Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 35 : Menyelamatkan Nara


__ADS_3

Malam ini Ari ada di depan meja belajarnya. Dia sudah


membuka buku matematikanya, tapi pikirannya masih berkutat pada peristiwa tadi


siang. Hantu bersayap itu sudah membuat teror di sekolah. Pak Riza sudah jadi


korban. Siapa lagi yang bisa percaya padanya sekarang. Ari mengambil ponselnya.


Nomor orang padepokan sudah dia simpan. Dari tadi dia punya niat untuk


menghubungi sendiri nomor itu. Tapi apakah mereka akan percaya padanya. Ari


lama memandangi ponselnya. Lalu terlihat ada notifikasi pesan di WA. Ternyata


dari Nara.


Ri kayaknya hantu yang


pakai bunga ithdjjhvdsbi     sjs is


jccjsijsutasfasuhcc


Lama Ari memandangi tulisan Nara di ponselnya. Nara menulis


tentang hantu yang pakai bunga, tapi selebihnya tulisannya kacau. Ari pun


cepat-cepat menghubungi Nara. Ponsel Ari sudah terhubung. Beberapa kali


terdengar nada sambung, tapi Nara tidak mengangkatnya juga. Ari jadi khawatir.


Dia kirim pesan Nara tadi ke Wira dan Toha dan menambahkan pesan kalau ponsel


Nara tidak bisa dihubungi. Tak berapa lama, ada panggilan dari Wira di


ponselnya.


“Halo Wir,” kata Ari.


“Halo Ri,” jawab Wira di ponsel Ari,”Gue juga udah hubungi


Nara, nggak diangkat juga.”


“Iye, gue jadi khawatir,” suara Ari tegang.


“Sebelumnya kapan lo hubungi Nara,” tanya Wira.


“Tadi sore, gue kirim WA tentang Pak Riza yang gue kirim ke


lo sama Toha juga, cuma dibaca doang,” kata Ari.


“Kalau gitu kita ke rumahnya aja, gue jemput lo ya,”


“Ok.”


“Gue berangkat sekarang.”


“Ok.”


Tidak sampai setengah jam Wira sampai di rumah Ari dengan


vespanya. Ibu Ari sempat menegur Ari karena ini sudah malam dan dia harus


belajar. Tapi Ari bilang mungkin saja ada yang mengganggu Nara. Dan Ari sudah


menceritakan peristiwa yang menimpa Pak Riza tadi siang ke ibunya. Ibu Ari


tidak bisa apa-apa selain melihat anaknya pergi naik vespa dengan temannya. Ibu


Ari khawatir dan dia jadi ingat bapaknya, kakek Ari. Kakek Ari yang hilang tak


pernah kembali lagi setelah pergi ke gunung-gunung.


Hampir setengah jam Ari dan Wira sampai ke rumah Nara.


Setelah memencet bel, muncul pembantu Nara yang sudah pernah ketemu Ari dan


Wira juga. Pembantu Nara membukakan pintu gerbang tapi wajahnya terlihat tegang


dan bingung.


“Bi, Nara ada?” kata Wira langsung bertanya.


“Ya itu Mas… Duh gimana ya…” kata Pembantu Nara bingung.


“Kenapa Bi?”tanya Ari.


“Itu Mas…E… E…” Pembantu Nara jadi gagap.

__ADS_1


“Tenang Bi. Bibi tenang dulu,” kata Wira menenangkan,” coba


ceritain, Nara kenapa?”


“Iya Mas… Tadi siang Neng Nara pulang cepet kan… karena


sakit…”kata pembantu Nara. Suaranya masih patah-patah.


“Terus…?” tanya Wira.


“Iya… Neng Nara seharian di kamar terus… Nggak makan, nggak


minum,” kata pembantu Nara,”Saya ketuk kamarnya, nggak pernah dijawab… Saya mau


telpon mamanya ke Amerika tapi saya nggak berani…”


“Terus…?” tanya Wira lagi.


“Terus tadi barusan Mas… Neng Nara turun dari kamarnya


langsung ke garasi,”kata pembantu Nara lagi,”Terus Neng Nara masuk ke mobil…


Terus saya panggilin, saya tawarin makan, dia nggak jawab. Waktu saya lihat di


mobil, dia lagi nyiumin parfum yang ada di mobil… Saya jadi takut Mas.”


Ari dan Wira langsung saling pandang. Di pikiran mereka cuma


satu : hantu perempuan memakai bunga yang dulu pernah mengikuti Tata.


“Nara sekarang dimana Bi?” tanya Wira cemas.


“Iya itu tadi… Neng Nara keluar naik mobil…” jawab pembantu


Nara.


“Kemana perginya Bi?” tanya Ari spontan.


“Ya itu Mas, saya nggak tahu…” jawab pembantu Nara. Mukanya


semakin terlihat bingung ,”Padahal Neng Nara cuma pakai baju tidur… Sama nggak


pakai sandal…”


Ari dan Wira saling pandang lagi. Wajah mereka bertambah


menghubungi ponsel Nara, tapi sepertinya ponselnya tidak aktif. Lalu ada


panggilan di ponsel Ari. Ternyata dari Toha.


