Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 56 : Setelah Insiden di Laboratorium Komputer


__ADS_3

Esok harinya, murid-murid yang terlibat insiden di


laboratorium komputer dipanggil ke ruang kepala sekolah. Kejadian kemarin di


laboratorium komputer sudah menjadi pembicaraan seantero sekolah. Belum


ditambah berita murid-murid yang pingsan di lorong bawah tanah dan hantu-hantu


yang mengikutinya. Salah satu faktor yang membuat kejadian kemarin jadi besar


adalah datangnya orang-orang padepokan di tengah-tengah berlangsungnya kegiatan


belajar mengajar. Untuk itu, sebelumnya Pak Riza sudah dipanggill kepala sekolah.


Pak Riza masih beruntung tidak dikeluarkan dari sekolah. Dia hanya diberikan


peringatan terakhir. Tapi apabila kejadian ini terulang lagi, bisa jadi dia


akan dikeluarkan dari sekolah. Ari, Toha, Wira, Nara, Astri dan Tata sudah


duduk di depan meja kepala sekolah. Sebenarnya Lisa juga ikut dipanggil, tapi


hari ini dia dikabarkan tidak masuk. Sebelumnya, tadi malam Ari sudah ceritakan


semua kejadian ke Lisa lewat ponsel.


Dari Ari sampai Tata, satu persatu mereka disuruh menceritakan


kejadian kemarin. Karena tidak saja berita sarat tahayul yang telah menyebar,


tapi kerugian atas kerusakan meja, peralatan komputer dan lain-lainnya tidaklah


sedikit. Tentu saja Wira dan Nara tidak sampai bercerita mengenai cincin mereka


atau sosok yang ada pada cincin itu. Ari hanya bercerita tentang hantu perempuan


yang mengganggu Astri. Dan bagaimana dia begitu saja bisa mengusir hantu itu. Ari


tidak menceritakan detail yang sebenarnya. Dan sebelum masuk ke ruang kepala


sekolah tadi, Ari mewanti-wanti Tata untuk tidak bercerita bahwa dia bisa


melihat mahluk berkaki empat itu, apalagi sampai membunuhnya. Ari menyuruh Tata


untuk bilang saja bahwa Tata tidak bisa melihat apa-apa, sama seperti Astri.


Biar dia, Toha, Wira dan Nara yang akan cerita.


“Astri dan Tata tidak bisa melihat apa-apa Pak,” kata Ari


menegaskan ceritanya pada kepala sekolah, Pak Suman,” Mereka berdua hanya


korban.”


“Hmm, jadi yang bisa lihat aneh-aneh itu kamu, Toha, Wira,


sama… Nara,” kata Pak Suman.


“Iya Pak,” jawab Ari singkat.


“Sebelumnya saya juga sudah sering dengar dari guru-guru… Kalau


kalian ini, kalau pagi, suka ngumpul di taman bicarakan hal-hal tahayul,”kata


Pak Suman sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke Ari, Toha, Wira dan Nara,” Mulai


hari ini, kalian tidak boleh lagi ngumpul di taman. Begitu sampai di sekolah,


langsung masuk kelas. Siap-siap belajar. Ngerti!”


“Ngerti Pak,” kata Ari, Toha, Wira dan Nara hampir bersamaan


dengan suara pasrah.


Hampir setengah jam mereka ada di ruang kepala sekolah


mendengarkan ceramah dari Pak Suman. Saat mereka keluar dan kembali ke kelas,


di setiap kelas yang mereka lewati, hampir setiap murid yang ada di dalam kelas


memperhatikan mereka. Ada yang bilang Ari dan yang lain sekumpulan anak aneh,


bahkan ada yang bilang mereka sekumpulan pemuja setan. Lalu Ari meminta Tata


dan Astri agar mengambil jalan lain untuk kembali ke kelas. Ari tidak mau


apapun yang orang katakan tentang Ari dan teman-temannya, berimbas pada Tata


dan Astri.


Saat istirahat, ada beberapa murid yang menyatakan dari


Kelompok Anti Tahayul mendatangi Ari. Mereka memanggil Ari dan memberikan


selebaran kepada Ari. Ari cuma tahu yang memberikan selebaran itu panggilannya Drago,


salah satu pengurus OSIS juga. Dan ada Jodi di antara kelompok itu. Setelah


mereka pergi, Ari membaca selebaran itu. Isinya sebuah petisi yang


ditandatangani lebih dari 200 murid. Intinya mereka tidak mau ada murid yang


punya kegiatan berbau tahayul di sekolah mereka. Lalu Toha, Wira dan Nara


mendatangi Ari dan ikut membaca. Lalu ada Boncel iku membaca. Lalu datang juga


Kocik sang ketua kelas dan beberapa murid kelas Ari lainnya. Tak berapa lama


mereka membaca, Kocik mengambil selebaran itu dan menyobek-nyobeknya. Lalu


Boncel dengan ceria bertepuk tangan keras-keras.


