapa saat mereka berdua terdiam. Lalu Ibu Ari masuk ke ruang tamu dengan membawa kue dan minuman dingin.


“Nah ini mumpung dingin diminum. Biar kepala jadi dingin,” kata Ibu Ari menyindir sembari meletakkan bawaannya di depan Ari dan Tata. Lalu Ibu Ari meninggalkan Ari dan Tata berdua lagi. Muka Ari dan Tata jadi merah padam. Ari pun menuangkan minuman ke dua gelas. Satu gelas dia kasih ke Tata. Mereka pun minum sambil saling menatap. Sampai gelas mereka kosong, Ari dan Tata masih diam. Lalu Tata melihat jam tangannya.


“Eh Ri, kayaknya aku musti balik deh,” kata Tata,” tadi bilangnya ke mama, aku ke rumah Astri.”


Ari mengangguk sembari memikirkan sesuatu.


“Mau diantar pakai ojek online?” tanya Ari senyum-senyum.


“Abang ojeknya yang biasa itu kan?” tanya Tata. Senyumnya kini rekah.


“Iya dong,” kata Ari dengan muka ceria.


Cepat-cepat Ari ke tetangganya untuk pinjam jaket dan helm ojek online. Lalu dengan motor ibunya, Ari memboncengkan Tata menyusuri jalan kota. Dari awal jalan, Tata sudah mendekap Ari erat. Dan Tata tidak akan melepaskannya sampai nanti mereka sudah dekat rumah Tata. Sore ini Ari dan Tata seperti menemukan dunia mereka berdua. Dan untuk sementara mereka lupa akan hantu mata satu bergigi panjang.


***


Sore ini cerah. Selesai mengantarkan Tata, Ari balik ke rumahnya. Ibu Ari ada di ruang tamu sedang menjahit.


“Gimana? Tuan putri udah diantar dengan selamat?” tanya Ibu Ari saat Ari lewat ruang tamu.


“Udah Ma,” jawab Ari singkat.

__ADS_1


“Nggak kurang suatu apa pun kan dia?” tanya Ibu Ari lagi.


“Mama tenang ajalah,” jawab Ari yang sepertinya mulai sewot dengan pertanyaan ibunya.


Lalu ada panggilan di ponsel Ari. Ari pikir dari Tata. Ari cepat-cepat mengangkatnya. Ternyata dari Lisa.


“Halo…” jawab Ari.


“Halo Kak Ari,” kata Lisa di ponsel Ari,” Nggak apa-apa kan aku nelpon?”


“Nggak apa-apa Lisa…” Jawab Ari.


“Kak Ari, aku mau kasih info…”


“Info apa ya?”


“Info tentang hantu bayangan yang Kak Ari bilang…”


“O, gitu… jadi gimana Lisa?” Ari mulai antusias.


“Gini Kak Ari… Kemarin waktu Kak Ari nelpon, Bi Tumi kan di sebelahku. Dia itu ikut dengerin. Besoknya Bi Tumi cerita ke aku. Bi Tumi itu kan udah lama ikut keluarga aku. Dia tahu tentang hantu bayangan itu, karena nenek dan mama aku pernah bantuin saudara yang rumahnya dihantui sama si hantu ini. Kata Bi Tumi, dia memang suka nyaru, jadi nenek aku susah ngelacaknya. Terus katanya lagi, itu hantu suka bawa-bawa hantu lain. Jadi rumah saudara aku itu penuh dengan hantu…”


“Terus…?” Tanya Ari penasaran.


“Tapi kata Bi Tumi, nenek aku tahu kelemahan hantu ini…”


“Apa kelemahannya?” Tanya Ari lagi.


“Kelemahannya daun kelor. Tapi daun kelornya harus dipipisin dulu sama pipis anak yang masih perawan.”


“Maksudnya?” Ari jadi bingung.


“Iya itu Kak Ari... Makanya kemarin aku baru inget, dulu waktu masih kecil, aku pernah disuruh pipis sama nenek di daun kelor.”


“Terus…?”


“Iya gitu Kak Ari, akhirnya tuh hantu bisa ditarik, terus dibuang jauh-jauh sama nenek.”


Ari yakin, nenek Lisa pasti membuang hantu itu ke pelabuhan.


“Mudah-mudahah infonya berguna ya Kak Ari. Dari kemarin aku kepikiran sama Kak Ari. Jadi sekarang aku harus bilang. Mudah-mudahan bisa menebus kesalahan aku yang lalu.”


Ari pun mengucapkan terimakasih sebelum mereka saling berpamitan di telepon.


“Siapa Lisa?” Tanya ibu Ari yang sedari tadi mendengarkan percakapan Ari di telepon.


“Dulu dia adik kelas Ari,” jawab Ari datar,” sekarang dia udah pindah ke Papua.”


“Kok kalian sepertinya akrab?” tanya ibu Ari lagi sok curiga.


“Dulu itu, dia menganggap Ari seperti kakaknya yang sudah meninggal…” Ari mencoba menjelaskan pertanyaan ibunya yang usil.


“O, gitu… Tapi Tata tahu kan?” sekali lagi ibu Ari bertanya.


“Iya Ma…. Tata tahu lah Ma…” jawab Ari sembari meninggalkan ibunya di ruang tamu.

__ADS_1


Di kamar, Ari mulai berpikir. Makin lama, makin banyak info yang Ari terima. Semuanya jadi semakin jelas. Tapi justru Ari merasa makin tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ari harus cepat-cepat menemui Pak Riza besok. Dan Ari berharap malam ini hujan turun. Dia berharap Belinda akan datang. Sepertinya Ari harus bicara banyak pada hantu remaja bermata biru dan merah itu.


__ADS_2