
Hari berlalu. Menjelang akhir tahun ajaran, murid-murid
fokus belajar mempersiapkan Ujian Akhir Tahun. Pak Riza sebagai wali kelas,
mewanti-wanti anak didiknya untuk belajar lebih keras. Mereka harus bisa membuktikan
bisa lebih baik dari kelas-kelas yang lain. Murid-murid pun sudah melupakan
kejadian-kejadian di sekolah waktu itu. Kamera CCTV mulai dipasang di beberapa
lokasi di sekolah. Salah satu yang memasang kamera CCTV adalah kakak Wira yang
ke 3. Kebetulan kakak Wira bekerja di perusahaan CCTV tersebut. Ruang
penyimpanan matras sudah dipakai sebagaimana mestinya. Lantainya sudah
diperbaiki. Tidak ada murid yang tahu apa yang ada di bawah ruang itu kecuali
Ari, Toha, Wira dan Nara. Dan sampai sekarang, keberadaan lorong bawah tanah
yang menghubungkan sekolah ke tempat lain masih menjadi cerita yang tidak bisa
dibuktikan. Selama berhari-hari pula, Ari, Toha, Wira dan Nara tidak merasakan
sesuatu di sekolah kecuali hantu yang memakai jas yang memang setiap pagi mondar-mandir
di trotoar depan sekolah.
Saat sekolah selesai, Ari buru-buru pulang. Dia agak
khawatir dengan ibunya karena sudah tiga hari ini ibunya ijin tidak masuk kerja
karena sakit. Pagi tadi rencananya ibu Ari mau periksa ke rumah sakit. Sesampai
di rumah, Ari langsung mencari ibunya. Ternyata ibunya ada di ruang tamu. Dia
sedang duduk di sofa memakai baju hangatnya. Sepertinya ibu Ari memang sengaja sedang
menunggu Ari. Ari pun langsung duduk di sebelahnya.
“Ma gimana? Mama udah ke rumah sakit?” tanya Ari khawatir.
“Udah…” Jawab ibu Ari datar sambil memandangi anaknya yang
masih memakai seragam sekolah.
“Terus apa kata dokter Ma?” tanya Ari lagi.
“Nggak apa-apa kok… Mama nggak apa-apa… Cuman flu,” kata ibu
Ari lirih menenangkan Ari. “Kapan ujiannya Ri?” Ibu Ari balik tanya.
“tiga minggu lagi Ma.”
“Kamu belajar yang bener ya Nak. Kamu harus seperti papa
kamu. Papa kamu itu dihargai orang karena kepandaiannya…”Ibu Ari begitu khawatir,
Ari akan seperti kakeknya. Karena apa yang dia lihat sekarang, anaknya semakin
lama tumbuh seperti kakeknya, bukan seperti bapaknya.
“Kalau gitu mama istirahat gih.”
“Iya… Tapi ada yang mama pengen kasih tahu ke kamu…”
“Kasih tahu apa Ma?”
“Mengenai papa kamu…”
__ADS_1
“Mengenai papa?”
“Iya… Mama harus kasih tahu… Sebelum mama…”Ibu Ari seperti
ragu melanjutkan perkataannya.
“Sebelum mama kenapa Ma?”
“Enggak… Nggak apa-apa. Pokoknya mama mau kasih tahu…
Tentang kematian papa kamu Ri.”
“Tentang kematian papa?”
“Iya…” Ibu Ari seperti sedang berpikir sebentar sambil
menarik nafas dalam-dalam,” Ri, apapun yang akan mama sampaikan… Kamu harus
janji ke mama… Kamu akan tetap menerima kematian papa kamu dengan ikhlas… Janji
ya Ri.”
“Iya Ma. Ari janji.”
“Gini Ri… Waktu papa kamu meninggal… Dia ditemukan di
kamarnya. Dia meninggal karena minum racun serangga…” sejenak ibu Ari seperti
tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Maksud mama… Papa bunuh diri?”
“Iya… Iya Ri… Sebelum kejadian itu papa juga tingkahnya aneh…
Mama kadang seperti nggak kenal papa kamu lagi…”
cerita begini dari ibunya.
“Tapi itu pasti bukan papa Ma! Ari tahu itu bukan papa!”
kata Ari dengan suara keras.
