Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 89 : Sesuatu yang Menghantui Sekolah


__ADS_3

Ari duduk di depan meja belajarnya. Malam ini dia hanya menata buku-buku paket barunya di rak. Selebihnya, dia tak pernah berhenti memikirkan pertemuannya dengan Tata besok di kantin sekolah. Lalu ponselnya bunyi. Ada panggilan dari Nara.


“Halo Ri… Gimana, ada kabar dari Toha?” Tanya Nara di ponsel Ari.


“Mmm, belum sih…” jawab Ari.


“Ah biasa tuh anak… Kalau disuruh nanya sama bapaknya suka males-malesan,” kata Nara kesal.


“Yah mungkin belom sempet Ra… Kenapa Ra?”tanya Ari polos.


“Gimana sih lo Ri… Tahu sendiri apa yang kita lihat tadi siang… Kalian serius nggak sih?”


“Kalau nggak, lo telpon aja si Toha sekarang.”


“Males ah. Gue paling males musti ngejar-ngejar orang yang nggak punya inisiatif.”


“Ya udah, ntar gue yang telpon ke Toha.”


“Iya mending lo yang telpon Ri.”


“Iya deh…”


“Ok, ntar kabarin gue ya.”


“Ok.”


Ari pun menutup ponselnya. Dia maklum, Nara memang begitu kalau sedang kesal dengan seseorang. Lalu Ari mulai menghubungi nomor Toha.


“Halo Ha, gimana? Ada info dari bapak lo?” tanya Ari tanpa basa-basi.


“Mmm, ya gitu… Kalau yang di bawah tanah, itu mereka ngga bisa masuk Ri… Mereka dari pelabuhan… Suruhan rajanya…” jawab Toha di ponsel malas-malasan.


“Emang yang di pelabuhan ada kerajaan jin ya?” tanya Ari lagi berusaha mengorek lebih lanjut.


“Kata bokap sih, di sana banyak koloni-koloni gitu… Di sana memang tempat pembuangan jin..”


“Kayak hantu bayangan waktu itu ya?”


“Ya gitu… Di sana banyak yang pengen berkuasa… Kalau raja jin ini, kata bokap dia pelarian dari kerajaan jin yang lebih besar lagi di lautan sono…”


Ari tertegun sejenak. Betapa sekolah mereka terhubung dengan sesatu yang begitu menakutkan. Dan hanya dia dan komplotannya yang tahu.


“Berarti raja jin ini yang paling kuat di sana ya?”


“Ya gitu deh… Tapi gue nggak takut… Justru gue mau buktiin kemampuan gue… Cuman males aja sama bokap…”


“Kenapa?”


“Jusrtu bokap bilang, gue nggak boleh main-main… Kita kan nggak sedang main-main kan Ri?... Kita kan sedang menjalankan misi…”


“Iya sih…” Tapi sebenarnya Ari setuju dengan bapaknya Toha. Semakin banyak tahu, kini Ari semakin khawatir. Sesuatu yang lebih besar mungkin sedang menghantui sekolahnya. Dan bagaimanapun Tata berubah, Ari tetap selalu khawatir dengan keselamatan Tata.


Lalu ada panggilan lain masuk ke ponsel Ari. Ternyata dari Tata.


“Eh Ha… Ntar dulu ya… Ada telpon dari Tata… Ntar gue telpon lo lagi,” Ari langsung memutus sambungannya dengan Toha.


“Halo Ta,” Ari langsung menjawab panggilan Tata.


“Hai Ri, belum tidur?” suara Tata lembut di ponsel Ari.


“Belum lah Ta… Mama kamu lagi keluar ya Ta?”


“Iya, keluarga besar aku lagi ngumpul di tempat bude… Mau bahas lagi masalah orang yang ngaku-ngaku keluarga aku Ri…”


“Masih belum kelar masalahnya Ta?”


“Belum Ri… Kayaknya sih tambah serius… Justru aku mau cerita ke kamu… Tadi siang pas pulang sekolah, pas di parkiran, ada orang manggil-manggil aku Ri dari luar pagar… Ibu-ibu gitu…”


“Dia manggil nama kamu?”


“Iya Ri.”


“Berarti dia kenal kamu dong Ta?”


“Tahu deh Ri… Terus kan aku samperin… Kayaknya dia mau ngomong sesuatu ke aku… Tapi keburu mama aku telpon… Kan aku bilang ke mama, ada ibu-ibu yang manggil aku… Mama aku langsung suruh aku pergi jauh-jauh dari orang itu… Tapi orang itu sempet kasih aku selendang…”


“Terus kamu ambil selendangnya?”


“Iya.”