“Ri, dimana lo?” tanya Toha di ponsel Ari.


“Gue sama Wira di rumah Nara,” jawab Ari,”Ha, kayaknya Hantu


yang pakai bunga itu masuk ke Nara, terus sekarang Nara keluar pakai mobil


nggak tahu kemana.”


“Ri, denger baik-baik,” suara Toha begitu serius di ponsel


Ari,”Gue barusan bicara sama bokap. Kata bokap, hantu yang pakai bunga itu udah


bikin perjanjian sama rajanya. Kalau dia bisa nyerahin manusia ke rajanya, dia


akan dibebaskan dan nggak dicari lagi.”


“Maksudnya?” tanya Ari tidak sabar.


“Iya, rajanya sekarang pengen manusia. Kemarin hantu yang


pakai sayap bawain tiga murid cewek dari toilet, tapi rajanya nggak mau.


Tadinya dia maunya Tata. Tapi Tata sudah dipagari sama kalungnya. Terus


sekarang dia maunya Nara. Si hantu yang pakai bunga ini lagi bawa Nara ke


sekolahan.”


Wajah Ari kaku. Sekarang dia baru tahu situasinya. Dan


situasinya begitu gawat.


“Ri, ada apa?”tanya Wira cemas.


“Ha, nanti gue hubungi lagi ya,” Ari pun mematikan


ponselnya,” Wir, kita ke sekolah sekarang.”

__ADS_1


“Kenapa?”tanya Wira bingung.


“Nanti gue ceritain di jalan,” kata Ari,”Kita musti cepat


sampai sana,” Selain mereka harus bertindak cepat, Ari tidak ingin membuat


pembantu Nara tambah khawatir.


Setelah menenangkan pembantu Nara, Ari dan Wira meninggalkan


rumah Nara. Di jalan Ari ceritakan semua yang dikatakan Toha tadi ke Wira. Wira


langsung menambah kecepatan vespanya. Pandangannya lurus ke depan. Hidup atau


mati, dia harus menyelamatkan Nara. Ari jadi khawatir dengan bagaimana Wira


mengendarai vespanya. Berkali-kali dia menyalip kendaraan yang ada di


sekitarnya. Berkali-kali kendaraan lain membunyikan klakson karena vespa Wira


begitu liar melintas di jalanan. Hingga Ari harus berpegang erat ke Wira. Dan


Ari melihat Wira sudah memakai cincin di jarinya.


Sampai di depan sekolah, Ari dan Wira melihat mobil Nara


terparkir di pinggir trotoar. Mereka sempat cek, tidak ada siapa-siapa di dalam


mobil. Dari jauh Ari melihat gerbang sekolah terkunci.


“Nara pasti lompat pagar,” kata Ari.


Tanpa pikir panjang Wira langsung berlari dan melompat pagar


sekolah. Ari pun menyusul di belakang. Mereka terus berlari melewati halaman


sekolah yang gelap. Sampai di depan gedung, Wira melambatkan larinya.


Sepertinya dia bingung mau ke mana.


“Ke aula!” cetus Ari tanpa melambatkan larinya.


Berdua mereka berlari menuju aula. Saat pintu aula dibuka,


mereka tak bisa melihat apa-apa karena ruangan begitu gelap. Wira berusaha


mencari saklar di tembok dekat pintu. Begitu saklar dinyalakan, seluruh aula


terlihat terang. Dan jauh di sudut ruangan terlihat Nara. Nara sedang berdiri


membelakangi Ari Dan Wira. Dia hanya memakai baju tidur dan tidak memakai


sandal. Nara berdiri kaku di depan ruang penyimpanan matras. Dan pintu ruang


itu sudah terbuka. Di lantai dekat Nara berdiri, terlihat gembok yang


tergeletak rusak.


“Nara!” Wira berteriak memanggil Nara.


Nara cuma diam, masih berdiri di depan pintu ruang


penyimpanan matras.


“Nara!” teriakan Wira lebih keras. Dia masih ragu untuk


bergerak maju. Begitu juga Ari.


Lalu Nara terlihat membalikkan badan. Kini Nara menghadap ke


Ari dan Wira. Wajahnya mengarah ke Ari dan Wira. Tapi penglihatannya tidak ke


sana. Pandangan Nara kosong, seperti tidak melihat kemana-mana. Wira pelan


bergerak maju. Begitu juga Ari. Tapi baru beberapa langkah, mereka berhenti.


Karena bau bangkai kini begitu menusuk hidung mereka. Dan Ari sadar dengan


perasaannya. Sesuatu yang besar sedang berada di dekat mereka. Ari merasa


sesuatu itu ada di atas mereka. Pelan Ari menengadahkan kepalanya ke atas. Dan


di langit-langit aula, tergantung sosok bermuka seperti tengkorak, seperti


kelelawar. Dia bergantung terbalik seperti kelelawar. Rambut panjangnya


menjuntai ke bawah. Dan sayapnya sudah terbentang lebar.

__ADS_1


__ADS_2