Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 14 : Hantu yang Terjebak di Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Pagi ini Ari masuk ke gerbang sekolah ditemani Toha. Toha


tahu cara masuk ke kelas tanpa diketahui anak-anak basket. Dari lapangan basket


mereka akan langsung ke belakang kantin lewat lahan kosong, lalu lewat belakang


rumah penjaga sekolah. Kebetulan Toha sedikit banyak kenal pak penjaga sekolah.


Lalu mereka bisa menuju kelas lewat belakang.


“Permisi Pak Min, numpang lewat ya,” Toha menyapa penjaga


sekolah saat lewat belakang rumahnya.


“Toha, tumben pagi banget,” tanya penjaga sekolah.


“Iya Pak Min, takut telat,” jawab Toha basa-basi.


“Itu temen kamu yang nggambar si Sinta ya?” tanya penjaga


sekolah lagi sambil menunjuk Ari.


“Bukan Pak Min, bukan dia,” jawab Toha sambil lalu.


Setelah melewati area septitank akhirnya mereka sampai di


kelas. Jam pertama ada pelajaran Pak Riza. Kali ini Pak Riza mengajar tentang


Jin, yang tidak nyambung dengan pelajaran yang diajarkan sebelumnya. Sepertinya


Pak Riza mengambil tema ini karena berkaitan dengan kejadian akhir-akhir ini di


sekolah. Berkali-kali pandangan Pak Riza mengarah ke Ari, memastikan anak itu


mencamkan apa yang dia sampaikan. Dia sampaikan ke murid-murid bahwa jin dan


manusia diciptakan tidak lain untuk menyembah kepada Sang Pencipta. Jin


diciptakan dari api dan manusia diciptakan dari tanah.


“Seperti halnya manusia, jin juga menikah, beranak pinak,


makan, minum, istirahat,”Pak Riza menerangkan,”Rupa, wajah, bentuk tubuh dan


tempat tinggalnya pun bermacam-macam.”


Semua murid terpaku di meja masing-masing. Bahkan Profesor


yang biasa bikin tertawa dengan pertanyaan aneh-anehnya, sekarang tampak


tegang. Pak Riza pun melihat gelagat anak-anak asuhnya. Lalu dia berpesan bahwa


mereka tidak perlu takut pada Jin. Takut hanya kepada Sang Maha Pencipta.


Tapi di tengah Pak Riza menerangkan, Ari mendapat perasaan


itu lagi. Lalu ada suara dari arah teras kelas. Suara kaki kuda yang makin lama


makin dekat. Nara yang duduk di depan menoleh ke Ari. Dia seperti sedang kedinginan.


Ari pun menoleh ke arah Toha dan Wira. Mereka juga mendengar suara itu. Tapi


walau suara itu begitu jelas lewat di depan kelas, mereka tidak melihat


apa-apa. Sampai Pak Riza melihat gelagat Ari. Ari pun berusaha terlihat sedang


memperhatikan pelajaran.


Saat jam istirahat, Ari, Toha, Wira dan Nara sepakat


menjalankan rencana mereka. Mereka akan masuk ke ruang bekas ekstrakulikuler


drama. Mereka berharap akan bertemu Awuk. Nara sudah menenteng kameranya.


Mereka berempat berusaha bersikap sewajar mungkin berbaur dengan murid-murid


lainnya yang sedang istirahat. Sampai di tangga, mereka naik ke lantai 3.


Lorong lantai 3 sepi tidak ada siapa-siapa. Tidak ada murid yang berani ke situ


kecuali beramai-ramai jika sedang mengambil sesuatu di ruang-ruang penyimpanan.


Dan di ruang paling pojok, ada satu-satunya pintu yang tidak digembok. Pintu


yang sudah lama tidak pernah dibuka, kecuali oleh Ari kemarin. Dan Ari sudah


ada di depannya. Beberapa saat dia terpaku sebelum memegang gagang pintunya.


Karena perasaan itu datang. Dia merasa Awuk sudah ada di dalam, di balik pintu.


Nara di belakang Ari mulai memakai tudung jaketnya. Dia mulai kedinginan. Toha


dan Wira terlihat tegang. Ari pun memegang gagang pintu, tapi dia tidak juga


membuka pintunya. Karena dia mendengar suara anak perempuan berbisik. Yang


jelas bukan Nara. Nara sedang tegang tak bersuara menahan dingin. Ari berusaha


mendengar bisikan itu lagi.


“Ada apa Ri?” tanya Toha.