“Mama kamu tahu?”


“Enggak.”


“Terus selendangnya dimana?”


“Masih ada tuh di tas aku.”


“Berarti bener dong Ta, ada orang yang ngaku-ngaku keluarga kamu, yang katanya masih keturunan kerajaan mana tuh…?”


“Tahu deh Ri… Nggak terlalu aku pikirin juga sih… Eh besok jadi kan kita ketemuan di kantin,” kata Tata mengalihkan pembicaraan. Sepertinya dia sudah tidak berminat membicarakan hal di luar jangkauannya.


“Jadi lah Ta… Tapi kamu yakin?”


“Kok kamu jadi ragu gitu sih Ri?”


“Mmm gimana ya Ta… Ntar apa kata orang-orang… Terus nanti mama kamu gimana?”


“Ri, kita bisa buktikan ke orang-orang, ke mama aku juga. Siapa pun kita, apa pun yang orang pikirkan, kita bisa berbuat sesuatu yang terbaik, buat diri kita sendiri dan buat orang lain. Kemarin kan kamu udah bisa ranking satu kan Ri. Ntar kita harus bisa masuk universitas favorit ya Ri.”


“Iya Ta,” Sejenak Ari terkesima dengan kata-kata Tata. Mungkin setelah beberapa kali bertemu Kak Karin, sikap Tata jadi lebih dewasa. Dan seperti biasa, setelah berbicara dengan Tata, Ari jadi tambah semangat. Ari sudah tidak sabar bertemu Tata di kantin besok.


Ari berjalan melewati gerbang sekolah. Pagi ini dia begitu semangat melangkahkan kakinya. Jam istirahat pertama nanti, dia akan bertemu Tata di kantin. Untuk kesekian kali, sejenak Ari melihat atap gedung sekolah. Di bawah atap itu ruang kepala sekolah. Seperti saat ini, Ari berharap dia tidak akan pernah melihat bola api itu lagi. Lalu dia melihat sekitar. Beberapa murid yang baru tiba berjalan di halaman sekolah. Kata-kata Tata masih di ingatannya. Dia ingin buktikan dirinya bisa seperti mereka-mereka. Dia berharap, suatu saat ibunya Tata akan menerimanya.


Saat melewati parkir sepeda, Ari bertemu Toha. Wajah Toha tampak tegang.


“Ri kayaknya tadi gue lihat sesuatu deh,” suara Toha setengah berbisik, pandangannya mengarah ke ujung parkir sepeda.


“Lihat apaan lo?” tanya Ari serius sembari melihat ke arah Toha memandang. Tapi Ari tidak melihat apa-apa dan perasaannya biasa-biasa saja.

__ADS_1


“Tadi di sana ada anak pakai seragam, kirain anak kelas 10, soalnya bajunya kelihatan baru… Tapi waktu aku perhatiin,  mukanya item banget. Bener-bener item kaya bekas kebakar… terus matanya merah” kata Toha.


Belum sempat Ari bertanya lebih lanjut, tak jauh dari mereka, Nara datang dengan langkah terburu.


“Ri!... Ha!... Tadi di parkiran gue lihat sesuatu,” kata Nara sembari berusaha mengatur nafasnya.


“Lihat apa lo?” tanya Ari spontan.


“Dia pakai seragam, tapi wajahnya item banget,” kata Nara.


“Iya, gue juga lihat di situ,” Toha menunjuk ujung parkir sepada.


“Iya, emang aku lihat dia tadi jalan dari parkiran mobil ke arah parkir sepeda,” Nara menambahkan.


Ari masih celingukan mencari-cari apa yang Toha dan Nara lihat, tapi dia tetap tidak melihat apa-apa. Sementara di sekitar, murid-murid yang berdatangan mulai banyak. Ari, Toha dan Nara terpaksa harus menahan pembicaraan mereka.


“Ayo kita omongin di kelas,” cetus Nara.


“Bentar Ra, gue musti tunggu Astri dulu,” sergah Toha.


Ari setuju. Mereka bertiga pun menunggu hingga Astri datang dengan sepedanya. Ari, Toha dan Nara berusaha bersikap tenang saat Astri bergabung dengan mereka. Mereka tidak mau membuat Astri khawatir. Karena ditunggu Toha, Ari dan Nara, Astri merasa ada sesuatu, tapi Astri sengaja tidak bereaksi apa-apa. Justru dia senang, pagi-pagi sudah ditunggu Toha dan teman-temannya walaupun tidak satu kelas. Dan Ari berharap Tata tidak melihat apa yang Toha dan Nara lihat.


