
Keesokan harinya di taman sekolah, Ari, Toha, Wira dan Nara
tidak banyak bicara. Setelah kemarin Ari mengungkapkan dugaannya tentang murid
kelas 12 atau kelas 10 yang membawa hantu, mereka jadi sering diam memandangi setiap
murid kelas 12 atau kelas 10 yang mulai berdatangan di sekolah. Lalu tak berapa
lama, terlihat ada keributan di dekat gerbang sekolah. Seorang murid kelas 10
sedang dikerubuti murid kelas 11 yang sepertinya mereka para pengurus OSIS.
Beberapa murid yang baru datang jadi menuju ke sana ingin tahu apa yang terjadi,
termasuk Ari, Toha, Wira dan Nara. Ternyata murid kelas 10 itu anak yang sama
yang pernah terlibat keributan dengan pengurus OSIS saat ada kegitan orientasi
sekolah. Dia memakai sepatu merah. Dan itu membuat pengurus OSIS gerah. Suasana
sempat panas. Seorang pengurus OSIS yang tidak sabar sudah mendorong-dorong
anak itu. Beberapa murid lain mulai melerai karena murid kelas 10 itu mulai
melawan. Situasi jadi reda setelah ada guru yang datang. Anak kelas 10 itu dan
beberapa pengurus OSIS disuruh menghadap ke ruang guru. Dari pembicaraan
murid-murid yang berkerumun, Ari, Toha, Wira dan Nara tahu murid kelas 10 itu
namanya Fatar.
“Fatar bukannya yang katanya dia cucunya orang Padepokan?”
guman Ari kepada tiga temannya.
“Iya, kata Bang Yudha, cucunya Mbah Soma yang sekolah di
sini namanya Fatar,”kata Toha membenarkan.
“Cucunya Mbah Soma?” Nara masih kurang mengerti.
“Iya, waktu malam-malam acara Persami, kita ketemu Bang
Yudha orang pedepokan, dia yang cerita si Fatar ini,”Wira menjelaskan ke
Nara,”Katanya dia murid kelas 10.”
“Coba ntar gue minta tolong mama gue buat cek di arsip
sekolah,”kata Ari.
Saat istirahat jam pertama, Ari dan Toha datang ke ruang
Tata Usaha. Di sana Ari minta tolong ibunya untuk pinjam Buku Induk Sekolah.
Ari bilang dia harus cek data-data murid kelas 10 yang ikut ekstrakurikuler
melukis. Ibu Ari memberikan buku itu, asal cuma sebentar karena tidak enak
dengan staf lain. Ari dan Toha pun cepat-cepat mencari data anak bernama Fatar
di arsip kelas 10. Dan memang benar, hanya ada satu anak yang bernama Fatar di
kelas 10. Dia terdaftar di kelas 10-6. Lalu Ari cepat-cepat membuka lembar buku
di data kelas 10-1.
“Ngapain lagi lo Ri,”tanya Toha.
“Gue mau ngecek anak perempuan yang pingsan waktu itu,”kata
Ari.
Di data kelas 10-1 Ari menemukan apa yang dicarinya. Namanya
Lisa Lavina seperti yang pernah dikatakan Pak Riza. Alamat rumahnya di daerah
pemukiman elite.
“Anaknya cantik juga ya Ri,”kata Toha polos melihat pas foto
yang tertempel di lembar data.
Ari hanya mengangguk. Lalu ibu Ari datang. Ari harus segera
mengembalikan buku itu ke ibunya. Ari dan Toha pun keluar dari ruang Tata
Usaha. Saat menuju ke kelas, di kantin terlihat banyak orang berkerumun. Ada
satu murid yang digotong menuju UKS. Kepalanya dibalut kain yang sudah terkena
bercak darah. Ari dan Toha tahu, murid yang digotong itu salah satu pengurus
OSIS yang emosi mendorong-dorong murid kelas 10 bernama Fatar. Kebetulan di
antara kerumunan sudah ada Wira dan Nara. Ari langsung bertanya ke Wira.
“katanya tadi di kantin, anak itu tiba-tiba lari-lari, terus
nyeruduk yang lain,”kata Wira menjelaskan,”Persis kayak kejadian sebelumnya,
tapi kali ini, terakhir dia nyeruduk tembok.”