“Eh, katanya Vira mau kasih hadiah buat Ari,” teriak Boncel


keras-keras,”Mana nih Vira?”


Lalu dengan malu-malu Vira membawa sekantung snack dan


diberikan ke Ari. Kata Vira, itu sebagai rasa terimakasih dari keluarganya,


karena gara-gara Ari dan komplotannya, dia selamat dari hantu perempuan yang

__ADS_1


punggungnya berlubang. Ari tak menyangka, setelah berbagai tekanan yang mereka


alami dari kejadian kemarin, ada juga yang berbaik hati padanya. Untuk menutupi


rasa harunya, Ari membagikan snack itu ke seluruh kelas. Walau tidak seberapa,


tapi snack itu bisa membuat suasana meriah di kelas Ari saat itu. Ari merasa


lega, untuk kesekian kali, dia mendapat dukungan dari teman-teman sekelasnya,


walaupun murid kelas lain menganggap kelas mereka kelas buangan.


***


Hari pun berganti. Ada berita bahwa Lisa sudah keluar dari sekolah.


Dia pindah sekolah di Papua, tinggal bersama bapaknya yang dinas di sana. Lisa butuh


perhatian dari bapaknya, satu-satunya keluarganya yang tersisa. Mendengar


berita itu, Ari merasa ada sesuatu yang belum dia selesaikan. Dia masih


menyimpan cincin Lisa di dalam tasnya.


Pada suatu Hari Minggu, Ari main ke rumah Toha naik motor


ibunya. Sebenarnya bukan Toha yang ingin Ari temui, Tapi bapaknya Toha, Pak


Hudi. Beberapa hari ini, setelah kejadian di laboratorium komputer, Ari selalu khawatir


dengan keselamatan Tata. Pak Hudi pun menemui Ari, seperti dia sudah tahu kalau


Ari ingin bertemu dengannya. Ari menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu


di laboratorium komputer ke Pak Hudi.


“Dari awal saya lihat, Tata itu lebih dari kamu Ri,” kata


Pak Hudi dengan suara berat,” Tinggal mental dia aja. Waktu kejadian di lab,


mentalnya lagi naik, karena dia lagi marah. Tapi saya saranin mending dia nggak


usah pakai kemampuannya.”


“Tapi udah terlanjur Pak,” kata Ari,” Saya jusru takut sama


keselamatannya.”


“Ya… selama Tata pakai kalungnya, saya kira dia akan


baik-baik saja,” kata Pak Hudi bijaksana.


Walau Ari sudah tahu kegunaan kalung itu, tapi kata-kata Pak


Hudi sangat melegakannya.


“Iya Pak, saya juga berharap orang-orang padepokan waktu itu


sudah membersihkan sekolah kita,”kata Ari.


“Sebenarnya waktu orang-orang itu datang ke sekolah kamu,


belum semuanya dibersihkan,”kata Pak Hudi,” Masih ada satu yang tertinggal…


“Jadi masih ada?”Ari berusaha menahan kekagetannya.


“Waktu itu masih…”kata Pak Hudi dengan suara tetap


tenang,”Sekarang sih sudah nggak ada.”


“Sudah nggak ada?” Ari jadi bingung.


“Kayaknya dia sudah keluar dari sekolah kamu,”jawab Pak Hudi


“Mereka kan nggak bisa keluar masuk sekolah kita,” kata


Ari,” Kecuali dia ngikut sama badan seseorang…”


“Iya, bisa jadi seperti itu,” kata Pak Hudi.


Ari dan Toha saling berpandangan. Tapi Pak Hudi lalu


bercerita ke hal lain. Pak Hudi tidak ingin Ari dan Toha terlalu memikirkan apa


yang mereka bicarakan barusan. Setelah hampir satu jam ngobrol, Ari pun meminta


diri.


“Ri, ternyata waktu itu sekolah kita masih belum bersih,”


Toha membicarakan lagi apa yang dikatakan bapaknya sebelum Ari meninggalkan


rumahnya.


“Ha, sebaiknya kita nggak usah bicarakan hal kayak gini lagi,”


kata Ari,” Wira juga mau balikin cincinnya ke kakeknya.”


“Iya bener Ri,” kata Toha,” Gue juga pengen kejadian yang menimpa


Astri tidak terjadi lagi,”Sepertinya Toha masih trauma dengan apa yang terjadi


pada Astri.