Di kelas, Ari, Toha dan Nara bertemu dengan Wira. Di bangku belakang, Toha langsung menceritakan apa yang dia dan Nara lihat.


“Kalau dia dari parkiran mobil ke parkiran sepeda, berarti arahnya ke kelas 10 dong,” cetus Wira,”Ha, gambar dong, pengen tahu gimana wujudnya…”


Ari pun mengeluarkan buku gambar kecil dan pensilnya lalu dia serahkan ke Toha. Dan Toha pun mulai menggambar apa yang dilihatnya tadi di parkir sepeda. Sosok anak perempuan memakai seragam sekolah. Tapi wajah dan sekujur tubuhnya hitam pekat.



Bergantian Wira dan Nara melihat gambar Toha.


“Iya, ini yang gue lihat di parkir mobil,” desis Nara.


Sementara Ari tidak begitu antusias, hanya memandang sekilas gambar Toha.


“Ri, ntar lo kasih aja gambarnya ke Pak Riza dan Kak Karin,” cetus Toha.


“Lo aja yang kasih Ha. Itu kan gambar lo,” sergah Ari.


Toha, Wira dan Nara sedikit heran dengan sikap Ari. Tapi bu guru sudah masuk ke kelas dan pelajaran jam pertama pun segera dimulai.


Saat istirahat jam pertama, Ari sudah buru-buru menuju ke kantin. Tata sudah disana, duduk di pojok menunggu Ari.


“Hai Ta,” Ari menyapa duluan.


“Hai Ri,” balas Tata dengan senyum rekah dan mata berbinar.


Ari duduk di depan Tata sembari pandangannya masih mengamati sekitar. Kelompok Drako terlihat di sudut lain sedang memperhatikan mereka. Tapi Ari melihat Tata dari tadi hanya senyum-senyum memperhatikan sikap Ari yang serba salah. Sementera Gaby dan dua temannya lewat di depan mereka. Gaby menyapa Tata duluan dan Tata dengan ceria menanggapinya.


“Eh kamu mau makan bakso kan Ri?” tanya Tata menawarkan.


“Iya… Boleh Ta,” jawab Ari polos.


Lalu Tata memesan bakso untuk mereka berdua.


“Ri, kapan-kapan kita makan bakso yang di dekat klinik psikiatri yuk,” ajak Tata.


“Iya lah Ri, kita kan pertama kali makan bakso di sana,” jawab Tata. Senyumnya tambah rekah.


Sejenak Ari memandangi Tata. Dari tadi bersama Tata, semua berjalan begitu normal buatnya. Lalu Ari mulai bercerita tentang apa yang dilihat Toha dan Nara tadi pagi.


“Kayaknya sekolah kita selalu ada yang gitu-gituan ya Ri…” kata Tata.


“Iya Ta…” Sepertinya Ari tidak akan membahas hal itu lagi. Dia menyesal telah menceritakannya ke Tata. Karena Ari hanya ingin melihat Tata yang selalu tersenyum ceria.


Lalu pesanan bakso mereka datang. Ari dan Tata pun sudah lupa dengan pembicaraan tentang apa yang Toha dan Nara lihat. Tapi tak berapa lama, di bagian kantin yang dekat dengan kelas 10, beberapa murid berlarian menuju ke lorong kelas. Lalu Toha datang dengan langkah terburu.


“Ri, ada anak pingsan di kelas 10,” suara Toha bercampur dengan nafasnya yang memburu.


Lalu Toha bergegas menuju ke arah kelas 10. Di sana sudah menunggu Wira dan Nara. Dari jauh Ari bisa melihat Wira sudah memakai cincinnya.


“Kamu nggak ke sana Ri?” tanya Tata.


Sebentar Ari memandang Tata. Barusan tadi mereka sangat menikmati waktu berduaan di kantin.


“Nggak Ta… Biarin aja,” jawab Ari,”Mungkin juga bukan kejadian apa-apa,” Ari berusaha tidak terpengaruh dengan kehebohan yang terjadi di salah satu kelas 10.


Tata justru merasa geli melihat Ari yang sok tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi dan bela-belain tetap selalu ada di depannya.


“Ri, kayaknya aku pengen tahu apa yang terjadi…” Tata sudah memegang kalungnya untuk melepas dari lehernya sembari senyum-senyum menatap Ari.


“Ta… Kamu yakin?” tanya Ari dengan muka penuh kekhawatiran. Dia sudah mengangkat tangannya untuk mencegah Tata melepas kalungnya.


