
Esok harinya, murid-murid yang terlibat insiden di
laboratorium komputer dipanggil ke ruang kepala sekolah. Kejadian kemarin di
laboratorium komputer sudah menjadi pembicaraan seantero sekolah. Belum
ditambah berita murid-murid yang pingsan di lorong bawah tanah dan hantu-hantu
yang mengikutinya. Salah satu faktor yang membuat kejadian kemarin jadi besar
adalah datangnya orang-orang padepokan di tengah-tengah berlangsungnya kegiatan
belajar mengajar. Untuk itu, sebelumnya Pak Riza sudah dipanggill kepala sekolah.
Pak Riza masih beruntung tidak dikeluarkan dari sekolah. Dia hanya diberikan
peringatan terakhir. Tapi apabila kejadian ini terulang lagi, bisa jadi dia
akan dikeluarkan dari sekolah. Ari, Toha, Wira, Nara, Astri dan Tata sudah
duduk di depan meja kepala sekolah. Sebenarnya Lisa juga ikut dipanggil, tapi
hari ini dia dikabarkan tidak masuk. Sebelumnya, tadi malam Ari sudah ceritakan
semua kejadian ke Lisa lewat ponsel.
Dari Ari sampai Tata, satu persatu mereka disuruh menceritakan
kejadian kemarin. Karena tidak saja berita sarat tahayul yang telah menyebar,
tapi kerugian atas kerusakan meja, peralatan komputer dan lain-lainnya tidaklah
sedikit. Tentu saja Wira dan Nara tidak sampai bercerita mengenai cincin mereka
atau sosok yang ada pada cincin itu. Ari hanya bercerita tentang hantu perempuan
yang mengganggu Astri. Dan bagaimana dia begitu saja bisa mengusir hantu itu. Ari
tidak menceritakan detail yang sebenarnya. Dan sebelum masuk ke ruang kepala
sekolah tadi, Ari mewanti-wanti Tata untuk tidak bercerita bahwa dia bisa
melihat mahluk berkaki empat itu, apalagi sampai membunuhnya. Ari menyuruh Tata
untuk bilang saja bahwa Tata tidak bisa melihat apa-apa, sama seperti Astri.
Biar dia, Toha, Wira dan Nara yang akan cerita.
“Astri dan Tata tidak bisa melihat apa-apa Pak,” kata Ari
menegaskan ceritanya pada kepala sekolah, Pak Suman,” Mereka berdua hanya
korban.”
“Hmm, jadi yang bisa lihat aneh-aneh itu kamu, Toha, Wira,
sama… Nara,” kata Pak Suman.
“Iya Pak,” jawab Ari singkat.
“Sebelumnya saya juga sudah sering dengar dari guru-guru… Kalau
kalian ini, kalau pagi, suka ngumpul di taman bicarakan hal-hal tahayul,”kata
Pak Suman sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke Ari, Toha, Wira dan Nara,” Mulai
hari ini, kalian tidak boleh lagi ngumpul di taman. Begitu sampai di sekolah,
langsung masuk kelas. Siap-siap belajar. Ngerti!”
“Ngerti Pak,” kata Ari, Toha, Wira dan Nara hampir bersamaan
dengan suara pasrah.
Hampir setengah jam mereka ada di ruang kepala sekolah
mendengarkan ceramah dari Pak Suman. Saat mereka keluar dan kembali ke kelas,
di setiap kelas yang mereka lewati, hampir setiap murid yang ada di dalam kelas
memperhatikan mereka. Ada yang bilang Ari dan yang lain sekumpulan anak aneh,
bahkan ada yang bilang mereka sekumpulan pemuja setan. Lalu Ari meminta Tata
dan Astri agar mengambil jalan lain untuk kembali ke kelas. Ari tidak mau
apapun yang orang katakan tentang Ari dan teman-temannya, berimbas pada Tata
dan Astri.
Saat istirahat, ada beberapa murid yang menyatakan dari
Kelompok Anti Tahayul mendatangi Ari. Mereka memanggil Ari dan memberikan
selebaran kepada Ari. Ari cuma tahu yang memberikan selebaran itu panggilannya Drago,
salah satu pengurus OSIS juga. Dan ada Jodi di antara kelompok itu. Setelah
mereka pergi, Ari membaca selebaran itu. Isinya sebuah petisi yang
ditandatangani lebih dari 200 murid. Intinya mereka tidak mau ada murid yang
punya kegiatan berbau tahayul di sekolah mereka. Lalu Toha, Wira dan Nara
mendatangi Ari dan ikut membaca. Lalu ada Boncel iku membaca. Lalu datang juga
Kocik sang ketua kelas dan beberapa murid kelas Ari lainnya. Tak berapa lama
mereka membaca, Kocik mengambil selebaran itu dan menyobek-nyobeknya. Lalu
Boncel dengan ceria bertepuk tangan keras-keras.