Ari masih diam. Toha pun tidak bertanya lagi.


“Awuk tidak ingin kalian bertiga masuk ke dalam,” Ari


bersuara.


“Lalu?” tanya Toha lagi.


“Dia cuma mau bicara sama saya,” kata Ari.


“Lo yakin akan masuk sendirian,” tanya Wira.


Agak ragu Ari mengangguk.


“Kalian tunggu di luar,” kata Ari. Dia melihat wajah


khawatir teman-temannya. Tapi dia tekadkan untuk membuka pintu itu dan masuk ke


dalam.


Di dalam gelap dan pengap. Ari harus membiasakan matanya


berada di tempat gelap. Dalam remang Ari bisa melihat banyak bekas properti


pertunjukan drama yang bergeletakan hampir di seluruh ruang. Tapi Ari tidak


melihat Awuk. Dia cuma merasa Awuk berada sangat dekat. Beberapa saat Ari masih


berdiri di dekat pintu tapi Awuk belum juga muncul.


Sementara di luar, Toha, Wira dan Nara berdiri cemas di


depan pintu. Lalu terdengar langkah-langkah orang di tangga sedang menuju


lantai 3. Ternyata anak-anak basket. Jodi ada disana bersama 4 anak lainnya.


Mereka berjalan cepat ke arah Toha, Wira dan Nara.


“Mana si penggambar hantu?” tanya Jodi dengan nada galak.


“Kita nggak ngelihat,” jawab Toha.


“Jangan bohong lo, kalian anak-anak kelas 7-13 kan?” Tanya


Jodi lagi, kali ini nadanya melecehkan.


Wira pun maju ke depan,” kita lagi ada tugas fotografi,”kata


Wira. “Tadi sih anaknya ada, mungkin dia di lantai 2 kali.”


Jodi pun melihat Nara yang menenteng kamera. Lalu mereka


berniat beranjak dari situ. Tapi dari tangga muncul kepala sekolah bersama 2


tamunya.

__ADS_1


“Ada apa ini kalian pada di sini?” tanya kepala sekolah pada


murid-murid yang ada di situ.


Anak-anak basket kelabakan tidak bisa menjawab.


“Lagi bikin tugas buat fotografi Pak,” Wira bersuara.


“Ayo jangan di sini. Istirahat jangan di sini!” Kepala


sekolah memerintahkan mereka pergi dari situ.


Anak-anak basket pun berlarian turun tangga. Toha, Wira dan


Nara berjalan meninggalkan tempat itu. Mereka sempat memandangi pintu ruang


bekas ekstrakulikuler drama. Ari masih di dalam sana. Sementara kepala sekolah


masih berbicara dengan 2 tamunya.


Ari masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Dari tadi dia


dengar situasi di luar. Dia masih dengar suara kepala sekolah dan tamunya.


Mungkin karena itu Awuk tak kunjung muncul. Tak berapa lama, suara kepala


sekolah tak terdengar lagi. Ari berharap Awuk segera muncul. Was-was dia


menunggu dalam gelap sampai bel masuk berbunyi. Ari bingung. Dia sudah berniat


untuk keluar dari tempat itu. Tapi saat membalikkan badan, dia merasa Awuk ada


di belakangnya. Ari pun ragu. Tangannya sudah memegang gagang pintu.


“Aku takut…” Suara anak perempuan berbisik terdengar di


belakang Ari.


Ari pun membalikkan badan. Melihat Awuk di balutan suasana


remang. Ari lega, Awuk berwujud anak perempuan yang cantik. Kakinya tidak


hancur.


“Takut sama orang berbaju putih?” Ari berusaha membuka


pembicaraan.


Awuk mengangguk tapi kepalanya masih menunduk.


“Kenapa orang berbaju putih ke sini?” tanya Ari.


“Sudah ada yang keluar…” Awuk menerawang ke satu arah.


“Yang terjebak di ruang bawah tanah?” tanya Ari.


“Iya, kaki Kuda…”


“Kaki Kuda?”


“Hari Senen…”


“Hari Senin kenapa?”


“Hari Senen mereka akan bikin onar…”


“Bikin onar bagaimana?”


“Mereka akan menyerang murid-murid yang berkumpul di


lapangan,”


“Waktu Upacara?”


Awuk mengangguk, dia menunduk lagi.


“Aku takut…” Suara Awuk merintih, mukanya makin murung.