Tata makin geli melihat Ari yang begitu mengkhawatirkannya. Dia ingin melepas kalungnya untuk menggoda Ari. Dan Tata benar-benar melepas kalungnya di depan Ari. Tinggal Ari yang kini begitu cemas. Karena dengan semua informasi yang ada di kepalanya, dia merasa sesuatu sedang terjadi di sekolahnya. Tapi mengingat kejadian saat studty tour, Ari jadi membiarkan apa yang Tata lakukan.


“Udah Ta… Pakai lagi kalungnya,” kata Ari terbata.


“Iya Ri…” kata Tata sok menuruti permintaan Ari.


Tapi belum sempat Tata memasang kalungnya, tangannya terlihat gemetar.


“Ta, kamu nggak apa-apa?” tanya Ari khawatir.


Lalu mata Tata terbelalak, badannya tegang, nafasnya mulai memburu. Spontan Ari beranjak dari duduknya dan cepat-cepat memasangkan kalung ke leher Tata.


“Ta, kamu kenapa?” kecemasan Ari mulai memuncak.


Tata pun berusaha mengatur nafasnya. Tangannya masih gemetar. Sementara Ari melihat murid-murid yang ada di sekitar mulai memperhatikan mereka.


“Aku melihat sesuatu Ri…” kata Tata dengan suara bergetar.


“Kamu lihat apa Ta?” tanya Ari.


Tata masih lemas. Dia berusaha mengumpulkan sisa kekuatannya untuk bicara.


“Aku tadi melihat tangan Ri…” suara Tata patah-patah,”Tangannya besar…” Tata ingin melanjutkan bicara, tapi suaranya susah keluar.


“Tenang Ta… Kamu harus tenang…” Di sebelah Tata, Ari berusaha menenangkan Tata. Sementara makin banyak murid di sekitar yang memperhatikan mereka.”

__ADS_1


“Tangannya besar sekali Ri…” kali ini suara Tata lebih tertata,”Dan di tangan itu ada matanya…”


Ari jadi tegang. Dia tak menyangka Tata akan melihat hal seperti itu. Lalu Ari melihat dari hidung Tata keluar darah.


“Ta, kamu mimisan…” Ari kini benar-benar cemas.


Tata memegang hidungnya dan di jarinya ada noda darah. Cepat-cepat Ari mengambil tissue di meja dan membersihkan darah di hidung Tata. Lalu Ari mengajak Tata ke toilet. Ari mengantar Tata sampai depan toilet.


Beberapa murid perempuan yang keluar masuk toilet memperhatikan Ari yang berdiri di depan toilet cewek. Ari tidak peduli. Yang dia pedulikan cuma keselamatan Tata. Tapi lama-lama perasaan Ari mulai tidak enak. Dia melihat sekitar. Tiga orang murid perempuan terlihat keluar toilet. Tapi Ari lihat satu orang murid bergerak lebih cepat. Dia tidak berjalan. Dia melayang. Anak perempuan berseragam sekolah, badan dan mukanya hitam kelam. Itu sosok yang digambar Toha tadi pagi. Ari langsung panik dan mulai memanggil Tata. Satu orang murid perempuan melotot ke Ari karena tingkah Ari yang aneh di depan toilet perempuan. Lalu Tata terlihat keluar dari toilet. Hidungnya sudah bersih dari noda darah.


“Ta, kamu nggak apa-apa?” tanya Ari cemas.


“Aku nggak apa-apa Ri,” jawab Tata. Suaranya sudah normal.


Ari memperhatikan Tata dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi sepertinya Tata baik-baik saja. Dan Ari melihat kalung Tata masih di lehernya.


“Ta, kamu lihat sesuatu di dalam,” tanya Ari.


Tata menggeleng,”Emang kenapa Ri…”


Sebenarnya Ari tidak mau Tata jadi tambah cemas, tapi Ari harus menceritakannya.


“Aku tadi melihat yang ada di gambar Toha,” kata Ari.


“Nggak… Aku nggak lihat apa-apa Ri,” kata Tata.


“Ta, mulai sekarang kamu harus janji…” Suara Ari serius,” Janji nggak ngelepas kalung kamu…”


“Iya Ri…”


“Ini serius Ta… Ini nggak main-main… Sedetik pun kamu nggak boleh lepas kalung kamu...”


“Iya… Iya Ri…Aku janji.”


Lalu Ari mengantar Tata ke kelasnya. Sepanjang lorong Ari mengamati sekitar, takut ada sesuatu yang muncul


di sana. Sampai di kelas Tata, Ari berbicara dengan Astri sebentar. Dia minta tolong Astri untuk menjaga Tata. Kalau ada apa-apa Ari minta segera diberi tahu. Dan Ari perhatikan sebagian besar teman sekelas Tata terlihat mendukung Tata. Minimal Ari tidak khawatir Tata ada di kelasnya.