“Eh, katanya Vira mau kasih hadiah buat Ari,” teriak Boncel
keras-keras,”Mana nih Vira?”
Lalu dengan malu-malu Vira membawa sekantung snack dan
diberikan ke Ari. Kata Vira, itu sebagai rasa terimakasih dari keluarganya,
karena gara-gara Ari dan komplotannya, dia selamat dari hantu perempuan yang
__ADS_1
punggungnya berlubang. Ari tak menyangka, setelah berbagai tekanan yang mereka
alami dari kejadian kemarin, ada juga yang berbaik hati padanya. Untuk menutupi
rasa harunya, Ari membagikan snack itu ke seluruh kelas. Walau tidak seberapa,
tapi snack itu bisa membuat suasana meriah di kelas Ari saat itu. Ari merasa
lega, untuk kesekian kali, dia mendapat dukungan dari teman-teman sekelasnya,
walaupun murid kelas lain menganggap kelas mereka kelas buangan.
***
Hari pun berganti. Ada berita bahwa Lisa sudah keluar dari sekolah.
Dia pindah sekolah di Papua, tinggal bersama bapaknya yang dinas di sana. Lisa butuh
perhatian dari bapaknya, satu-satunya keluarganya yang tersisa. Mendengar
berita itu, Ari merasa ada sesuatu yang belum dia selesaikan. Dia masih
menyimpan cincin Lisa di dalam tasnya.
Pada suatu Hari Minggu, Ari main ke rumah Toha naik motor
ibunya. Sebenarnya bukan Toha yang ingin Ari temui, Tapi bapaknya Toha, Pak
Hudi. Beberapa hari ini, setelah kejadian di laboratorium komputer, Ari selalu khawatir
dengan keselamatan Tata. Pak Hudi pun menemui Ari, seperti dia sudah tahu kalau
Ari ingin bertemu dengannya. Ari menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu
di laboratorium komputer ke Pak Hudi.
“Dari awal saya lihat, Tata itu lebih dari kamu Ri,” kata
Pak Hudi dengan suara berat,” Tinggal mental dia aja. Waktu kejadian di lab,
mentalnya lagi naik, karena dia lagi marah. Tapi saya saranin mending dia nggak
usah pakai kemampuannya.”
“Tapi udah terlanjur Pak,” kata Ari,” Saya jusru takut sama
keselamatannya.”
“Ya… selama Tata pakai kalungnya, saya kira dia akan
baik-baik saja,” kata Pak Hudi bijaksana.
Walau Ari sudah tahu kegunaan kalung itu, tapi kata-kata Pak
Hudi sangat melegakannya.
“Iya Pak, saya juga berharap orang-orang padepokan waktu itu
sudah membersihkan sekolah kita,”kata Ari.
“Sebenarnya waktu orang-orang itu datang ke sekolah kamu,
belum semuanya dibersihkan,”kata Pak Hudi,” Masih ada satu yang tertinggal…
“Jadi masih ada?”Ari berusaha menahan kekagetannya.
“Waktu itu masih…”kata Pak Hudi dengan suara tetap
tenang,”Sekarang sih sudah nggak ada.”
“Sudah nggak ada?” Ari jadi bingung.
“Kayaknya dia sudah keluar dari sekolah kamu,”jawab Pak Hudi
“Mereka kan nggak bisa keluar masuk sekolah kita,” kata
Ari,” Kecuali dia ngikut sama badan seseorang…”
“Iya, bisa jadi seperti itu,” kata Pak Hudi.
Ari dan Toha saling berpandangan. Tapi Pak Hudi lalu
bercerita ke hal lain. Pak Hudi tidak ingin Ari dan Toha terlalu memikirkan apa
yang mereka bicarakan barusan. Setelah hampir satu jam ngobrol, Ari pun meminta
diri.
“Ri, ternyata waktu itu sekolah kita masih belum bersih,”
Toha membicarakan lagi apa yang dikatakan bapaknya sebelum Ari meninggalkan
rumahnya.
“Ha, sebaiknya kita nggak usah bicarakan hal kayak gini lagi,”
kata Ari,” Wira juga mau balikin cincinnya ke kakeknya.”
“Iya bener Ri,” kata Toha,” Gue juga pengen kejadian yang menimpa
Astri tidak terjadi lagi,”Sepertinya Toha masih trauma dengan apa yang terjadi
pada Astri.