Ari melihat muka Awuk makin pucat. Kelopak matanya mulai


menghitam. Cepat dia putuskan untuk beranjak dari situ. Dia tidak ingin sedekat


membuka pintu. Di luar sepi. Ini sudah jam pelajaran. Sembari menuruni tangga


Ari mencari akal. Dia berencana ke UKS dan akan pura-pura sakit.


Saat bel pelajaran berikutnya, Ari kembali ke kelas. Dia


sempat melirik ke Toha, Wira dan Nara di bangkunya masing-masing. Mereka


terlihat cemas. Nara menoleh ke belakang saat Ari sampai ke bangku. Mimik


mukanya minta penjelasan. Ari hanya memandang Nara, dia tidak bisa bicara


sekarang karena ada Haki di sebelahnya. Saat istirahat kedua, Nara mengajak


mereka untuk bicara di mobilnya. Mereka berempat pun menuju ke tempat parkir.


“Jadi gimana Ri,” Nara tak sabar bertanya ke Ari saat mereka


sudah berada di dalam mobil.


“Suara kaki kuda itu cuma satu yang sudah keluar dari


basement. Kayaknya masih banyak nanti yang akan keluar,” jawab Ari.


“Terus mengenai yang bikin onar itu?” tanya Wira.


“Iya, dia bilang hari senin mereka akan menyerang


murid-murid yang berkumpul di lapangan. Maksudnya pas upacara.” Ari


menjelaskan.


Suasana hening di dalam mobil. Ari melihat wajah


teman-temannya yang tegang.


“Kamu yakin Ri?” tanya Toha.


“Iya dia bilang begitu,” jawab Ari.


“Kalau gitu kita nggak usah ikut upacara,” Nara bersuara.


“Gimana caranya?” tanya Toha.


“Ya kita sengaja datang telat aja,” jawab Nara.


“Tapi gimana sama anak-anak yang lain?” tanya Ari.


Sesaat mereka berempat bengong.


“Aku akan bilang ke Kocik, ntar biar dia bilang ke yang


lain,” Wira bersuara.


“Kalau dia nggak percaya?” tanya Ari.


“Ya semoga dia percaya. Dia kan temen sekelas. Minimal


temen-temen sekelas kita dulu kita kasih tahu,” jawab Wira.


“Kalau nggak ntar aku bilang ke Pak Riza. Mungkin dia bisa


berbuat sesuatu,” kata Ari.


“Emang dia akan percaya?” tanya Nara.


“Iya, dia akan percaya,” jawab Ari optimis.


Sebelum istirahat selesai mereka sudah kembali ke kelas. Mereka


berencana akan berkumpuk lagi di mobil Nara saat pulang sekolah. Dan begitu bel


pulang berbunyi, Wira dan Toha mendatangi Kocik. Nara langsung menuju ke tempat


parkir. Dan Ari buru-buru ke ruang guru untuk menemui Pak Riza. Di ruang guru

__ADS_1


tinggal 4 orang guru yang masih di sana. Pak Riza juga sudah berkemas.


“Maaf Pak Riza, ada waktu sebentar?” tanya Ari ke Pak Riza


sopan dengan nafas ngos-ngosan.


“Iya, ada apa Ri?” jawab Pak Riza heran melihat Ari yang serius.


“Saya dapat info Pak, kalau hari Senin besok pas upacara,


anak-anak akan diserang sama mereka yang keluar dari basement,” cepat Ari


menjelaskan.


Pak Riza menoleh kanan-kiri, memastikan pembicaraan mereka


tidak didengar guru-guru yang masih ada di situ.


“Ari, bukannya saya tidak percaya sama kamu,” suara Pak Riza


pelan. “Tapi kamu harus bijaksana dengan kondisi yang ada sama kamu. Kamu nggak


boleh terbawa dengan apa yang kamu dengar dan apa yang kamu lihat. Udah, kamu


pulang sana. Belajar! Itu yang paling penting!”


Ari keluar ruang guru dengan muka tertunduk. Sedikit banyak


dia kecewa dengan sikap Pak Riza. Dia berjalan menuju tempat parkir. Ari


sengaja lewat belakang kantin karena dia masih tak ingin bertemu dengan


anak-anak basket. Saat lewat lahan kosong, perasaan itu datang. Perasaan tidak


enak yang begitu kuat yang belum pernah dia rasakan. Ari pun melambatkan


jalannya. Karena sayup dia dengar suara kuda itu lagi. Suaranya dari belakang.