Ari, Toha, Wira dan Nara pun berlari menyusul rombongan yang
menggotong pengurus OSIS yang pingsan. Saat sudah tidak jauh dari rombongan
itu, tiba-tiba Ari menghentikan langkahnya.
“Kenapa Ri?”tanya Toha,”Lo lihat sesuatu?”
“Iya…”kata Ari masih memandangi rombongan yang sudah sampai
__ADS_1
UKS.
“Lo lihat apaan?” tanya Wira.
“Orang kepalanya kijang,”jawab Ari,”Dia ngikutin terus anak
yang pingsan itu.”
Toha dan Wira mencoba melihat ke arah Ari memandang, tapi
mereka tidak melihat apa-apa, Dan Nara, badannya mulai terasa dingin. Dia pakai
tudung jaketnya di kepala. Saat mereka lihat dari luar UKS, anak yang pingsan
itu sudah siuman dan sedang mendapat perawatan. Dan Ari sudah tidak melihat
sosok kepala kijang itu lagi.
“Ri, lo berpikir apa yang gue pikir nggak?” bisik Wira ke
Ari.
“Maksud lo?” tanya Ari pelan.
“Maksud lo yang bawa hantu itu si Fatar?”tanya Nara ke Wira.
“Iya,”jawab Wira.
“Dari mana lo tahu?”tanya Toha ke Wira.
“Ya buktinya kalau dia lagi masalah sama pengurus OSIS
kejadiannya kayak gini,”jawab Wira.
“Ada satu lagi yang harus dibuktikan,” Ari pelan bersuara.
“Apa?” tanya Toha, Wira dan Nara hampir bersamaan.
“Kalau dia yang bawa hantu… Dia pulangnya naik bus,”jawab
Ari serius.
Alhasil setelah bel pulang sekolah, Ari, Toha, Wira dan Nara
cepat-cepat pergi ke taman. Di sana mereka menunggu anak kelas 10 bernama Fatar
lewat. Satu per satu mereka perhatikan murid-murid yang berjalan keluar
gerbang. Dan akhirnya anak yang bernama Fatar muncul. Dia berjalan sendirian ke
arah gerbang. Mukanya terlihat serius dan sedikit pongah. Dan dia masih memakai
sepatu merahnya. Ari, Toha, Wira dan Nara pun mulai berjalan mengikuti Fatar
dari jauh. Sampai di trotoar mereka berhenti. Mereka lihat Fatar menyeberang
jalan. Di seberang jalan, Fatar bergabung dengan kerumunan yang ada di halte.
Begitu ada bus datang, Fatar naik ke bus bersama calon penumpang bus lainnya.
“Kalau gitu gue musti cepet-cepet lapor ke Pak Riza,” kata
Ari.
Ari pun cepat lari ke arah ruang guru. Dia berharap Pak Riza
masih di ruangannya. Saat Ari sampai di sana, Pak Riza sudah berkemas dan
menjinjing tasnya. Begitu bertemu Pak Riza, Ari langsung mengutarakan temuannya
bersama teman-temannya. Pak Riza tampak berpikir sebentar. Lalu dia duduk lagi
di bangkunya dan mempersilahkan Ari duduk di depannya.
“Ri, denger ya,” kata Pak Riza pelan,”Tugas kamu hanya
melaporkan apa yang kamu lihat ke saya. Kalian jangan main ambil kesimpulan
sendiri.”
“Tapi kan, kejadian ini sudah terulang dua kali Pak,” sergah
Ari.
“Dari mana kamu tahu dia pelakunya?” tanya Pak Riza.
“Ya…” Ari tergagap. Dari sini Ari merasa dia tak punya
jawaban buat Pak Riza.
“Nah, Ri… Hal-hal begini memang susah dan bisa mustahil
untuk dibuktikan,”kata Pak Riza dengan suara bijaksana,” Jangan sampai kita
salah langkah dan menuduh orang yang tidak-tidak. Tapi kamu sudah bagus selalu
melaporkan apa yang kamu lihat ke saya. Jadi saya harap kamu terus lapor ke
saya kalau lihat sesuatu. Dan ingat ya Ri… Jangan ambil tindakan sendiri.”
“Ya Pak, saya ingat,” jawab Ari.