Ari mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah bertekat untuk
tidak berkutat lagi dengan hal-hal seperti itu. Mungkin dia sudah tidak akan
menggambar hantu lagi. Sekarang ini dia lebih memikirkan keselamatan Tata. Lalu
Ari berpamitan dan menjalankan motornya meninggalkan Toha.
***
Bulan pun berganti. Bulan November sudah datang. Tanggal 7
November, Ari berulang tahun. Demikian juga Tata. Ulang tahun kali ini adalah
ulang tahun yang ke tujuh belas. Momen yang sangat spesial buat gadis seperti
Tata. Seperti remaja putri lainnya, ulang tahun Tata yang ke tujuh belas
__ADS_1
dirayakan sangat spesial oleh keluarganya. Semua teman-teman Tata diundang
dengan acara yang meriah. Tapi kemeriahan itu tidak membuat Tata nyaman. Bahkan
ketika sedang meriah-meriahnya acara di lantai 1 di rumah Tata, Tata malah
berada di kamar mandinya di lantai 2. Lama dia menatap ke cermin di wastafel, setelah
tadi dia membasuh mukanya dengan air wastafel. Tata merasa make up yang
diriaskan mamanya terlalu tebal. Tapi bukan itu juga yang membuat dia tidak
nyaman. Dari tadi dia berpikir untuk menghubungi seseorang yang selalu dia
pikirkan saat ini. Tata pun keluar kamar mandinya menuju balkon kamarnya. Pelan
dia tutup pintunya dari luar. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi
nomor Ari. Tak berapa lama Ari sudah tersambung di ponselnya.
“Halo Ari.”
“Halo Ta.”
“Selamat ulang tahun ya Ri.”
“Selamat ulang tahun juga ya Ta.”
“Kamu dimana Ri?”
“Di kuburan Ta.”
“Di kuburan?”
“Di kuburan papa aku.”
“O, kirain…”
“Iya, tadi sore aku bilang sama mama, aku inget papa. Terus
mama ngajak ziarah. Tapi mama badannya kurang sehat, jadi dia pulang duluan.
Aku bilang sama mama, aku akan lama di sini dulu.”
“Mama kamu sehat kan Ri?”
“Iya, cuman akhir-akhir ini sering kurang enak badan aja.”
“Ntar kalau aku bisa mampir, aku bawain buah ya Ri. Tapi aku
belum tahu kapan.”
“Nggak usah repot-repot Ta… Eh, gimana pestanya Ta?”
“Bosen… Aku lagi ngumpet di balkon.”
“Tapi rame kan Ta?”
“Iya… Jodi juga dateng. Dia tadi ngajak jadian lagi… Tapi
aku nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?”
“Nggak tahu ya… Aku nggak bisa jadi diri aku sendiri…”
“Terus?”
“Ya, terus aku tinggal ke sini, waktu dia ngobrol sama
mama.”
“Kamu masih pakai kalung kamu kan Ta?”
“Masih lah.”
“Ta, janji sama aku…”
“Janji apaan?”
“Jangan lepas kalung kamu sedetik pun.”
“Iya, iya… aku janji.”
“Maksud aku jangan lepas sedetikpun! Sedetikpun!”
“Iya… Bawel ih. Tapi kan kalau mandi aku copot. Soalnya
risih kena air.”
“Aku bilang sedetikpun! Jadi kalau mandi tetep harus
dipakai.”
“O, gitu… Biar aku inget terus sama kamu ya Ri? Kalau mandi
juga inget sama kamu?”
“Mmmm… Iya, maksudnya gitu…”
“Eh, Ri. Kayaknya mamaku lagi nyariin aku. Udahan dulu ya
Ri. Kapan-kapan aku telpon lagi.
“Iya Ta. Ingat janjinya ya.”
“Ok. Bye.”
“Bye.”
Ari memasukkan ponselnya ke saku. Dia berharap
Tata menepati janjinya untuk tidak melepaskan kalungnya sedetikpun. Dia tidak
bisa membayangkan Tata tanpa kalung itu. Apalagi setelah kejadian di
laboratorium komputer. Lalu dia pandangi lama kuburan bapaknya di depan.
Sesuatu selalu mengganjal di hatinya mengenai kematian bapaknya. Kematian bapaknya
yang kini membuat hidup ibunya menderita. Jika sudah begitu, dia ingat akan
__ADS_1
satu hantu. Dalam hati dia berjanji pada bapaknya. Dia akan mencari hantu itu
sampai kapan pun.