Makin lama makin dekat. Ari membalikkan badan. Belum jelas Ari lihat, tapi di


depannya ada penunggang kuda sedang menuju ke arahnya. Tapi bukan, bukan


penunggang kuda, saat lebih dekat lagi, Ari melihat tidak ada kuda di sana. Dia


seorang laki-laki kekar yang benuh bulu, dengan mahkota dan baju seperti


kerajaan, matanya merah, dia sedang berlari ke arah Ari dengan kaki kudanya.


Ari sempat tercekat. Dengan jarak yang sedekat ini dia merasa tidak bisa


menggerakkan badannya. Ari pun terpental ketika mahluk itu menabraknya. Dia


terjerembab di tanah. Ari sempat mendengar suara berdebum keras di tempat lain,


sebelum segalanya terasa gelap.


Ketika Ari membuka matanya, dia sempat bingung. Dia di dalam


mobil Nara. Wira ada di sebelahnya. Toha dan Nara di depannya.


“Apa yang terjadi,” Ari mencoba bersuara walau berat.


“Lo tadi pingsan, ditemukan sama Pak Min,” kata Toha.


“Iya, untung kita cari kamu, Wira sama Toha yang bawa kamu


ke sini,” Nara menimpali.


Ari mencoba menegakkan duduknya. Kepalanya masih pusing.


Lalu dia melihat wajah-wajah temannya yang penuh tanya.


“Aku tadi melihat si kaki kuda. Kakinya memang kuda. Dia


menabrakku,” Ari mencoba menjelaskan.


Ari kini melihat wajah ketiga temannya yang bengong.


“Mana tas aku?” tanya Ari.


Toha yang memegang tas Ari sudah tahu apa yang dimaksud. Dia


mengeluarkan buku kecil Ari dan sebatang pensil, lalu dia serahkan ke Ari. Ari


pun langsung sibuk dengan pensilnya. Dia corat-coret buku kecilnya. Dia gambar


sosok laki-laki kekar, kumis dan jampangnya panjang, muka dan tubuhnya penuh


bulu. Ada mahkota di kepalanya. Di lengan dan lehernyanya ada perhiasan. Dia


telanjang dada, hanya memakai kain di bagian bawah. Dan kakinya adalah kaki


kuda.



Satu persatu, Toha, Wira dan Nara melihat gambar Ari. Mereka


tidak akan percaya kalau bukan Ari yang menggambar. Dan betapa mereka semakin


yakin dengan rencana mereka untuk datang terlambat pada hari Senin.


“Matanya merah,” Ari menambahkan.


“Mudah-mudahan Kocik percaya sama kita,” kata Wira sembari


masih melihat gambar Ari.


“Mudah-mudahan dia sudah sampaikan ke yang lain,” Toha


menambahkan.


Tiba-tiba pandangan Ari tertuju ke kaca depan mobil. Karena


dia melihat Tata. Tata yang melintas di depan. Dia seperti sedang tergesa.


Wajahnya terlihat cemas. Sesekali dia melihat ke belakang. Sampai di dekat


mobilnya parkir, dia menyuruh sopirnya untuk cepat masuk mobil. Tata pun


terlihat buru-buru masuk pintu belakang. Sebelum menutup pintunya dia sempat


melihat ke arah itu lagi dengan wajah ketakutan. Ari pun mengalihkan


pandangannya ke arah tadi Tata memandang. Dan di sana, di bawah pohon paling


besar di tempat parkir, pria penuh bulu dan berkaki kuda berdiri di sana.


Matanya yang merah sedang memandangi mobil Tata yang mulai bergerak.


“Ada apa Ri,” tanya Toha.


“Kalian lihat di sana,” Ari menunjuk pohon paling besar di


tempat parkir.


“Ada apa sih,” tanya Nara, dia berusaha melihat ke arah yang


Ari tunjuk.


“Itu, mahluk yang aku gambar! Dia berdiri di bawah pohon


itu,” suara Ari tertahan.


Toha dan Nara masih tidak menemukan sesuatu di sana.


Wira, lo ngelihat kan?” tanya Ari.


Wira hanya menggeleng kepala. Lalu Nara mulai memakai tudung


jaketnya. Dia mulai merasa kedinginan.


“Nara?” Tanya Ari,


“Aku nggak ngelihat apa-apa Ri,” jawab Nara.


Beberapa saat Ari terpaku di tempat duduknya.

__ADS_1


Berarti cuma dia dan Tata yang bisa melihat mahluk itu. Dan mahluk itu seperti


sedang mengejar Tata.


__ADS_2