***
Siang ini bus agak lega. Jarang-jarang Ari dapat duduk di
dalam bus saat pulang sekolah. Waktu bus mau berangkat, satu rombongan lagi
masuk ke dalam bus. Di antara rombongan itu, ada satu orang yang menyita
perhatian Ari. Dia berjalan ke arah ke Ari. Anak perempuan yang pernah pingsan
di UKS. Ari tahu namanya Lisa. Rambut lurusnya panjang tergerai ke bawah. Wajah
__ADS_1
cantiknya membuat beberapa orang di bus melirik. Tapi anak itu tetap tenang
berjalan mendekat ke Ari. Tanpa sengaja Ari sempat bertatap mata dengannya. Ari
pun salah tingkah. Ari sempat berpikir setelah betatap mata dengannya, anak itu
akan menjauh darinya. Tapi ternyata dia malah berdiri tepat di depan Ari.
Karena sekarang semua tempat duduk penuh. Ari jadi tidak enak. Dia pun
memberikan tempat duduknya ke anak itu.
“Terimakasih Kak,” kata anak itu sopan.
“Iya…” jawab Ari canggung.
Anak perempuan itu sudah duduk tepat di depan Ari berdiri.
“Kamu Lisa ya?” kata Ari menutupi sikap canggungnya.
“Iya Kak,”jawab anak itu polos.
Sebelum Ari sempat berpikir untuk pembicaraan selanjutnya,
seorang ibu tua yang berdiri di bus bergeser ke dekat Ari karena penumpang
makin bertambah dan bus makin penuh. Anak perempuan itu dengan sopan menawarkan
tempat duduknya ke ibu tua. Dan kini dia berdiri tepat di sebelah Ari.
“Kamu kenapa waktu itu pingsan?” Ari mencoba berkomunikasi
karena mereka sudah berdekatan.
Tapi sebelum sempat menjawab, anak itu terdorong oleh
orang-orang yang mulai berjubel di dalam bus. Ari pun berusaha melindungi
dengan badannya, karena ukuran tubuh anak itu termasuk mungil.
“Kakak namanya siapa?” tanya anak itu. Wajahnya begitu dekat
dengan wajah Ari karena tubuh mereka sudah berimpit di antara orang berjubelan
di bus.
“Aku Ari… “jawab Ari terbata sambil menahan dorongan
orang-orang di sekitarnya.
“Kakak bisa lihat hantu?” tanya anak itu.
Sejenak Ari terkesiap. Dia tidak menyangka tiba-tiba anak
itu bertanya seperti itu.
“Iya…” Ari menjawab seadanya.
“Waktu aku pingsan, kakak lihat apa?” tanya anak itu lagi.
Sorot matanya memohon untuk dijawab.
“Aku lihat… Perempuan bajunya hitam, rambutnya panjang ke
atas,”jawab Ari polos.
Anak itu pun kini terlihat serius. Pandangannya menerawang
keluar jendela bus.
“Kok kamu nggak naik mobil?” tanya Ari. Dia mencoba
mengganti topik selain hantu,”Bukannya waktu itu kamu dijemput sama sopir?”
“Aku lebih suka naik umum,” jawab anak itu datar.
“Kenapa?” Ari penasaran.
“Soalnya dulu keluargaku kecelakaan meninggal semua pakai
mobil pribadi,” jawab anak itu. Kali ini suaranya agak emosional.
Lalu muka anak itu berubah sedih. Ari jadi merasa bersalah
karena menanyakan topik yang salah. Lama Ari memikirkan topik lain untuk
menetralisir suasana.
“Kak sebentar lagi aku turun,”anak itu bersuara.
“Udah deket?”tanya Ari.
“Iya udah deket, tinggal naik angkot sekali,”jawab anak itu.
Ari melihat bus memasuki daerah yang banyak pemukiman elite.
“Kak aku boleh minta tolong?”tanya anak itu.
“Boleh… Kenapa?”jawab Ari.
“Kalau aku pingsan lagi, tolong aku dijagain ya Kak,” pinta
anak itu.
“Iya…”jawab Ari. Walau Ari mengiyakan tapi dia masih merasa
aneh dengan permintaan anak itu.
Lalu anak itu berusaha keluar, meringsek diantara penumpang.
Dari jendela bus, Ari masih bisa melihat anak perempuan bernama Lisa itu
berjalan di trotoar. Ari merasa ada yang aneh pada anak itu. Anak itu begitu
__ADS_1
misterius. Tapi Ari berharap, besok dia bisa bertemu Lisa lagi.