Sesampai di kelasnya, Ari melihat Toha, Wira dan Nara sedang membicarakan sesuatu di bangku belakang.


“Ri, tahu nggak… Anak yang pingsan itu, di UKS, waktu siuman dia teriak-teriak histeris,” kata Toha begitu Ari


bergabung.


“Terus?” tanya Ari.


“Iya terus sekarang dia udah dibawa pulang,” jawab Toha.


“Kemana aja lo Ri?” tanya Nara.


Sepertinya Nara tidak suka, di saat genting seperti ini, Ari lebih memilih berduaan dengan Tata. Tapi Ari


maklum. Untuk itu dia tidak akan berbicara dulu tentang kejadian yang menimpa Tata.


“Sudah ada yang masuk ke sekolah kita,” ujar Wira.


“Hantu berseragam bermuka hitam…” guman Ari,”Aku tadi melihatnya.”


“Nggak mungkin dia dari lorong bawah tanah,” ujar Toha,” lorong itu nggak bisa ditembus… Bokap juga bilang begitu.”


“Atau ada lagi yang bawa hantu ke sekolah,” Wira menebak-nebak.


Ari jadi teringat bola api yang pernah mereka lihat di sekolah. Tapi saat ini susah untuknya menghubungkan semua peristiwa yang telah mereka alami. Dan Ari tidak mau lagi membicarakan hal-hal seperti ini dengan Tata.


“O iya Ri, kamu tadi dicariin Pak Riza,” kata Toha,”Katanya pulang sekolah kamu disuruh ke ruangannya. Ntar kasih


tahu gambar gue ke dia Ri.”


Ari hanya mengangguk. Dia pasti akan perlihatkan gambar Toha ke Pak Riza. Tetapi bukan itu yang mengganggu pikirannya saat ini. Setelah apa yang menimpa Tata tadi di kantin, Ari jadi berpikir lagi untuk menjauhi hal-hal seperti ini.


Pulang sekolah, Ari ke ruangan Pak Riza. Tapi karena di ruang guru masih banyak guru lain yang belum pulang, Pak Riza mengajak Ari ke parkir motor. Di sana Ari langsung memberikan gambar Toha.


“Jadi sekarang Toha yang gambar, bukan kamu?” kata Pak Riza sembari mengamati gambar di tangannya.


“Ya, kebetulan bukan saya yang lihat Pak,” Ari menjelaskan.


“Saya juga sedang atur jadwal untuk membongkar lantai di ruang kepala sekolah,” kata Pak Riza,” Setelah kejadian tadi pagi, bu Mulyani minta dipercepat jadwalnya. Jangan bilang siapa-siapa mengenai hal ini ya Ri.”


“Iya Pak.”


“Ok, infokan terus kalau ada sesuatu ya Ri.”


“Iya Pak… Tapi Pak saya mau bilang sesuatu ke Pak Riza…”


“Ada apa Ri?”


“Maaf sebelumnya Pak, kalau boleh saya mau mengundurkan diri dari misi ini.”


“Maksud kamu?”


“Saya nggak mau berhubungan dengan hal-hal seperti ini lagi Pak.”


Pak Riza memandang Ari sebentar.


“Ini tentang Tata ya Ri?”


“Pak Riza tahu tentang Tata?”


“Kak Karin kan selalu berikan info ke saya Ri… Mmm sebenarnya saya nggak ada masalah sih Ri… Cuman saya tetap butuh kamu untuk mengawasi teman-teman kamu yang lain… Kalau nggak coba saya tanya Kak Karin dulu ya.”


Lalu Pak Riza mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi Kak Karin. Pak Riza sengaja menjauh, mencari


tempat yang lebih sepi saat bicara dengan Kak Karin. Ari sempat memperhatikan Pak Riza. Lama-lama muka Pak Riza terlihat tegang. Selesai menutup ponselnya, Pak Riza menghampiri Ari. Ketegangan masih ada di wajahnya. Dia seperti bingung untuk bicara ke Ari.


“Ri, tadi Kak Karin bilang ke saya…” Pelan Pak Riza bersuara,” Dia justru sangat setuju kalau kamu tidak ikut misi ini lagi. Kayaknya Tata banyak cerita ke Kak Karin tentang hubungan kalian… Tapi…”


“Tapi apa Pak?” tanya Ari penasaran.


“Tapi sebenarnya Kak Karin meminta saya untuk membatalkan misi atau apapun yang akan kalian lakukan Ri.”

__ADS_1


“Kenapa Pak?”


“Kak Karin melihat sesuatu di sekolah ini yang bisa membahayakan keselamatan kalian semua…”


__ADS_2