“Ri! Kamu udah janji sama mama, kamu akan ikhlas sama
kematian papa…” kata ibu Ari. Sepertinya dia juga tidak bisa menahan emosinya.
Ari pun diam. Walau setumpuk pertanyaan ada di kepalanya.
Dia tahu bapaknya tidak seperti itu. Dan dia tahu kejadian yang tidak seorang
pun tahu.
“Memang papamu tidak seperti itu Ri…” kali ini suara ibu Ari
melemah. Ada getaran yang menggetirkan di suaranya.”Papa kamu itu orangnya
pinter… sopan… tanggung jawab…” lalu ibu Ari menutup mukanya dengan kedua
tangannya. Tangisnya pun meledak disana. Emosinya yang sedari tadi dia tahan
tumpah disana. Badannya berguncang dengan sesenggukan tangisnya.
Sebentar Ari melihat ibunya. Dia sudah tidak mempedulikan
papanya dengan kematiannya. Karena kini dia lihat di depannya, ibunya begitu
menderita menanggung semua yang sudah terjadi. Dia pun memeluk ibunya dari
samping erat-erat. Sangat erat. Hingga bisa dia rasakan guncangan tangis
__ADS_1
ibunya. Ari benamkan kepalanya ke rambut ibunya. Mata Ari sudah berair. Tapi
pandangannya nanar. Senanar dendamnya pada hantu lidah menjulur. Kini bukan
tentang kematian bapaknya lagi. Ari benar-benar akan menuntut balas pada hantu
itu atas penderitaan ibunya sekarang.
***
Hari ini hari Senin. Seminggu lagi ujian akan dilaksanakan.
Pagi-pagi Toha sudah koar-koar tentang Astri yang akan maju ke podium upacara
untuk menerima trophi karena karya ilmiah remaja mereka berhasil menang sebagai
juara 2 tingkat nasional. Tentu saja Astri akan naik podium bersama Tata. Dan
Ari tahu itu. Ari ikut senang dan bangga atas prestasi yang diraih Tata.
“Astri itu anaknya pinter,” kata Toha di taman pada Ari,
Wira dan Nara. Sepertinya sudah hampir sepuluh kali dia bilang seperti itu.
“Jadi lo maunya gimana?” tanya Nara spontan.”Mau cuman temen
sepedaan apa mau jadian?”
“Ya gue maunya jadian lah,” kata Toha tanpa malu-malu.” Ntar
nunggu abis ujian. Abis ujian gue mau bilang ke dia.”
Saat upacara, Pak Suman sudah naik podium untuk memberikan
pengarahan tentang persiapan murid-murid melaksanakan ujian minggu depan.
Setelah itu, seperti biasa ada acara penerimaan hadiah bagi murid yang
berprestasi. Nama Tata dan Astri sudah dipanggil untuk maju ke podium. Dari
tadi Toha sudah terlihat antusias dan berusaha meringsek ke barisan depan. Di
podium bergantian Tata dan Astri menerima trophi, hadiah dan beasiswa kuliah
dari Pak Suman. Toha pun tanpa malu-malu bertepuk tangan sekencang-kencangnya
sampai diperingatkan guru yang jaga di belakang. Dari tempatnya berdiri, Ari
melihat Tata di podium sedang memegang trophinya. Ari tahu Tata sedang
memandang ke arah barisan kelasnya. Tata tersenyum lepas. Wajahnya begitu
ceria. Lalu tangannya memegang bandul kalung yang dia pakai. Dia berusaha
mencari Ari di barisan kelasnya. Tapi karena jaraknya jauh dan tertutup
murid-murid di depan, Tata tidak melihat Ari. Tapi Tata yakin Ari sedang
melihatnya sekarang. Ari sedang melihat dia memegang bandul kalung yang dia
pakai. Karena begitu berartinya kalung itu buat dia, hingga dia bisa berdiri di
podium seperti sekarang ini. Dan begitu berartinya Ari buat dia hingga saat ini
dia benar-benar merasa menemukan dunianya. Tata pegang erat bandul kalung itu.
Kalung itu seperti pemberian Ari yang khusus diberikan untuknya. Dan Tata
berjanji, sampai kapanpun dia tidak akan melepas kalung itu.
__ADS_1