Ari mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah bertekat untuk


tidak berkutat lagi dengan hal-hal seperti itu. Mungkin dia sudah tidak akan


menggambar hantu lagi. Sekarang ini dia lebih memikirkan keselamatan Tata. Lalu


Ari berpamitan dan menjalankan motornya meninggalkan Toha.


***


Bulan pun berganti. Bulan November sudah datang. Tanggal 7


November, Ari berulang tahun. Demikian juga Tata. Ulang tahun kali ini adalah


ulang tahun yang ke tujuh belas. Momen yang sangat spesial buat gadis seperti


Tata. Seperti remaja putri lainnya, ulang tahun Tata yang ke tujuh belas

__ADS_1


dirayakan sangat spesial oleh keluarganya. Semua teman-teman Tata diundang


dengan acara yang meriah. Tapi kemeriahan itu tidak membuat Tata nyaman. Bahkan


ketika sedang meriah-meriahnya acara di lantai 1 di rumah Tata, Tata malah


berada di kamar mandinya di lantai 2. Lama dia menatap ke cermin di wastafel, setelah


tadi dia membasuh mukanya dengan air wastafel. Tata merasa make up yang


diriaskan mamanya terlalu tebal. Tapi bukan itu juga yang membuat dia tidak


nyaman. Dari tadi dia berpikir untuk menghubungi seseorang yang selalu dia


pikirkan saat ini. Tata pun keluar kamar mandinya menuju balkon kamarnya. Pelan


dia tutup pintunya dari luar. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi


nomor Ari. Tak berapa lama Ari sudah tersambung di ponselnya.


“Halo Ari.”


“Halo Ta.”


“Selamat ulang tahun ya Ri.”


“Selamat ulang tahun juga ya Ta.”


“Kamu dimana Ri?”


“Di kuburan Ta.”


“Di kuburan?”


“Di kuburan papa aku.”


“O, kirain…”


“Iya, tadi sore aku bilang sama mama, aku inget papa. Terus


mama ngajak ziarah. Tapi mama badannya kurang sehat, jadi dia pulang duluan.


Aku bilang sama mama, aku akan lama di sini dulu.”


“Mama kamu sehat kan Ri?”


“Iya, cuman akhir-akhir ini sering kurang enak badan aja.”


“Ntar kalau aku bisa mampir, aku bawain buah ya Ri. Tapi aku


belum tahu kapan.”


“Nggak usah repot-repot Ta… Eh, gimana pestanya Ta?”


“Bosen… Aku lagi ngumpet di balkon.”


“Tapi rame kan Ta?”


“Iya… Jodi juga dateng. Dia tadi ngajak jadian lagi… Tapi


aku nggak mau.”


“Kenapa nggak mau?”


“Nggak tahu ya… Aku nggak bisa jadi diri aku sendiri…”


“Terus?”


“Ya, terus aku tinggal ke sini, waktu dia ngobrol sama


mama.”


“Kamu masih pakai kalung kamu kan Ta?”


“Masih lah.”


“Ta, janji sama aku…”


“Janji apaan?”


“Jangan lepas kalung kamu sedetik pun.”


“Iya, iya… aku janji.”


“Maksud aku jangan lepas sedetikpun!  Sedetikpun!”


“Iya… Bawel ih. Tapi kan kalau mandi aku copot. Soalnya


risih kena air.”


“Aku bilang sedetikpun! Jadi kalau mandi tetep harus


dipakai.”


“O, gitu… Biar aku inget terus sama kamu ya Ri? Kalau mandi


juga inget sama kamu?”


“Mmmm… Iya, maksudnya gitu…”


“Eh, Ri. Kayaknya mamaku lagi nyariin aku. Udahan dulu ya


Ri. Kapan-kapan aku telpon lagi.


“Iya Ta. Ingat janjinya ya.”


“Ok. Bye.”


“Bye.”


Ari memasukkan ponselnya ke saku. Dia berharap


Tata menepati janjinya untuk tidak melepaskan kalungnya sedetikpun. Dia tidak


bisa membayangkan Tata tanpa kalung itu. Apalagi setelah kejadian di


laboratorium komputer. Lalu dia pandangi lama kuburan bapaknya di depan.


Sesuatu selalu mengganjal di hatinya mengenai kematian bapaknya. Kematian bapaknya


yang kini membuat hidup ibunya menderita. Jika sudah begitu, dia ingat akan

__ADS_1


satu hantu. Dalam hati dia berjanji pada bapaknya. Dia akan mencari hantu itu


sampai kapan pun.


__ADS_2